SELAMAT DATANG ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Search      A   B     D     F       I       L     N   O   P   Q   R   S     U     W     Y   Z
POLITISI

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::

C © updated 060902
PSPI
INDEX POLITISI   

garis

:::::: Politisi garis

:::::: Legislatif garis
:::::::::::::: MPR-RI
garis
:::::::::::::: DPR-RI
garis
:::::::::::::: DPD
garis
:::::::::::::: DPRD
garis
:::::: Partai
garis
:::::: Ormas
garis
:::::: OKP
garis
:::::: LSM-Aktivis
garis

:::::: Redaksi
garis

garis
garis

 


Nama:
Dr. H. Rasyidi
Lahir:
Sigli, Aceh, 10 Nopember 1949
Alamat:
Jl Kayu Putih Utara IV No 162 Pulomas, Jakarta
Istri:
Dra Surtika Yoedhapraja
Anak:
Evaria YM (tiri)
Leoni Bidara (kandung)
Pendidikan:
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara, Medan
Pengalaman:
1. Dokter BKKA Pertamina
2. Dokter Inpres di Sigli, Aceh
3. Dokter bagian penyakit dalam FKUI/RSCM
4. Sekretaris Komisi Organisasi Majelis Ulama Indonesia Pusat
5. Ketua Umum DPP Partai Solidaritas Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI)
6. Sekretaris Komisi Pemilihan Indonesia
7. Anggota KPU
8. Ketua Umum Federasi Pekerja Seluruh Indonesia (FPSI)
9. Presiden Partai Solidaritas Pekerja se-Indonesia (PSPI)
Dokter H Rasyidi

Masuki Dunia Politik Secara Total


Ketua Umum DPP Partai Solidaritas Pekerja Se-Indonesia (Partai PSPI) H Rasyidi, yang juga bergerak di dunia LSM kaum pekerja, ini berkeyakinan memiliki dukungan yang cukup luas. Dokter yang telah lama berkecimpung di bidang organisasi ini pun menyatakan tidak ragu secara total terjun ke dunia politik.

Mengapa terjun ke dunia politik? Ia menjawab dengan amat realistis, tidak muluk-muluk. Yakni karena ada kesempatan, bakat serta kemauan. Kesempatan itu terbuka seiring dengan semakin demokratisnya iklim politik dalam negeri. Masyarakat diberikan hak yang cukup luas untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik termasuk dalam membentuk partai politik.

Ditinjau dari segi bakat, Rasyidi mengaku, walaupun ia berprofesi sebagai dokter, namun telah lama berkecimpung di bidang organisasi. Bahkan, berorganisasi ini menjadi salah satu hobinya selain membaca dan berolahraga. Ia juga sempat berkiprah bersama Golkar pada masa Orde Baru. Sayang, menurutnya, Golkar sebagai organisasi yang besar dan solid serta memiliki cabang di seluruh wilayah di Indonesia, dalam kenyataannya telah salah melangkah sehingga membawa bangsa Indonesia menuju krisis yang tidak kunjung berakhir.

Dengan adanya peluang dan bakat yang dimilikinya, kini tinggal kemauan yang berbicara. Rasyidi yang juga bergerak di dunia LSM kaum pekerja, memiliki dukungan yang cukup luas sebagai calon potensial basis politiknya. Dengan modal yang telah dimilikinya, ia menyatakan tidak ragu untuk terjun ke dunia politik secara total.

Menjelang Pemilu 1999, Rasyidi sempat mendirikan partai yang bernama Partai Solidaritas Pekerja Seluruh Indonesia ( Partai SPSI). Partai tersebut berhasil meraih kursi DPRD di Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Barat. Karena hanya mendapat suara kurang dari 2 persen, maka pada Pemilu 2004, partai SPSI kemungkinan tidak bisa ikut serta sebagai salah satu kontestan. Untuk mengantisipasi hal tiu, Rasyidi dan 77 orang lainnya mendirikan partai baru bernama Partai Solidaritas Pekerja se-Indonesia (Partai PSPI) yang didirikan pada tanggal 2 Mei 2002. Kini partai tersbut telah memiliki perwakilan di 30 propinsi, serta sebuah perwakilan di luar negeri yakni di Malaysia.

Adapun visi PSPI adalah menjadi partai politik yang terkemuka, terpercaya, dan tangguh dalam memperjuangkan aspirasi politik dan nasib para pekerja/buruh/karyawan/ wong cilik dan atau pengangguran serta dikelola secara profesional. Untuk menunjang visi tersebut, partai ini memiliki platform atau landasan berpijak, yaitu dalam geraknya senantiasa mendasarkan kepada nilai-nilai etika dan moral berdasarkan ajaran agama, penegakan supremasi hukum, demokrasi, tegaknya negara kesatuan Republik Indonesia dan pemberlakuan otonomi luas, terbuka, majemuk dan pluralis tanpa membedakan suku, ras, agama, dan sosial-ekonomi, peningkatan kemakmuran rakyat, senantiasa berpijak pada wawasan pembaharuan dan pembangunan. Sifat yang dimikili partai ini adalah terbuka, mandiri, demokratis, mengakar, responsif, solid, dan moderat.

Berbicara mengenai peluang partai ini dalam Pemilu 2004, Rasyidi yakin masyarakat akan merespon dengan baik kehadiran partai baru ini, terutama para pekerja kecil dan pengangguran. Keyakinan itu didapat karena saat ini semakin tingginya kekecewaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah yang kurang memihak kepada kalangan pekerja. “Saya berpikir semua partai mendapat kesempatan yang sama dalam pemilu, pemenangnya adalah yang melakukan usaha yang cukup kuat dan plus keberuntungan,” katanya kepada tokohindonesia dotcom.

Ia mencontohkan, masih banyak pengusaha yang membayar pekerja dengan upah rendah, bahkan jauh di bawah UMR. Pemerintah nyaris tidak memberikan sanksi apapun kepada pengusaha yang tidak mematuhi peraturan untuk memberi pekerjanya kesejahteraan yang layak.

Tambahan, kepulangan TKI yang bermasalah dari Malaysia menurutnya bisa menjadi faktor yang menguntungkan. Sebab, para TKI itu sudah memberikan devisa yang cukup besar bagi negara, tetapi ketika mereka bermasalah, pemerintah terkesan tidak membelanya. Hal ini akan menimbulkan krisis kepercayaan di kalangan pekerja.

Menurutnya, pemulangan TKI yang bermasalah itu adalah karena kesalahan pemerintah. Pemerintah tidak memberikan mereka pendidikan yang cukup sehingga menjadi pekerja yang cerdas. Menurutnya terlalu banyak oknum yang memanfaatkan keuntungan dari pengirima TKI itu, tanpa memberikan perlindungan hukum yang dibutuhkan para TKI. Maka, ketika mereka bermasalah dalam hal dokumen resmi, tidak ada aparat yang menyatakan bertanggung jawab.

Jalan keluar untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di Indonesia adalah melalui perebutan kekuasaan secara demokrasi. Sebab, komitmen kerakyatan para elit pemimpin yang ada sekarang ini patut dipertanyakan. Ia memaparkan, banyak negara maju dan tidak korupsi karena dipimpin oleh partai buruh. Alasannya, pemimpin-pemimpin yang berasal dari buruh tidak rakus dan tidak memiliki tanda garis tangan yang rakus, yang sudah merasa cukup dengan hidup layak.

Mengenai kondisi buruh/pekerja di Indonesia yang saat ini terpecah ke dalam berbagai kelompok dan organisasi serta pemikiran yang sering saling bertentangan, menurutnya hal itu disebabkan karena selama ini masyarakat buruh dibutakan untuk mengetahui dan mengerti akan hak-haknya dalam keberadaannya sebagai bagian bangsa. Selain itu, standar/patokan pekerja di Indonesia itu tidak ada. Hal ini berbeda dengan di luar negeri. Dalam penentuan UMR, pemerintah lebih sering berdialog dengan kalangan pengusaha daripada para pekerja. Diperkirakannya, dalam pembicaraan itu terjadi korupsi, sehingga standar gaji buruh rendah. Bahkan, tanpa ragu-ragu Rasyidi berani menyebutkan angka bahwa 99,9 persen kalangan birokrat, politisi, dan juga aktivis melakukan korupsi. Sisanya yang jujur hanya sekitar 0,01 persen.

Sebelum terjun di bidang politik, Rasyidi sempat bergelut di organisasi kemasyarakatan. Ia sempat aktif di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), DPP Federasi SPSI, majelis Ulama Indonesia, Dewan Masjid Indonesia, dan lain-lain. Kepentingan antara ormas dan parpol memang berbeda. Tetapi menurutnya, ormas harus juga dapat berpolitik. Sedangkan kendaraan yang tepat untuk berpolitik adalah partai politik. Untuk itu, baginya, antara ormas dan partpol merupakan dua institusi yang tak dapat dipisahkan.

Seiring dengan kesibukannya di bidang politik, Rasyidi mengaku aktivitasnya melayani masyarakat di bidang kesehatan menjadi terbengkalai. Meskipun ia seorang dokter, namun sekarang tidak memiliki waktu untuk melakukan praktik di rumahnya sekalipun. Papan nama dokternya memang masih terpasang, tetapi tidak ada jadwal khusus untuk berobat. Ia hanya membuka praktik manakala ada apoinment dengan pasien, dan itu adalah khusus untuk mengkhitan (menyunat).

Beberapa waktu lalu Rasyidi mendaftarkan diri menjadi salah seorang calon gubernur DKI. Ia tidak yakin akan menang, namun juga tidak mau menyerah. Niatnya adalah untuk mengetahui seberapa jauh praktik demokrasi diterapkan di lembaga perwakilan dalam pemilihan gubernur di era reformasi. Kenyataannya, “Saya belum melihat praktik demokrasi dalam pemiliihan gubernur,” jelasnya.

Rasyidi lahir di Sigli, Aceh, pada tanggal 10 Nopember 1949. Ia menyelesaikan pendidikan dasar hingga SMA di Aceh. Lulus SMA melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara hingga meraih gelar dokter. Ia sempat memperdalam spesialisasi ilmu kedokteran di Jakarta, namun mengundurkan diri di tengah jalan.

Pada tahun 1987 ia menikah dengan seorang apoteker bernama Dra. Surtika Yoedhapraja. Ia kini memiliki dua anak yaitu Evaria YM dan Leoni Bidara.

Ilmu kepemimpinan lebih banyaknya dipelajari secara otodidak dan dimatangkan melalui tempaan organisasi. Meskipun demikian, lelaki yang gemar membaca ini mengaku belajar banyak dari berbagai tokoh-tokoh dunia seperti pimpinan-pimpinan Amerika, terutama Presiden Amerika pertama, Washington. Namun, kepemimpinan yang lebih lengkap dipelajarinya dari kisah Nabi Sulaiman. Menurutnya, Nabi Sulaiman ialah manusia yang lengkap yang Tuhan takdirkan. Pertama ia kaya, kedua saleh, dan ketiga menjadi pemimpin yang andal.
 *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia),

 

Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero