A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► MA
 ► Bepeka
 ► MK
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Badan-Lembaga
 ► Mabes TNI
 ► Mabes Polri
 ► Pemda
 ► BUMN
 ► Purnabakti
 ► Asosiasi
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 02072005  
  BIRO PUSAT STATISTIK  
     
  Alamat:
Jalan Dr. Sutomo No.6-8
Jakarta 10710
Telp 021-3810291 - 3842508 -3841195
Fax 021-3519744
Web site: www.bps.go.id
 
 
     
 
BERITA BPS

 

Kepala BPS Choiril Maksum

Pengangguran Tambah 600 Ribu Orang


Media Indonesia 2 Juli 2005: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran baru Agustus 2004 sampai Februari 2005 bertambah 600 ribu orang. Persentase pengangguran terbuka naik dari 9,9% menjadi 10,3% dari total angkatan kerja.

Kenaikan angka pengangguran baru itu karena pertumbuhan ekonomi tidak mengarah kepada penciptaan lapangan kerja baru. Pertumbuhan ekonomi hanya didorong oleh pertumbuhan modal dan jasa saja. Keduanya tidak banyak menyerap tenaga kerja.

Demikian hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2004 sampai Februari 2005 yang diungkapkan Kepala BPS Choiril Maksum di Jakarta, kemarin.

"Pertumbuhan ekonomi hanya dari modal dan jasa, tidak mengarah kepada labour incentive (penyerapan tenaga kerja), sehingga angkatan kerja baru tidak terserap," katanya.

Padahal, target pemerintah yang sering diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Aburizal Bakrie dan tim ekonomi lainnya, sampai 2009 pemerintah akan mengurangi jumlah pengangguran sampai 50%. Bahkan, pada akhir tahun lalu, Aburizal menargetkan jumlah pengangguran 2005 akan terserap sebesar dua juta orang (Media, 23/12).

Tetapi, hasil survei BPS mencatat sebaliknya. Jumlah angkatan kerja pada Februari 2005 sebanyak 105 juta orang atau naik 1,8 juta dibandingkan enam bulan sebelumnya, yaitu Agustus 2004 sebanyak 94,9 juta.

Namun, dalam satu semester itu, jumlah penduduk yang bekerja hanya bertambah sebanyak 1,2 juta orang. "Artinya tercipta penganggur baru sebanyak 600 ribu orang," tegas Choiril.

BPS juga mencatat kenaikan tingkat jumlah penduduk tidak bekerja secara penuh (under employment). Pada Februari 2005 sebesar 29,6 juta orang atau 31% dari seluruh penduduk yang bekerja, sedangkan Agustus 2004 sebesar 29,8%.

Penduduk yang bekerja pada sektor informal, pada Februari 2005 sebanyak 60,6 juta orang. Secara persentase mengalami kenaikan dari 63,2% pada Agustus 2004 menjadi 63,9% pada Februari 2005.

"Pertumbuhan ekonomi tahunan (year on year) kuartal I 2005 sebesar 6,35% belum diikuti penciptaan lapangan kerja yang signifikan," kata Choiril.

Choiril menjelaskan, meskipun pertumbuhan itu ditopang oleh investasi baru dan peningkatan kapasitas produksi, ternyata tidak menampung banyak tenaga kerja. Sayangnya, kepala BPS ini tidak merinci sektor mana yang dimaksudnya.

Ketika diminta tanggapannya mengenai lonjakan pengangguran ini, ekonom Tim Indonesia Bangkit, Hendri Saparini, menyatakan tidak heran dengan fakta itu. Hendri setuju dengan pendapat BPS bahwa pertumbuhan ekonomi yang diklaim oleh pemerintah pada kuartal I 2005, tidak menunjukkan fakta di lapangan.

Fakta di lapangan, tutur Hendri, daya beli masyarakat semakin menurun. Selain itu, angka nilai tukar petani juga terus mengalami penurunan jika dibandingkan 2004.

Daya beli petani

Angka yang dikeluarkan BPS kemarin, menunjukkan secara tahunan April 2005 dibandingkan April 2005 nilai tukar petani turun 2,43%. Penurunan itu, menurut BPS, karena harga produk pertanian masih rendah, jika dibandingkan dengan harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga petani. Penurunan juga disebabkan oleh biaya produksi pertanian yang naik tinggi seperti pupuk.

Indeks harga yang dibayar petani pada April 2005 tercatat naik 7,14% jika dibandingkan dengan periode yang sama 2004. Hal itu disebabkan oleh naiknya harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga petani. Kenaikan harga barang dan jasa untuk produksi pertanian dan barang modal pertanian sebesar 5,88%.

"Beberapa waktu lalu kami sudah memprediksi, berdasarkan data kuartal I 2005, angka pengangguran akan melonjak," kata Hendri. Perkiraan lonjakan jumlah pengangguran itu didasarkan pada tingkat produksi manufaktur sejak kuartal IV 2004 juga mengalami penurunan.

Hendri juga mengungkapkan fakta terjadinya penurunan investasi bruto sejak kuartal III 2004. Pada kuartal III investasi bruto sebesar 19,7% turun menjadi 18,3% pada kuartal IV 2004, dan penurunan berlanjut pada kuartal I, menjadi 14,89%.

Dari sisi konsumsi, yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi selama tiga tahun terakhir, juga terus melambat. Baik konsumsi rumah tangga, khususnya nonpangan, konsumsi pemerintah, maupun konsumsi swasta.

"Konsumsi swasta pada kuartal I 2005 hanya 3,2% terhadap pertumbuhan, padahal pada kuartal IV 2004 mencapai 5%," katanya. Jika konsumsi swasta mengalami stagnasi saja, sudah menunjukkan adanya perbaikan. Sebaliknya, jika turun, terjadi pelemahan perekonomian.

Hendri juga menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah hanya bersifat ad hoc, dan dinilai tidak memihak kepada rakyat. Dia mencontohkan kebijakan pengurangan subsidi BBM pada waktu lalu, tidak diimbangi dengan efisiensi yang dilakukan Pertamina. (SA/E-3). ►ti


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)