A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► About Us
 ► Versi Majalah
 ► Pancasila
 ► Berita
 ► Galeri
  P O L I T I S I
 ► MPR-RI
 ► DPR-RI
 ► DPD
 ► DPRD
 ► Partai
 ► Ormas
 ► OKP
 ► LSM-Aktivis
 ► Asosiasi
  B E R A N D A
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 06062006  
   
  ► e-ti  
  Nama LSM:
Aliansi Bhineka Tunggal Ika

Alamat Sekretariat Sementara:
Dewan Kesenian Jakarta, Jalan Cikini Raya No.73, Telp 021-3162780, 31937639 Fax 021-31924616;

E-mail:
tolak_ruuapp06@yahoo.com

 
 
     
 
PANCASILA HOME

 

CURHAT:  01  02  03  04  05  06  07  08  09  10  11  12  13  14  =

 

Pancasila Rumah Kita (09)

Perempuan dan Rahimnya


Oleh Ratna Sarumpaet:

Kau menuntutku memberi kelembutan yang teduh,
Di saat kau memintaku memintaku mengisi langit
Dengan sejuta kilatan bunga api –
Menegaskan aku memiliki kemauan keras bagai besi baja

Kau menuntutku menyemai kesabaran
Seperti menyamai padang suflir yang sejuk,
Di saat kau memintaku memancangkan tonggak raksasa di perut bumi…….

Kau menetapkan takdirku – terlahir sebagai perempuan,
Dan aku tak berdaya menolaknya…..

Kau menyebut rahimku penghormatan dan mujizat,
Kau menyebutnya kesucian yang diempukan.
Tapi rahimku adalah catatan hitam pergulatan kaumku,
Sebuah cermin yang mempertajam penghlihatanku atas semua jalan menakutkan yang mereka ciptakan untuk anak-anaku…..

Sahwat lelaki boleh tak terbendung
Sah meluap, membanjiri setiap ruang di setiap waktu……
Dan karena itu anak-anak gadisku sah untuk diperkosa…..
Sah untuk dibelenggu
Sah kehilangan kemerdekaan dan keriaan……

Aku mengadu air susuku dengan cinta
Menyusui anak-anakku dengan kasih sayang
Aku mengantar mereka tumbuh dengan kelembutan
Membekali mereka dengan akal budi……

Kini dengan hati terluka aku menyaksikan
Anak-anakku dengan muka tanpa berwajah
Mata memancar kilatan api kebencian……
Mengejar dengan liar anak-anakku yang lain dengan kebencian
Sambil menyeru namamu……

Aku menyaksikan murka alam mengguncang……
Menyaksikan bumi terbelah dalam lempangan-lempangan
Gunung raksasa memuntahkan api, batu dan lahar……

Aku menyaksikan orang-orang tak berdosa terbakar hangus,
Bergelimpangan dan berlumuran darah.
Dalam kecemasan yang dahsyat……
Di dalam bathinku, aku bertanya…..
“Akankah kau kau semurka”

Aku menyaksikan orang-orang remuk dan berkeping-keping,
Menyatu dengan puing-puing, batu dan tanah…..
Menyaksikan ibu-ibu menangis, anak-anak kucar-kacir kebingungan…..
Dan aku mendengar suara-suara itu…..
Saling menyalahkan…..
Saling menghujat…..
Dan dengan enteng melemparkan kutuk…..

Aku merintih didalam bathinku.
Aku meronta……
Didalam bathinku aku menjerit-jerit memanggil namamu……
Allahu Akbar Allahu Akbar……

Kau menetapkan takdirku terlahir sebagai perempuan,
dan aku tak berdaya menolaknya…..
tapi perkenankan aku menagih ya Allah…..
perkenankan menagih bangsa-bangsa yang kau cipta berbeda-beda,
Berbeda warna kulit……
Berbeda bahasa dan tutur kata…..
Berbeda keyakinan…..
Merdeka dan beradab.
Terhormat dan saling menghormati…..
Memiliki cinta dan saling mencintai……

Jawab aku….

Tanganku bergetar. Berusaha keras menutupi kedua mataku,
Dan kau menepisnya marah……
Tubuhku merapat di dinding,
Bergantian aku lekatkan tanganku rapat-rapat kedua telingaku
Untuk tak lagi mendengar,
Dan nafasmu mengendus seperti gemuruh alam yang sedang murka
Tulang-tulang rahangku gemeretak mengatup mulutku
Membendung dengan susah payah keluh kesah menyesak dada…….
Dan suaramu mengaum seperti harimau lapar, menghardikku.

Apa yang kau inginkan dariku…..
Jawab aku ya Allah….
Jawab aku……

Atau biarkan aku meronta…..

Biarkan aku mengutuk rahimku untuk mengering,
Atau menyumbat mulutnya dengan batu karang
Dan aku tak lagi melahirkan anak-anak untuk
memenuhi hasrat-hasrat mereka yang barbar,
biarkan aku mengutuk rahimku untuk mengering……
dan aku tak lagi membiarkan anak-anakku menjadi saksi
atas kebiadaban yang dengan semena-mena mereka pertontonkan

Biarkan aku mengutuk rahimku ya Allah……
Dan aku tak lagi melahirkan anak-anak
Untuk mereka sulap menjadi monster-monster
yang memiliki kemampuan mengintimidasi,
menakut-nakuti, bahkan membunuhi
saudara-saudaranya sediri……

Jawab aku….. Jawab aku ya Allah…..

Atau jadikan aku batu…..
Jadikan aku baja tua…..
Jadikan aku apa saja, dimana rasa dan nurani
Tak akan larut dan bersenyawa…..
Dan ia tak lagi merong-rong batinku…..
Biar tak lagi membuatku gamang
Dia tak lagi membuatku merasakan kepedihan…..
Menempatkanku di tengah kesunyian panjang yang getir

Allahu Akbar…… Allahu Akbar….. ►e-ti

 

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)