WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia

Belajar dari Pengalaman Jepang


Belajar dari Pengalaman Jepang
Ch. Robin Simanullang | Ensikonesia.com | Hotsan

Oleh Ch. Robin Simanullang

SIB 06-05-1990: Presiden Soeharto mengemukakan keyakinannya bahwa kunjungan Perdana Menteri Jepang Toshiki Kaifu akan memperdalam saling pengertian dan mempererat tali persahabatan Indonesia-Jepang. Kunjungan PM Jepang ini (pertemuan kedua pemimpin ini) merupakan kesempatan berharga bagi kedua negara. Pertemuan kedua pemimpin ini sama penting dan bermanfaat bagi kedua negara. Walaupun PM Kaifu dan rombongan berada di Indonesia hanya dalam waktu yang relatif singkat, 4-6 Mei 1990.

Hubungan Indonesia Jepang sudah sedemikian akrab. Pada awal tahun 70-an demikian kuatnya gema pertanyaan sehubungan dengan kerjasama ekonomi perdagangan kedua negara. Apa gerangan yang tersembunyi di balik kemurahan hati Jepang memberi bantuan kepada Indonesia? Ketika itu muncul prasangka bahwa Jepang yang miskin sumber alam ingin 'menguras' sumber alam (bahan baku) dari Indonesia. Kenyataan kemudian membuktikan bahwa Indonesia dan Jepang saling membutuhkan. Indonesia penting bagi Jepang. Jepang penting bagi Indonesia.

Jepang dengan perkembangan teknologinya yang demikian pesat memerlukan bahan baku yang di negerinya sendiri tidak ada atau tidak mencukupi. Sementara Indonesia memerlukan teknologi dalam mengakselerasi pembangunan. Pada mulanya, Indonesia memang menganut kebijakan industri subsitusi impor. Jepang menunjang kebijakan ini. Permesinan untuk keperluan industri diimpor dari Jepang. Jepang melakukan proses industri di Indonesia. Industri subsitusi impor memerlukan teknologi dan bahan baku setengah jadi dari Jepang dan negara lain. Berkembanglah berbagai industri di tanah air.

Ditulis di Jakarta, Sabtu 5 Mei 1990 dan diterbitkan sebagai kolom Fokus Peristiwa Sepekan Harian Sinar Indonesia Baru, Medan, Minggu 6 Mei 1990.

Perkembangan industri subsitusi impor ini dapat memenuhi berbagai kebutuhan dalam negeri. Beberapa produk industri Jepang dan negara industri maju lainnya diproses (dirakit) lebih dulu sebelum dipasarkan. Jepang memang punya kepentingan besar melihat potensi pemasaran yang demikian luas di Indonesia. Indonesia memunyai penduduk dalam jumlah besar. Jepang tentu melihat bahwa industri subsitusi impor yang berkembang di Indonesia adalah sebagai perpanjangan tangan pemasaran produk industrinya. Ini tentu sangat menguntungkan Jepang.

Sementara, bagi Indonesia perkembangan industri subsitusi impor itu adalah langkah penting dalam upaya pengembangan industri sehingga berbagai kebutuhan tidak "bulat-bulat" (siap pakai) lagi diimpor. Seperti mobil, sebagian suku cadangnya dibuat di Indonesia kemudian dirakit dengan mesin/suku cadang yang diimpor.

Kemudian perkembangan internal dan eksternal menuntut lain. Harga minyak merosot di pasaran dunia. Indonesia yang mengandalkan ekspor minyak dan gas bumi merasakan akibatnya. Ditambah lagi resesi ekonomi yang melanda dunia. Indonesia melakukan berbagai kebijakan baru. Kebijakan berubah dari industri subsitusi impor menjadi industri (produk) orientasi ekspor. Kebijakan ini didorong dengan melakukan berbagai tindakan debirokratisasi dan deregulasi.

Terjadi perubahan struktur perekonomian di Indonesia. Swasta bergerak cepat. Dalam waktu yang relatif singkat, beberapa kekuatan ekonomi swasta bangkit bergairah dan berkembang jadi "raksasa" yang dapat diandalkan. Beberapa Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha
besar yang sebelumnya enggan menampakkan kebesarannya (bahkan hampir tabu untuk ditampakkan kebesarannya) bangkit terbuka mengembangkan dan mengumandangkan kebesarannya. Mereka itu kemudian disebut para konglomerat, yang tidak hanya beroperasi di Indonesia melainkan juga di mancanegara. Selain itu, berbagai perusahaan semakin membuka diri dengan go public.

Seiring dengan perkembangan itu pula, bermunculan komentar tentang kehadiran konglomerat terutama dikaitkan dengan kesenjangan sosial. Kekuatiran tidak perlu terlalu berlebihan soal ini. Kehadiran konglomerat, yang pasti diharapkan, akan memperkuat daya saing Indonesia di pasar internasional. Diharapkan, akan semakin memperkuat posisi Indonesia dalam struktur hubungan perekonomian dengan negara lain, yang akan lebih berimbang dan saling menguntungkan.

Barangkali, kita tidak salah bila mengambil perbandingan dari pengalaman Jepang yang kini sudah menempati posisi sebagai salah satu raksasa ekonomi dunia. Pada mulanya Jepang hadir dengan kegiatan industri tradisional (rumah tangga), antara lain mengekspor tekstil. Dari devisa yang diperoleh dari ekspor itu, mereka kemudian membeli teknologi dari Barat. Mereka bekerjasama dengan berbagai negara industri Barat dalam pengembangan pabrik kendaraan. Seperti Mitsubishi dan Chrysler (Amerika) dan Nissan dengan Hirman (Inggris). Dalam hal ini, tentu saja Mitsubishi dan Nissan harus membayar technology fee kepada Chrysler dan Hirman. Kemudian, Jepang melakukan berbagai modifikasi teknologi yang dibelinya itu. Lahirlah produk teknologi Jepang, yang laris di pasaran dunia, termasuk di Amerika dan Inggris yang sebelumnya pemilik teknologi itu.

Dalam hal perdagangan, Jepang memberi kesempatan kepada Shosa. Sebutan Shosa diberikan kepada perusahaan perdagangan yang berskala besar. Mirip sebutan konglomerat di sini. Shosa yang memiliki modal besar didorong untuk melakukan penetrasi pasar ke mancanegara. Sementara pemerintah Jepang aktif melakukan promosi produk industrinya. Sehingga dalam kegiatan keluar, swasta dan pemerintah Jepang adalah satu wajah, tidak tampak garis pemisah. Itulah Japanese Corporation.

Maka, mengambil perbandingan dari keberhasilan negara lain tentu sangat bermanfaat. Namun, kenyataannya kita tidak 'berhasil' belajar dari Jepang.

Ditulis di Jakarta, Sabtu 5 Mei 1990 dan diterbitkan sebagai kolom Fokus Peristiwa Sepekan Harian Sinar Indonesia Baru, Medan, Minggu 6 Mei 1990. Penulis: Pemimpin Redaksi Tokoh Indonesia
Pemimpin Redaksi Tokoh Indonesia
Ch. Robin Simanullang
| Arsip Opini TokohIndonesia.com

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA


Ditayangkan oleh cross  |  Dibuat 25 Apr 2013  |  Pembaharuan terakhir 01 May 2013
Sby Jk Telah Bekerja Siang Malam Kuhp Magna Carta Penjahat

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 43

Tokoh Monitor

KPK Observer

Buku Pilihan

thumb

Rahasia menghasilkan uang lebih banyak dan lebih cepat. Penjualan Anda pasti meledak!

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: