ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Search     A   B     D     F       I       L     N   O   P   Q   R   S     U     W     Y   Z
ARTIS

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::

R updated 230502
IIS DAHLIA
INDEX SELEBRITI   

garis

:::::: Selebriti garis

:::::: Selebriti Indonesia garis
:::::::::::: Artis
garis
:::::::::::: Musisi
garis
:::::::::::: Model
garis
:::::::::::: Disainer
garis
:::::::::::: Announcer
garis
:::::::::::: Lainnya
garis
:::::: Selebriti Dunia
garis
:::::: Redaksi
garis

 
garis
garis

 

Iis Dahlia Sang Primadona Dangdut

Sosok Iis Dahlia, penyanyi dangdut ini tentu tidak asing bagi Anda. Selain menyanyi, dia kini sedang gencar berkampanye Warga Siaga untuk menurunkan risiko kematian ibu melahirkan. Tentu Iis bergaya dangdut dengan gaya vokal "keriting", meliuk-liuk. Iis dianggap sangat dekat dengan kalangan yang disasar kampanye yang antara lain didukung John Hopkins University dari Amerika Serikat itu, yaitu masyarakat menengah ke bawah.
 

Industri hiburan menyulap perempuan bernama asli Iis Laeliyah menjadi Iis Dahlia. Perempuan kelahiran Desa Kerta Jaya, Kecamatan Bongasan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, 29 Mei 1972 ini pantas menyandang julukan primadona dangdut. Ini sebenarnya pembelokan jalan hidup, karena putri pasangan Haji Makhmuri almarhum dan Hajjah Komariah ini berangkat ke belantika musik sebagai penyanyi pop. Juragan rekaman melihat potensi Iis dan dibelokkanlah menjadi dangdut. Alasannya, saat itu bisnis rekaman musik pop sedang sepi.


Dan, ternyata itu perhitungan jitu. Album kedua Iis berjudul Tamu Tak Diundang pada tahun 1992 mendapat penghargaan HDX, sebuah ajang yang mengukur sukses musik dengan ukuran kuantitas penjualan kaset. Itu artinya, album itu terjual di atas angka 500.000 buah dan tercatat sebagai album dangdut terlaris sepanjang tahun 1991. Artinya lagi, kehadiran Iis diterima publik.


Pada awal karier, Iis bisa naik panggung lima kali seminggu. Maka, dengan hitungan kasar, setidaknya Iis manggung lebih dari 200 kali setahun. Belakangan menyusul album Janda Kembang, Cinta Yang Ternoda, Sakitnya Hatiku, Kasih, Gara-gara Malam Minggu, Payung Hitam, dan Bagai Ranting-ranting Kering yang memantapkan posisi Iis di jagat dangdut. Begitulah budaya pop dengan dinamikanya sendiri, menggeliat dan menciptakan massa berikut icon-nya sendiri seperti mereka lekatkan pada sosok Iis Dahlia.


Berikut ini penuturan ibu dari Salsadilla Juwita (4) ini ketika tengah sibuk mempersiapkan hajatan perkawinannya dengan Satrio Dewandoro, pilot yang akrab disapa Andri. Ini perkawinan kedua Iis setelah bercerai dari pengusaha Dadang Indrajaya. Persiapan itu termasuk melulur tubuh delapan jam sehari, sejak dua minggu sebelum hari-H.


Anda sudah siap menikah?
Secara mental dan fisik kami sudah siap. Kami memutuskan menikah bukan dengan keputusan emosional. Kami rasanya sudah dewasa dan sudah dapat berpikir matang.


Ada perbedaan dengan perkawinan pertama?
Beda. saat perkawina pertama saya menikah hanya ada penghulu, saya, dan Dadang. Sekarang kami bikin syukuran dan mengundang teman-teman. Itu yang membuat saya tegang karena persiapannya terlalu banyak. Kalau soal getaran cinta, sama saja. Bedanya, sekarang tidak lagi hanya dengan emosi. Dulu, saya gadis umur dua puluhan tahun, sekarang sudah tiga puluh tahun. Jadi, segala sesuatunya dipikirkan.


Dulu emosi menyala-nyala?
Dulu berpikirnya tidak panjang. Sekarang kami pikir panjang-panjang. Saya ingin ini pernikahan terakhir, jadi egoisnya harus diturunkan. Kami menyadari, menyatukan dua perbedaan dari dua manusia memang susah. Apalagi sekarang ada Salsa. Kami juga memikirkan pendidikan Salsa yang notabene adalah anak tirinya Andri.


Bagaimana Anda memandang perkawinan?
Perkawinan itu sakral dan inginnya dalam hidup itu hanya sekali. Perkawinan itu sesuatu yang harus dijaga dan harus ada cinta, saling pengertian, dan menghargai.


Anda melibatkan Salsa dalam memutuskan menikah lagi?
Melibatkan secara pikiran mungkin enggak karena dia masih empat tahun. Tetapi, dari awal saya kenal Andri, saya melihat kedekatan dia dengan Salsa. Saya lihat bagaimana Salsa menerima Andri. Setelah memutuskan menikah dengan Andri, Salsa excited, girang banget.


Bagaimana menjelaskan kepada anak umur empat tahun?
Saya omong sama Salsa bahwa saya mau nikah dengan Papa. Salsa, kan, memanggil Andri dengan Papa. Saya bilang Andri akan menjadi papanya Salsa. Andri akan menyayangi Salsa sama seperti Ayah (Ayah adalah panggilan Dadang-Red). Saya katakan, kita nanti akan mengundang teman-teman. Dia senang sekali. Salsa bilang 'Oh iya nanti Mama mau jadi Barbie, aku juga mau jadi Barbie.'"


Bila Salsa tidak dekat dengan dia, enggak mungkin saya mengiyakan. Jadi, Salsa itu faktor nomor satu.


Sewaktu menjanda, ada beban psikis?
Iya banget. Dulu saya ini orang yang amat sangat bergaul dengan semua lingkungan. Karena predikat janda itu akhirnya banyak gosip yang mengatakan saya pacaran dengan si ini atau itu. Padahal, saya bergaul tidak di lingkup saya saja. Terus saja saya digosipkan tiap minggu. Mungkin karena gosip itu, dan karena predikat saya itu, saya jadi membatasi diri. Setelah membatasi diri malah saya merasa ada yang berbeda, saya merasa bukan diri saya lagi. Saya lalu memutuskan kembali pada diri saya sendiri dengan lebih menjaga sikap.


Misalnya?
Misalnya, ketika masih mempunyai suami, ketemu orang saya ramah ketawa-tawa. Orang tak punya prasangka apa-apa karena saya waktu itu bersuami. Saat menyandang predikat janda saya tetap bergaul, tetapi saya menjaga sikap agar orang tidak berprasangka yang enggak-enggak.


Pernah ada godaan?
Ya, ada sajalah. Mungkin karena profesi saya artis dan juga karena saya public figure orang pun tahu waktu rumah tangga saya goncang. Ya, ada-ada sajalah orang yang iseng. Saya balik bertanya, apa saya mau dijadikan korban keisengan mereka? Saya berpikir saya punya anak dan saya ingin memberi yang baik kepada anak saya.


Pernah merasa kesepian?
Kalau sepi yang arahnya ke fisik tidak. Saya banyak teman, ada Salsa yang menjadi faktor penting banget buat saya. Dia menghibur sekali. Ada juga keluarga yang memberi dorongan dan menghibur saya. Mereka bergantian menginap di rumah saya pada akhir pekan.
Merasa kehilangan orang yang bisa saya ajak bicara, memang iya. Meskipun dulu saya tidak bergantung banget pada Dadang, dalam hal tertentu saya bicara atau bertanya sama dia. Terus tiba-tiba saya tidak dapat melakukan itu lagi. Memang ada teman, tetapi bisakah teman yang bisa diajak bicara sesuatu yang pribadi?


Bagaimana Anda bisa ditunjuk sebagai Duta Siaga?
Mereka semula mencari untuk kalangan menengah ke bawah karena mereka mempunyai program yang sasarannya kalangan itu. Sebelumnya, enam tahun lalu ada program Suami Siaga. Mereka pilih penyanyi dangdut dan ada beberapa yang terpilih. Mereka seleksi lagi untuk mencari siapa yang dapat menyosialisasikan program. Saya enggak tahu bagaimana proses menggodoknya, tetapi akhirnya mereka menghubungi saya. Tanpa dites saya diajak omong dan besoknya kami negosiasi.


Saat perkawinan Anda goncang, mereka mempersoalkan?
Waktu itu saya bilang mau mengundurkan diri dari iklan. John Hopkins University sudah tahu soal itu. Saya bilang pada mereka, tolong dipertimbangkan, kayaknya rumah tangga saya tidak bisa dipertahankan. Iklan layanan ini sangat berpengaruh karena menurut data iklan Suami Siaga termasuk iklan layanan yang paling digemari.
Mereka bilang akan menampung dan mempertimbangkan. Setelah publik tahu rumah tangga saya goncang, saya tanya lagi. Mereka bilang, 'Kami tetap pakai kamu'. Mereka tidak terpengaruh status saya. Saya berterima kasih karena mereka mempercayakan iklan itu kepada saya, meskipun kondisi saya jauh banget dengan isi iklan tentang Suami Siaga.


Lalu mengapa Anda terpilih lagi menjadi Duta Siaga?
Sasaran program itu mengena. Suami yang tadinya tidak menaruh perhatian saat istrinya hamil, kini menjadi care dan mau terlibat. Setelah program ini sukses John Hopkins University mempunyai program lain lagi yaitu layanan Warga Siaga dan Bidan Siaga. Mereka menawari saya kembali karena mereka melihat sukses iklan Suami Siaga.


Tugas Anda sebagai Duta Siaga?
Bila mereka mengadakan kampanye ke daerah, saya ikut. Tahun ini kami memfokuskan ke Jawa Barat, seperti Kuningan dan Cirebon, ke daerah-daerah yang memang dianggap rawan. Waktu kami ke Kuningan dan Cirebon ada juga orang Indramayu yang datang.


Sebagai Duta, Anda juga menyanyi dangdut?
Itu salah satunya. Tapi intinya, kami menjelaskan apa itu arti Warga Siaga. Dari sisi medis ada dokter ahli, yaitu dokter Cholil.
Di daerah Anda dikenal sebagai penyanyi atau Duta Siaga?
Sebelum saya omong soal Warga Siaga, mereka lebih mengenal saya sebagai penyanyi. Setelah saya di atas panggung dan menjelaskan saya datang untuk program ini, mereka tahu juga. Tetapi, karena mereka tahunya saya ini penyanyi, akhirnya saya didaulat menyanyi juga. Banyak juga yang joget, dari ibu-ibu bidan sampai bapak-bapak ha-ha-ha !


Selain soal kematian ibu saat melahirkan, persoalan perempuan apa yang menjadi keprihatinan Anda?
Saya prihatin soal perempuan yang masih banyak dilecehkan. Di daerah, saya prihatin dengan perempuan yang dijadikan komoditas, diperdagangkan. Hal itu justru dari orangtua mereka untuk menopang nafkah mereka. Karena tidak mempunyai keterampilan, akhirnya mereka berprofesi menjual diri. Bila kita lihat, itu rasanya hina banget. Tetapi, bila kita lihat dari sisi lain, sebenarnya mereka itu ngejalanin ka-rena terpaksa. Itulah yang membuat saya prihatin, terutama dari daerah saya. Jadi, itu karena dorongan ekonomi. Dasar pendidikan mereka juga tidak ada, pendidikan agama juga tidak ada.


Mereka pergi ke Jakarta, Bandung, kota-kota besar, setelah pulang mereka membawa rezeki dan itu membuat iri orang sekitarnya. Dan, anak-anak sekarang informasinya cepat banget, bisa lewat televisi, mereka akhirnya tidak berpikir soal kesehatan atau agama. Mereka lebih berpikir yang penting dapat hidup senang.


Apa yang Anda lakukan?
Dari beberapa tahun lalu saya sudah omong pada Pemda supaya mengadakan penyuluhan tentang bahaya profesi itu.
Sukses Anda sebagai penyanyi, mempengaruhi motivasi mereka?
Ya, banyak sih, tetapi saya sendiri tidak banyak membantu. Di bisnis hiburan selain bakat, faktor keberuntungan juga menentukan sekali. Saat saya pulang ke daerah, banyak orangtua datang. Mereka ingin anaknya menjadi penyanyi.

 

Mereka mau menjual sawahnya agar anaknya bisa seperti saya. Saya bilang kepada mereka, saya menjadi seperti ini tidak membayar apa pun. Saya hanya mempunyai bakat lalu mendekatkan diri ke lingkungan yang mendukung bakat saya, jadi orang di lingkungan itu akan tahu. Bila hanya bawa duit tetapi tidak punya kemampuan, saya pikir semua orang bisa nyanyi.


Citra Indramayu selama ini bagaimana?
Ada yang ingat mangga, tetapi ada yang ingat ceweknya. Saya ingin tunjukkan tidak semua orang Indramayu seperti itu. Banyak orang Indramayu yang mempunyai kemampuan.


Sewaktu saya kecil memang ada perasaan risi. Itulah mengapa saya mengaku sebagai orang Cirebon. Tetapi, saya dimarahin Papih. Saya diberi pandangan saya harus bangga sebagai orang Indramayu agar orang tahu tidak semuanya begitu. Sekarang mereka lebih tahu soal kesehatan. Sekarang banyak pengajian dan orangtua lebih mengerti dan ada perasaan malu untuk bekerja seperti itu.


IIS Dahlia merintis karier sejak sekolah dasar ketika muncul keinginan kuat menjadi penyanyi terkenal seperti Chicha Koeswoyo atau Adi Bing Slamet. Saat SMP di Bandung, Iis kursus nyanyi di Himpunan Artis Penyanyi dan Musisi Indonesia (HAPMI). Dia menjajal kemampuan menyanyi dengan tampil di Ancol sampai Taman Mini dengan bayaran di bawah Rp 100.000.


Bakat menyanyi Anda dari mana?
Dilihat dari silsilah keluarga rasanya tidak ada. Mamih saya ibu rumah tangga biasa, punya bisnis pertanian. Papih saya ulama berpandangan modern dan suka kesenian, tetapi beliau juga tidak bakat menyanyi. Di sana memang ada kesenian tarling yang main saat hajatan, tetapi tidak setiap ada tarling saya boleh menonton. Saya, perempuan dan masih kecil, dianggap Papih tidak layak untuk kelayapan di luar rumah.


Faktor keberuntungan Anda itu di mana?
Selain bakat saya juga punya cita-cita kuat dan ingin sekali menggapainya. Saya ingin seperti Chicha Koeswoyo dan Adi Bing Slamet yang terkenal waktu saya kecil. Kalau melihat mereka di televisi, terbersit di hati, "Saya ingin seperti mereka."
Bagaimana Anda mewujudkannya?


Saya sekolah SMP di Bandung dan mengikuti kursus nyanyi di Himpunan Artis Penyanyi dan Musisi Indonesia. Kursus itu, ya, cuma ikut nyanyi saja di band, tidak ada latihan vokal khsusus seperti di Pranajaya itu. Terus saya ingin mengikuti tes Wajah Baru di TVRI, karena katanya kalau tidak ikut Wajah Baru tidak bisa rekaman, apalagi kami dari daerah.


Suatu kali ada orang mengatakan bisa mendaftarkan saya ke Wajah Baru, tetapi saya dibohongi. Dia hanya menunjukkan gedung TVRI lalu masuk dan kami disuruh menunggu di luar. Dia bilang mau mendaftarkan saya, tetapi tidak pernah ada panggilan. Mungkin dia memang sama sekali tidak mendaftar.


Harus tertipu-tipu dulu seperti itu?
Ya, dan saya jadi tak punya harapan apa pun. Papih juga menyuruh saya konsentrasi sekolah saja, mungkin dunia saya tidak di situ. Saya juga sudah tidak mempunyai keinginan menyanyi. Pada saat seperti itu, ada teman datang yang mendorong untuk mendaftar ke Wajah Baru. Dia ada kenalan teman yang bekerja di TVRI. Saya mendaftar. Waktu itu ada ratusan peserta dan saya termasuk salah satu yang dipilih. Kalau tak salah waktu itu juga ada Inka Christie.


Wajah Baru mengubah perjalanan hidup Anda?
Dulu kalau sudah ikut tes, kami tunggu giliran tampil di televisi. Pas saya nongol di acara Wajah Baru, ada produser dari Akurama yang kebetulan mau melihat. Mereka mencari alamat saya dari TVRI dan setelah ketemu saya langsung dikontrak enam album.


Itu album dangdut?
Nah, di sinilah lucunya. Saya sebelumnya nyanyi lagu pop manis, malah sempat rekaman lagu seleksinya Om Pance (Pondaag), tetapi mereka menawarkan rekaman lagu dangdut karena katanya pasar musik pop sedang sepi. Saya pikir kesempatan itu tidak datang dua kali. Bagi saya ini benar-benar rezeki dari Tuhan, karena pada saat saya benar-benar tanpa harapan malah ada kesempatan. Saya berpikir, masak di antara enam album itu tidak tidak ada yang meledak hingga membuat orang setidaknya tahu ini, lho, ada penyanyi namanya Iis.


Dari penyanyi pop ke dangdut, ada problem?
Saya belajar. Sebulan sebelum rekaman saya sudah mempelajari lagunya. Saya meminta waktu untuk mempelajari lagu. Waktu album pertama dan kedua suara saya enggak keriting (berlenggok-lenggok-Red). Musiknya dangdut, tetapi suara saya pop. Setelah rekaman kedua saya dapat HDX Award, sudah satu juta kopi. Itu untuk album Tamu Tak Diundang. Padahal, saya sama sekali tidak mengharapkan itu.


Setelah sukses, Anda tidak berpaling dari dangdut?
Saya malah tertantang. Waktu itu orang melihat dangdut tidak seperti sekarang. Dulu, dangdut itu musik yang enggak dilihat orang. Kalaupun ada, yang melihat orang kalangan menengah ke bawah karena mereka memang suka.


Dibedakan sampai seperti apa?
Saya pernah marah saat nyanyi ke daerah Sulawesi. Kami sama-sama dikontrak oleh orang yang sama di panggung yang sama. Saya tampil bareng dengan band rock, tetapi mereka diinapkan di hotel berbintang sedangkan saya di hotel melati. Itu diskriminatif. Saya tak mau diperlakukan seperti ini karena tahu penjualan kaset dangdut jauh di atas mereka. Saat show, animo masyarakat juga lebih banyak ke acara saya. Saya ingin membuktikan saya dapat seperti mereka dan saya harus diperlakukan seperti mereka.


Bagaimana Anda membangun citra dangdut?
Dulu citra musik dangdut, kostumnya menggoda dengan goyang dan tarian erotis. Lalu orang, apalagi ibu-ibu, mengira dangdut itu ya cuma begitu. Saya mencoba memfokuskan ke vokal dan tidak pada tarian. Ini karena, terus terang saja, saya tidak pandai menari, maksudnya menari dengan harmoni.


Erotis maksudnya?
Dulu, orang mengira dangdut itu harus goyang maka yang ada ya itu tadi, dangdut kesannya erotis karena dipaksakan goyang. Dari situ saya mencoba mencari warna sendiri. Saya ingin mengubah pandangan orang, yaitu kalau datang ke acara dangdut mereka tidak harus melulu menikmati goyang, tetapi vokal penyanyi dan musiknya. Jadi, kalau orang nonton pertunjukan saya benar-benar karena ingin menikmati lagu dan suara saya.


Orang banyak terkesan dengan kumis tipis Anda?
Ah, itu alami, tidak dibuat-buat. Itu menjadi bagian dari tubuh saya. Saya enggak pernah memeliharanya atau merasa risi, jadi ya biasa saja. Ada yang bilang saya pernah mencabuti, itu kan nanti malah tumbuh lebat. Buat saya, biar saja orang bilang itu seksi. Kumis itu ada dengan sendirinya dan saya tidak pernah mempedulikannya. Seakan-akan itu sesuatu yang saya jaga-jaga, padahal enggak. Tetapi, jangan dilihat kumisnya. Kalau mau lihat ciri Iis, ya, vokalnya.

 

***Tokoh Indonesia, Repro Kompas, Pewawancara: Frans Sartono


  Lead

"Mungkin karena profesi saya artis dan juga karena saya public figure orang pun tahu waktu rumah tangga saya goncang. Ya, ada-ada sajalah orang yang iseng. Saya balik bertanya, apa saya mau dijadikan korban keisengan mereka? Saya berpikir saya punya anak dan saya ingin memberi yang baik kepada anak saya," cetus Iis.


 Disainer

Gea Suguhkan Botanica Garden"

Bunga selalu muncul berulang kali dalam sejarah mode. Dua tahun ini, dunia mode memang sedang terobsesi pada bunga. Ghea Panggabean pun tak imun dengan daya tarik bunga. Kali ini untuk Danar Hadi, Ghea membuat tema bunga dengan nama Botanica Garden.

 

  Editorial

Kapur Sirih

 

Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero