WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia
Zaman Edan

Moralitas Kian Memudar


Moralitas Kian Memudar
Daoe Joesoef | TokohIndonesia.com | Filckr.com

Oleh Prof. Dr. Daoed Joesoef | Tingkah laku politisi yang saling menuduh dan mencerca, sikap para birokrat yang acuh tak acuh, ulah para pebisnis yang serba asosial dan antilingkungan, serta kebijakan pemerintah yang tidak merakyat dan membingungkan menunjukkan betapa tanggung jawab moral memudar. Padahal, ia perlu tampil justru untuk memupus edan-edanan reformasi.

Memudarnya tanggung jawab moral tersebut menimbulkan suatu situasi ganda yang memprihatinkan. Di satu pihak, warga individual jadi kian stres dan beringas karena merasa diabaikan nasibnya begitu saja. Dia jadi cepat naik pitam, gampang mengamuk ke siapa saja dan merusak apa saja, serta tidak mau tahu tentang akibat destruktif perbuatannya. Di lain pihak, unsur-unsur pembentuk pola pikir masyarakat yang berpembawaan divergen semakin menekan unsur yang cenderung konvergen sehingga ia menjadi tidak berdaya. Hal ini memprihatinkan karena—dalam keadaan normal—konvergensi pola pikir masyarakat justru berfungsi mengimbangi karakter individual destruktif warganya.

Memudarnya tanggung jawab moral karena pelaku dan sasaran perlakuan cenderung anonim. Pelaku terdiri dari politikus, birokrat, penguasa/pejabat, dan peLihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
bisnis
. Sasaran perlakuan adalah penanggung akibat tindakan para pelaku. Anonimitas ini merupakan anomali dari modernisasi cara pengelompokan manusia. Dampaknya diperparah oleh keedanan reformasi yang memanfaatkan anonimitas manusia modern tadi.

Transformasi edan-edanan memperparah keadaan dengan menganggap peran/jabatan tertentu sebagai punya hak prerogatif yang pantang digugat. Maka, kekeliruan apa pun menjadi suatu kesalahan prosedur, bukan merupakan tanggung jawab pribadi sang politikus, peLihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
bisnis
, pejabat/penguasa yang melakukannya. Berarti, kesalahan prosedur tidak lagi ditanggapi sebagai suatu kesalahan moral yang menuntut tanggung jawab pribadi dari pelaksana peran, sang pelaku.

Cara pengelompokan modern di bidang apa pun disebut organisasi. Perkembangan organisasi yang semakin melembaga mudah dimanfaatkan oleh para pelaku menjadi pelindung. Kelembagaan tersebut dijadikan alasan logis oleh mereka untuk membebaskan diri dari tanggung jawab moral pribadi atas pelaksanaan kerjanya. Di situ mereka hanya menjalankan peran tertentu. Jadi yang bertanggung jawab adalah peran, bukan pemeran.

Transformasi edan-edanan memperparah keadaan dengan menganggap peran/jabatan tertentu sebagai punya hak prerogatif yang pantang digugat. Maka, kekeliruan apa pun menjadi suatu kesalahan prosedur, bukan merupakan tanggung jawab pribadi sang politikus, peLihat Daftar Tokoh Pengusaha
Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
bisnis
, pejabat/penguasa yang melakukannya. Berarti, kesalahan prosedur tidak lagi ditanggapi sebagai suatu kesalahan moral yang menuntut tanggung jawab pribadi dari pelaksana peran, sang pelaku.

Kekaburan Tanggung Jawab Moral

Kekaburan tanggung jawab moral pelaku semakin dipertegas oleh penalaran diktum manajemen organisasi modern, yaitu spesialisasi yang sejauh mungkin demi kesangkilan dan kemangkusan kerja. Diferensiasi tugas memang memperbesar tanggung jawab seseorang atas kinerjanya. Namun, karena satu penugasan diselesaikan oleh begitu banyak orang dalam mata rantai kerja dan rangkaian jenjang kerja yang aneka ragam, menjadi kabur lokus tanggung jawab penuh yang menetapkan siapa penanggung jawab yang sebenarnya atas hasil akhir dari sesuatu tugas pekerjaan.

Kekaburan menjadi semakin sulit diatasi dalam usaha melacak penanggung jawab yang sebenarnya tadi apabila tidak ada kontrol yang lugas dalam pelaksanaan kerja karena dominasi kebiasaan ewuh pakewuh dalam pergaulan/kedinasan. Jadi, dalam kondisi kerja di mana orang dengan mudah melempar tanggung jawab kepada pihak lain, timbullah satu situasi—menurut pengamat proses modernisasi Zygmunt Bauman—di mana ada "dosa tanpa pendosa, kejahatan tanpa penjahat, kesalahan tanpa pembuat salah. Tanggung jawab atas hasil final suatu tindakan jadi mengambang".

Anonimitas tidak hanya menyelimuti pelaku, tetapi melekat pula pada sasaran pelaku tindakan. Sasaran menjadi semakin tidak jelas berhubung jangkauan tindakan menjadi semakin luas, baik dalam term waktu ataupun ruang, yang berarti pula mencakup semakin banyak orang atau kelompok. Politikus hanya tahu di ujung sana dari tindakannya ada sekelompok pemilih yang dinamakan konstituen. Ujung sana dari kegiatan pebisnis adalah konsumen; dari "pengabdian" pejabat/birokrat adalah masyarakat; dan dari kebijakan pemerintah/penguasa adalah massa yang disebut rakyat.

Mungkin para pelaku tersebut tahu sasaran mereka terdiri dari pemuda, mahasiswa, buruh, petani, nelayan, intelektual, ulama, dan ibu rumah tangga, tetapi pasti tidak mengenal persis siapa mereka sebenarnya satu per satu. Paling banter mereka pernah bertatap muka sejenak ketika sedang berkampanye politik, sewaktu promosi penjualan, dalam kesempatan perayaan hari besar nasional, atau dalam rangka kunjungan kerja resmi.

Anonimitas kelompok sasaran dipertegas oleh kenyataan bahwa dampak dari tindakan pelaku baru diketahui jauh di kemudian hari. Tampang sasaran sudah begitu kabur sehingga tidak berdaya menggugah keharusan moral untuk bertanggung jawab. Bertanggung jawab kepada siapa dan tindakan pribadi yang mana? Pihak yang seharusnya merupakan sasaran tanggung jawab pelaku sudah begitu anonim di tengah-tengah massa yang disebut hanya dalam term "jumlah" hasil hitungan sensus penduduk atau dalam term "rata-rata" angka statistik.

Anomali modernitas sebenarnya sudah diantisipasi oleh Charles Fourirer, seorang pebisnis sosialis pada akhir abad XVIII, yang salah satu ucapannya sering dikutip oleh Proklamator, Wakil Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1956)
Proklamator, Wakil Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1956)
Bung Hatta
dalam menjelaskan nilai perProklamator, Wakil Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1956)
Proklamator, Wakil Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1956)
koperasi
an. Hal serupa dilakukan pula oleh Andre Malraux, seorang pejuang idealis pada awal abad XX. Untuk mengatasi anomali itu, melalui ucapan dan perbuatan, mereka telah membayangkan adanya suatu humanisme baru.

Moral Manusia Modern

Manusia modern selaku apa pun dan di mana pun diingatkan supaya tetap bertanggung jawab moral atas perbuatannya terhadap sesama manusia. Adalah wajar jika setiap orang berusaha berperan dalam kehidupan bersama. Namun, peran bukan berarti mematikan tanggung jawab. Ia harus ditanggapi sebagai peluang bagi manusia untuk bertanggung jawab atas nasib pihak lain: orang-orang yang dengan dia bukan sekeluarga, sesuku, sedaerah, seagama, separtai, atau dari ras yang sama.

Jadi, kepedulian moralnya terhadap pihak lain karena ia berupa manusia yang sama sekali memang lain dengan dia. Inilah yang ketika itu disebut "humanisme baru" yang kini cenderung dinamakan "humanisme universal" .

Humanisme tersebut kelihatannya diabaikan begitu saja oleh keedanan para pelaku reformasi. Padahal Pancasila yang selalu mereka jadikan hiasan ucapan di depan publik telah mengingatkan supaya kita, Indonesian citizens, menjadi manusia bertuhan serta sekaligus adil dan beradab. Beradab karena kita berani "keluar" dari ego sendiri serta bertuhan karena keluar demi "melayani/mengasihi pihak yang betul-betul lain dengan kita". Hamenangi jaman edan....! Opini TokohIndonesia.com | rbh

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

Penulis: Prof. Dr. Daoed Joesoef, Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan (1978-1983), Alumnus Universite Pluridisciplinaires Pantheon-Sorbonne. Pernah diterbitkan di Harian Kompas, Senin, 18 Juli 2011 di bawah judul Moralitas di Zaman Edan.


Ditayangkan oleh redaksi  |  Dibuat 19 Jul 2011  |  Pembaharuan terakhir 17 May 2013
Ketika Air Menggugat Jadi Wartawan Enakkah

Update Data & Sponsorship

Dukungan Anda, Semangat Kami

(1) Promosikan website ini kepada publik. (2) Gunakan fitur Sindikasi TokohIndonesia.com. (3) Pasang Iklan di TokohIndonesia.com (4) Dukungan Dana sebagai sponsor (5) Memberitahu redaksi bila ada data/informasi yang salah/kurang akurat. (6) Beri pendapat Anda di kolom komentar. (7) Dukungan Data berupa biografi singkat, foto close up terbaru minimal 1 lembar ukuran 3R/4R dan riwayat hidup/CV terbaru. Kami juga akan dengan senang hati menyebut nama Anda sebagai kontributor.

Update Konten/Saran

Bila Anda (Sang Tokoh) atau Kerabat/Rekan dari Tokoh ingin:

  • Menambah (Daftar) Tokoh
  • Memperbaharui CV atau Biografi
  • Menambah Publikasi (Wawancara, Opini, Makalah, Buku)
  • Menambah RSS Feed situs pribadi/Twitter
  • Menambah Galeri Foto
  • Menambah Video
  • Menjadi Member
  • Memasang Banner/Iklan
  • Memberi Dukungan Dana
  • Memberi Saran

Contoh Penggunaan

Anda bisa melihat halaman ini untuk mendapatkan gambaran, hal apa saja yang bisa ditambah:

Rumah Presiden SBY

Rumah Presiden Soekarno

Rumah Megawati Soekarnoputri

Silakan menghubungi kami di:

  • Telp/SMS: 021-32195353, 0852-15333-143
  • Email:
  • Atau gunakan FORM KONTAK ini

Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 42

Tokoh Monitor

Buku Pilihan

thumb

Buku ini memecahkan rekor MURI sebagai Buku Sulap dengan Jenis Permainan Terbanyak. Buku ini akan menjadi koleksi berharga di perpustakaan pribadi Anda.

Note: Buku langka, kondisi masih baru namun ada bagian yang sedikit terlipat.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: