WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Langkah Konkrit Berantas Korupsi


Langkah Konkrit Berantas Korupsi
Theo L Sambuaga | TokohIndonesia.com - wes

WAWANCARA THEO L SAMBUAGA: Pertama, aparatur pemerintahan harus berdasarkan sistem good governance. Kedua, civil society harus kuat. Sektor negara seperti pemerintah, MA, BPK dan sektor masyarakat seperti pers, mahasiswa, LSM, Parpol harus diberdayakan.

Tokoh Terkait
Skip TOC

Article Index

  1. Langkah Konkrit Berantas Korupsi current position
  2. 02| Parpol Harus Mawas Diri
  3. 03 | Ikut Konvensi Capres Golkar
  4. 04 | Posisi Indonesia di Forum Dunia

Semuanya ini harus kuat tidak hanya di Pemilu saja tetapi setelah Pemilu terus diperkuat sehingga sektor masyarakat ini menjalankan fungsi kontrolnya sebagaimana mestinya, sementara sektor negara bekerja secara terbuka, akuntabel dan transparan.

Ketua DPP Partai Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Golkar
The L. Sambuaga dalam percakapan dengan Marjuka, Atur Lorielcide dan Ch Robin Simanullang dari TokohIndonesia.Com, Jumat 10 Oktober 2003 di Jakarta, juga menampik keraguan beberapa pihak atas komitmen Partai Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Golkar
jika nanti tampil sebagai pemenang Pemilu, untuk melakukan koreksi tehadap kesalahan-kesalahan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Orde Baru
. Menurutnya, mengenai koreksi itu sudah merupakan komitmen dari Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Golkar
. Sekarang saja Golkar sudah mengoreksi dirinya. Golkar jelas punya komitmen pro reformasi, dan kita sudah melaksanakan reformasi, demokratis termasuk dalam diri sendiri. Jadi mengenai itu tidak perlu diragukan lagi.

Ia juga berbicara tentang perbedaan Golongan Karya dengan Partai Golkar dan tuduhan kepada Golkar mencuri start kampanye. Juga tentang ekses reformasi, dan posisi Indonesia sekarang di forum internasional khususnya ASEAN.

Selain itu, ia juga bicara tentang potensi kemajemukan bangsa ini. Indonesia adalah bangsa yang majemuk, yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan latar belakang. Marilah kita belajar hidup bersama, tidak perlu dijadikan satu atau seragam, biarlah kita tumbuh berdasarkan latar belakang sosialnya, etniknya, pemikirannya. Tetapi yang penting kita mempunyai komitmen, satu tujuan membangun bangsa ini secara keseluruhan. Berikut ini, simak petikannya:

TOKOHINDONESIA.COM (TI): Bila dirunut dari perjalanan organisasi, mulai dari Pramuka, OSIS, GSNI, GMNI hingga Golkar, Anda dibesarkan dalam budaya kemajemukan?

 

THEO L SAMBUAGA (THEO): Saya lahir dari keluarga etnis Gubernur Sulawesi
Gubernur Sulawesi
Minahasa
, yang beragama Kristen tetapi begitu saya berkenalan dengan organisasi, saya memilih organisasi yang menampung kemajemukan. Karena saya ingin melihat dan bergaul dengan orang yang berbeda latar belakang dengan saya. Karena itulah saya beruntung bergabung di Pramuka. Karena itu, prinsip-prinsip kebangsaan itu tertanam mulai dari Pramuka, GSNI, GMNI, sehingga ketika saya dewasa saya menganggap kemajemukan atau pluralisasi adalah suatu anugerah, berkat dari Tuhan.

 

Maka kemajemukan harus kita hargai dan kita manfaatkan menjadi suatu potensi, suatu kekuatan. Oleh karena itu perlunya suatu kebersamaan, kita memadukan hal-hal yang baik dari semua unsur-unsur kemajemukan itu menjadi suatu kekuatan. Kemajemukan ini termasuk perbedaan, mendorong untuk menjadi lebih kreatif.

Menurut Anda kemajemukan adalah kekuatan. Prinsip-prinsip apa yang harus dipahami dalam pengembangan kemajemukan itu dalam tingkah laku seseorang?

 

THEO: Dari segi budaya dan sosial kita ini bangsa yang majemuk dalam pengertian ada berbagai suku, agama, dan latar belakang. Marilah kita belajar hidup bersama, tidak perlu dijadikan satu atau seragam, biarlah kita tumbuh berdasarkan latar belakang sosialnya, etniknya, pemikirannya.

 

Tetapi yang penting kita mempunyai komitmen, satu tujuan membangun bangsa ini secara keseluruhan. Melindungi segenap bangsa ini tanpa membeda-bedakan asal-usul atau latar belakang agamanya, sukunya. Membangun seluruh tumpah darah Indonesia tanpa membedak-bedakan apakah dia di Lhoksemawe atau di Manado. Biarlah kita tumbuh dengan identitas, latar belakang, kulturnya masing-masing dan berkompentisilah secara sehat.

Oleh karena itu, perlakuan kita terhadap masyarakat bukan dilihat karena sukunya, agamanya, atau keturunannya, tetapi dilihat sebagai bangsa Indonesia, masyarakat yang harus ktia sejahterakan. Tidak ada yang dianakemaskan, tidak ada yang dianaktirikan.

Hukum kita harus hukum nasional yang berlaku sama untuk semua warga negara. Tiap warga negara mempunyai kewajiban dan hak yang sama. Kesempatan juga begitu. Setiap warga negara mempunyai kesempatan yang sama untuk maju dan berkembang, untuk berpartisipasi dalam pemerintahan tidak dibeda-bedakan entah menjadi presiden, Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
, apa saja.

Seseorang bukan dilihat dari suku atau agamanya, tetapi dilihat dari kemampuan, komitmen dan idealisme membangun bangsa. Kita harus belajar hidup bersama dalam perbedaan bukan mematikan perbedaan. Bila orang Minang sudah dari sananya seperti itu, jangan kita memaksa dia menjadi sama seperti kita.

Dari pengalaman bangsa ini setelah 58 tahun merdeka, bagaimana Anda melihat, pemahaman kemajemukan dalam praktek kehidupan berbangsa dan bermasyarakat?

 

THEO: Saya kira main line-nya itu tetap, orang masih hormat menghormati. Cuma yang terjadi seperti konflik Poso, Ambon orang lihat di sana konflik antaragama. Betul terjadi konflik horizontal tapi itu dipicu oleh provokator. Sebenarnya rakyat di Ambon sejak ratusan tahun lalu hidup rukun bertetangga beda agama, beda suku. Tapi kemudian mungkin solidaritas nasionalnya jadi menurun karena mungkin hidup semakin susah, orang berlomba-lomba mencari nafkah untuk memenuhi kehidupannya yang sulit. Kemungkinan terjadi persinggungan Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
bisnis
, lalu masuk provokator. Itulah yang mengakibatkan. Syukurlah sekarang berhasil diatasi dan sudah mulai rukun lagi. Kita senang soal itu.

 

Kalau ditanya dalam kehidupan politik, kita pada dasarnya, rakyat kuat pemikiran kebangsaannya, tetapi yang terjadi kadang-kadang itu dimanipulasi oleh orang-orang yang tidak mendapat tempat dengan kompetisi yang sehat. Kalau berkompetisi secara sehat dalam kehidupan politik mungkin tidak mendapatkan tempat kemudian dia memainkan isu-isu suku, agama secara terselubung.

Sekarang kita masuk ke era yang terbuka dimana orang-orang seperti tadi akan makin tersingkirkan, yang memainkan emosi rakyat, yang memainkan jurnalisme sempit, untuk kepentingan dirinya akan makin tersisih. Semakin terbuka kita, semakin demokratis kita pemikiran sempit seperti itu akan semakin kurang mendapat tempat.

Barangkali desadaran kemajemukan di elit politik, justeru yang paling perlu diasah lebih dulu?

 

THEO: Kesadaran itu ada tapi yang penting wawasan kebangsaan terus ditingkatkan dan jangan tergoda untuk kepentingan sempit. Kadang-kadang tergoda untuk kepentingan sempit yaitu kekuasaan pribadi, sehingga memainkan isu-isu suku, agama dan kelompok.

 

Bagaimana pandangan Anda tentang era reformasi sekarang ini?

 

THEO: Selama Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Orde Baru
tekad kita membangun adalah melaksanakan Pancasila secara murni dan konsekuen. Idenya baik, membangun itu supaya rakyat jangan terlalu konsentrasi ke politik. Tentang pembangunan ekonomi, banyak hal-hal positif yang menjadi hasil Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Orde Baru
.

 

Tapi kita juga mengetahui bahwa ada hal-hal yang tidak benar, tidak tepat, inilah yang perlu kita luruskan. Seperti kita ketahui selama orba di samping keberhasilan, kemajuan khususnya di bidang perekonomian, bahan-bahan pokok tercukupkan, muncul persoalan yaitu masalah keadilan, besarnya gap antara yang kaya dengan yang miskin, korupsi, kemudian sentralisasi yang berlebihan, sentralisasi dalam arti bukan saja antara daerah dengan pusat tetapi juga antar sektoral, sehingga terjadi kecemburuan. Tetapi semua itu dapat diredam dengan suatu manajemen politik yang ketat dan tertutup.

Sehingga dalam reformasi ini beberapa hal yang salah dan kurang tepat itu perlu dikoreksi. Kita sekarang bergerak ke arah demokratisasi, desentralisasi, menghormati dan menjunjung tinggi HAM, dan penegakan hukum.

Walaupun saya sendiri melihat bahwa banyak keluhan terhadap reformasi sekarang ini. Terjadi euforia yang berlebihan sehingga ada yang mengatakan demokrasi sudah terlalu liberal. Tetapi saya kira itu bagian dari perjalanan kita. Saya sendiri tidak pesimis, ke depan kita akan lebih baik. Yang penting menurut saya adalah dasar kehidupan berpolitik yang demokratis sudah pada tempatnya. Kita sudah mempunyai sistem multipartai yang saya kira sejalan dengan kondisi kemasyarakatan kita yang sangat majemuk. Kita memang hidup dalam masyarakat yang sangat majemuk, jadi sistem multipartai itu cocok dan sejalan dengan kenyataan.

Yang penting sekarang ini bagaimana Parpol yang dibentuk itu betul-betul dapat ditumbuhkan dan dikembangkan menjadi Parpol yang baik dan bertanggung jawab, membangun dan mempersiapkan kader-kadernya yang berintegritas, berkemampuan, serta memelihara etika politik.

Hal ini yang masih merupakan perjuangan panjang, tetapi kita harus tetap optimis dan tidak boleh mundur. Kita harus maju terus. Kita sekarang ‘on the right track', tinggal bagaimana kita meminimalkan berbagai ekses-ekses yang tidak perlu. Memang terjadi ekses-ekses yang berlebihan tetapi saya secara prinsipil mendukung kebebasan pers yang sekarang kita nikmati. Itu suatu pilar yang penting dalam kehidupan politik. Demokrasi yaitu sistem multipartai, Pemilu yang bebas demokratis, kebebasan pers, dan penegakan hukum.

Inilah yang harus kita tegakkan. Banyak kekurangan-kekurangan tetapi kita harus terus mengembangkan dan membangun kehidupan demokrasi itu. Jadi menurut saya, dalam era reformasi ini, kita tidak boleh terlalu mengeluh. Misalkan tentang otonomi daerah. Ada keluhan dimana kepala daerah menjadi raja-raja kecil, daerah menjadi tidak terkontrol, itulah yang harus kita perbaiki, karena itu adalah ekses.

Begitu juga dengan demokrasi, dimana lahir sampai ratusan partai, nanti rakyat yang menyeleksi, kalau ada 200 Parpol tapi yang memenuhi syarat ke Pemilu mungkin jauh dari situ, karena kemudian rakyat yang menyaring, dan katakanlah 40 atau 30 yang ikut Pemilu, mungkin hanya 20 atau 10 yang memperoleh kursi di DPR. Hal itu tidak apa-apa, itulah proses demokrasi.

Ada beberapa hal yang perlu dalam membangun demokrasi yaitu: Pertama, menaati etika politik yang menjadi landasan bersama, tanggung jawab moral kita bersama untuk juga menjadi bingkai atau pagar. Kedua, masalah korupsi. Kita harus betul-betul menghilangkan money politik karena ini termasuk bagian dari korupsi. Mengenai ini kita tidak ada pilihan lain, kita harus betul-betul memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya dan korupsi itu terjadi pada masa orba dan sekarang juga terjadi. Ini memang suatu tantangan terutama bagi Parpol, pimpinan Parpol, Lihat Daftar Tokoh Politisi
Lihat Daftar Tokoh Politisi
politisi
. Korupsi harus diberantas karena korupsi tidak hanya di pemerintahan tetapi juga di parlemen dan masyarakat.

Ketiga, penegakan hukum. Korupsi itu ada yang dapat secara jelas dan transparan terlihat oleh hukum dan ada yang saking halusnya sehingga tidak terlihat tapi orang bisa rasakan, tetapi tidak bisa dibuktikan. Oleh karena itu yang paling penting adalah semua harus bersinergi dalam penegakan hukum, hukum yang benar-benar preventif dan representatif dapat mencegah korupsi.

Budaya anti korupsi harus tumbuh berkembang di semua lini, terutama di kalangan masyarakat sehingga orang yang korupsi bukan saja kena hukum, terancam hukuman kemudian dihukum, tetapi juga kena sanksi sosial masyarakat. Masyarakat kemudian mencibirkan dan meminggirkan orang yang korupsi. Jadi ada sangsi sosial untuk mencegah dan mendukung usaha membangun suatu aparatur pemerintah yang berwatak good governance.

Akibat dari korupsi bisa dilihat dari bocornya keuangan negara, masyarakat jor-joran dan hidup konsumtif yang berlebihan, tetapi orang lain hidup susah dan terpinggirkan, orang mendewakan materi. Sendi-sendi kehidupan sosial kita rusak, solidaritas nasional menurun, orang tidak merasa senasib sepenanggungan, tidak merasa sebangsa setanah air, karena ekses-ekses akibat dari korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Padahal kalau kita bisa mengurangi atau memberantas korupsi, uang yang hilang itu bisa digunakan unuk kepentingan pendidikan, kesehatan, membangun infrastruktur, dan sebagainya.

Korupsi juga mengakibatkan kita tidak efisien dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan termasuk kegiatan perekonomian, akibatnya daya saing kita tidak ada, produktifitas menurun, dalam segala hal kita tidak bisa diandalkan.

Kemarin saya membaca bahwa kita berada pada urutan keenam negara terkorup dari 133 negara. Barangkali tidak seluruhnya benar, tetapi pasti ada benarnya. Kita harus punya satu sistem yang komprehensif dan mudah-mudahan sekarang kita sudah membuat Komite Anti Korupsi, hukum dapat benar-benar ditegakkan.

Langkah-langkah konkrit apa yang dilakukan seorang pemimpin negara ini untuk bisa mengakhiri korupsi?

 

THEO: Pertama, aparatur pemerintahan berdasarkan sistem good governance. Kedua, civil society harus kuat. Sektor negara seperti pemerintah, MA, BPK dan sektor masyarakat seperti pers, mahasiswa, LSM, Parpol harus diberdayakan,. Semuanya ini harus kuat tidak hanya di Pemilu saja tetapi setelah Pemilu terus diperkuat sehingga sektor masyarakat ini menjalankan fungsi kontrolnya sebagaimana mestinya, sementara sektor negara bekerja secara terbuka, akuntabel dan transparan.

 

Sektor masyarakat diperlukan supaya ada yang terus berteriak sebagai mekanisme kontrol. Masyarakat juga yang akan menilai apakah yang diteriaki itu benar atau tidak. Bila teriakannya tidak benar, pasti tidak efektif. Tetapi kalau benar, pasti akan laku dan membuat tersentak orang yang berada di sektor negara, diingatkan untuk koreksi diri. Mungkin tidak diakui tapi diam-diam dia mengoreksi diri, itu sudah bagus. Jadi biarlah sektor masyarakat itu tetap teriak, meskipun bising tapi tidak apa-apa, karena fungsinya yaitu mengontrol.

Ketiga, penegakan hukum baik secara preventif maupun represif tanpa pandang bulu. Keempat, perbaikan sistem. Sistem peradilan yang terbuka. Hakimnya berintegritas, para penegak hukum berintegritas termasuk aparat pemerintahan.

Kemampuan profesional terus ditingkatkan, disiplin dan komitmen untuk berjuang demi kepentingan bangsa. Dan juga yang sangat penting adalah hidup yang layak. Gaji dan tunjangan harus betul-betul layak sehingga tidak perlu lagi mereka memikirkan hal-hal lain untuk menunjang hidup, dari gajinya harus bisa hidup layak. Kita harus meningkatkan disiplin serta kesejahteraan para aparatur pemerintahan khususnya aparatur penegak hukum. Sehingga bekerja dengan jujur dan bersih sehingga meningkatkan efisiensi, produktifitas, daya saing, hasil produk dan kualitas yang baik. (Bersambung) * Marjuka - Atur Lorielcide Paniroy

*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 

Page 1 of 4 All Pages

  • «
  •  Prev 
  •  Next 
  • »

Ditayangkan oleh marjuka  |  Dibuat 10 Oct 2003  |  Pembaharuan terakhir 11 Aug 2012
Harapan Baru Tumbangnya Para Pancilok

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Kamus ini memuat lebih dari 2000 entri yang berhubungan erat dengan dunia televisi dan film.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!