| |
C © updated 06062006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama LSM:
Aliansi Bhineka Tunggal Ika
Alamat Sekretariat Sementara:
Dewan Kesenian Jakarta, Jalan Cikini Raya No.73, Telp 021-3162780,
31937639 Fax 021-31924616;
E-mail:
tolak_ruuapp06@yahoo.com
|
|
| |
|
|
|
|
| PANCASILA HOME |
|
|
 |
CURHAT: 01
02
03
04
05
06
07
08
09
10 11
12
13
14 =
Pancasila Rumah Kita (04)
Kejujuran Sebagai Inti Kebangkitan Budaya
Oleh Abdurrahman Wahid: Forum kali ini dengan sengaja ditentukan
berwatak budaya yang dianggap membedakan. Dari hal lain yang sudah kita
jalani di masa lampau. Kejujuran adalah sebuah komoditas yang belum
pernah kita lihat sebagai inti kebudayaan.
Karena ada lebih dari seratus enam puluh definisi tentang
budaya/kultur maka penulis memutuskan untuk tidak mengutik-ngutik apa
sebenamya hakekat budaya itu kecuali dalam sebuah pengertiannya, yaitu
sebagai cara hidup yang diambil oleh sebagian besar anggota masyarakat.
Tentu saja pembatasan seperti ini sangat tidak memuaskan siapapun.
Demikian juga, ia tidak menunjuk kepada jalannya sebuah proses yang
tidak pernah terhenti. Jadi, karenanya akan sia-sia sajalah mencari
sebuah pengertian tunggal akan budaya untuk segala masa dan semua
kelompok.
Atas dasar seperti ini, penulis mengemukakan kejujuran sebagai bagian
dari kehidupan kita di masa lampau, sekarang maupun masa datang. Kita
mengalami berbagai krisis budaya selama ini, karena tidak memberikan
tempat yang pasti dan layak untuk kejujuran itu.
Tanpa tedeng aling-aling penulis nyatakan secara terbuka bahwa kita
sering kali telah melakukan hal-hal tidak jujur dalam hidup kita.
Umpamanya saja, semua orang menganggap bahwa hubungan antara Islam
sebagai agama yang diikuti oleh para pemeluknya, dianggap adalah Islam
yang diajarkan melalui buku-buku atau dipraktekkan oleh mereka yang
mencoba melaksanakan segala perintah formal atau larangan yang resmi
diakui.
Dalam kenyataan, hanya sedikit kaum muslimin yang mampu melakukan hal
itu, mayoritas pada umurnnya melaksanakan ajaran Islam secara
sepenggal-penggal. Nah, langkanya pengakuan atas hal ini, merupakan
sikap tidak jujur dalam pelaksanaan kehidupan kita.
Sebuah contoh dapat dikemukakan di sini. Orang tidak mau berterus
terang, bahwa apa yang disebut sebagai daerah Aceh menjadi Serambi
Mekkah, sebenamya adalah fatamorgana belaka, setidak-tidaknya pada masa
ini. Betapa banyaknya kita lihat manusia Aceh yang tidak melaksanakan
ajaran agama mereka. "Kekurangan" itu ditambal dengan sebutan di atas,
dan dicoba untuk "ditutupi" dengan berbagai alasan, salah satu di
antaranya adalah mencoba "mengekalkan" hal-hal ideal dari agama melalui
keharusan kolektif seperti hukum cambuk dan sebagainya.
Contoh lain adalah pentingnya arti syariat Islam, termasuk pentingnya
arti musyawarah dalam masyarakat Minangkabau. Tetapi, sebenarnya sikap
yang terjadi pada umumnya adalah kebalikan dari hal itu. Adagium "adat
berdasar SARA dan SARA bersendi "Al-Qur'an", sebenarnya dimaksudkan
untuk meniadakan sikap main menang sendiri saja dalam tradisi Ninik
Mamak.
Dalam kenyataan kekuasaan mereka tidak berkurang dan orang
Minang akhirnya menjadi kelompok paling tengkar di antara sesama bangsa
kita. Mungkin kenyataan ini menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat dalam
kehidupan kita, tapi jelas bahwa hal itu menjadikan kita tidak jujur
kepada diri sendiri.
Nah, forum kita kali ini akan membicarakan pentingnya arti kebudayaan
dalam pembentukan kehidupan bangsa untuk masa depan. Ajakan supaya kita
bersikap pluralistik dalam kehidupan, sangat didambakan oleh kebanyakan
para pemikir budaya di kalangan mereka.
Lalu, bagaimana kita akan mencapai hal itu, jika: kita sendiri bersikap
tidak jujur secara kolektif. Justru yang mengingkari pluralitas kita
jadikan pahlawan budaya karena berhasil memperintahkan cara hidup yang
dari masa lampau sudah ditentang orang habis-habisan.
Karenanya, kejujuranlah titik mula dari kebangkitan budaya kita sebagai
bangsa. Kalau kita berhasil mempetakan ketidakjujuran yang terjadi itu,
maka kita dapat menempuh tahap berikutnya, yaitu berbicara yang dapat
meyakinkan diri sendiri dan sekaligus juga pihak-pihak lain di kalangan
bangsa kita, karena dengan demikian kita telah mencapai permulaan
pluralitas yang dikehendaki.
Jakarta, 29 Mei 2006 ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|