ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
     
     
 
  Search     A   B     D     F       I       L     N   O   P   Q   R   S     U     W     Y   Z  
PEMDA

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::

R updated 290103
  KEBUMEN   KABUPATEN KEBUMEN  
 
INDEX PEJABAT  

garis

:::::: Pejabat garis

:::::: Lembaga Tinggi
garis
:::::::::::: Presiden
garis
:::::::::::: MPR/DPR/DPD
garis
:::::::::::: MA
garis
:::::::::::: Bepeka
garis
:::::::::::: DPA
garis
:::::: Kabinet
garis
:::::: Departemen
garis
:::::: Badan-Lembaga
garis
:::::: Pemda
garis
:::::: BUMN
garis
:::::: Asosiasi
garis
::::::::::: Korpri
garis
::::::::::: APPSI
garis
::::::::::: Apeksi
garis
::::::::::: Apkasi
garis
::::::::::: Lainnya
garis
:::::: MK
garis
:::::: Purnabakti
garis
:::::: Redaksi
garis

 
 
 

 

 

 
garis
garis
 

 

Alamat Kantor:
Jalan Veteran No.2 Kebumen
Telp. (0287) 81728
Fax. (0287) 81423

Bupati:
Dra. Rustriningsih, Msi
Wakil Bupati:
KM Nashirudin Al Mansyur

 

Desa Nelayan

Sukses Beternak Sapi


Desa Pasir di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jateng, dulunya hanya dikenal sebagai sebagai desa atau perkampungan nelayan yang kumuh. Kehidupan nelayan tradisional yang dibelenggu kemiskinan dari masa ke masa sangat kental dan nyata terlihat di sini. Tak heran kalau pada masa lalu, desa miskin itu juga sering dilanda berbagai wabah penyakit seperti campak, malaria, radang tenggorokan, dan penyakit kulit.

Namun desa yang semula kumuh itu, dalam tiga tahun terakhir ini menjadi populer karena berbagai prestasi yang dicapainya. Kebangkitan Desa Pasir dari desa nelayan yang kumuh menjadi desa yang berhasil meraih kejuaraan peternakan nasional pada peringkat III ini berawal ketika para nelayan desa tersebut mendapat kepercayaan dari Bupati Kebumen Dra Rustriningsih MSi untuk memelihara 26 ekor sapi peranakan Eropa seperti jenis Simental, Limousine, dan Brangus, serta sapi Brahman dari Australia dan peranakan Ongole.

Rustriningsih melihat kondisi Desa Pasir yang memiliki lahan yang cukup luas untuk pengembangan hijauan makanan ternak (HMT) serta kebiasaan warga setempat memelihara ternak sapi sejak zaman dulu, cukup layak kalau mereka diberi kepercayaan untuk memelihara sapi bantuan pemerintah dengan cara bagi hasil. "Sistem bagi hasil ini, 30 persen untuk Pemkab dan 70 persen untuk peternak," kata Rustriningsih .

Para peternak tadi sudah biasa memelihara sapi. Hanya saja dulu mereka belum terorganisir, dan memelihara sapi lokal. Sejak tahun tahun 1999, para peternak di Desa Pasir itu membentuk Kelompok Tani Ternak (KTT) dengan nama Tani Makmur I.

Mereka mendapat bantuan ternak dari Bupati pada tahun 2000, untuk dikembangkan dengan sistem inseminasi buatan atau kawin suntik. Sejak mendapat bantuan itu, mereka giat membuka lahan untuk HMT dan mengolah limbah kotoran sapi untuk pupuk kandang atau kompos.

Dengan kompos yang dihasilkan, HMT juga tumbuh subur. Selain itu kebutuhan pupuk pabrik bisa berkurang karena petani lebih suka menggunakan kompos untuk tanaman padi dan palawija.

Ketua KTT Tani Makmur I, Sarijo menjelaskan kepada Pembaruan, anggota KTT saat ini berjumlah 31 orang. Mereka cukup giat merawat sapi bantuan Pemkab yang dipercayakan kepada peternak untuk memeliharanya dengan sistem bagi hasil.
Dalam waktu enam bulan saja, sapi tersebut sudah mulai berkembang, bertambah gemuk dan sehat. Pada saat diserahkan, harga sapi itu ditaksir Rp 3 juta/ekor. Setelah dikembalikan ke pemerintah, harganya sudah mencapai Rp 4 sampai Rp 5 juta per ekor. Selisih harga itu kemudian dibagi, 30 persen untuk Pemkab dan 70 persen untuk kelompok tani.

Keberhasilan KTT Tani Makmur I ini terus berlanjut. Pada tahun 2000, kelompok tani ini mendapat bantuan dari pemerintah berupa modal kerja sebesar Rp 300 juta. Uang sebesar itu kemudian dibelikan 60 ekor sapi jenis Simental, Limousine, Brangus, Brahman, serta Ongole.

Melalui program kawin suntik atau inseminasi buatan, kini sapi-sapi itu telah berkembang biak. Dari 31 orang anggota KTT Tani Makmur I itu, rata-rata setiap peternak memelihara empat sampai tujuh ekor sapi. Induk sapi Ongole itu diberi suntikan bibit pejantan dari sapi jenis Simental, Limousine dan Brangus serta Brahman .

Masalah makanan pokok sapi berupa HMT tidak mengalami hambatan. Karena setiap peternak memiliki hamparan rumput jenis King Grass. Selain itu, peternak juga menanam rumput King Grass di pematang-pematang sawah, pinggir jalan sampai pekarangan rumah yang kosong. "Ternak kami tidak pernah kekurangan pangan, walau kemarau panjang sekalipun," ujar Sarijo. Bahkan lahan hutan milik Perhutani yang digarap petani juga ditanami rumput King Grass.

Sebagian Besar Nelayan
Menurut Sarijo, sebagian besar peternak anggota KTT tadi adalah nelayan. Mereka melaut pada malam hari, dan pada pagi hari sebagai peternak. Mereka istirahat pada sore hari, sehingga mereka mendapat penghasilan ganda dari laut dan dari darat (ternak). Penghasilan yang lumayan ini membuat kesejahteraan hidup mereka meningkat. Hal itu terlihat dari bangunan rumahnya yang dulu berupa rumah yang kumuh kini sudah dibangun rumah permanen yang cukup bagus.

Selain KTT Tani Makmur I, kini di Desa Pasir juga terdapat KTT Tani Makmur II dan Tani Makmur II, tapi semuanya berinduk pada Tani Makmur I.
Hal ini dimaksudkan agar kegiatan kelompok lebih intensif. Selain itu kalau ada lebih dari KTT, maka akan terjadi persaingan untuk meraih prestasi. Tapi kalau semua KTT yang ada di Desa Pasir dijadikan satu, jumlah anggota terlalu besar sehingga pembinaannya kurang efektif.

Menurut Sarijo, setiap KTT idealnya beranggotakan 30 sampai 40 orang. Dengan jumlah anggota yang tidak terlalu besar, dinamika kelompok tetap jalan. Mengingat sebagian besar peternak adalah nelayan yang masih aktif. Mereka juga bisa berdiskusi dengan petugas Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Kebumen.
"Jadi meskipun mereka sibuk di laut, sapi-sapinya tetap terawat dan berkembang. Karena ada pembagian tugas di rumah. Yaitu bila bapaknya melaut, maka yang bertugas memberi makan sapi adalah ibu dan anak-anaknya," ujar Sarijo pula.

Kini para peternak harus bersaing dengan pedagang sapi yang datang dari luar luar kota seperti Yogyakarta, Purworejo, Purwokerto, serta kota-kota lainnya. Sehingga bila Lebaran atau Hari Raya Kurban tiba, Kebumen sering dibanjiri sapi-sapi yang didatangkan oleh para pedagang. Untuk itu para peternak harus berani bersaing harga.
Misalnya pada akhir tahun lalu, harga daging sapi hidup di pasaran berkisar antara Rp 12.000 - Rp 13.000/kg. Para peternak bisa menjual dengan harga Rp 11.500 sampai Rp 2.000/kg. (057)

*** Tokoh Indonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), sumber Suara Pembaruan 24/1/2003


Dra. Rustriningsih, Msi

Srikandi Kabupaten Kebumen

Dra. Rustriningsih, Msi - Srikandi Kabupaten KebumenIa seorang gadis. Srikandi Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Ia adalah bupati perempuan pertama memimpin daerah itu. Kiprah alumni S2 Magister Administrasi Negara Universitas Gadjah Mada (UGM), ini dalam dunia politik sebagai Ketua DPC PDIP Kebumen telah menghantarnya menjabat bupati (2000-2005) di daerah yang dikenal sebagai penghasil sarang burung walet alami itu. Dan, ternyata ia berhasil membawa masyarakat Kebumen ke gerbang kesejahteraan yang lebih baik. 

Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero