|
|
ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA |
|
| Search |
|
|||||||||||||||
|
|
|
|||||||||||||||
|
|
|
|
|
|||||||||||||
| :: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka :: | ||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||
|
|
C © updated 231102 | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
Cornelia ‘Sarah’ Agatha Pencinta dan Pelaku Seni Peran Seni peran adalah dunia Cornelia Agatha, disapa Lia. Ia sangat mencintai
dunia seni peran itu. Pantas saja wanita cantik berdarah Jawa, Manado,
Belanda, Jerman dan Yahudi ini bisa tampil prima baik dalam sinetron,
teater ataupun layar lebar bahkan dalam dunia tari. Ia berprinsip bahwa
seni haruslah dihidupi bukan menghidupi.Dara kelahiran Jakarta, 11 Januari 1973 ini, belakangan sering tampil dalam sebuah pementasan teater. Bukan untuk sekedar mengasah kemampuan di dunia seni peran, tapi juga mencari sebuah keseimbangan dalam berkesenian. Ia mengaku ada kepuasan bathin jika terlibat dalam sebuah pementasan panggung. Selalu menemukan hal-hal baru yang bisa dieksplorasi. Di situ ia bisa mengukur eksistensi dan dedikasi pada dunia seni. Makanya, ia pun mau terlibat dalam teater meski tidak selalu dibayar, asalkan konsepnya sesuai. Ia berprinsip bahwa seni haruslah dihidupi bukan menghidupi. Baginya tanggung jawab pada kesenian, profesi dan karya harus didahulukan. Bakat aktingnya telah terlihat sejak ia duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar. Ia senang sekali beraksi di depan kamera. Maka, ketika remaja, bakatnya itu mencuat dan menarik perhatian. Ia mengawali karir aktingnya dalam film layar lebar. Mulai dari Lupus I, Elegi untuk Nana dan Rini Tomboy. Dalam dunia layar lebar ia pernah berhasil masuk nominasi aktris terbaik dalam film Rini Tomboy, pada Festival Film Indionesia (FFI) tahun 1992. Namun demikian ia merasa belum begitu penuh berperan di layar lebar. Pasalnya, situasi mendung yang masih menyelimuti perfilman tanah air. Dalam beberpa tahun terakhir film layar lebar memang seperti lesu darah. Produksi perfilman Indonesia makin semain surut. Sehingga banyak artis film layar lebar berkecimpung dalam film layar kaca atau sinetron. Termasuk Lia, sangat sibuk terlibat dalam membintangi sinetron. Perannya yang paling menonjol terlihat dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan, sampai lima seri. Dalam sinetron ini, ia berperan sebagai Sarah. Sehingga banyak publik yang lebih mengenalnya sebagai seorang Sarah ketimbang nama aslinya. "Sekarang banyak ibu-ibu yang justru memanggilku Sarah," kata dara yang amat berminat pada psikologi ini. Selain berperan dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan, ia juga telah mebintangi banyak sinetron, antara lain Opera Tiga Zaman, Senja Merah Hati, Aku Ingin Pulang, Cintanya Cinta, Istri Kedua, dan Perempuan Pilihan. Oleh Forum Film Bandung (FFB) 2002, ia bersama Lidya Kandou dianugerahi aktris terpuji dalam perannya di sinetron Perempuan Pilihan. Belakangan Lia banyak terlibat dalam pementasan teater. Katanya, hal ini untuk memenuhi keinginannya mencari sebuah keseimbangan dalam seni. Dalam dunia teater, mantan vokalis grup Protonema, ini tampaknya menemukan suasana batin yang lain. Di teater ia merasa lebih bebas berekspresi. Di sutu pula ia merasa menemukan eksplorasi baru yang tidak pernah dijumpai dalam akting lainnya. Dunia teater bukanlah barang baru baginya. Ia telah terlibat dalam beberpa pentas teater. Antara lain, Bayi di Aliran Sungai, Saijah dan Adinda, Menembus Ruang dan Waktu, Wisanggeni Berkelebat, dan Dari Negeri Cinta. Seperti ketika ia tampil di atas panggung berukuran 14 X 12 meter di Bandung pada acara konser tunggal Micko berjudul Menembus Ruang dan Waktu. Lia yang mengenakan pakaian merah marun menyala menggerakan tubuhnya dengan menawan. Lewat gerak ia piawai mengekspresikan musik ke dalam gerakan yang bebas bersama enam penari lainnya. Tarian Lia, yang diiringi lengkingan melodius permainan gitar Micko, seakan membius ratusan penonton yang memadati gedung itu. Micko meminta Lia berkenan terlibat dalam acara itu. Mereka teman lama yang sudah lama tidak ketemu. “Eh tiba-tiba Micko minta tolong agar saya ikut di acaranya,” kata Lia yang juga pandai menari goyang pinggul dan perut. Ia berkenan terlibat setelah melihat konsepnya cukup unik dan idealis. Ia memang merasa lebih senang terlibat dalam sebuah pementasan yang mengharuskannya berakting saja. Sementara, dalam lakon Bayi di Aliran Sungai bersama Teater tetas, ia memerankan nenek-nenek berusia ribuan tahun, simbol sang waktu. Lalu beberapa waktu lalu tampil sebagai sang Batari Durga dalam lakon Wisanggeni Berkelebat garapan sutradara Ags Arya Dipayana di Gedung Kesenian Jakarta. Kemudian, berperan sebagai raksasa betina Sarpakenaka, adik Rahwana, yang doyan seks dalam opera berjudul Dari Negeri Cinta. Dalam lakon Kisah Saijah dan Adinda, ia berperan sebagai Tine, istri Max Havelaar. Kisah ini digelar berdasarkan buku Max Havelaar karya pengarang berkebangsaan Belanda Eduard Douwes Dekker atau dikenal dengan Multatuli, di panggung Keraton Yogyakarta Hadiningrat, 25 November 2001 lalu. Ia merasa perannya dalam teater ini sangat mengesankan. Semua dunia seni peran sudah dilakoninya. Namun, ia mengaku belum merasa menjadi aktris yang sesungguhnya. Untuk itu ia merasa masih harus belajar terus menerus. Di samping itu, di tengah kesibukannya, Lia juga menggumuli kursus bela diri yang dibangun bersama Soni. Lia tidak ikut melatih tapi hanya mengawasi jalannya administrasi kursus bela diri itu. Hampir tiap hari ia muncul di pedepokan bela diri itu. *** Selebriti ETI, Yusak dan Dandy dari berbagai sumber. |
Ia mengaku ada kepuasan bathin jika terlibat dalam sebuah pementasan panggung meski tidak selalu dibayar. Di situ ia bisa mengukur eksistensi dan dedikasi pada dunia seni. Ia berprinsip bahwa seni haruslah dihidupi bukan menghidupi.
Nama:
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
| Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |