|
|
 |
Iis Dahlia Sang Primadona Dangdut
Sosok Iis Dahlia,
penyanyi dangdut ini tentu tidak asing bagi Anda. Selain menyanyi, dia
kini sedang gencar berkampanye Warga
Siaga untuk menurunkan risiko kematian ibu melahirkan. Tentu Iis bergaya
dangdut dengan gaya vokal "keriting", meliuk-liuk. Iis dianggap sangat
dekat dengan kalangan yang disasar kampanye yang antara lain didukung John
Hopkins University dari Amerika Serikat itu, yaitu masyarakat menengah ke
bawah.
Industri hiburan menyulap perempuan bernama asli Iis Laeliyah menjadi Iis
Dahlia. Perempuan kelahiran Desa Kerta Jaya, Kecamatan Bongasan, Kabupaten
Indramayu, Jawa Barat, 29 Mei 1972 ini pantas menyandang julukan primadona
dangdut. Ini sebenarnya pembelokan jalan hidup, karena putri pasangan Haji
Makhmuri almarhum dan Hajjah Komariah ini berangkat ke belantika musik
sebagai penyanyi pop. Juragan rekaman melihat potensi Iis dan
dibelokkanlah menjadi dangdut. Alasannya, saat itu bisnis rekaman musik
pop sedang sepi.
Dan, ternyata itu perhitungan jitu. Album kedua Iis berjudul Tamu Tak
Diundang pada tahun 1992 mendapat penghargaan HDX, sebuah ajang yang
mengukur sukses musik dengan ukuran kuantitas penjualan kaset. Itu artinya,
album itu terjual di atas angka 500.000 buah dan tercatat sebagai album
dangdut terlaris sepanjang tahun 1991. Artinya lagi, kehadiran Iis
diterima publik.
Pada awal karier, Iis bisa naik panggung lima kali seminggu. Maka, dengan
hitungan kasar, setidaknya Iis manggung lebih dari 200 kali setahun.
Belakangan menyusul album Janda Kembang, Cinta Yang Ternoda, Sakitnya
Hatiku, Kasih, Gara-gara Malam Minggu, Payung Hitam, dan Bagai
Ranting-ranting Kering yang memantapkan posisi Iis di jagat dangdut.
Begitulah budaya pop dengan dinamikanya sendiri, menggeliat dan
menciptakan massa berikut icon-nya sendiri seperti mereka lekatkan pada
sosok Iis Dahlia.
Berikut ini penuturan ibu dari Salsadilla Juwita (4) ini ketika tengah
sibuk mempersiapkan hajatan perkawinannya dengan Satrio Dewandoro, pilot
yang akrab disapa Andri. Ini perkawinan kedua Iis setelah bercerai dari
pengusaha Dadang Indrajaya. Persiapan itu termasuk melulur tubuh delapan
jam sehari, sejak dua minggu sebelum hari-H.
Anda sudah siap menikah?
Secara mental dan fisik kami sudah siap. Kami memutuskan menikah bukan
dengan keputusan emosional. Kami rasanya sudah dewasa dan sudah dapat
berpikir matang.
Ada perbedaan dengan perkawinan pertama?
Beda. saat perkawina pertama saya menikah hanya ada penghulu, saya, dan
Dadang. Sekarang kami bikin syukuran dan mengundang teman-teman. Itu yang
membuat saya tegang karena persiapannya terlalu banyak. Kalau soal getaran
cinta, sama saja. Bedanya, sekarang tidak lagi hanya dengan emosi. Dulu,
saya gadis umur dua puluhan tahun, sekarang sudah tiga puluh tahun. Jadi,
segala sesuatunya dipikirkan.
Dulu emosi menyala-nyala?
Dulu berpikirnya tidak panjang. Sekarang kami pikir panjang-panjang. Saya
ingin ini pernikahan terakhir, jadi egoisnya harus diturunkan. Kami
menyadari, menyatukan dua perbedaan dari dua manusia memang susah. Apalagi
sekarang ada Salsa. Kami juga memikirkan pendidikan Salsa yang notabene
adalah anak tirinya Andri.
Bagaimana Anda memandang perkawinan?
Perkawinan itu sakral dan inginnya dalam hidup itu hanya sekali.
Perkawinan itu sesuatu yang harus dijaga dan harus ada cinta, saling
pengertian, dan menghargai.
Anda melibatkan Salsa dalam memutuskan menikah lagi?
Melibatkan secara pikiran mungkin enggak karena dia masih empat tahun.
Tetapi, dari awal saya kenal Andri, saya melihat kedekatan dia dengan
Salsa. Saya lihat bagaimana Salsa menerima Andri. Setelah memutuskan
menikah dengan Andri, Salsa excited, girang banget.
Bagaimana menjelaskan kepada anak umur empat tahun?
Saya omong sama Salsa bahwa saya mau nikah dengan Papa. Salsa, kan,
memanggil Andri dengan Papa. Saya bilang Andri akan menjadi papanya Salsa.
Andri akan menyayangi Salsa sama seperti Ayah (Ayah adalah panggilan
Dadang-Red). Saya katakan, kita nanti akan mengundang teman-teman. Dia
senang sekali. Salsa bilang 'Oh iya nanti Mama mau jadi Barbie, aku juga
mau jadi Barbie.'"
Bila Salsa tidak dekat dengan dia, enggak mungkin saya mengiyakan. Jadi,
Salsa itu faktor nomor satu.
Sewaktu menjanda, ada beban psikis?
Iya banget. Dulu saya ini orang yang amat sangat bergaul dengan semua
lingkungan. Karena predikat janda itu akhirnya banyak gosip yang
mengatakan saya pacaran dengan si ini atau itu. Padahal, saya bergaul
tidak di lingkup saya saja. Terus saja saya digosipkan tiap minggu.
Mungkin karena gosip itu, dan karena predikat saya itu, saya jadi
membatasi diri. Setelah membatasi diri malah saya merasa ada yang berbeda,
saya merasa bukan diri saya lagi. Saya lalu memutuskan kembali pada diri
saya sendiri dengan lebih menjaga sikap.
Misalnya?
Misalnya, ketika masih mempunyai suami, ketemu orang saya ramah
ketawa-tawa. Orang tak punya prasangka apa-apa karena saya waktu itu
bersuami. Saat menyandang predikat janda saya tetap bergaul, tetapi saya
menjaga sikap agar orang tidak berprasangka yang enggak-enggak.
Pernah ada godaan?
Ya, ada sajalah. Mungkin karena profesi saya artis dan juga karena saya
public figure orang pun tahu waktu rumah tangga saya goncang. Ya, ada-ada
sajalah orang yang iseng. Saya balik bertanya, apa saya mau dijadikan
korban keisengan mereka? Saya berpikir saya punya anak dan saya ingin
memberi yang baik kepada anak saya.
Pernah merasa kesepian?
Kalau sepi yang arahnya ke fisik tidak. Saya banyak teman, ada Salsa yang
menjadi faktor penting banget buat saya. Dia menghibur sekali. Ada juga
keluarga yang memberi dorongan dan menghibur saya. Mereka bergantian
menginap di rumah saya pada akhir pekan.
Merasa kehilangan orang yang bisa saya ajak bicara, memang iya. Meskipun
dulu saya tidak bergantung banget pada Dadang, dalam hal tertentu saya
bicara atau bertanya sama dia. Terus tiba-tiba saya tidak dapat melakukan
itu lagi. Memang ada teman, tetapi bisakah teman yang bisa diajak bicara
sesuatu yang pribadi?
Bagaimana Anda bisa ditunjuk sebagai Duta Siaga?
Mereka semula mencari untuk kalangan menengah ke bawah karena mereka
mempunyai program yang sasarannya kalangan itu. Sebelumnya, enam tahun
lalu ada program Suami Siaga. Mereka pilih penyanyi dangdut dan ada
beberapa yang terpilih. Mereka seleksi lagi untuk mencari siapa yang dapat
menyosialisasikan program. Saya enggak tahu bagaimana proses menggodoknya,
tetapi akhirnya mereka menghubungi saya. Tanpa dites saya diajak omong dan
besoknya kami negosiasi.
Saat perkawinan Anda goncang, mereka mempersoalkan?
Waktu itu saya bilang mau mengundurkan diri dari iklan. John Hopkins
University sudah tahu soal itu. Saya bilang pada mereka, tolong
dipertimbangkan, kayaknya rumah tangga saya tidak bisa dipertahankan.
Iklan layanan ini sangat berpengaruh karena menurut data iklan Suami Siaga
termasuk iklan layanan yang paling digemari.
Mereka bilang akan menampung dan mempertimbangkan. Setelah publik tahu
rumah tangga saya goncang, saya tanya lagi. Mereka bilang, 'Kami tetap
pakai kamu'. Mereka tidak terpengaruh status saya. Saya berterima kasih
karena mereka mempercayakan iklan itu kepada saya, meskipun kondisi saya
jauh banget dengan isi iklan tentang Suami Siaga.
Lalu mengapa Anda terpilih lagi menjadi Duta Siaga?
Sasaran program itu mengena. Suami yang tadinya tidak menaruh perhatian
saat istrinya hamil, kini menjadi care dan mau terlibat. Setelah program
ini sukses John Hopkins University mempunyai program lain lagi yaitu
layanan Warga Siaga dan Bidan Siaga. Mereka menawari saya kembali karena
mereka melihat sukses iklan Suami Siaga.
Tugas Anda sebagai Duta Siaga?
Bila mereka mengadakan kampanye ke daerah, saya ikut. Tahun ini kami
memfokuskan ke Jawa Barat, seperti Kuningan dan Cirebon, ke daerah-daerah
yang memang dianggap rawan. Waktu kami ke Kuningan dan Cirebon ada juga
orang Indramayu yang datang.
Sebagai Duta, Anda juga menyanyi dangdut?
Itu salah satunya. Tapi intinya, kami menjelaskan apa itu arti Warga Siaga.
Dari sisi medis ada dokter ahli, yaitu dokter Cholil.
Di daerah Anda dikenal sebagai penyanyi atau Duta Siaga?
Sebelum saya omong soal Warga Siaga, mereka lebih mengenal saya sebagai
penyanyi. Setelah saya di atas panggung dan menjelaskan saya datang untuk
program ini, mereka tahu juga. Tetapi, karena mereka tahunya saya ini
penyanyi, akhirnya saya didaulat menyanyi juga. Banyak juga yang joget,
dari ibu-ibu bidan sampai bapak-bapak ha-ha-ha !
Selain soal kematian ibu saat melahirkan, persoalan perempuan apa yang
menjadi keprihatinan Anda?
Saya prihatin soal perempuan yang masih banyak dilecehkan. Di daerah, saya
prihatin dengan perempuan yang dijadikan komoditas, diperdagangkan. Hal
itu justru dari orangtua mereka untuk menopang nafkah mereka. Karena tidak
mempunyai keterampilan, akhirnya mereka berprofesi menjual diri. Bila kita
lihat, itu rasanya hina banget. Tetapi, bila kita lihat dari sisi lain,
sebenarnya mereka itu ngejalanin ka-rena terpaksa. Itulah yang membuat
saya prihatin, terutama dari daerah saya. Jadi, itu karena dorongan
ekonomi. Dasar pendidikan mereka juga tidak ada, pendidikan agama juga
tidak ada.
Mereka pergi ke Jakarta, Bandung, kota-kota besar, setelah pulang mereka
membawa rezeki dan itu membuat iri orang sekitarnya. Dan, anak-anak
sekarang informasinya cepat banget, bisa lewat televisi, mereka akhirnya
tidak berpikir soal kesehatan atau agama. Mereka lebih berpikir yang
penting dapat hidup senang.
Apa yang Anda lakukan?
Dari beberapa tahun lalu saya sudah omong pada Pemda supaya mengadakan
penyuluhan tentang bahaya profesi itu.
Sukses Anda sebagai penyanyi, mempengaruhi motivasi mereka?
Ya, banyak sih, tetapi saya sendiri tidak banyak membantu. Di bisnis
hiburan selain bakat, faktor keberuntungan juga menentukan sekali. Saat
saya pulang ke daerah, banyak orangtua datang. Mereka ingin anaknya
menjadi penyanyi.
Mereka mau menjual sawahnya agar anaknya bisa seperti
saya. Saya bilang kepada mereka, saya menjadi seperti ini tidak membayar
apa pun. Saya hanya mempunyai bakat lalu mendekatkan diri ke lingkungan
yang mendukung bakat saya, jadi orang di lingkungan itu akan tahu. Bila
hanya bawa duit tetapi tidak punya kemampuan, saya pikir semua orang bisa
nyanyi.
Citra Indramayu selama ini bagaimana?
Ada yang ingat mangga, tetapi ada yang ingat ceweknya. Saya ingin
tunjukkan tidak semua orang Indramayu seperti itu. Banyak orang Indramayu
yang mempunyai kemampuan.
Sewaktu saya kecil memang ada perasaan risi. Itulah mengapa saya mengaku
sebagai orang Cirebon. Tetapi, saya dimarahin Papih. Saya diberi pandangan
saya harus bangga sebagai orang Indramayu agar orang tahu tidak semuanya
begitu. Sekarang mereka lebih tahu soal kesehatan. Sekarang banyak
pengajian dan orangtua lebih mengerti dan ada perasaan malu untuk bekerja
seperti itu.
IIS Dahlia merintis karier sejak sekolah dasar ketika muncul keinginan
kuat menjadi penyanyi terkenal seperti Chicha Koeswoyo atau Adi Bing
Slamet. Saat SMP di Bandung, Iis kursus nyanyi di Himpunan Artis Penyanyi
dan Musisi Indonesia (HAPMI). Dia menjajal kemampuan menyanyi dengan
tampil di Ancol sampai Taman Mini dengan bayaran di bawah Rp 100.000.
Bakat menyanyi Anda dari mana?
Dilihat dari silsilah keluarga rasanya tidak ada. Mamih saya ibu rumah
tangga biasa, punya bisnis pertanian. Papih saya ulama berpandangan modern
dan suka kesenian, tetapi beliau juga tidak bakat menyanyi. Di sana memang
ada kesenian tarling yang main saat hajatan, tetapi tidak setiap ada
tarling saya boleh menonton. Saya, perempuan dan masih kecil, dianggap
Papih tidak layak untuk kelayapan di luar rumah.
Faktor keberuntungan Anda itu di mana?
Selain bakat saya juga punya cita-cita kuat dan ingin sekali menggapainya.
Saya ingin seperti Chicha Koeswoyo dan Adi Bing Slamet yang terkenal waktu
saya kecil. Kalau melihat mereka di televisi, terbersit di hati, "Saya
ingin seperti mereka."
Bagaimana Anda mewujudkannya?
Saya sekolah SMP di Bandung dan mengikuti kursus nyanyi di Himpunan Artis
Penyanyi dan Musisi Indonesia. Kursus itu, ya, cuma ikut nyanyi saja di
band, tidak ada latihan vokal khsusus seperti di Pranajaya itu. Terus saya
ingin mengikuti tes Wajah Baru di TVRI, karena katanya kalau tidak ikut
Wajah Baru tidak bisa rekaman, apalagi kami dari daerah.
Suatu kali ada orang mengatakan bisa mendaftarkan saya ke Wajah Baru,
tetapi saya dibohongi. Dia hanya menunjukkan gedung TVRI lalu masuk dan
kami disuruh menunggu di luar. Dia bilang mau mendaftarkan saya, tetapi
tidak pernah ada panggilan. Mungkin dia memang sama sekali tidak mendaftar.
Harus tertipu-tipu dulu seperti itu?
Ya, dan saya jadi tak punya harapan apa pun. Papih juga menyuruh saya
konsentrasi sekolah saja, mungkin dunia saya tidak di situ. Saya juga
sudah tidak mempunyai keinginan menyanyi. Pada saat seperti itu, ada teman
datang yang mendorong untuk mendaftar ke Wajah Baru. Dia ada kenalan teman
yang bekerja di TVRI. Saya mendaftar. Waktu itu ada ratusan peserta dan
saya termasuk salah satu yang dipilih. Kalau tak salah waktu itu juga ada
Inka Christie.
Wajah Baru mengubah perjalanan hidup Anda?
Dulu kalau sudah ikut tes, kami tunggu giliran tampil di televisi. Pas
saya nongol di acara Wajah Baru, ada produser dari Akurama yang kebetulan
mau melihat. Mereka mencari alamat saya dari TVRI dan setelah ketemu saya
langsung dikontrak enam album.
Itu album dangdut?
Nah, di sinilah lucunya. Saya sebelumnya nyanyi lagu pop manis, malah
sempat rekaman lagu seleksinya Om Pance (Pondaag), tetapi mereka
menawarkan rekaman lagu dangdut karena katanya pasar musik pop sedang sepi.
Saya pikir kesempatan itu tidak datang dua kali. Bagi saya ini benar-benar
rezeki dari Tuhan, karena pada saat saya benar-benar tanpa harapan malah
ada kesempatan. Saya berpikir, masak di antara enam album itu tidak tidak
ada yang meledak hingga membuat orang setidaknya tahu ini, lho, ada
penyanyi namanya Iis.
Dari penyanyi pop ke dangdut, ada problem?
Saya belajar. Sebulan sebelum rekaman saya sudah mempelajari lagunya. Saya
meminta waktu untuk mempelajari lagu. Waktu album pertama dan kedua suara
saya enggak keriting (berlenggok-lenggok-Red). Musiknya dangdut, tetapi
suara saya pop. Setelah rekaman kedua saya dapat HDX Award, sudah satu
juta kopi. Itu untuk album Tamu Tak Diundang. Padahal, saya sama sekali
tidak mengharapkan itu.
Setelah sukses, Anda tidak berpaling dari dangdut?
Saya malah tertantang. Waktu itu orang melihat dangdut tidak seperti
sekarang. Dulu, dangdut itu musik yang enggak dilihat orang. Kalaupun ada,
yang melihat orang kalangan menengah ke bawah karena mereka memang suka.
Dibedakan sampai seperti apa?
Saya pernah marah saat nyanyi ke daerah Sulawesi. Kami sama-sama dikontrak
oleh orang yang sama di panggung yang sama. Saya tampil bareng dengan band
rock, tetapi mereka diinapkan di hotel berbintang sedangkan saya di hotel
melati. Itu diskriminatif. Saya tak mau diperlakukan seperti ini karena
tahu penjualan kaset dangdut jauh di atas mereka. Saat show, animo
masyarakat juga lebih banyak ke acara saya. Saya ingin membuktikan saya
dapat seperti mereka dan saya harus diperlakukan seperti mereka.
Bagaimana Anda membangun citra dangdut?
Dulu citra musik dangdut, kostumnya menggoda dengan goyang dan tarian
erotis. Lalu orang, apalagi ibu-ibu, mengira dangdut itu ya cuma begitu.
Saya mencoba memfokuskan ke vokal dan tidak pada tarian. Ini karena, terus
terang saja, saya tidak pandai menari, maksudnya menari dengan harmoni.
Erotis maksudnya?
Dulu, orang mengira dangdut itu harus goyang maka yang ada ya itu tadi,
dangdut kesannya erotis karena dipaksakan goyang. Dari situ saya mencoba
mencari warna sendiri. Saya ingin mengubah pandangan orang, yaitu kalau
datang ke acara dangdut mereka tidak harus melulu menikmati goyang, tetapi
vokal penyanyi dan musiknya. Jadi, kalau orang nonton pertunjukan saya
benar-benar karena ingin menikmati lagu dan suara saya.
Orang banyak terkesan dengan kumis tipis Anda?
Ah, itu alami, tidak dibuat-buat. Itu menjadi bagian dari tubuh saya. Saya
enggak pernah memeliharanya atau merasa risi, jadi ya biasa saja. Ada yang
bilang saya pernah mencabuti, itu kan nanti malah tumbuh lebat. Buat saya,
biar saja orang bilang itu seksi. Kumis itu ada dengan sendirinya dan saya
tidak pernah mempedulikannya. Seakan-akan itu sesuatu yang saya jaga-jaga,
padahal enggak. Tetapi, jangan dilihat kumisnya. Kalau mau lihat ciri Iis,
ya, vokalnya.
***Tokoh Indonesia, Repro Kompas, Pewawancara: Frans
Sartono
|
|
 |
| Lead |
 |
"Mungkin karena profesi saya artis dan juga karena saya public
figure orang pun tahu waktu rumah tangga saya goncang. Ya, ada-ada sajalah
orang yang iseng. Saya balik bertanya, apa saya mau dijadikan korban
keisengan mereka? Saya berpikir saya punya anak dan saya ingin memberi
yang baik kepada anak saya," cetus Iis.
 |
| Disainer |
 |
Bunga selalu muncul berulang kali dalam sejarah mode. Dua tahun ini,
dunia mode memang sedang terobsesi pada bunga. Ghea Panggabean pun tak
imun dengan daya tarik bunga. Kali ini untuk Danar Hadi, Ghea membuat tema
bunga dengan nama Botanica Garden.
 |
| Editorial |
 |
Kapur Sirih
|
|