| |
C © updated
03072004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/aw |
|
| |
Nama lengkap:
Arianto Wibowo
Nama akrab:
Ari Wibowo
Lahir:
Berlin, Jerman, 26 Desember 1970
Agama:
Kristen
Ayah:
Wibowo Wiryodiprojo
Ibu:
Sibylle Ollmann
Kakak:
Ira Wibowo
Pendidikan:
- STEKPI (Program Keuangan, S1), Jakarta
- Wessex English College, Sidney Australia
- The Regent Business College, Sidney Australia
Pekerjaan:
Aktor, model iklan, model busana
Prestasi:
- Bintang Sinetron Pria Berbinar 2001, Tabloid Buletin Sinetron,
Mei 2001
- Bintang Iklan Pria Berbinar 2001, Tabloid Buletin Sinetron, Mei 2001
- Bintang Pria Paling Tampan, Bintang Pria Paling Jantan, dan Bintang Pria
Paling Disukai, Hasil Survey FRONTIER Majalah Periklanan Cakram, Februari
2001
- Artis Pria Terfavorit, Pilihan Pembaca & Pemirsa Cek & Ricek, Februari
2001
- Artis Terfavorit tahun 2000, Versi Tabloid Buletin Sinetron
- Bintang Paling Berkilau 2000, Bintang Indonesia Online
- Bintang Drama Televisi Pria Favorit tahun 2000, Panasonic Awards 2000
- Artis Pria Terfavorit, Pilihan Pembaca & Pemirsa Cek & Ricek, 2000
- Artis Pria Favorit, Acara TV Kabar-Kabari, 2000
- Cowok Paling Cool & Seksi, Penghargaan Radio Prambors, 1998
- Juara 3 Kejuaraan Tae Kwon Do se-Jakarta, 1986
Sinetron:
- Cinta Berkalang Noda 2, 2002
- Harga Diri 2, 2001
- Cinta Berkalang Noda, 2001
- Harga Diri, 2000
- Darah dan Cinta 2, 2000
- Jangan Ucapkan Cinta, 1999
- Janji Hati, 1999
- Tersanjung, 1995
- Perjalanan, 1997
- Terlanjur Sayang, 1996
- Impian Dewata, 1996
- Badai Pasti Berlalu, 1996
- Darah dan Cinta, 1995
- Jacky, 1995
- Deru-Debu, 1994
- Keluarga van Danoe Wiryo, 1993
Film:
- Si Manis Jembatan Ancol, 1993
- Pesta, 1992
- Aku Rindu, 1991
- Pengantin, 1990
- Valentine, 1989
Iklan:
- Rokok Minak Djinggo
- Obat Fatigon
- Perbersih wajah Oval Maskulin
Sumber:
ariwibowo.com, dan sebagainya. |
|
| |
|
|
|
|
Ari Wibowo
Bintang yang Terus Bersinar
Pria berdarah Indo Jawa-Jerman ini, mengawali karirnya sebagai peragawan
dan foto model hingga kemudian menjatuhkan pilihannya menjadi bintang
film dan sinetron. Di kalangan selebritis, peraih penghargaan Bintang
Drama Televisi Pria Favorit tahun 2000 dari Panasonic Awards 2000 ini
dikenal tidak merokok, rajin beribadah, dan berusaha menjadi teladan
bagi lingkungannya.
Ari Wibowo lahir di Berlin, 26 Desember 1970, saat salju turun mewarnai
suasana Natal di kotanya. Tidak lama setelah kelahirannya, Ari dan
kakaknya, Ira, pindah dari kota Berlin ke sebuah kota kecil bernama
Konstanz yang terletak di tepi danau Bodensee berbatasan dengan Swiss.
Di kota inilah Ari menghabiskan masa kanak-kanaknya yang menjadi sumber
inspirasi untuk kehidupannya kelak.
Sejak usia 7 tahun, Ari sudah tertarik dengan ilmu bela diri dan senang
mengamati film. Untuk kesenangannya ini, ia tak segan berangkat
sendirian naik bis, hanya demi menonton di sebuah bioskop kecil di
tengah kota. Di usia itu, Ari kecil tak sekedar menikmati cerita atau
gambar di layar lebar. Diam-diam ia mengamati dan menirukan tingkah
polah akting para pemain film itu. Sementara untuk hobinya yang lain,
Ari mendaftar diri sebagai anggota perguruan karate yang terletak di
tingkat bawah tanah gedung apartemen yang dihuni keluarganya.
Sejak kecil, orangtuanya telah mengajarkan Ari untuk bertanggungjawab
dan hidup mandiri. Jika Ari ingin nonton film tidak dengan begitu saja
Ari bisa memperoleh uang untuk membeli tiket bioskop dari orangtuanya.
Agar bisa selalu nonton film, Ari memutar otak untuk mendapatkan uang.
Caranya dengan membawa anjing-anjing tetangganya JJS alias jalan-jalan
sore, yang dikenal juga dengan istilah 'dog walker'.
Kebetulan ada lima pasangan tetangga Ari di rumah tingkat itu, yang
sehari-hari sibuk bekerja. Mereka punya anjing, tapi tak sempat mengajak
anjingnya jalan-jalan. Jadilah Ari mengambil alih tugas itu hampir
setiap sore setelah pulang dari sekolah. Setelah puas berkeliling selama
dua jam, anjing-anjing tadi diantar Ari pulang ke rumah tuannya
masing-masing. Untuk jerih payahnya, Ari mendapat upah antara 1 hingga 5
DM. Dari sini, Ari sudah mulai belajar untuk menghargai hasil keringat
sendiri.
Setelah 10 tahun terbiasa dengan alam kehidupan Jerman, masakan Jerman,
dan sehari-hari berkomunikasi dengan bahasa Jerman, Ari ikut orangtuanya
menetap di Jakarta, Indonesia. Tentu saja, saat itu Ari sama sekali tak
bisa berbicara dengan bahasa ayahnya, bahasa Indonesia. Celakanya, baru
sebulan di Jakarta, Ari langsung dimasukkan sekolah ke SD Tarakanita II
di Kebayoran Baru, dimana ia langsung duduk di kelas 5.
Mulanya, Ari berkomunikasi dengan teman-temannya melalui bahasa gambar
dan isyarat tangan. Sepulang sekolah, tiap hari, ia mengikuti pelajaran
tambahan bahasa Indonesia. Mulai membaca hingga mempelajari
perbendaharaan kata dari buku-buku pelajaran Bahasa anak kelas 1 SD.
Setelah beberapa tahun, Ari mendaftarkan diri pada Perguruan Tae Kwon
Do. Seminggu dua kali Ari berangkat latihan dari rumahnya di Kebayoran
Lama ke Pancoran naik sepeda 2 jam bolak-balik. Melihat rajinnya Ari
berlatih, gurunya selalu menyuruhnya untuk ikut latihan bersama pemegang
sabuk hijau ke atas, di saat Ari masih mengenakan sabuk putih. Berkat
ketekunannya berlatih, ia pernah meraih juara 3 pada Kejuaraan Tae Kwon
Do se-Jakarta dimana ia dihadapkan dengan pemegang sabuk merah (satu
tingkat dibawah hitam). Hebatnya, pada saat itu Ari sebenarnya masih
memegang sabuk putih!
Perlahan-lahan, Ari diperkenalkan ke dunia entertainment. Saat itu, Ari
hendak menjemput kakaknya Ira Wibowo pulang dari latihan menari untuk
sebuah pementasan di Jakarta. Ari didatangi salah seorang penyelenggara
pementasan tersebut. Orang tadi menawari Ari untuk ikut serta dalam
sebuah peragaan busana. Ari diminta untuk memperagakan karya perancang
dunia tersohor dari Perancis, Pierre Cardin, di Hotel Hilton Jakarta.
Saat itu usia Ari baru 17 tahun.Tak pernah ia membayangkan sebuah 'pintu'
bakal terbuka untuknya memasuki dunia entertainment. Malah, ketika ia
kerap menonton film-film bioskop, jangankan berangan-angan, merencanakan
memasuki dunia seni pun tidak ada dalam rencana hidupnya.
Usia boleh masih remaja, tapi sejak mula Ari sudah memiliki 'prinsip'
untuk memasuki gerbang dunia hiburan. Ia menyadari bahwa tawaran perdana
ini dapat menjadi titik awal yang akan menentukan berhasil tidaknya
langkah Ari berikutnya.Terbukti kemudian, setelah penampilan pertama itu,
tawaran untuk pemotretan mengalir deras. Ari laris jadi peragawan, model
foto, dan bintang iklan majalah.
Beberapa waktu kemudian, datang tawaran seorang produser untuk
membintangi sebuah film layar lebar, Ari merasa seolah menemukan wadah
untuk mengekspresikan diri di dunia seni. Karena baginya, hanya melalui
media ini ia dapat menjajal kemampuannya untuk berakting. Tidak lagi
hanya sekedar berpose di depan kamera foto. Ketulusan dan niat Ari sejak
awal kali terjun ke dunia seni berbuah. Untuk tawaran pertama di tahun
1989 ini, Ari langsung kebagian peran utama sebagai Valen dalam film
karya Bobby Sandy berjudul Valentine. Tak tanggung-tanggung, ia
dipasangkan dengan pemain-pemain yang sudah mendapat tempat di hati
remaja, seperti Sophia Latjuba, Dian Nitami, Karina Suwandi, dan Thomas
Djorghi.
Bermain bersama artis-artis yang sudah memiliki nama dan tempat di hati
penonton, diakui Ari telah memberikan dampak positif bagi kelancaran
karier Ari selanjutnya. Sehingga, nama Ari ikut terlambungkan dan mulai
digandrungi masyarakat. Dari film pertama, disusul dengan empat film
berikutnya, ia telah mendapat tempat tersendiri di hati para penontonnya.
Keterlibatan Ari pada produksi acara televisi, terjadi ketikadunia
perfilman Indonesia mengalami pukulan berat, akibat kalah bersaing
dengan film-film impor yang mulai membanjiri gedung-gedung bioskop
Indonesia. Sedangkan Ari berkeinginan untuk tetap mengembangkan dan
mengasah kemampuan aktingnya. Hingga datanglah tawaran bermain di
sinetron Keluarga Van Danoe. Di sini Ari memerankan anak manja dari
orang tua Indo-Belanda yang kaya raya. Meski penonton menyukai
penampilannya yang lucu, tapi Ari merasa peran tersebut bertolak
belakang dengan image yang ingin dibangunnya. Ari lantas ingin mengubah
image itu. Niat itu terwujud dengan datangnya tawaran sebagai aktor laga
dari seorang aktor laga senior untuk main di sinetron Deru Debu. Setelah
menyelesaikan 10 episode pada sinetron ini, ia beralih ke sinetron laga
lainnya berjudul Jacky, di mana Ari menjadi tokoh utamanya bernama
Jacky.
Memang, sejak itu Ari dikenal sebagai aktor laga. Kesuksesan sinetron
laga yang diperankan Ari, seperti Perjalanan dan juga Darah dan Cinta,
kian menguatkan sosok Ari sebagai seorang aktor laga.
Sayangnya, masih ada anggapan beberapa orang bahwa aktor laga tidak
mampu berakting menyaingi aktor-aktor drama. Cuma lihai fighting dan
bertendang-tendang ria di depan kamera. Dan sebaliknya, aktor drama
tidak bisa laga. Ini jadi tantangan bagi Ari yang tak mau disebut
sebagai aktor laga semata. Ia hendak membuktikan, selain sanggup
memerankan laga, Ari juga bisa menjawab tantangan berolah peran dalam
sinetron drama. Hasilnya, Ari tampil dalam berbagai sinetron drama
seperti Cinta Berkalang Noda, Tersanjung, Terlanjur Sayang, Badai Pasti
Berlalu, dan sebagainya.
Belakangan Ari malah menolak untuk tampil dalam film atau sinetron laga
yang sarat dengan kekerasan. Alasannya, ia tak ingin memberi contoh
kekerasan terutama pada anak-anak. "Orang dewasa mungkin tahu bahwa itu
sekadar akting, tapi anak-anak?" sebutnya prihatin. Adik ipar Katon
Bagaskara ini menuturkan pada dasarnya Tuhan sangat membenci kekerasan.
"Lambat laun hati kecil saya nggak enak, kok ngasih contohnya nggak
benar, kekerasan kan tidak harus dibalas dengan kekerasan," ulasnya.
Ari kemudian terjun ke dunia tarik suara pada tahun 1996 bergabung
dengan Cool Colours yang anggotanya terdiri dari Ari Sihasale, Surya
Saputra dan Jonathan. Penampilan ‘cool’ mereka sempat memukau para
penggemarnya terutama para gadis dan ibu-ibu di berbagai kota di
Indonesia.
Akting, seperti diakuinya, sudah menjadi bagian dari kehidupannya, meski
ia menapaki sukses lewat catwalk. Bintangnya masih terus bersinar
menerangi dunia sinetron, film dan relung hati sahabat dan penggemarnya.
Meski hidupnya terbilang sudah mapan dan terkenal, Ari tetap ingat
kepada pencipta-Nya. Seperti yang tercantum dalam websitenya,
ariwibowo.com, “Kebahagiaan tidak didasari oleh banyaknya harta yang
kita miliki, melainkan oleh kekayaan hubungan kita dengan Tuhan dan
orang-orang yang kita hargai dan cintai…”, Ari mencoba menghidupinya
hari demi hari.
Di usianya yang sudah berkepala tiga, Ari Wibowo masih menunggu waktu
yang tepat untuk melepas lajang. Anak kedua dari dua bersaudara pasangan
Wibowo Wirjodiprojo dan Sibylle Ollmann ini mengaku belum ada rencana
yang matang. "Saya sangat berharap dia adalah calon terakhir," seraya
melirik sang kekasih, Dian Purba. ► mlp
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|