| |
C © updated 06062006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama LSM:
Aliansi Bhineka Tunggal Ika
Alamat Sekretariat Sementara:
Dewan Kesenian Jakarta, Jalan Cikini Raya No.73, Telp 021-3162780,
31937639 Fax 021-31924616;
E-mail:
tolak_ruuapp06@yahoo.com
|
|
| |
|
|
|
|
| PANCASILA HOME |
|
|
 |
CURHAT: 01
02
03
04
05
06
07
08
09
10 11
12
13
14 =
Pancasila Rumah Kita (07)
Memahami Bhinneka Tunggal dengan Jiwa Merdeka
Oleh Cok Sawitri: Proses untuk jujur dan berani hidup dengan
memahami ketakutan-ketakutan yang menyertai kehidupan keseharian dalam
proses pergaulan antar manusia dengan keragamannya, tidaklah dapat
dilakukan tanpa memaksa diri pribadi masing-masing untuk terus menerus
menyadari bahwa berpihak kepada kemanusiaan adalah kekuatan manusia
untuk melanjutkan hidup.
Bahwa keragaman itu dan toleransi yang menjembatani
hubungan-hubungan antar manusia, tidak bisa kini dilakukan sebatas
toleransi formalitas
Toleransi formalitas adalah keadaan seolah-olah adanya toleransi dan
penghormatan atas keragaman, namun jauh di dalam hati membiarkan
ketakutan-ketakutan menjadi konsep berpikir dan pola bertutur di ruang-
ruang pribadi, sebagai pengasuhan untuk mengingatkan akan adanya bahaya
mengancam terhadap identitas pribadi, kelompok maupun wilayah oleh pihak
lainnya.
Perbedaan adalah keniscayaan, sungguhlah mustahil untuk menghindarinya
atau menghilangkannya dengan alasan apapun. Bahkan atas nama agama.
Toleransi sejati hanya dapat terwujud apabila kesadaran meluaskan
wawasan ke ruang-ruang yang menyekat, menjadikan sikap rendah hati
sebagai tiangnya, agar berani untuk menghadapi bahwa hidup itu adalah
keragaman, yang tak satu pun diantarannya atas nama keyakinan apapun
dapat dijadikan alat untuk mengintimidasi pihak lain ataulah sebagai
upaya mulai dalam rancang sistematik penyeragaman keyakinan.
Karena itu, belajar kepada sejarah spritual Bali, khususnya Gama Tirta,
Hindu Bali yang berdasarkan paham Siwa Budha, dalam hal membangun
toleransi sejati, tidaklah dimaksudkan bahwa ini yang terbaik dan
sempurna. Namun sejenak merenungkan proses dari konsep berpikir dan pola
bertutur yangjujur melalui hasil yang didapatkan sampai masa kini, bahwa
ajaran ini sungguh-sungguh memberi contoh akan kemauan disertai tindakan
nyata untuk penghormatan kepada keragaman manusia.
Sutasoma adalah itihasa dari paham siwa budha ini, selain ramayana dan
mahabrata. Sutasoma memiliki sejarah yang panjang saat memasuki
nusantara. Bahkan tercatat di era Dalem Waturenggong + tahun 1472, saat
itulah Danghyang Nirarta mengajarkan agama di Bali. Beliau menasehatkan,
"Apan tiwas juga sirang muni Budhha paksa. Yan tan wruhing para tatwa
Ciwatwa marga. Mengkang munindra sangapaksa Ciwawatwa yoga. Yan tan wruh
ing parama tattwa jinatwa manda,": "Karena dipandang kurang sempurna
juga bila seorang pendeta penganut Budhha, jika tidak tahu akan inti
ajaran Ciwa.
Demikian pula para pendeta penganut Ciwa dipandang tidak sempurna,jika
tidak tahu inti ajaran Budhha," Dalam ajaran Ciwa, huruf sucinya adalah
Ongkara, dalam ajaran Budha huruf sucinya adalah Hrih. Dalam bahasa
langitnya, zat itu itu dua senyawa, yaitu purusa dan pradana, dalam
ajaran Siwa itulah Rwabhineda, yakni Siwa dan Uma, sedangkan dalam
ajaran Budha dinamai adwaya-adwayajnyana, atau Adwaya-Prajnyamita. R
wabhineda inilah juga disebut sebagaiArddhanarecwari, atau dalam Budha
disebut Adwaya-Pranyamita. Apabila itu dipahami sebagai tiga segi
dikenal sebagai tri Murti, Tri purusa atau tyrnuka : upati, stiti dan
pralima (tri kona). Dalam ajaran Siwa, Brahma, Wisnu dan Ciwa, yang
menguasai tri bhuwana: bayu, Cabda dan Idhep, dst.
Dari itihasa sutasoma, yang populer hanyalah kata Bhineka Tunggal Ika,
Tan Hana Dharma Mangrwa. Namun hampir luluh, tidaklah dijelaskan asal
kalimat indah itu, bahwa itu bukanlah bahasa slogan yang muncul dengan
spontan. Namun kalimat itu adalah hasil dari proses toleransi sejati,
dialog mendalam dan penuh keiklasan untuk menjaga hidup kemanusiaan.
Kalimat itu adalah pengingat dan inspirasi untuk selalu mengutamakan
penghormatan sungguh-sungguh kepada perbedaan, bukan basa-basi, bukan
sebatas formalitas.
Bahwa kini Bali adalah benteng terakhir Indonesia untuk sikap toleransi
sejati ini, karena di Bali yang masih melaksanakan ajaran siwa budha
ini, yang diajarkan para leluhur orang Bali dengan visi, bahwa kelak
nanti, di suatu masa (di masa kini), ketika politik identitas begitu
menguatnya, bahwa kini adalah 'masa depan' yang dulu telah dibayangkan
bahwa akan tiba masa dimana ketakutan-ketakutanlah yang dijadikan konsep
berpikir berproses dalam kehidupan keseharian. Dan mendorong lahirnya
konsep berpikir untuk menemukan agama kembali, dan atas nama pemurnian,
atas nama reformasi dan juga atas keyakinan sebagai jalan mulia, yang
terjadi adalah betapa semangatnya untuk membangun tanda-tanda dan
kecirian yang berjarak.
Bahwa tidaklah dapat dipungkiri, bahwa toleransi sejati tidaklah sebatas
pencapaian duduk bersama, lalu bersikap seolah-olah telah dapat memahami
satu sama lain. Jika tidak disertai oleh semangat kesadaran bahwa
kerendahatian untuk belajar menghargai ajaran satu sama lain untuk
dijalankan sebagai sikap nyata, adalah proses batin yang sungguh kaya.
Bahwa pengalaman Bali dengan ajaran Siwa-Budha-nya, tidaklah
menghilangkan tradisi siwanya, juga tidak melenyapkan tradisi budhanya.
Keduanya adalah agama-agama yang tetap dengan keotonomannya, namun
dengan kerendahatian para leluhur nusantara mendialogkan sehingga
mencapai taraf penghormatan yang tulus kepada keduabelah pihak, yang
menjadi tindakan dalam proses hidup berbudaya. Hidup manusia dengan
berpihak kepada kemanusiaannya
Kerisauan kita saat ini, tidaklah dapat dipungkiri diawali oleh
kerisauan terhadap kenyataan bahwa moralitas dan nilai-nilai hidup yang
kian hari kian merosot. Bahwa yang dirasakan seakan ada ancaman dan
pertanda bahwajalan mulia itu adalah memurnikan kembali ajaran
masing-masing, dan itu tidaklah salah.
Namun jika jalan mulia itu tidak disertai kesadaran bahwa pribadi lain,
kelompok lain, wilayah lain pun ada dalam semangat perasaan yang
demikian pula, untuk tujuan menyelamatkan kemanusiaan manusia pula. Maka
yang hadir adalah tarikan kepentingan identitas, yang ingin menguasai
pihak lain. Dan atas nama jalan mulia tidaklah akan terhindarkan akan
terjadi jalan kekerasan atas nama ajaran mulia.
Belajar kepada susastra Sutasoma, belajar kepada jalan kemuliaan yang
melahirkan ajaran toleransi sejati, bukanlah untuk mendorong semua pihak
yang berbeda meninggalkan ajarannya masing-masing. Namun mendorong semua
pihak untuk ke dalam pribadi membangun konsep berpikir dan pola bertutur
yang berdasarkan kesejatian ajaran masing-masing, disertai pengetahuan
sejarahdan tradisi yang menyertainya.
Sehingga tidaklah terjadi klaim mengklaim akan adanya satu ajaran
memiliki paspor jalan tol menuju surga. Bahkan janganlah menjadikan diri
atau kelompok sebagai penjaga moralitas. Terjebak dalam kesombongan
seakan-akan urusan dunia akan dapat diselesaikan dengan mengamankan,
menyortir dan memaksakan dalam absolut tafsiran.
Bahwa diri, kelompok ataupun organisasi yang menjadikan kecirian
keyakinannya, sering lalai bahwa yang dijadikan perjuangan bukanlah
spririt keyakinannnya yang sejuk dan kasih, namun sering terjadi adalah
tafsir, aspirasi pribadi dan kelompoknya itu yang menjadi kemudi konsep
berpikir dan pola tutumya.
Bali dalam sejarahnya, belajar sungguh-sungguh untuk menjadikan ajaran
siwa-budha ini sebagai jalan mulia. Ajaran ini telah menjadi air yang
mengalir tak putus-putus ke semua titik proses dinamika kebudayaan Bali,
jugamenjadi tindakan sebagai wujud pertanggungjawabannya.
Konsep berpikir dan pola bertutur manusia disaat menghadapi kebuntuan
dialog sangatlah menarik untuk dikaji. Dan Bali menemukan caranya yakni
koh ngomong, aje wera, atau depang anake ngadanin, dst. Seolah-olah apa
yang diucapkan itu ketika menghadapi kebuntuan dialog, tidak bermuara
kepada kode dan simbol ajarannya.
Padahal, kode dan simbol ajaran itulah yang menjadi kemudinya, karena
demikian jauh terdiferensiasi sehingga seringkali orang mengira ajaran
Hindu Bali, tidak punya persyaratan sebagai agama sempuma, menurut
definisi agama modern. Padahal, Siwa Budha memiliki kitab suci
berdasarkan wahyu dan tafsir, begitupun Budha.
Lalu dengan kearifan mulia para agamawanlah, agama Siwa-Budha ini
membumi, menjadi inspirasi yang sampai masuk ke wilayah-wilayah
tindakan, sampai terkesan tak berhubungan lagi dengan akamya. Pencapaian
kearifan ini, bukanlah proses sehari jadi, tidaklah juga karena
semata-mata menanti datangnya kesadaran. Namun melalui proses dialog
mendalam dan dengan didukung oleh kebijakan politik yang mendorong,
agama sejatinya adalah menyelamatkan kemanusiaan manusiannya.
Karena itu, di tahun ini kembali dengan indah, sutasoma kita buka, untuk
menggugah diri, terbuka kepada inspirasi yang telah diberikannya, yakni
mendorong kita semua untuk ada dalam semangat pluralisme, dengan
toleransi sejati. Bahwa tindakan yang utama adalah mendorong semua orang
untuk belajar melawan ketakutan terhadap prasangka akibat meluasnya
politik identitas di negeri ini, bahwa dengan jernih harus diketahui
bahwa ajaran agama apapun adalah mulia, dan organisasi apapun itu adalah
sesungguhnyalah menjalankan spirit keyakinannya, bukan aspirasi dan
tafsir pribadi dan kelompoknya.
Bahwa terbukanya Bali untuk siapa saja, dan kemudian berbagai peristiwa
yang melukai rasa aman orang Bali atas keyakinannnya, dengan jernih
harus disadari bahwa tidaklah akan terhindari munculnya perasaan
berlebihan untuk melawan ketakutannya dengan sikap yang keras pula.
Ketakutan inilah yang takut dibicarakan dengan terbuka, dan akhimya
ketakutan inilah yang kelak akan bicara dalam hubungan antar kemanusiaan
kita.
Dilain pihak, tarikan kepentingan politik identitas sudah sampai pada
titik, melupakan bahwa negeri ini bhineka tunggal ika. Bahwa Indonesia
didirikan diatas keragaman. Bahwa para pendiri bangsa tahu persis, bahwa
hutang terbesar Indonesiaini adalah kepada keragaman itu, yang tidak
berhutang apapun kepada Indonesia, namun dengan sadar membangun sebuah
negara untuk tujuan keadilan dan kemakmuran bersama.
Karena itu, persaudaraan sebagai manusia dengan tujuan menjaga
kemanusiaannya yang seharusnya diutamakan. Bahwa kerendahatian untuk
tidak terjebak membawa risau pribadi dalam perbaikan moral dan
nilai-nilai itu, janganlah dibawa ke dalam semangat meminta risau itu
diselesaikan dalam bentuk solidaritas massa. Apalagi dalam bahasa karena
'kita seumat'.
Dan reformasi Hindu yang selama ini katanya telah dilakukan, baik
melalui jalan media, organisasi dan kebijakan. Belumlah memberi
penjelasan mengenai Siwa-Budha dengan memadai dan tradisi yang
menyertainya.
Ajaran Ciwa yang datang ke Indonesia diperkirakan datang dari Bengal,
sama seperti Budha tantra. Ini berdasarkan prasasti berbentuk
logam-logam tipis Bhagapur dari raja Narayanapala berangka tahun 854-908
setelah masehi. Ciwait di Bengal yang berkembang saat itu sampai
sekarang termasuk dalam mazab Pasupata yang didirikan oleh
Srikanthanatha, penulis Pingalamata dan Lakulisa, nama ini diperkirakan
muridnya.
Dalam prasasti di Jawa nama-nama murid Srikanthanata ini dalam formula
sumpah prasasti-prasati Jawa diberi kode nama Patanjali.Karena itu sejak
Pancakusika, para murid Srikanthanatha membuat catatan pada lempengan
tembaga kanca, 860 setelah masehi, inilah yang kemudian memasuki Jawa,
disebutkan sebagai sektarian Ciwaisme India pertama yang memasuki
Nusantara, namun Kern punya pendapat bahwa pejalan-pejalan China telah
menemukan kaum brahmana tersebut dalam abad ke-5. Sedang Budhis memiliki
riwayatnya memasuki Nusantara via Sumatra, bahkan pada abad ke- 7 telah
mengembangkan seperangkat kesusastraan dan model sadhana.
Kemudian pada abad 8 dan 9 Masehi telah berkembang Tantrisme Ciwa dan
Budha walaupun saat itu simbol-simbol yang diangkat masih berbeda-beda.
Namun elemen-elemen mistik Tantrisme Budhaa, seperti Wajrayana,
Sahajayana dan kalacakrayana berdasarkan filosofisnya diberikan oleh
Yogacara dan sistem filsafatnya madyamika, inilah yang berproses secara
generik dengan sebutan Mantrayana.
Dengan mode sadhana yang rumit, baik Ciwa dan Budha memberikan tanda
peninggalannya, yakni jika filosofi Wajradhara nampak pada Borobodur,
maka Pasupata nampak pada Candi Ptambanan. Dari sini mulai populer
sebutan Ciwa Siddhanta, yang dapat dilacak setidaknya ke pertengah abad
sembilan. Namun jika kesusatraan Tantra Ciwa Jawa yang ada sekarang
digunakan sebagai panduan, paham Siddhanta adalah bermuara pada
Jawatimur.
Ide-ide Ciwa-Budha ini dapat juga disusuri ke wilayah Bengal, namun baru
setibanya di Jawa dan Bali dapat menjadi realitas. Spirit toleransi ini
secara meluas dicerminkan dalam kesusatraan dan prasasti-prasati Jawa
Kuno.
Mengapa perlu memahami sejarah Ciwa dan Budha ini, dalam konteks
membicarakan Siwa Budha. Karena misalnya, ada kesan bahwa pemeluk Hindu
Bali sekarang perlu dicerahkan dan diluruskan, lalu direformasi
kehinduannya. Padahal, ajaran Siwa-Budha ini memiliki kelengkapan dan
bukti tindakan spiritual dan nyata menguatkan kemanusiaan manusia.
(bahan diskusi di Kelompok Tulus Ngayah, Desember 2005) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|