ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Search     A   B     D     F       I       L     N   O   P   Q   R   S     U     W     Y   Z
SELEBRITI

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::

R updated 100702
BIYAN
INDEX SELEBRITI   

garis

:::::: Selebriti garis

:::::: Selebriti Indonesia garis
:::::::::::: Artis
garis
:::::::::::: Musisi
garis
:::::::::::: Model
garis
:::::::::::: Disainer
garis
:::::::::::: Announcer
garis
:::::::::::: Lainnya
garis
:::::: Selebriti Dunia
garis
:::::: Redaksi
garis

 
garis
garis

 

Biyan Wanaatmadja

Ruang untuk Sesuatu yang Indah


Dua tahun absen, Biyan Wanaatmadja kembali dari "tapa"-nya dengan sebuah koleksi yang terasa lebih matang dan memiliki kedalaman. Ia memang memiliki ciri gaya feminin, dan kali ini ia membawa gaya itu hingga ke titik zenit.

Pergelaran diawali dengan proyeksi ranting dahan sebuah pohon rindang yang mengesankan keanggunan pada panggung berlatar belakang layar putih yang disangga rangka berkotak-kotak. Diiringi musik yang ditingkahi suara perkusi yang dimainkan langsung oleh Erwin Gutawa dan kawan-kawan, suasana Timur yang terbangun dengan bantuan penata artistik Jay Subiyakto terasa kental.
Sensasi itulah yang mengawali pergelaran koleksi Biyan yang bertajuk Biyan 2002, Life as a Romance dan diadakan pada perayaan ulang tahun kedua majalah Harper's Bazaar. Acara pada Rabu (29/5/2002) malam di Hotel Mulia, Jakarta, itu sebelumnya diawali dengan peluncuran buku dan pameran fotografi karya Jay Subiyakto.
Penghargaan untuk perempuan Timur yang berkepribadian sederhana, tetapi kuat adalah tema utama Biyan, tema yang sebenarnya tak pernah bosan ia gali. Dalam sebuah percakapan, beberapa tahun lalu, perancang kelahiran Surabaya ini pernah mengatakan Asia adalah akar budayanya dan ia mendapatkan pengetahuan tentang mode di dalam sistem Barat (ia bersekolah desain di Mueller & Sohn di Duesseldorf, Jerman, dan kemudian di London College of Fashion di London).
Dalam dua perpaduan itu, Biyan selalu tertarik pada akar budayanya dan menggunakan pengetahuan yang didapatnya di Barat untuk mewujudkan imajinasi-imajinasinya.

Perpaduan
Perpaduan antara tradisi tua dan segala sesuatu yang baru. Begitu Biyan menyebut di dalam buku pengantar koleksinya. Dan, perancang kelahiran Surabaya itu menerjemahkan perpaduan itu ke dalam 115 set rancangan yang kaya dengan perpaduan antara motif lama yang didapat melalui renda dan kancing antik yang dipadukan dengan bahan baru seperti paper cotton yang digunting seperti koin dan disusun acak menyerupai mosaik, bordir bunga mawar dalam ukuran besar pada jaket, rok sepanjang tengah betis atau celana panjang, bordir yang dilubangi yang mengingatkan pada teknik kerancang, aplikasi, motif bunga yang dipudarkan dan dibentuk menggunakan airbrush yang mengingatkan pada wallpaper kuno. Mawar yang mewakili Barat berpadu dengan krisan yang menyimbolkan Timur.
Kesan feminin yang ekstra lembut diperkuat oleh pemakaian bahan-bahan yang halus dan lembut seperti sifon, renda yang halus, kulit suede selembut kain yang ditatah seperti seniman wayang mengukir kulit, meskipun juga ada beluderu dan sutera satin bermotif. Warna-warna merah jambu dan krem pudar memberi kesan lembut. Sementara penggunaan banyak kerut, lipit pada rok yang kebanyakan mencapai tengah lutut, garis potong gaun di tengah dada dengan rok penuh dan jatuh seputar tubuh, menambah kesan feminin.
Unsur kebaruan tampak pada cara padu-padan yang banyak menggunakan tiga potong pakaian sekaligus. Bisa berupa celana panjang, baju atas atau rok yang panjangnya mencapai tengah lutut, ditambah dengan atasan pendek yang bisa berupa jaket pendek atau panjang dari suede, atau atasan superfeminin yang dihiasi kerut di seputar garis leher serta aplikasi bordir.
Sebagai perancang yang mengawali kariernya dari Surabaya tahun 1983, Biyan juga menawarkan cara padu-padan bahan yang membuka kemungkinan-kemungkinan baru. Misalnya, ia membuat jaket berbahan linen yang dipadukan dengan suede dan sifon untuk lengan.
Lepas dari satu-dua celana panjang yang tinggi duduknya tampak tidak pas, keseluruhan koleksi ini semakin menunjukkan kematangan perancangnya. Semuanya dibuat dengan kesadaran sebagai pakaian yang bisa dipadu padan yang memberikan kebebasan kepada pemakainya untuk memadukan dengan apa pun yang mereka inginkan dan bahkan dengan pakaian yang sudah mereka miliki.
"Pengolahan bahannya bagus," komentar Licu, bekas peragawati. "Setiap bentuk menunjukkan keterlibatan emosi perancangnya yang dalam," kata Retno Murti, pemred majalah Dewi.

Merasa Dekat
"Mungkin di bawah sadar saya ada sesuatu yang saya tidak ingin hilang. Sekarang, segala sesuatunya berjalan sangat cepat. Kita cenderung selalu maju. Rasanya seperti ada sesuatu yang hilang," kata Biyan tentang rancangannya kali ini.
Bila ia memasukkan unsur pengerjaan tangan yang intens, itu bukanlah sekadar demi mendapat efek detail. "Saya melihat dan memperhatikan, craftmanship dulu ada untuk memperkaya kehidupan kita secara spiritual," kata pembuat label utama Biyan Wanaatmadja, label sekunder Studio 133 dan label yang lebih massal (X), S, M, L.
Dengan memadukan antara unsur-unsur pengerjaan tangan, sesuatu yang berasal dari tradisi, dengan hal-hal yang kontemporer ia mencoba mendapat kedekatan dengan pemakai rancangannya. "Saya ingin orang merasa dekat dengan apa yang saya kerjakan, seperti ketika kita melihat sesuatu pada masa lalu. Ada nilai nostalgia dari bentuk dan pengerjaan," tambah Biyan.
Koleksinya kali ini pun dirasanya lebih sebagai mencoba memeberi jawab atas kelelahan orang yang mencoba mengejar perubahan yang terjadi dengan cepat.
Ungkapnya, "Saya sering bertemu orang-orang yang punya pandangan sama, yang merasakan kesumpekan. Hal itu membawa pada pertanyaan, apakah kita masih percaya pada sesuatu yang indah? Sesibuk-sibuknya kita, bila mau menyempatkan diri selalu ada ruang untuk sesuatu yang indah. Kita selalu dikejar target. Bukan itu tidak penting, tetapi hidup juga butuh keseimbangan." *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), Repro Kompas-ninuk mp)

Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero