WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Mari Lihat Dengan Jernih


Mari Lihat Dengan Jernih
Probosutedjo || TokohIndonesia.com - Ricky

WAWANCARA PROBOSUTEJO: Apa yang telah dilakukan oleh lima Presiden RI? Bandingkan dengan apa yang telah dilakukan Pak Harto! Probosutedjo juga bicara keseharian Pak Harto sesudah meletakkan jabatan sebagai presiden 21 Mei 1998. Juga mengenai keberanian Pak Harto, sebagai pemimpin, melaksanakan berbagai proyek pembangunan kendati pada mulanya ditentang oleh para demonstran. Seperti pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, Satelit Palapa, Tol Jagorawi dan sebagainya.

Dia mengajak publik untuk melihat secara jernih apa yang telah dilakukan para pemimpin bangsa ini. Mulai dari kepemimpinan Bung Karno, Pak Harto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Selain itu, Probo juga menyatakan kekecewaan atas sikap dan pandangan beberapa pihak yang tidak fair mengumumkan tidak ditemukannya kekayaan Pak Harto di luar negeri sebagaimana pernah dituduhkan oleh Amien Rais yang meyakini berita Majalah Time yang menyatakan bahwa Pak Harto memiliki kekayaan sembilan milyar dolar di Swiss. "Setelah ternyata tidak ada, mengapa Amien Rais yang sewaktu menjadi Ketua MPR tidak mengumumkan ada atau tidaknya kekayaan Pak Harto di Swiss atau di luar negeri?" kata Probosutedjo.

Padahal, ungkap Probo, Amien Rais pernah dibantu Pak Harto sewaktu mengadakan Muktamah Muhammadiyah di Aceh. Demikian juga dengan Gus Dur yang menyatakan di rumah Pak Harto ada bunker-bunker. Tetapi setelah diteliti oleh Polri dengan peralatan canggih, ternyata tidak ada bunker di rumah Pak Harto dan anak-anaknya. "Hal ini juga tidak diumumkan oleh Gus Dur saat menjabat Presiden, bahwa ternyata dia keliru menyebut ada bunker di rumah Pak Harto," kata pengusaha yang mantan guru itu.

Probo juga menyesalkan tuduhan korupsi kepada Pak Harto atas kegiatan yayasan-yayasan yang didirikannya. Yayasan itu adalah murni untuk membantu orang-orang miskin. Probo berpendapat, jika pemerintah memang serius memberantas korupsi, sebaiknya dilakukan dengan pembuktian terbalik, bukan sekadar laporan kekayaan.

Selain itu, pengusaha sukses yang membantah kesuksesannya diperoleh berkat dukungan fasilitas dari Pak Harto saat menjabat Presiden, itu juga sangat prihatin atas pemahaman hak azasi manusia saat ini yang justru kurang memperhatikan aspek kemanusiaan yang adil dan beradab. Di antaranya, tercermin dari maraknya mal dan hypermarket, tanpa pembatasan. Semua orang diberi hak yang sama tanpa perlindungan kepada yang lemah, miskin, dan bodoh.

Akibatnya pengusaha lemah, pengusaha kecil, banyak yang kehilangan lahan usahanya. Kesenjangan sosial makin mendalam dan melebar. Orang kaya tidak ada yang peduli kepada rakyat miskin yang banyak tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya.

Menyaksikan kejadian tersebut, pemerintah seperti tidak bisa berbuat sesuatu, karena hak setiap warga negara sama dan tidak bisa diganggu-gugat.

Indonesia mau meniru negara-negara Barat yang melaksanakan kebebasan, berpegang pada hak asasi manusia. Negara Barat pada umumnya sudah mampu membantu kehidupan rakyat miskin. Misalnya setiap pengangguran diberi tunjangan, anak sekolah dibiayai oleh pemerintah. Demikian juga orang sakit, berobat tidak membayar. "Apakah pemerintah Indonesia sudah merasa sekualitas pemerintah negara-negara Barat?" ujar Probosutedjo bernada tanya.

Dia juga mengungkapkan telah menyurati Susilo Bambang Yudhoyono, sebelum dilantik menjadi presiden, mengenai langkah apa yang perlu dilakukan untuk membangun negeri ini untuk bangkit dari keterpurukan dalam era reformasi ini. "Bukan berarti menggurui, tetapi berdasarkan praktek cara mengentaskan kemiskinan dan kesengsaraan bangsa, demi terwujudnya NKRI yang kokoh," katanya.

Berikut ini, petikan percakapan dengan Guru Pengusaha Pribumi Indonesia, itu yang berlangsung Selasa 17 Mei 2005, di kantornya Jalan Menteng Raya No.29, Jakarta. Percakapan diawali dengan penjelasan mengenai Website Tokoh Indonesia yang tengah dibangun menjadi Ensiklopedi Online Tokoh Indonesia.

"Apa saya sudah tokoh?" sahut Pak Probo, panggilan akrab Probosutedjo, merendah memulai percakapan.

"Lebih dari tokoh, tokohnya tokoh," jawab Wartawan Tokoh Indonesia.

Percakapan pun berlanjut dengan santai dan akrab. "Jadi apa yang mau ditanyakan Tokoh Indonesia yang bisa saya jawab?"

MTI: Ya banyak, mulai pengalaman Pak Probo dari kecil, sebagai guru dan pengusaha yang sukses. Kalau kami amati, Pak Probo pantas dijuluki sebagai Guru Pengusaha Pribumi Indonesia?

PROBOSUTEDJO (PRB): Ya, tapi untuk kepentingan saya sendiri kan nggak seberapa penting lagi itu. Namun, yang penting itu adalah dalam rangka berbangsa dan bernegara. Sekarang ini banyak orang yang cara berpikir dan mengevaluasi itu tidak cocok. Seperti, Pak Harto dinilai semuanya negatif. Seharusnya dibandingkan secara jernih apa yang telah dilakukan oleh presiden yang pernah ada di Indonesia dari zaman Bung Karno sampai sekarang.

Bung Karno memang waktu itu merupakan pemimpin yang aktif merintis kemerdekaan. Dia adalah perintis kemerdekaan dan pendiri republik ini. Tapi belum sempat membangun. Boleh dikatakan bahwa menggali kekayaan alam pun belum bisa. Pembangunan yang sempat dilakukan Bung Karno, yang menonjol hanya Hotel Indonesia, Sarinah, Jembatan Semanggi, gedung DPR-MPR (belum selesai), Hotel Pelabuhan Ratu, Hotel Ambarukmo Yogya, dan Hotel Bali Beach. Nah, itulah yang dibangun oleh Bung Karno dengan dana dari pampasan perang dari Jepang.

Sesuai zamannya, waktu Pak Harto menjadi presiden, disusun program yang jelas, yakni Repelita. Repelita itu kemudian dijabarkan lagi menjadi GBHN. GBHN itu semuanya mengarah ke tujuan pembangunan, yang ditempuh dengan strategi trilogi pembangunan. Pertama adalah pemerataan. Maka ditempuh Delapan Jalur Pemerataan. Pemerataan untuk memperoleh lapangan kerja, untuk bersekolah atau memperoleh pendidikan, untuk kesehatan dan sebagainya.

Delapan jalur pemerataan kurang lancar, tersendat-sendat. Keadaan bangsa pada waktu itu masih sangat miskin, belum muncul pengusaha-pengusaha, konglomerat, multi milyarder bahkan setaraf dengan saya pun belum ada.

Pada zaman Bung Karno jadi presiden, ada yang disebut benteng 10, yakni pengusaha-pengusaha besar yang jumlahnya hanya sepuluh. Yang terkaya adalah Da Saat, kemudian Hasyim Ning, Piola Panggabean dan sebagainya. Tetapi kekayaan mereka tidak ada yang mencapai 50 juta US dolar.

Jadi pada zaman Bung Karno dan bahkan pada zaman Pak Harto yang melahirkan pengusaha-pengusaha konglomerat, belum sekaya konglomerat sesudah reformasi, sesudah kebebasan asasi manusia dan demokrasi liberal. Sebagai contoh, kekayaan Dji Sam Soe, pabrik rokok kretek nomor empat di Indonesia, ternyata bisa laku dijual dua milyar US dolar. (PT Djarum nomor satu, Gudang Garam nomor dua dan Bentul nomor 3).

Kembali ke strategi pemerataan yang tersendat pada awalnya itu. Sesudah itu disadari, "Lho kalau sekarang ini dalam keadaan miskin kita mau meratakan, itu kan meratakan kemiskinan," kata Pak Harto. Terus diubah, atas nasihat Bung Hatta yang waktu itu mengatakan, "Kalau kita membagi-bagi pembangunan, maka harus buat kue dulu. Setelah ada kuenya, baru kue itu dibagi."

Maka terus digiatkan pembangunan. Tapi juga awalnya dalam hal membuat kue kurang lancar. Terus Pak Harto menyadari, kalau begini caranya harus ditumbuhkan dulu perekonomian. Akhirnya trilogi kedua yakni pertumbuhan.

Nah, bagaimana cara menumbuhkan perekonomian? Harus masuk investor. Para pengusaha harus menanamkan modal supaya tercipta lapangan kerja. Kalau tercipta lapangan kerja yang luas maka dengan sendirinya nanti banyak yang bekerja sehingga mempunyai penghasilan dan akhirnya tidak miskin lagi.

Agar orang miskin mempunyai penghasilan yang tetap harus tersedia lapangan kerja yang luas. Untuk ini harus berdiri pabrik di seluruh wilayah Indonesia. Untuk mendirikan pabrik-pabrik yang luas, harus ada investor yang bersedia menanamkan modal. Agar orang mau menanamkan modal, maka keamanan dan ketertiban harus terjamin.

Petumbuhan berbagai industri, akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Setelah terjadi pertumbuhan ekonomi, diusahakan pemerataan ke berbagai daerah.

Jadi program pembangunan untuk menyejahterakan rakyat miskin yang jumlahnya puluhan juta jiwa, perlu ditempuh dengan tiga jalur, yakni (1) stabilitas keamanan, (2) pertumbuhan ekonomi dan (3) pemerataan pendapatan.
Trilogi pertama, bagaimana caranya supaya orang tertarik menginvestasikan modal di Indonesia, terutama orang asing? Tentu harus tercipta ketenangan kerja, ketenteraman dan stabilitas keamanan dan politik.

Kalau tidak ada ketenangan, tidak mungkin orang mau menginvestasikan modal di Indonesia. Maka terbentuklah yang dicita-citakan yakni stabilitas keamanan dan stabilitas politik.
Dengan terciptanya stabilitas keamanan dan politik maka benar-benar banyak investor dalam dan luar negeri menanamkan modal. Dari Jepang dan banyak negara lainnya pun tidak sedikit yang menginvestasikan modal ke Indonesia. Terciptalah lapangan kerja sehingga pengangguran jadi berkurang, kemiskinan terus tiap tahun berkurang. Itulah yang dibikin Pak Harto.

Untuk menciptakan stabilitas keamanan itu, harus diusahakan bagaimana agar tidak terjadi keonaran dan keributan. Hal ini diserahkan pada bagian keamanan. Pengamanannya waktu itu, waktu Pak Benny Moerdani menjadi Menhankam-Pangab, keamanan saat itu terwujud. Investasi zaman itu bukan main besarnya. Pengangguran pun makin lama makin berkurang, kemiskinan makin menipis.

Dan juga diciptakan kebersamaan antarsuku bangsa Indonesia ini, jangan sampai timbul iri dan sebagainya, dilandasi Pancasila. Dalam Pancasila itu, tercakup hak azasi manusia yakni pada sila kemanusiaan yang adil dan beradab.
Sekarang ini dalam reformasi, yang dipikirkan hanya hak azasi, hak semua orang sama. Orang kaya, orang miskin, orang yang pintar, orang yang bodoh, yang tidak bisa kerja dan sebagainya, itu haknya sama. Karena haknya sama, orang yang pintar bisa berbuat semau-maunya, orang yang bodoh tidak bisa apa-apa, tak bisa kerja.

Orang kaya yang memiliki modal mendirikan usaha sehingga makin kaya, tetapi tanpa peduli kepada rakyat miskin. Akhirnya yang kaya tambah kaya, yang miskin tidak kebagian lapangan kerja, menjadi tambah miskin.

Daerah yang kaya kurang peduli kepada daerah miskin, terjadilah busung lapar di daerah yang kurang subur.

Akibatnya timbullah penguasaan usaha kepada orang-orang yang besar modalnya. Kita lihat sendiri di daerah-daerah dan terutama di Jakarta ini, hypermarket, supermarket, mall, real estate, apartemen, tumbuh di mana-mana. Siapa yang bangun dan siapa yang tinggal di situ? Nggak ada orang miskin, nggak ada orang pribumi tinggal di situ. Inilah akibat dari hak azasi, yang khususnya haknya itu sama semua orang. Tidak ada belas kasihan terhadap yang miskin, yang berarti tidak ada kemanusiaan seperti yang diamanatkan dalam sila kedua Pancasila.

Kalau dulu, zamannya Pak Harto, bukan hak azasi tapi kemanusiaan. Hak azasi yang disebut HAM sekarang ini sebenarnya hak kemanusiaan juga kan? Namun sekarang ini yang ditonjolkan hanya hak saja. Sementara kemanusiaannya kurang diperhatikan. Kalau dulu, zaman Pak Harto, yang kaya itu diingatkan supaya memikirkan yang miskin. Supaya yang miskin jangan terlalu menderita, jadi harus dibantu.

Oleh sebab itu, pengusaha-pengusaha besar yang waktu itu dinamakan konglomerat selalu diingatkan: Dulu para konglomerat tidak punya apa-apa. Negara ini masih kosong, zamannya Bung Karno, belum ada pengusaha yang besar. Kemudian diciptakan kesempatan berusaha. Ternyata mendatangkan keuntungan yang luar biasa bagi yang kreatif menangkap peluang usaha itu. Muncul pengusaha yang menjadi kaya-raya tapi diingatkan untuk membantu rakyat yang miskin, ingat bangsanya yang masih miskin.

Inilah di zaman sekarang yang kurang diperhatikan karena hak azasi manusia yang penekannannya pada hak semata. Kalau dulu, hak azasi manusia itu diwujudkan dalam kemanusiaan yang adil dan beradab. Jadi yang kaya supaya selalu ingat kepada yang miskin.

Sebelum diberi kesempatan berusaha pada zaman Bung Karno dan beberapa tahun sesudah kepemimpinan Pak Harto, tidak ada konglomerat di Indonesia. Mereka bisa menjadi konglomerat karena adanya kesempatan.

Negara ini adalah negara kesatuan, jadi yang mampu harus ingat asal-usulnya. Kemerdekaan Indonesia ini diperjuangkan oleh seluruh lapisan masyarakat, oleh seluruh bangsa Indonesia.

Namun kenyataan sekarang, para pendiri, perintis berdirinya negara ini, masih banyak yang miskin. Siapa yang tidak kenal Ibu Tri Murti, seorang perintis kemerdekaan. Tetapi kenyataannya masih menempati rumah sederhana di Jalan Kramat Lontar dan tidak mempunyai kendaraan.

Sementara para pejabat yang ternyata menikmati kemerdekaan berlebihan, koq tidak risih melihat perintis kemerdekaan yang hidup menderita?

MTI: Jadi Indonesia sebaiknya lebih menekankan pada kemanusiaan yang adil dan beradab?

PRB: Ya. Belum ada orang bisa melihat bagaimana hak azasi manusia tercakup dalam kemanusiaan yang adil dan beradab. Para sarjana, para cendekiawan yang berkecimpung dalam pendidikan untuk mencerdaskan bangsa, dengan berpegang kepada HAM, menentukan uang kuliah yang tak mungkin dijangkau oleh rakyat kecil.

Tak mungkin kiranya anak petani dan anak pegawai negeri kuliah di Universitas Gajah Mada, ITB dan UI, karena uang pangkal dan uang kuliahnya mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

Jadi di Indonesia yang penuh dengan kemajemukan, majemuk agamanya, majemuk suku bangsanya, majemuk adat istiadatnya, majemuk kepandaian, kemelaratan, dan kekayaannya, semuanya tercakup dalam kemanusiaan yang adil. Justru di dalam HAM sekarang, kemanusiaan itu dilupakan setiap orang yang berpijak kepada HAM.

Seperti sekarang, saya bukan anti Cina, mereka menguasai kue ekonomi di Indonesia ini. Sekarang mal di mana-mana. Dulu zamannya Pak Harto, saya selalu protes, nggak bisa itu bikin mal banyak-banyak, nanti pengusaha kecil - yang umumnya pengusaha pribumi - bagaimana? Mereka bisa tidak dapat lapangan usaha. Di zaman reformasi, dikasih semua, dibuka habis. Ini yang tidak disadari oleh orang-orang ini. Menurut saya, ini pekerjaan PKI. PKI tidak peduli, bahkan bila keadaan makin kacau, mereka makin senang.

MTI: Bukan pekerjaan kapitalis itu?

PRB: PKI yang terutama bikin supaya keadaan kacau. Kapitalis memang kesempatan mengumpulkan kekayaan. Seperti Carefour itu, zaman Pak Harto tidak ada. Dulu masih Makro, yang terbatas harus pakai kartu anggota. Itu pun saya protes.

Sekarang yang kaya sama sekali tak ingat yang miskin. Bicara kemiskinan pun tidak ada. Apa itu maunya pembangunan di Indonesia? Lagi-lagi pembangunan ini tanpa konsep. Para pemimpin, termasuk presiden, tampaknya selalu mengutamakan yang namanya Kabinet Gotong-Royong. Lebih pada upaya mencari dukungan supaya tidak diributkan di parlemen. Sekarang juga, Kabinet Indonesia Bersatu, juga tujuannya untuk mendapat dukungan, sehingga menterinya diambil dari partai-partai, kabinet koalisi.

Kemarin juga ada pimpinan partai menyatakan apa sebabnya menteri diambil dari partai-partai adalah untuk menjaga dukungan di parlemen, supaya aman dan tidak ada oposisi. Saya bilang, lho kenapa musti takut dioposisi? Kalau di tempat dan jalan yang benar, kan tidak perlu takut dioposisi.

Sebenarnya kalau pemimpin bijaksana, sebelum menempuh perjalanan dalam pemerintahan, mestinya dibuat programnya dulu. Programnya itu minta disahkan oleh DPR. Sekarang GBHN tidak ada, program tidak ada sama sekali, hanya meraba-raba. (Bersambung) mti/ms-crs

*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 

Page 1 of 4 All Pages

  • «
  •  Prev 
  •  Next 
  • »

Ditayangkan oleh cross  |  Dibuat 15 Apr 2010  |  Pembaharuan terakhir 20 May 2013
Hukum Belah Bambu Wibawa Presiden Sby Menurun

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Tito Karnavian

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Inilah buku yang siap memandu Anda menjadi dokter anak di rumah Anda sendiri. Di dalamnya, dipaparkan segudang informasi tentang bagaimana menangani penyakit yang kerap menyerang anak, seperti flu, demam, batuk, DBD, diare, cacar air, campak, dan lain-lain.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: