| |
C © updated 06062006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama LSM:
Aliansi Bhineka Tunggal Ika
Alamat Sekretariat Sementara:
Dewan Kesenian Jakarta, Jalan Cikini Raya No.73, Telp 021-3162780,
31937639 Fax 021-31924616;
E-mail:
tolak_ruuapp06@yahoo.com
|
|
| |
|
|
|
|
| PANCASILA HOME |
|
|
 |
CURHAT: 01
02
03
04
05
06
07
08
09
10 11
12
13
14 =
Pancasila Rumah Kita (08)
Ideologi Gender dalam Skenario Indonesia Masa Depan
Oleh Prof Saparinah Sadli & Myra Diarsi: Seperti apa hubungan
gender, dan juga posisi perempuan dalam masyarakat Indonesia di masa
depan? Pokok-pokok pikiran di bawah ini mengulas bagaimana wujud
ideologi gender pada relasi laki-laki dan perempuan. Dan, sebagai
akibatnya, juga posisi kaum perempuan di dalam bangunan struktur
masyarakat tertentu sesuai dengan 4 ( empat ) skenario "Indonesia Masa
Depan 2010".
Pada setiap skenario, diulas bagaimana posisi perempuan di dalam
hubungan-hubungan sosial-ekonomi- politik-budaya (masyarakat) dengan
laki-laki. Dan,juga peran gender mereka dalam membangun "Indonesia Masa
Depan".
Pokok pikiran tentang gender, tentu dilandaskan pada perspektif masa
depan. Namun, tetap dengan kesadaran bahwa perubahan, ataupun transisi
dari suatu orde otoriter menuju orde demokratis, tidak selalu memberikan
arah yangjelas.
Demikian pula arah transisi orde gender, tidak selalu menentu. Hal ini
berkaitan dengan analisis gender sebagai konstruksi sosial yang
diciptakan, dan kemudian mau dipelihara terus-menerus; atau akan diubah,
lalu dikonstruksikan ulang tergantung kepada jalinan kepentingan dari
setiap aspek yang membangun sistem serta struktur sosial tersebut.
Ideologi gender yang telah mengakar dalam keyakinan orag per orang,
biasanya mewujud di dalam sistem dan struktur sosial masyarakat, serta
membias pada kebijakan Pemerintah dan kekuasaan elit politik.
Dalam suatu pemerintah berorde otoriter yang menyelenggarakan
kepemerintahan atas dasar kepentingan , sejumput elit penguasa maka,
nyaris semua bangunan sistem dan struktur masyarakat akan dikendalikan
sedemikian rupa untuk menyelamatkan kepentingan itu. Demi bertahannya
kekuasaan, pengendalian juga akan diikuti dengan pelestarian wacana.
Di dalam orde tersebut, rezim kekuasaan cenderung menempatkan perempuan
sebagai sub-ordinat, pada posisi kedua setelah laki-laki dinomor-satukan
secara total di segala bidang. Tentu saja, bangunan realitas maupun
wacana yang demikian, mengakibatkan berbagai kondisi buruk dan
memprihatinkan bagi lebih banyak perempuan dibandingkan kaum laki-laki.
mulai dari persoalan personal, sampai ke tingkat yang bersifat publik
termasuk posisi I sebagai warga negara "nasib" perempuan merupakan hasil
keputusan yang dikendahkan oleh kepentingan kekuasaan, yang mayoritas
diduduki kaum laki -laki.
Jadi, hubungan gender dan bagaimana posisi perempuan di dalam
masyarakat, jelas akan berkaitan dengan bagaimana bangunan sistem dan
struktur sosial-ekonomi-politik serta budayanya.
UjungTanduk:
Pemerintahan Otoriter dan Orientasi Kebijakan Ekonomi Pro Pertumbuhan
Dalam situasi seperti ini, hubungan gender jelas sangat timpang di mana
kekuasaan laki-laki mendominasi hampir semua bangunan struktur sosial.
Sebagai akibatnya, kebanyakan kaum perempuan tidak turut serta dalam
setiap pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kehidupan
berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara.
Kalaupun beberapa perempuan berada pula pada posisi yang menentukan,
biasanya tidak dapat dilepaskan dari keterkaitannya atau hubungannya
dengan elit penguasa laki-laki. Hingga, dengan demikian, pengaruh-
pengaruh yang dihasilkan juga tidak akan mewakili kepentingan peran dan
posisi gender perempuannya.
Sebagai pelaku kegiatan ekonomi, kaum perempuan lebih sebagai pelengkap
penderita ketimbang sebagai subyek penentu yang mempunyai kontrol.
Fenomena perempuan sebagai tenaga kerja sektor informal yang tak
terlindungi seperti pekerja seks, pembantu rumah tangga maupun penjaja
eceran menonjol sekali.
Demikian juga indikator diabaikannya kepentingan gender
perempuanseperti, misalnya, angka kematian ibu hamil/melahirkan yang
sangat tinggi. Atau, contoh lainnya, epidemi kaum perempuan sebagai
korban kekerasansecara fisik, psikologis maupun seksual baik di dalam
hubungan-hubungan personal di tingkat rumah tangga, maupun
hubungan-hubungan yang lebih horisontal dan vertikal, dengan hirarki
kekuasaan sampai ke tingkat negara.
Separatisme dan disintegrasi, tidak saja terjadi atas dasar kepentingan
kelompok dan kelas yang berbeda. Tetapi, bahkan, dapat juga muncul atas
dasar kepentingan gender yang tidakterwakili di segala lapisan
masyarakat.
Masuk ke Rahang Buaya:
Kombinasi antara Varian Pemerintahan Otoriter dan Orientasi Ekonomi Pro
Pemerataan
Pengurasan sumber daya alam yang penguasaannya berada dalam genggaman
kekuasaan kelompok militemasionalisyang merupakan ciri kondisi Masuk ke
Rahang Buaya jelas akan menempatkan perempuan sebagai alat atau umpan
yang dapat dikorbankan setiap saat. Atau, dalam bahasa ekonomi,
barangkali, dieksploitasi.
Gambaran kemungkinan-kemungkinannya tidak lebih baik dari situasi di
Ujung Tanduk. Karena, di dalam situasi tersebutdi mana rakyat banyak
sekali dikorbankan sebagai konsekuensi logis penerapan kebijakan ekonomi
tertutup kaum perempuan adalah yang akan petama kali menjadi korban,
namun sekaligus menganggung beban pencarian jalan keluar (survive ) jika
terjadi kelumpuhan ekonomi rumah tangga.
Hubungan gender yang timpang akan semakin menonjol. Dengan indikator,
sebagai warga, kaum perempuan semakin kehilangan akses terhadap
sumber-sumber keberdayaannya. Orientasi budaya yang militeristik,
cenderung mencetak sumber daya manusai secara dogmatik, sehingga
kehilangan potensi kritikalnya.
Ideologi gender yang menomorsatukan laki-laki, akan sangat efektif
dimanfaatkan di dunia pendidikan. Kalaupun muncul perlawanan, tidak akan
terpadu secara cukup berarti, karena segera akan dibungkam dengan teror,
ancaman, atau tindakan represiflainnya. Perlawanan justru akan
menimbulkan pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia. Dan, dalam hal
ini, perempuan mungkin menjadi sasaran bidik langsung dari teror-teror
yang sengaja diciptakan untuk membungkam suara rakyat demi kepentingan
politik penguasa. Perempuan, serta anak-anak korban tindak kekerasan,
akan muncul di mana-mana, kapan saja.
Mengayuh Biduk Retak:
Paduan Varian Sistem Pemerintahan Demokratis dengan Orientasi Kebijakan
Ekonomi Pro Pertumbuhan
Dalam situasi di mana demokrasi mulai menggeliat, akan tumbuh juga
kebutuhan untuk mengembangkan keadilan di bidang-bidang yang menjadi
landasan kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya. Nilai keadilan
mulai menjadi visi dari hampir semua kegiatan politik, dan di dalamnya
terlihat bahwa keadilan gender akan menjadi bagian yang tak terpisahkan
dari seluruh proses pengembangan demokratisasi.
Meskipun masih tergolong sporadis dan hilang-timbul, akan lebih banyak
terwujud peluang dan kesempatan bagi kaum perempuan menyuarakan
kepentingannyatermasuk kesertaan dan keterlibatan aktif kaum perempuan
padatingkat pelaksanaan, maupun pengambilan keputusan dalam kebijakan
negara. Kepentingan gender perempuan mulai dapat dimanifestasikan ke
dalam pembentukan partai-partai politik perempuan, ataupun kebijakan
kuota dalam keterwakilannya di parlemen.
Namun, kebijakan ekonomi pertumbuhan yang mengutamakan bantuan donor
asing atau negara adikuasa, pengelolaan sumber daya manusia sebagai
"aset nasional", dapat setiap saat menjadi bumerangdengan kecenderungan
ekploitasi habis-habisan demi target hasil yang tetap setia pada visi
keadilan, akan menggunung dengan tugas-tugas yang semakin pelik dan
berat.
Lambat tapi Selamat:
Memadukan Varian Pemerintahan Demokratis dengan Orientasi Kebijakan
Ekonomi Pro Pemerataan
Kehidupan demokratis dibangun terus-menerus. Antara lain, dengan
penegakan hukum yang mewakili kepentingan publik, rakyat banyak, dan
bukan sekelompok elit tertentu. Sebagai akibatnya, demokratisasi lambat
laun akan melembaga.
Dan, perubahan yang signifikan di dalam bangunan sistem serta struktur
sosial ini, akan berdampak positif bagi proses keadilan genderkh~susnya
dalam menguatkan proses penyetaraan hubungan gender. Dengan demikian,
kepentingan gender tidak lagi perlu diwakilkan secara khusus pada kantor
atau biro tertentu, karena telah menjadi bagian tak terpisahkan dari
seluruh penyelenggaraan kepentingan rakyat banyak.
Perekonomian bisa saja dikuasai para investor multinasional. Akan
tetapi, kepentingan rakyat di dalam akses sumber daya ekonomi akan
mendapat tempat dan perlindungan dari Pemerintah. Pada tingkat lokal,
misalnya, para penenun dan pembatik modal kecil masih dapat hidup dengan
menguasai sumber daya alam, maupun diversifikasi bahan baku yang tidak
dimonopoli dan mudah mereka peroleh.
Kegiatan ekonomi tidak akan meminggirkan para pelaku ekonomi perempuan.
Namun, justru menyediakan cukup peluang yang setara bagi perempuan
maupun laki-laki, tanpa tergantung kepada peran gendemya masing-masing
yang baku. Dalam hal ini, disusunnya perangkat hukum yang dengan adil
melindungi perempuan sebagai tenaga kerja, akan sangat berguna.
(Skenario Indonesia 2010, "Ideologi Gender dalam Skenario Indonesia Masa
Depan", Indonesia Masa Depan Komnas HAM, hal. 23,2000) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|