WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Pak Harto Hidupnya Sederhana


Pak Harto Hidupnya Sederhana
HM Soeharto || TokohIndonesia.cm - Ist

WAWANCARA PROBOSUTEDJO: Selama 32 tahun menjabat Presiden, Pak Harto dituding telah menumpuk kekayaan sampai 9 milyar dolar di Swiss dan menimbun triliunan rupiah di bunker-bunker rumahnya. Beliau juga disebut sebagai penguasa yang otoriter dan telah memberi fasilitas kepada anak-anak dan saudaranya sehingga semuanya menjadi kaya raya. Apa dan bagaimana hal ini sesungguhnya?

Pak Harto sendiri, ketika masih sehat, sudah pernah memberi penjelasan mengenai kekayaannya. Tapi tetap saja sebagian elit dan Lihat Daftar Aktivis
Lihat Daftar Aktivis
Aktivis
yang menyebut diri reformis, terlihat tidak mau mempercayainya. Belakangan, setelah terserang stroke, dan dalam usia senja, Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Pak Harto
sudah sulit diajak bicara. Ia sudah lebih banyak beribadah saja. Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Pak Harto
mengundurkan dari jabatan presiden karena sejumlah orang kepercayaannya, yang secara sengaja sebelumnya dibina dan dibesarkan serta dipersiapkan untuk melanjutkan pembangunan nasional yang berkelanjutan, ternyata mengkhianatinya.

Akibatnya, belakangan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Pak Harto
menjadi lebih banyak menutup diri. Beliau tampaknya menjadi kurang percaya kepada pihak luar yang masih sulit diidentifikasi loyalitas dan kesetiaannya kepada Pancasila dan UUD 1945, serta tujuan pembangunan nasional untuk mengentaskan kemiskinan.

Sesungguhnya seperti apa keseharian kehidupan dan kekayaan Pak Harto itu? Kami mewawancarai H Pendiri Mercu Buana Group
Pendiri Mercu Buana Group
Probosutedjo
, adik kandung satu ibu Pak Harto, Kamis 1 September 2005, di Jakarta. Probo, sejak usia belia sudah tinggal serumah dengan Pak Harto, di Jogyakarta, semasa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Bahkan ketika ramai-ramai peristiwa pemberontakan PKI tahun 1965 berikut berbagai peristiwa yang melatari sebelumnya serta perjuangan menegakkan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Orde Baru
setelahnya, Probo juga pernah tinggal serumah dengan Pak Harto dan Ibu Tien di Jalan Haji Anggota PPPKI, DPA dan Menlu RI
Anggota PPPKI, DPA dan Menlu RI
Agus Salim
Nomor 98, Jakarta. Ketika itu, Pak Probo sudah mulai berLihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
bisnis
sendiri, sementara anak-isteri masih ditinggalkannya di Pematang Siantar, Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda
Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda
Sumatera Utara
.

Pendiri Mercu Buana Group
Pendiri Mercu Buana Group
Probosutedjo
merupakan orang terdekat Pak Harto yang mengetahui persis seluk-beluk kehidupan kepribadian Pak Harto. Demikian pula tentang kejernihan pikiran-pikiran Pak Harto yang begitu gigih mengentaskan kemiskinan.
Dari Pak Probo kami menggali lebih dalam bagaimana sebenarnya kekayaan dan keseharian Pak Harto. Juga tentang pemikiran Pak Harto mengenai bangsanya, khususnya bagaimana Pak Harto melihat Bangsa Indonesia yang sudah berusia 60 tahun. Hasil wawancara kami rangkum dalam beberapa tulisan. Sebagian kami petik berikut ini.

Majalah Tokoh Indonesia (MTI): Selama 32 tahun memerintah, Pak Harto kemudian dipersepsikan sebagai pemimpin yang sangat otoriter dan diktator. Bagaimana menurut Bapak sesungguhnya?

Pendiri Mercu Buana Group
Pendiri Mercu Buana Group
Probosutedjo
(PROBO): Tuduhan otoriter dan diktator muncul sebenarnya karena mereka tidak memahami strategi pembangunan yang dilaksanakan oleh Pak Harto.

Pak Harto waktu itu menghendaki supaya keadaan bisa tenang. Karena tujuan ketenangan adalah untuk pembangunan. Poin pertama dari Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Trilogi Pembangunan
berbicara tentang stabilitas keamanan. Seandainya keadaan tidak tenang maka pasti kita tidak bisa membangun dan investor asing pasti tidak mau masuk.

Keadaan sekarang sudah terbukti menunjukkan investor asing tidak mau masuk. Malah apa yang sudah ada menjadi lari. Kalau orang memperhatikan kenyataan-kenyataan seperti itu maka bisalah merenungkan, bahwa stabilitas keamanan memang perlu sekali.

Untuk mencapai stabilitas keamanan, terpaksa Pak Harto menggunakan militer. Karena militer yang bersenjata. Militer untuk tugas mengamankan pembangunan. Hanya saja waktu itu ABRI tidak mau menjelaskan bahwa sekarang kita sedang menjalankan pembangunan, karena itu mbok ya jangan diganggu pembangunan itu. Kalau misalnya ada anggota masyarakat yang mau menuntut, atau menyampaikan suatu permasalahan yang mungkin menurut pendapat mereka itu benar, mestinya ABRI menjelaskan bahwa sekarang kita sedang mengimbau Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha
-Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha
asing supaya masuk ke Indonesia. Sehingga stabilitas keamanan perlu agar investasi tidak terganggu masuk ke Indonesia.

Masuknya Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha
asing bukan untuk menguasai ekonomi tapi menciptakan lapangan kerja supaya pendapatan rakyat meningkat. Kalau pendapatan meningkat, kemiskinan berkurang. Kenyataaan memang, waktu pemerintahan Pak Harto kemiskinan berkurang terus. Walau belum habis tapi terus berkurang berangsur-angsur. Tidak seperti sekarang terjadi justru sebaliknya.

Waktu jaman Pak Harto ada juga tenaga kerja yang mencari pekerjaan ke luar negeri tetapi tidak seberapa. Tidak seperti sekarang, bahkan sudah sampai ke Malaysia membludak. Kalau dulu masih bisa dicegah karena pekerjaan di Malaysia ternyata sama dengan di Indonesia. Terkecuali yang ke Timur Tengah, banyak tersedia pekerjaan menjadi perawat atau pekerja di rumah sakit. Itu tidak terlalu merendahkan bangsa Indonesia.

Jadi tuduhan diktator atau otoriter muncul, sebenarnya karena mereka kurang memahami saja. Kesalahan ada pada pembantu-pembantu Pak Harto yang tidak mau menjelaskan. Saya juga tidak menduga pembantu-pembantu Pak Harto ternyata akalnya sangat dangkal mengenai strategi pembangunan yang ditempuh Pak Harto. Padahal Pak Harto sering cerita itu pada saya.

MTI: Lalu kenapa TNI/ABRI sampai dibuat ikut berpolitik, ada fraksi di DPR/MPR?

PROBO: Keberadaan ABRI sampai dimasukkan ke lembaga DPR/MPR, itu tujuannya tidak lain untuk menjaga keutuhan Pancasila dan UUD 1945. Pak Harto sering menjelaskan itu sama saya karena saya selalu tanya apa tidak berlebihan memasukkan ABRI ke DPR/MPR, apa nanti tidak dikatakan diktator atau otoriter.

Kalau orang tidak mengerti memang begitu. Tapi tujuannya mencegah jangan sampai UUD 1945 dan Pancasila diubah karena merupakan pemersatu bangsa yang luar biasa multimajemuk ini.

Di seluruh dunia tidak ada yang kemajemukannya seperti Indonesia. Yang pertama pulaunya begitu banyak. Tinggal di pulau-pulau yang manapun ada penduduk yang pengetahuannya berbeda-beda. Kekayaan dan taraf hidup juga berbeda-beda, adat istiadatnya berbeda bahasanya pun berbeda.

Inilah sebabnya mengapa Pancasila dan UUD 1945 merupakan keharusan yang paling cocok dipakai di Indonesia. Agama Islam memang mayoritas di sini tetapi tidak bisa diterapkan untuk membangun bangsa Indonesia yang majemuk.

Dan Pak Harto sudah mempelajari betul-betul, negara yang terbelakang karena dijajah orang asing dulunya kalau tidak dipimpin dengan cara yang terarah dan terkendali tidak mungkin bisa maju.

Contohnya, Filipina sampai sekarang begitu-begitu saja. India, Pakistan dan Bangladesh juga tidak bisa maju-maju. Tetapi negara yang terkendali dan terarah tujuannya, yaitu untuk mengentaskan kemiskinan bisa cepat sekali pertumbuhan ekonominya.

Contoh yang paling mencolok sekarang adalah RRC. Negara itu terkendalinya keras sekali dan arahnya adalah kesejahteraan rakyat. RRC sekarang sudah sejahtera bahkan sampai mempunyai kelebihan segala. Itu hebat padahal negara tersebut demikian luas, jumlah penduduknya 1,3 milyar, tapi semua bisa teratur.

Kemajemukan itulah yang membikin Pak Harto seakan-akan memaksakan, mengharapkan atau mengharuskan supaya Pancasila dan UUD 1945 dijadikan sebagai dasar bersama sehingga keutuhan harus dijaga. Pak Harto bukan diktator sebenarnya, juga bukan otoriter.

MTI: Belakangan terutama dalam era reformasi ini, Pak Harto seringkali pula dicitrakan sebagai koruptor kelas kakap terlebih-lebih setelah anak-anaknya terjun menjadi pengusaha?

PROBO: Citra demikian pun muncul karena sejak dari dulu tidak pernah ada penjelasan yang tuntas mengenai hal itu. Kejadian demikian sesungguhnya mulai berkembang tatkala Pak Benny Moerdani hendak mengakhiri masa jabatannya sebagai Panglima ABRI.

Menjelang habis jabatannya, Pak Benny menurut keterangan beberapa perwira tinggi pernah menanyakan kepada Pak Harto mengenai anak-anak Pak Harto yang berdagang. Katanya, yang saya ceritakan ini adalah beredar di luaran, Pak Harto marah waktu ditanya oleh Pak Benny demikian. Ini, tidak ada yang meng-counter atau mengecek apakah benar begitu yang terjadi.

Kemudian muncul lagi berita tentang Pak Harto yang menumpuk kekayaan. Itu juga sudah lama terdengar sejak tahun 1985 tapi belum begitu santer. Tahun 1990 mulai santer dan berlangsung terus sampai tahun 1993.

Mengenai berita menumpuk kekayaan sebenarnya bukan dituduhkan kepada Pak Harto semata. Juga kepada Ibu Tien Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
karena dia selalu meminta sumbangan kepada pengusaha-pengusaha. Padahal tidak lain tujuannya waktu itu adalah digunakan untuk pembangunan kemanusiaan, supaya nanti rakyat yang tidak bisa membangun bisa menikmati hasilnya.

Pemerintah sendiri karena tidak ada dana untuk membangun itu maka Ibu Tien-lah yang terjun dengan meminta perhatian pengusaha-pengusaha yang sudah berhasil mengambil sebagian dari keuntungannya untuk membangun. Misalnya TMII, RS Harapan Kita dan yang lain. Kemudian membantu kegiatan Yayasan Kemanusiaan Gotong Royong pada setiap kali terjadi kecelakaan atau bencana alam.

Tetapi oleh orang-orang yang tidak memahami masalah mengisukan seakan-akan Ibu Tien meminta dan mengumpulkan uang dari orang-orang kaya untuk kepentingan pribadi. Bu Harto sampai-sampai diejek dengan sebutan "Bu Ten Persen"

Suatu ketika, sekitar tahun 1992/1993 berlangsung rapat DPP Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Golkar
di Cendana, Mashuri berani bertanya dan mengkritik langsung Pak Harto. Dia menyebutkan bahwa sekarang sudah terjadi kepincangan antara kaya-miskin. Pak Harto di luaran diisukan hanya mengutamakan dan mengistimewakan kepentingan orang-orang China keturunan.

Ini, katanya lagi, sebenarnya sudah berbahaya sebab rakyat kecil pun sudah menganggap hanya Pak Harto saja yang menguasai kekayaan Indonesia. Sampai tukang taksi pun berani mengatakan Pak Harto menumpuk kekayaan dengan melindungi Cina-Cina.

Lantas Pak Harto menjawab, itu harus dijelaskan supaya rakyat mengerti dan itu merupakan kewajiban dari Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
-Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
. Tapi Mashuri mengatakan lagi bahwa Pak Harto tidak pernah naik taksi, sebab kalau saja pernah naik taksi pasti akan mendengar suara tukang taksi itu bagaimana.

Pak Harto dikatakan seperti itu dalam rapat akhirnya marah. Nah, dari situlah tersiar lagi kabar bahwa Pak Harto betul-betul menumpuk kekayaan sehingga tidak bisa dikritik. Ditambah lagi dengan terjunnya anak-anaknya berdagang atau menjadi pengusaha.

Anak-anak seorang penguasa berdagang sebetulnya tidak ada larangan sebab undang-undang dan hukumnya tidak ada yang membatasi. Yang penting apakah anak-anak itu menggunakan fasilitas dari bapaknya atau tidak.

Kenyataannya anak-anak tidak pernah langsung meminta. Tapi dari Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
-menteri itulah yang ingin mengambil hati Pak Harto, maka mereka sering mancing-mancing anak-anak itu.
Jangankan sama anak-anak, sama saya saja yang hanya saudara, menteri-menteri itu sering-sering menghormati yang tujuannya tidak lain mengambil hati Pak Harto. Padahal saya tidak mau minta fasilitas. Jadi pada jamannya Pak Harto saya sama sekali tidak pernah mendapat fasilitas.

MTI: Memang Pak Probo tak pernah meminta fasilitas dari Pak Harto?

PROBO: Sama sekali tidak pernah! Dulu, misalnya, sewaktu saya dipercaya mengatur impor cengkeh orang menduga itu fasilitas dan saya mendapat keuntungan yang besar. Saya lalu tunjukkan bukti bahwa saya mendapat izin mengatur tata niaga cengkeh tujuannya untuk memutuskan hubungan dagang lewat pihak ketiga, supaya kita mengimpor langung dari negara asal Zanzibar dan Madagaskar. Sebelumnya impor cengkeh lewat Singapura dan Hongkong dan kita banyak dipermainkan di situ.

Saya ditugasi memutuskan itu dan berhasil. Sesudah itu Pak Harto memerintahkan lagi Pak Thoyib Hadiwidjaja, waktu itu Menteri Pertanian, minta saya untuk menanami cengkeh di seluruh Indonesia. Kemudian saya galang daerah-daerah menanam cengkeh. Akhirnya semua menanam cengkeh dari Sabang sampai Merauke, cengkeh menjadi berlebihan dan pemerintah bingung. Dipeganglah oleh Tommy sampai pohonnya dibabati.

Sebenarnya waktu itu tata niaga cengkeh sudah berhasil betul-betul. Jadi mestinya pemerintah berterimakasih pada saya. Sebab saya dapat komisinya juga hanya dua persen. Itupun saya serahkan lagi kepada Setneg, yang kemudian oleh Setneg digunakan untuk membangun Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Wakil Kepala Staf Angkatan Darat
Wakil Kepala Staf Angkatan Darat
Gatot Subroto
, Jakarta. Jadi RSPAD itu hasil dari cengkeh.

MTI: Berita tentang kekayaan Pak Harto sempat pula menghebohkan. Majalah Time memberitakan beliau memiliki simpanan kekayaan miliaran dolar AS di bank-bank Swiss. Berapa besar sesungguhnya kekayaan Pak Harto yang terkumpul selama menjabat Presiden?

PROBO: Orang yang mengatakan kekayaan Pak Harto bermiliar dolar, itu sama sekali tidak mempunyai pengetahuan, atau ia berbicara secara tidak berdasar sama sekali.
Karena bagaimana mungkin Pak Harto bisa menumpuk kekayaan sampai sebegitu banyak, dan kapan mengambilnya karena anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tiap tahun pas-pasan. Semua pendapatan dan pengeluaran diatur dengan APBN.

Lalu, yang memegang APBN siapa dan yang melaksanakan anggaran belanja siapa? Bukan Pak Harto tapi menteri-menterinya. Jadi bagaimana Pak Harto mengumpulkan kekayaannya? Kalau secara normal berpikir begitu sajalah.

Tapi karena dikatakan oleh Ketua MPR RI (1999-2004)
Ketua MPR RI (1999-2004)
Amien Rais
kekayaannya ada 9 miliar dolar AS di Swiss, kemudian dilacak oleh Gubernur Lemhannas (2005-2011)
Gubernur Lemhannas (2005-2011)
Muladi
dan Andi Ghalib ternyata sampai di sana tidak ada. Seluruh bank-bank di Swiss ditanya tidak ada kekayaan atas nama Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Soeharto
.

Kemudian oleh Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
Abdurrahman Wahid
, saat menjabat presiden menyebut lagi di rumah Pak Harto ada bunker-bunker untuk menyimpan uang yang jumlahnya triliunan rupiah. Dicek di mana-mana di seluruh rumahnya dan di tempat anak-anaknya tidak ada bunker. Coba, itukan semua betul-betul hanya untuk menjatuhkan, membunuh karakter Pak Harto. Artinya orang itu tidak bisa berterimakasih pada seseorang, beginilah bangsa ini akhirnya, karena para elit dan pemimpin tidak bisa menghargai jasa seorang presiden pendahulunya.

Bukan hanya itu. Ada lagi Kapolri (1968-1971)
Kapolri (1968-1971)
polisi
seorang komandan reserse dari Mabes Polri yang suka cerita sama saya, bahwa Pak Harto bersama Probo, Tutut dan Pak Dwi menyimpan uang di Solo jumlahnya 8 triliun rupiah. Kemudian Kapolri (1968-1971)
Kapolri (1968-1971)
polisi
mengirim pasukan terdiri 20 orang ke sana untuk melacak seluruh Solo dimana tempat menyimpan uang Pak Harto, Pak Probo, Tutut dan Pak Dwi itu. Dicari seluruh Solo tidak ada.

Karena orang itu yang cerita sama saya lalu dia saya tanya, "Sampeyan tahu tidak uang Rp 1 triliun beratnya seperti apa, apalagi Rp 8 triliun berapa ton itu."

"Karena satu bundel uang Rp 50 ribuan satu ikat seratus, jadi 100 kali Rp 50 ribu sama dengan Rp 5 juta, 10 ikat sama dengan Rp 50 juta. Lima puluh juta beratnya dua kilo, kalau Rp 1 miliar beratnya berapa? Lalu kalau semuanya dihitung sudah duapuluh ton. Jadi bagaimana mengangkut uang seberat 20 ton, kan bisa ketahuan," saya bilang lagi.

"Iya, pak, saya waktu itu tidak berpikir ke situ," kata dia. Nah, itulah semuanya fitnah saja.

Isunya masih belum berhenti sampai di situ. Ada lagi yang mengatakan Pak Harto menyimpan kertas bahan baku yang digunakan untuk mencetak uang kertas entah berapa ton jumlahnya. Yang tanya sama saya itu Kapolri (1968-1971)
Kapolri (1968-1971)
polisi
juga, pangkatnya kolonel malah masih keponakan saya.

"Bapak kan punya kertas itu, sekarang ada yang mau beli untuk dicetak jadi uang kertas," kata dia. "Lho, yang punya siapa?", saya tanya. "Katanya bapak". "Di mana simpannya, ambil saja nanti tidak usah dibeli," kata saya.

Jadi mengenai isu Pak Harto menumpuk kekayaan sudah lama dilansir oleh beberapa orang yang tidak bertanggungjawab. Barangkali sudah sejak tahun 1990.
Pak Alamsjah dulu sering saya ajak bicara mengenai hal ini. "Ini, Pak Harto sering dituduh menumpuk kekayaan. Bagaimana caranya menghilangkan citra negatif itu," kata saya.

Habis saya ajak bicara begitu jawaban Alamsjah: "Pak Harto jasanya besar sekali. Kalau tidak ada Pak Harto orang Islam ini habis dibunuh PKI. Tujuh jenderal saja bisa mereka bunuh, apalagi hanya umat Islam. Coba kalau waktu itu tidak ketahuan PKI yang jadi biang keladi G 30-S/PKI, orang Islam ini habis. Jadi Pak Harto jasanya besar, mestinya sepersepuluh kekayaan Indonesia ini diserahkan sama Pak Harto."

Lalu saya bantah. "Pak Alamsjah jangan asal ngomong begitu, nanti dipikirnya benar Pak Harto menumpuk kekayaan."
Tapi dibalasnya, "Ah, jangan pedulilah mereka itu."
Itulah akhirnya lebih menjalar lagi isu mengenai Pak Harto menumpuk kekayaan.

Waktu Pak M. Jusuf menjadi Ketua BPK, dia juga saya datangi. Saya minta supaya Pak Jusuf mengklirkan Pak Harto yang dituduh menumpuk kekayaan.

Pak Jusuf kan orangnya pendiam. Jadi sudah saya kasih tahu juga Pak Jusuf bahwa saya pernah lapor Pak Alamsjah jawabannya begitu, dan ini kan tidak benar. "Iya, Alamsjah ini kalau ngomong sering-sering tidak dipikirkan dulu akibatnya," kata Pak Jusuf.

Begitulah menjalar terus bahwa Pak Harto dituduh menumpuk kekayaan sampai orang yang tidak mengerti masalahnya pun, seperti Pak Ketua MPR RI (1999-2004)
Ketua MPR RI (1999-2004)
Amien Rais
menuduh Pak Harto menyimpan uang di Swiss sebanyak 9 milyar dolar AS padahal sesudah dicek terbukti tidak ada.

MTI: Pada saat pemerintahan Pak Harto, banyak pengusaha, terutama yang nonpribumi, menjadi konglomerat?

PROBO: Saya sesungguhnya selalu mengkritik Pak Harto. Mengingatkan dia bahwa kemerdekaan direbut oleh bangsa Indonesia yang pribumi. Tidak ada nonpri yang berjuang merebut kemerdekaan. Yang mengusir penjajah semua pribumi. Jadi kemerdekaan merupakan perjuangan orang-orang pribumi. Oleh sebab itu mereka harus menikmati isi kemerdekaan menikmati hasil pembangunan. Inilah yang selalu saya ingatkan.

Pak Harto ingat juga rupanya. Oleh sebab itu dalam pembangunan ekonomi selalu diingatkannya, supaya pengusaha-pengusaha yang sudah mempunyai pabrik yang sudah menikmati hasil-hasil pembangunan supaya ingatlah kepada bangsanya yang masih menderita. Karena mereka yang dulu ikut berjuang mengusir penjajah sangat mengharapkan dan merindukan kesejahteraan.

Pak Harto mengatakan hal itu di Tapos tahun 1993, tanpa menggunakan kata pribumi tapi bangsanya yang masih menderita. Barangkali semua orang masih ingat waktu Pak Harto memanggil pengusaha-pengusaha begitu banyak, orang-orang keturunan semua dinasehati begitu. Pak Harto sudah ingatkan juga agar jangan sampai nanti timbul iri hati terjadi kesenjangan sosial yang begitu jauh.

Pak Harto, sambil mengingatkan menyebut-nyebut pula nama Liem Bian Koen, sebagai contoh yang dulu modalnya hanya baju (jaket) kuning tetapi sudah mempunyai pabrik. Kepada Liem Bian Koen, Pak Harto meminta supaya ingat bangsanya yang masih menderita.

Pak Harto selalu mengingatkan demikian, sesuai dengan Pancasila, khususnya sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Jadi harus adil. Tapi sekarang Pancasila sudah tidak ada lagi, yang dipakai hak asasi manusia. Hak tiap-tiap orang harus diakui dan dibela berdasarkan hukum.

Jadi berdasarkan hak orang tidak perlu lagi memikirkan orang lain. Untuk kepentingan pribadi saja semuanya. Justru inilah sekarang pada era reformasi ini yang terjadi. Akhirnya menimbulkan kesenjangan, jurang pemisah antara si kaya dan si miskin semakin melebar. Dulu saya berani bicara mengenai sila kedua kemanusiaan yang adil dan beradab. Kalau sekarang tidak berani lagi karena yang diutamakan adalah hak asasi manusia, tanpa kemanusiaan yang adil dan beradab. Hak tidak disertai dengan kewajiban dan tanggungjawab.

Tampaknya Indonesia mau meniru Amerika dimana demokrasi dan hak asasi manusia dihargai setinggi-tingginya dan sudah merupakan harga mutlak yang tidak boleh ditawar-tawar.

Tapi jangan lupa, di Amerika hak sudah diikuti dengan kewajiban dan tanggungjawab. Setiap warga negara tahu kewajiban dan tanggungjawabnya sampai di mana. Di Indonesia belum tahu apa kewajiban dan tanggungjawab maka akhirnya morat-marit. Jadi, yang terjadi nanti ada jurang pemisah antara yang kaya dan miskin. (Bersambung) Majalah Digital Tokoh Indonesia
Majalah Digital Tokoh Indonesia
Majalah Tokoh Indonesia
Edisi 24/crs/sh/sp,ms

*** TokohIndonesia.com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 

Page 1 of 7 All Pages

  • «
  •  Prev 
  •  Next 
  • »

Ditayangkan oleh cross  |  Dibuat 13 Apr 2010  |  Pembaharuan terakhir 20 May 2013
Pupuk Dan Nilai Tambah Dalam Tekanan Aliran Dana Bi

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

This book gives you a huge knowledge of what you need for understanding the market for watches. The book is full of beautiful photos of some of the Worlds most awesome timepieces and what's under the hood.

Note: A must have buat pencinta/kolektor jam tangan. Harga cover US$35.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: