|
|
 |
Alamat Kantor:
Jalan Veteran No.2 Kebumen
Telp. (0287) 81728
Fax. (0287) 81423
Bupati:
Dra. Rustriningsih, Msi
Wakil Bupati:
KM Nashirudin Al Mansyur
Desa Nelayan
Sukses Beternak Sapi
Desa Pasir di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jateng, dulunya hanya
dikenal sebagai sebagai desa atau perkampungan nelayan yang kumuh.
Kehidupan nelayan tradisional yang dibelenggu kemiskinan dari masa ke masa
sangat kental dan nyata terlihat di sini. Tak heran kalau pada masa lalu,
desa miskin itu juga sering dilanda berbagai wabah penyakit seperti campak,
malaria, radang tenggorokan, dan penyakit kulit.
Namun desa yang semula kumuh itu, dalam tiga tahun terakhir ini menjadi
populer karena berbagai prestasi yang dicapainya. Kebangkitan Desa Pasir
dari desa nelayan yang kumuh menjadi desa yang berhasil meraih kejuaraan
peternakan nasional pada peringkat III ini berawal ketika para nelayan
desa tersebut mendapat kepercayaan dari Bupati Kebumen Dra Rustriningsih
MSi untuk memelihara 26 ekor sapi peranakan Eropa seperti jenis Simental,
Limousine, dan Brangus, serta sapi Brahman dari Australia dan peranakan
Ongole.
Rustriningsih melihat kondisi Desa Pasir yang memiliki lahan yang cukup
luas untuk pengembangan hijauan makanan ternak (HMT) serta kebiasaan warga
setempat memelihara ternak sapi sejak zaman dulu, cukup layak kalau mereka
diberi kepercayaan untuk memelihara sapi bantuan pemerintah dengan cara
bagi hasil. "Sistem bagi hasil ini, 30 persen untuk Pemkab dan 70 persen
untuk peternak," kata Rustriningsih .
Para peternak tadi sudah biasa memelihara sapi. Hanya saja dulu mereka
belum terorganisir, dan memelihara sapi lokal. Sejak tahun tahun 1999,
para peternak di Desa Pasir itu membentuk Kelompok Tani Ternak (KTT)
dengan nama Tani Makmur I.
Mereka mendapat bantuan ternak dari Bupati pada tahun 2000, untuk
dikembangkan dengan sistem inseminasi buatan atau kawin suntik. Sejak
mendapat bantuan itu, mereka giat membuka lahan untuk HMT dan mengolah
limbah kotoran sapi untuk pupuk kandang atau kompos.
Dengan kompos yang dihasilkan, HMT juga tumbuh subur. Selain itu kebutuhan
pupuk pabrik bisa berkurang karena petani lebih suka menggunakan kompos
untuk tanaman padi dan palawija.
Ketua KTT Tani Makmur I, Sarijo menjelaskan kepada Pembaruan, anggota KTT
saat ini berjumlah 31 orang. Mereka cukup giat merawat sapi bantuan Pemkab
yang dipercayakan kepada peternak untuk memeliharanya dengan sistem bagi
hasil.
Dalam waktu enam bulan saja, sapi tersebut sudah mulai berkembang,
bertambah gemuk dan sehat. Pada saat diserahkan, harga sapi itu ditaksir
Rp 3 juta/ekor. Setelah dikembalikan ke pemerintah, harganya sudah
mencapai Rp 4 sampai Rp 5 juta per ekor. Selisih harga itu kemudian dibagi,
30 persen untuk Pemkab dan 70 persen untuk kelompok tani.
Keberhasilan KTT Tani Makmur I ini terus berlanjut. Pada tahun 2000,
kelompok tani ini mendapat bantuan dari pemerintah berupa modal kerja
sebesar Rp 300 juta. Uang sebesar itu kemudian dibelikan 60 ekor sapi
jenis Simental, Limousine, Brangus, Brahman, serta Ongole.
Melalui program kawin suntik atau inseminasi buatan, kini sapi-sapi itu
telah berkembang biak. Dari 31 orang anggota KTT Tani Makmur I itu,
rata-rata setiap peternak memelihara empat sampai tujuh ekor sapi. Induk
sapi Ongole itu diberi suntikan bibit pejantan dari sapi jenis Simental,
Limousine dan Brangus serta Brahman .
Masalah makanan pokok sapi berupa HMT tidak mengalami hambatan. Karena
setiap peternak memiliki hamparan rumput jenis King Grass. Selain itu,
peternak juga menanam rumput King Grass di pematang-pematang sawah,
pinggir jalan sampai pekarangan rumah yang kosong. "Ternak kami tidak
pernah kekurangan pangan, walau kemarau panjang sekalipun," ujar Sarijo.
Bahkan lahan hutan milik Perhutani yang digarap petani juga ditanami
rumput King Grass.
Sebagian Besar Nelayan
Menurut Sarijo, sebagian besar peternak anggota KTT tadi adalah nelayan.
Mereka melaut pada malam hari, dan pada pagi hari sebagai peternak. Mereka
istirahat pada sore hari, sehingga mereka mendapat penghasilan ganda dari
laut dan dari darat (ternak). Penghasilan yang lumayan ini membuat
kesejahteraan hidup mereka meningkat. Hal itu terlihat dari bangunan
rumahnya yang dulu berupa rumah yang kumuh kini sudah dibangun rumah
permanen yang cukup bagus.
Selain KTT Tani Makmur I, kini di Desa Pasir juga terdapat KTT Tani Makmur
II dan Tani Makmur II, tapi semuanya berinduk pada Tani Makmur I.
Hal ini dimaksudkan agar kegiatan kelompok lebih intensif. Selain itu
kalau ada lebih dari KTT, maka akan terjadi persaingan untuk meraih
prestasi. Tapi kalau semua KTT yang ada di Desa Pasir dijadikan satu,
jumlah anggota terlalu besar sehingga pembinaannya kurang efektif.
Menurut Sarijo, setiap KTT idealnya beranggotakan 30 sampai 40 orang.
Dengan jumlah anggota yang tidak terlalu besar, dinamika kelompok tetap
jalan. Mengingat sebagian besar peternak adalah nelayan yang masih aktif.
Mereka juga bisa berdiskusi dengan petugas Dinas Peternakan Perikanan dan
Kelautan Kabupaten Kebumen.
"Jadi meskipun mereka sibuk di laut, sapi-sapinya tetap terawat dan
berkembang. Karena ada pembagian tugas di rumah. Yaitu bila bapaknya
melaut, maka yang bertugas memberi makan sapi adalah ibu dan anak-anaknya,"
ujar Sarijo pula.
Kini para peternak harus bersaing dengan pedagang sapi yang datang dari
luar luar kota seperti Yogyakarta, Purworejo, Purwokerto, serta kota-kota
lainnya. Sehingga bila Lebaran atau Hari Raya Kurban tiba, Kebumen sering
dibanjiri sapi-sapi yang didatangkan oleh para pedagang. Untuk itu para
peternak harus berani bersaing harga.
Misalnya pada akhir tahun lalu, harga daging sapi hidup di pasaran
berkisar antara Rp 12.000 - Rp 13.000/kg. Para peternak bisa menjual
dengan harga Rp 11.500 sampai Rp 2.000/kg. (057)
*** Tokoh Indonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), sumber Suara Pembaruan 24/1/2003
|
|
Dra. Rustriningsih, Msi
Ia
seorang gadis. Srikandi Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Ia adalah bupati
perempuan pertama memimpin daerah itu. Kiprah alumni S2 Magister Administrasi
Negara Universitas Gadjah Mada (UGM), ini dalam dunia politik sebagai
Ketua DPC PDIP Kebumen telah menghantarnya menjabat bupati (2000-2005)
di daerah yang dikenal sebagai penghasil sarang burung walet alami itu.
Dan, ternyata ia berhasil membawa masyarakat Kebumen ke gerbang kesejahteraan
yang lebih baik.
|
|