ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
     
     
 
  Search     A   B     D     F       I       L     N   O   P   Q   R   S     U     W     Y   Z  
DISAINER

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::

CR updated 101202
 
 
INDEX SELEBRITI   

garis

:::::: Selebriti garis

:::::: Selebriti Indonesia garis
:::::::::::: Artis
garis
:::::::::::: Musisi
garis
:::::::::::: Model
garis
:::::::::::: Disainer
garis
:::::::::::: Announcer
garis
:::::::::::: Lainnya
garis
:::::: Selebriti Dunia
garis
:::::: Redaksi
garis

 
 
 
garis
garis
 

 

Oscar Lawalata

Disainer Muda yang Prospektif


Di tengah hiruk-pikuk krisis yang sedang memuncak, Oscar justru memulai kariernya sebagai desainer. Oscar yang lulus sekolah mode Esmod tahun 1998, langsung mengadakan show pertamanya pada 10 Juni 1998 bersamaan dengan acara pembukaan kafe Bengkel. Belum genap sepuluh hari, pemilik rumah mode PT. Oscaroscar ini, mengadakan show kembali di tempat yang sama dengan tema "Bump Fashion". Setelah itu ia rajin sekali mengadakan show dari tahun ke tahun, di antaranya pameran bertajuk: Oscar Bagi Negeri.

Awal Desember 2002, ia mengangkat kekayaan budaya Indonesia dalam sebuah pameran bertajuk "Oscar Bagi Negeri" di Gedung dua, Kemang, Jakarta. Selama sebulan penuh, ia memamerkan kreasi terbarunya berupa motif tie dye di atas kain tenun sutra Ujung Pandang. Ia berhasrat mengembangkan kain jumputan Indonesia menjadi lebih kontemporer dengan kekayaan kreasinya.

Menurut Oscar, motif tie dye adalah teknik pembuatan motif pada kain dengan cara mengikat bagian tertentu kain, kemudian mencelupnya untuk memberi warna. Lalu, bagian kain yang tertutup ikatan itulah yang menghasilkan motif.

Di Indonesia, kata Oscar, tie dye lebih dikenal dengan sebutan jumputan. Menurut beberapa sumber, masyarakat Indonesia mengenal tie dye atas pengaruh budaya India yang melalui agama Hindu. Kemudian motif ini menjadi motif tradisional yang tersebar di berbagai kepulauan tanah air. "Sehingga kita mengenal kain jumputan dari Jawa, Palembang, dan Toraja," katanya.

Ia bersama timnya mengembangkan tie dye tradisional itu kurang lebih selama empat bulan. Dikembangkan tanpa pakem tertentu. Sehingga bisa diekspresikan secara bebas dan leluasa. Lahirlah motif yang kaya dan ditampilkan dalam pameran kali ini..

Seratus helai tenun dengan corak modern dan kontemporer, berpola geometris, gradasi dan berbentuk tumpal, yang dikembangkan dari kain tradisional, ditampilkan dalam pameran ini. Harganya berkisar antara Rp 4,5 juta hingga Rp 5 juta.

Sejak mengawali karirnya hingga sekarang, anak muda yang lahir di Pekanbaru, 1 September 1977 telah mengadakan fashion show hampir 100 kali. Jumlah klien yang telah didapatnya sudah berjumlah lima ratusan baik individu maupun institusi. Dari klien sebanyak ini terdapat sederetan nama artis seperti Titi DJ, Chrisye, Dewi Gita, Kris Dayanti dan masih banyak lagi termasuk sekelompok band terkenal Indonesia seperti Kla Project, Warna, Zamrud, dan Gigi.

Tidak sekedar artis pemakai karyanya. Terdapat juga eksekutif muda dan kelompok profesional, terutama konsultan, yang menjadi kliennya. Dari sekian banyak klien tersebut kebanyakan adalah generasi muda yang bisa dibilang sukses kariernya. Dari kelompok profesional Oscar menunjuk Moza Paramita. "Dari mereka ada yang sudah sejak saya mendesain selalu memakai karya saya," tambahnya.

Seperti pengakuan Oscar setidaknya ia melakukan show pakaian setahun satu kali, Untuk tahun ini, show akan digelar September 2001. Oscar memang termasuk desainer yang cukup agresif dalam menggelar show, padahal menurutnya setidaknya dibutuhkan dana antara Rp100 juta hingga Rp500 juta satu kali show. Meski demikian tidak selalu dana sebesar tersebut ditanggung sendiri. Biasanya ia bekerja sama dengan klien-kliennya yang sering memesan karyanya dalam bentuk seragam.

Namun bagi Oscar cara memasarkan produknya tidak selalu dalam bentuk show. Partisipasinya dalam berbagai acara di televisi cukup membuat dirinya tersosialisasi ke publik di samping pemasaran tidak langsung (dari mulut ke mulut) yang dilakukan artis maupun klien lainnya.

Dalam mengembangkan produknya, Oscar membagi hasil desainnya dalam dua merek yaitu Oscaroscar yang merupakan pakaian yang sifatnya ready to wear (sehari-hari) dan Oscar Lawalata. Jenis yang terakhir ini adalah pakaian yang didesain dengan corak etnik dan kebudayaan khas Indonesia. Berapa harganya? Untuk yang bermerek Oscaroscar bandrol harganya Rp 1,5 juta - Rp 3,5 j uta, sedangkan untuk yang bermerek Oscar Lawalata berbandrol Rp 3,5 juta ke atas.Tapi ini belum termasuk yang special order.

Meski jumlah kliennya tidak sedikit menurutnya, sejak mengawali karirnya di dunia, fashion, belum pernah membuat rancangan yang ditujukan untuk dijual secara massal. Setidaknya ada dua hal yang membuatnya demikian, pertama, keterbatasan sumber daya baik yang bersifat modal maupun manusia. Menurutnya untuk masuk ke industri fashion yang memproduksi dalam jumlah besar diperlukan modal yang tidak sedikit. "Karenanya tidak mungkin kalau dikerjakan sendiri, harus kerjasama dengan investor besar," kata Oscar. Faktor terbatasnya sumber daya manusia juga masih menghambat. Oscar yang hanya memiliki satu butik saja mengaku cukup kerepotan mengatur orang yang bekerja di tempatnya.

Kedua adalah peta persaingan di antara pemain. "Bagi desainer seperti saya belum kuat untuk masuk ke industri. Selain modalnya kurang juga karena pesaing yang bakal dihadapi bukan hanya sesama desainer tetapi juga dengan industri besar yang modalnya kuat sehingga harganya murah dan kualitasnya bagus." Di tengah-tengah kesuksesannya ternyata Oscar pun menghadapi masalah yang tidak ringan. Terutama yang berkaitan dengan manajemen usahanya.

Hal ini disebabkan Oscar lebih menilai pekerjaan ini sebagai hobi, belum bisnis sesungguhnya. Ini terlihat dari cara ia mengatur berbagai sumber daya yang ada. "Saya masih single fighter dalam bekerja mulai dari mendesain, memasarkan, mengatur uang, dan memamerkan karya saya," akunya. Meski telah ada organisasi kerjanya, namun banyak pekerjaan yang belum disusun secara sistematis. Walhasil banyak ide yang harusnya mengalir terhambat karena pekerjaan teknis tersebut. Karena itu menurutnya fokus jangka pendeknya adalah memperbaiki manajemen usahanya.

***Tokoh Indonesia, dari berbagai sumber, terutama Eksekutif 265
 

 


Data Pribadi

Nama:
Oscar Lawalata
Lahir:
Pekanbaru, 1 September 1977
Pendidikan:
Sekolah Mode Esmod tahun 1998
Karir
Disainer
Pemilik rumah mode PT. Oscaroscar
 
  

 

 

Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero