|
|
|
| MTI KHUSUS 02 |
|
|
 |
MTI-K-02 (INDEX)►
UTAMA:
01
02
03
04
05 BUPATI:
06 07
08
09
10
11
12
13 WABUP:
14 SEKKAB:
15 GERBANG DAYAKU:
16
17
18
19 KAPUR
SIRIH: 20 ==
Kutai Kartanegara (06)
Syaukani: Kontrak Dengan Allah Bekerja Demi Rakyat
dalam Filosofi Batu Karang, Lilin dan Lebah
MTIK 02: Di mata berbagai kalangan,
Prof Dr Syaukani HR, MM
adalah pemimpin yang amat kreatif dan berdedikasi untuk meningkatkan
kesejahteraan rakyat Kutai Kartanegara (Kukar). Dia dipandang sebagai
seorang bupati yang punya komitmen secara total untuk menyejahterakan
rakyatnya. Syaukani, yang oleh rakyat Kalimantan Timur akrab disapa Pak
Kaning, dinilai mampu menggagas, melahirkan dan mengimplementasikan
program Gerbang Dayaku, yang diyakini bisa melepaskan rakyat dari
lingkaran keterbelakangan.
Komitmen yang kuat untuk bekerja demi rakyat, tertanam dalam kalbunya.
Bahkan saat dia harus opname selama dua bulan di rumah sakit karena
sakit, serta diperhadapkan dengan masalah sangkaan korupsi oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK), dia banyak mengambil hikmah. Dalam
percakapannya dengan wartawan Tokoh Indonesia, sehari setelah keluar
rumah sakit dan beberapa jam sebelum ditahan KPK, Syaukani memaparkan
perenungannya.
Pertama, atas sangkaan korupsi yang dialamatkan kepadanya, Syaukani
berprinsip menghormati proses hukum. Dia ingin agar proses hukum ini
cepat selesai. Dia merasa diri tidak bersalah. “Apa yang saya lakukan
adalah untuk mempercepat pengembangan dan pemberdayaan masyarakat Kukar,”
katanya.
Kedua, selama di rumah sakit dan diperhadapkan dengan sangkaan korupsi,
dia makin merasakan apa arti persahabatan yang hakiki. Dia
berterimakasih kepada berbagai pihak, terutama rakyat Kalimantan Timur (Kaltim)
yang memberikan dukungan moral kepadanya.
Ketiga, lebih dari hal pertama dan kedua, dia juga makin memaknai
kepercayaan rakyatnya sebagai amanah dan kontrak dengan Allah. Jika
sebelumnya dia menjadikan kepercayaan rakyatnya sebagai kontrak dengan
rakyat, setelah pengalaman di rumah sakit dan menghadapi masalah
sangkaan korupsi itu, dia lebih memaknai jabatan dan kepercayaan
rakyatnya sebagai kontrak dengan Allah. Dia ingin bekerja lebih total
demi rakyat dalam filosofi batu karang, lilin dan lebah.
Keterpaduan prinsip hidup, yang juga merupakan prinsip kepemimpinannya,
seperti batu karang, lilin dan lebah, itu menunjukkan tekad totalitas
pengabdiannya. Maka tak heran bila ada pers nasional dan banyak pihak
yang menyebutnya menjadi anugerah bagi rakyat Kutai Kartanegara. Disebut,
sungguh masyarakat Kutai Kartanegara tidak salah ketika memilihnya untuk
periode kedua sebagai bupati.
Gaya kepemimpinan yang merakyat membuat pupularitas-nya demikian tinggi
di tengah masyarakat. Kepemimpinan yang merakyat itu lahir dari mata
batin dan kata hatinya yang paling dalam. Bukan dibuat-buat seperti
dilakukan beberapa pemimpin dewasa ini. Melainkan lahir dari dalam
dirinya yang berproses sejak masa kecil di bawah asuhan ibundanya. Pada
usia tiga tahun, ayahandanya telah berpulang. Sejak itu, ia diasuh ibu
dan neneknya dengan kasih sayang, ketulusan berkorban, kemandirian dan
kebersamaan.
Pengasuhan ibunya, serta keuletan mengasah diri sendiri (long life
education) membuat mata batin, mata hati, mata budi, mata spiritualnya
fungsional, yang ditandai dengan moralitas, integritas dan karakter yang
relatif tak tercela (walaupun sebagai manusia, tentu dia tidak sempurna,
pasti punya kekurangan manusiawi). Semua itu membuatnya mau dan mampu
melihat dan mendengar dengan melibatkan diri secara total (mata, telinga,
pikiran, hati dan perasaan) dengan segala konsekuensinya, di antaranya,
kesiapannya menerima tamu, siapa pun dan mendengar keluhan dan
harapannya. Dia tidak hanya mendengar secara ragawi, tetapi mendengar
dengan hati dan akal budinya (empathic listening).
Pemimpin yang Merakyat
Proses pengasuhan Sang Bunda itu telah mengasah kepedulian dan
kebersamaannya dengan rakyat kecil. Gaya kepemimpinan yang merakyat ini,
tercermin sangat kasat mata dari cara bagaimana dia melayani setiap tamu
yang ingin bertemu dengannya. Di tengah kesibukan dan mobilitasnya yang
terbilang tinggi, dengan berbagai jabatan dan kegiatan yang diembannya,
Syaukani selalu dengan ramah melayani siapa saja, tanpa mem-bedakan
status dan latarbelakang orang yang ingin menemuinya.
Di mana saja dia berada selalu mau menerima siapa saja, sepanjang dia
memiliki waktu. Bahkan tak jarang dia langsung mendatangi tamu yang
ingin bertemu dengannya. Tak jarang Syaukani malah memilih datang
menghampiri setiap tamunya. Secara bergilir dilayani satu persatu,
dengan keakraban yang sama. Tak pilih kasih, apakah seseorang itu datang
untuk kepentingan pribadi atau bisnis apalagi untuk kepentingan dinas
atau kepentingan umum.
Dia pemimpin yang secara total mengerahkan segala yang dimiliki demi
tugas pengabdiannya. Dia sungguh menganut prinsip hidup seperti lilin,
yang memberi penerangan atas kegelapan, kendati dia sendiri harus
meleleh. Dia seperti tidak kenal lelah dengan mobilitas dan kepebulian
yang amat tinggi.
Bakat kepemimpinan Syaukani telah tampak sejak kecil. Dia memang
dilahirkan sebagai pemimpin. Sejak kecil, dia telah cenderung menjadi
pemimpin di antara kawan-kawannya. Namanya, Syaukani Hasan Rais pun
sudah bermakna sebagai seorang yang mempunyai kekuatan sebagai pemimpin
yang baik.
Syaukani lahir di Tenggarong, Kutai Kartanegara, 11 November 1948, anak
kelima dan satu-satunya anak laki-laki dari pasangan Hasan dan
Djauhariah. Pemberian namanya Syaukani, yang dalam bahasa Arab berarti
“memiliki kekuatan” sudah menunjukkan keteguhannya sebagai pemimpin. Di
belakang nama itu kemudian ditambahkan (dilengkapi) nama ayah dan
kakeknya, Hasan dan Rais. Sehingga nama lengkapnya menjadi Syaukani
Hasan Rais.
Semakin lengkaplah makna namanya sebagai seorang yang memang dilahirkan
menjadi pemimpin. Sebab dalam bahasa Arab, Hasan artinya baik dan Rais (Rois)
artinya pemimpin. Dengan demikian, nama Syaukani Hasan Rais, bermakna
seorang yang mempunyai kekuatan (keteguhan karakter) sebagai pemimpin
yang baik.
Talenta kepemimpinannya semakin terasah, tatkala sejak usia tiga tahun,
dia telah menjadi satu-satunya lelaki dalam keluarganya. Ayahnya, Hasan
Rais, meninggal dunia, saat usianya memasuki tahun ketiga. Jadilah dia
dan keempat kakak perempuannya sebagai anak yatim, yang diasuh dengan
kemandirian seorang ibu. Kemandirian ini juga telah menjadi ciri
kepemimpinannya. Semasa sekolah, karena merasa bukan berasal dari
keluarga berada, dia pernah menjadi tukang reparasi jam dan berdagang
untuk dapat memperoleh uang.
Sejak kecil telah terlihat kecenderungannya menjadi pemimpin di antara
kawan-kawannya. Saat remaja bakat kepemimpinan itu pun makin menonjol.
Semasa SMA, dia telah aktif berorganisasi. Sebagai seorang muslim yang
mewarisi darah Nahdlatul Ulama (NU) dari keluarganya, ia aktif di Ikatan
Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).
Setamat SMA, dan kuliah di Universitas Mulawarman (Unmul), dia aktif di
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Di organisasi mahasiswa itu,
dia semakin mengaktualisasikan diri sebagai seorang pemimpin masa depan.
Selepas meraih gelar BSc dari Unmul, dia mulai berkiprah sebagai PNS
sekaligus aktif dalam berbagai organisasi.
Pernah menjadi Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Kutai
pada tahun 1978, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kutai
periode 1982-1987, dan Wakil Ketua Pemuda Panca Marga (PPM) Kalimantan
Timur. Dua dari organisasi tersebut berafiliasi ke Golongan Karya (Golkar),
yang kini menjadi Partai Golkar.
Debutnya di pentas politik praktis dimulai tahun 1973 dengan menjadi
kader Golkar Kaltim. Dia pernah menjabat di Biro Cendekiawan dan
Kemahasiswaan, dan sekretaris untuk dua periode berturut-turut. Tahun
1992, dia sudah menjabat Ketua DPD Golkar Kutai, yang dijabatnya dua
periode. Bahkan kini dipercaya menjabat Ketua DPD I Partai Golkar
Provinsi Kalimantan Timur.
Syaukani memutuskan total terjun ke pentas politik dengan ikut Pemilu
Legislatif pada 1997. Dia terpilih menjadi anggota DPRD Kutai dari
Golkar, bahkan terpilih menjadi Ketua DPRD Kutai. Tahun 1999, dia
kembali terpilih sebagai Ketua DPRD Kutai. Jabatan Ketua DPRD Kutai itu
kemudian dilepaskan saat ikut mencalonkan diri sebagai Bupati Kutai.
Pada 14 Oktober 1999, dia terpilih sebagai Bupati ke 9 Kutai untuk
periode 1999-2004. Dan kembali terpilih sebagai Bupati Kutai Kartanegara
melalui Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pertama secara langsung oleh
rakyat, pada 1 Juni 2005, dengan meraih suara mutlak, lebih 6o.85 persen
atau 159.000 suara dari 261.790 suara pemilih yang sah.
Kemampuannya memimpin dan menggalang kekuatan, telah mengantarkan
dirinya ke pentas politik nasional. Sebagai Bupati Kutai Kartanegara
dengan dinamika sosial politik yang sedemikian liat, dia juga dipercaya
oleh rekan-rekannya bupati di seluruh Kabupaten di Indonesia menjadi
Ketua Umum Asosiasi Pemerintahan Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi)
yang pertama, periode 2000-2004. Dalam posisi itu, dia dikenal sebagai
tokoh daerah yang menasional dan gigih memperjuangkan otonomi daerah
dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain aktif
sebagai Bupati Kutai Kartanegara (periode 1999-2004 dan 2005-2009) dia
juga menjabat Rektor Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), dan Ketua
Umum Pengurus Cabang Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI)
Kabupaten Kutai Kartanegara (dua periode). Dia juga berperan dalam
Pembuatan Rancangan Undang Undang konsesi bagi hasil pertambangan.
Sebagai bupati, Syaukani sangat dekat dengan masyarakat lintas kelompok.
Itulah resep mengapa dia selalu mendapat dukungan penuh dari partai dan
rakyat. “Ini merupakan amanah, dan itu akan saya jaga betul,” ujar pria
yang bertekad menciptakan pemerintahan yang bersih dan transparan
melalui strategi yang dimilikinya.
Tiga Prinsip Hidup
H Syaukani HR memiliki tiga filosofi atau prinsip hidup yang selalu
diupayakan terimplementa-si dalam keseharian kepemimpin-annya. Pertama,
hidup seperti lilin. Rela berkorban (meleleh) demi menerangi sekitarnya.
Artinya, harus berani berkorban demi kepentingan yang lebih besar,
berguna bagi orang lain. Meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan
lain-lain demi kepentingan sesama.
Kedua, hidup seperti batu karang. Setiap saat dihantam ombak, namun
tetap teguh. Tetap tenang walaupun berbagai cobaan dan tantangan menerpa.
Tahan banting oleh berbagai benturan gelombang tantangan dan menjadi
tempat perlindungan bagi makhluk lain dalam ekosistemnya.
Ketiga, hidup seperti lebah. Selalu kompak, menghasilkan madu, tidak
mengganggu jika tidak diganggu. Prinsip kekompakan, kebersamaan dan
persatuan yang menjadi kekuatan, seperti lebah. Perihal kekompakan ini,
Syaukani mengutip Jenderal Sudirman yang mengatakan, kemenangan tidak
mungkin dicapai tanpa adanya kekuatan. Salah satu faktor yang menentukan
kekuatan adalah kekompakan, kebersamaan dan kesatuan. Kekuatan tidak
akan mungkin tercapai apabila tidak ada kekompakan, kebersamaan, dan
persatuan. Prinsip ini selalu dipedomaninya dalam hidup bermasyarakat,
berorganisasi, berbangsa dan bernegara.
Ketiga prinsip ini cukup menggambarkan totalitas dan kapasitas
kepemimpinannya. Hal mana dia dengan bening dan berani mau dan mampu
mengartikulasikan ketiga prinsip itu secara jitu dalam menjawab realita
multidimensi penderitaan dan harapan masyarakat sekitarnya secara
keseluruhan. Sekaligus menunjukkan keberaniannya menjadi personifikasi
dari ketiga prinsip itu. Dan dalam takaran tertentu, dia telah teruji
dalam implementasi dan bersedia membayar harga (berkorban) demi
menegakkan prinsip itu.
Baginya, ketiga prinsip, seperti lilin, batu karang dan lebah itu,
bukanlah slogan kosong yang hanya enak didengar dan indah dipajang di
dinding. Tetapi suatu prinsip yang harus diimplementasikan dengan penuh
integritas, dalam keselarasan kata dan perbuatan, penuh keberanian,
kecerdasan dan ketulusan hati. Dengan demikianlah dia mampu merumuskan
realita multidimensi kehidupan masyarakat Kutai Kartanegara secara
akurat, di dalam konsep Gerbang Dayaku, untuk menjemput masa depan Kutai
yang lebih baik. Konsep yang hanya lahir dari seorang pemimpin visioner,
pemimpin yang punya visi besar, bening dan berani (great, clear and bold
vision).
Masa depan Kutai, yang sebelumnya ‘ditawan’ oleh sistem sentralistik
pemerintahan serta ketidakcerdasan dan ketidakberanian pendahulunya
untuk menyuarakan aspirasi masyarakat Kutai dalam visi dan misi yang
jelas dan implementatif.
Lalu, ketika reformasi bergulir, dia pun terpilih menjabat Bupati Kukar,
14 Oktober 1999 — (Kesempatan yang sebelumnya tertutup baginya. Sebab
dia sejak 1992 sudah diusulkan berbagai elemen masyarakat Kutai untuk
menjabat bupati, tetapi selalu dikandaskan oleh sistem politik, yang
disebutnya demokrasi semu, kala itu) – dia pun menggunakan kesempatan
itu dengan gagasan, visi dan misi cemerlang yang dirumuskan dalam
Gerbang Dayaku.
Seteguh Batu Karang
Dalam kondisi bangsa dan negara saat ini, saat kebebasan kadang kala
keluar dari koridor hukum, tarik-menarik tentang implementasi otonomi
daerah, dan lain sebagainya, dibutuhkan pimpinan yang punya karakter
kuat seperti batu karang. Tidak dapat runtuh oleh empasan ombak dan
gelombang betapa pun dahsyatnya, sekaligus berfungsi sebagai tempat
ber-lindung bagi mahluk di sekitarnya.
Hujatan dan tantangan yang menerpa, serta sebaliknya godaan politik dan
ekonomi yang mementingkan diri dan kelompok, tidak boleh melemahkan
karakter kepemimpinnya. Dia harus tahan banting dalam menghadapi cobaan
hidup.
Harus berjiwa seperti batu karang yang sehari-hari dihantam ombak.
Tegar dan bahkan harus bisa menentramkan amarah.
Ciri kepemimpinan seperti itu, dimiliki oleh Prof Dr H Syaukani HR SE
MM, Bupati Kutai Kartanegara. Memang, satu dari tiga prinsip hidupnya
adalah hidup seperti batu karang. Dia pemimpin berkarakter kuat seteguh
batu karang. Tahan banting oleh berbagai benturan gelombang tantangan.
Dia telah tahan uji sepanjang jenjang karirnya, terutama saat menjabat
Bupati Kartanegara, sebuah daerah kabupaten di Kalimantan Timur, yang
kaya sumber daya alam. Kabupaten terkaya di Indonesia. Dia tidak tergoda
untuk hanya memperkaya diri.
Bahkan ketika dia diberhentikan oleh Mendagri dan Gubernur Kaltim secara
tiba-tiba, yang kemudian diikuti tuduhan korupsi, dia tetap tegar dan
bahkan menentramkan amarah masyarakat pendukungnya. Juga ketika dia
menyampaikan suatu ide, tidak semua orang mendukung, bahkan ditentang
dan dicerca, ada pro kontra, dia tetap teguh pada prinsipnya. Seperti
dialaminya ketika baru meluncurkan gagasan Gerbang Dayaku. Bahkan
pembangunan Pulau Kumala, delta di tengah Sungai Mahakam, di tengah kota
Tenggarong, sebagai program yang ambisius.
Sungguh dia sangat menjiwai prinsip hidup batu karang itu. Dunia terumbu
karang yang indah dan merupakan rumah bagi ribuan jenis binatang dan
tumbuhan laut yang memiliki nilai ekonomi dan estetika tinggi. Bangunan
ribuan karang yang menjadi tempat hidup, berkembang biak, pertumbuhan,
berlindung dari serangan pemangsa serta mencari makan berbagai ikan dan
makhluk laut lainnya. Setiap mahluk hidup yang tinggal di ekosistem
terumbu karang memiliki fungsi yang berbeda dan saling bergantung satu
dengan lainnya.
Karang Batu adalah karang yang keras disebabkan oleh adanya zat kapur
yang dihasilkan oleh binatang karang. Melalui proses yang sangat lama,
binatang karang yang kecil (polyp) membentuk koloni karang yang kental,
yang sebenarnya terdiri atas ribuan individu polyp. Karang batu ini
menjadi pembentuk utama ekosistem terumbu karang.
Terumbu karang termasuk ekosistem yang paling tua di bumi ini. Terbentuk
dalam waktu yang sangat lama. Selama satu tahun rata-rata karang hanya
dapat menghasilkan batu karang setinggi 1 cm. Jadi selama 100 tahun
karang batu itu hanya tumbuh 100 cm. Sehingga waktu yang dibutuhkan
terumbu karang untuk tumbuh adalah antara 5000 sampai 10.000 tahun.
Batu karang, antara lain, berfungsi melindungi pantai dan penduduk dari
hantaman ombak dan arus. Dia juga berfungsi sebagai sumber penghasilan
bagi nelayan (tangkapan ikan), sumber kekayaan laut yang bisa digunakan
sebagai obat-obatan alami dan sebagai laboratorium alam untuk pendidikan
dan penelitian.
Begitulah prinsip hidup batu karang, yang dianut Syaukani, melalui
proses pergumulan dan pengasuhan sejak masa kecil. Prinsip hidup yang
membentuk karakter teguh yang hanya mungkin diperoleh seseorang dengan
keuletan yang berproses dalam jangka waktu lama. Terbentuk dari
butiran-butiran (polyp) pengalaman kecil menjadi kepribadian yang
tangguh. Ketangguhan yang tidak hanya berguna bagi dirinya, tetapi juga
bagi orang lain, menjadi tempat perlindungan bagi orang lain.
Prinsip Lilin dan Lebah
Apalagi prinsip hidup batu karang ini, dilengkapi prinsip hidup seperti
lilin dan lebah. Prinsip hidup seperti lilin, harus berani berkorban
demi kepenting-an yang lebih besar, menghilang-kan kegelapan sekalipun
badan meleleh. Meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan lain-lain demi
kepentingan sesama, tanpa mengeluh. Syaukani HR, sungguh berkomitmen
mewujudkan pengabdian laksana lilin dalam menjalankan amanah di setiap
jabatan yang dipercayakan kepadanya.
Dia juga menganut prinsip hidup seperti lebah. Dia memiliki integritas
diri bak lebah. Menganut prinsip kekompakan, kebersamaan dan persatuan
yang menjadi kekuatan, seperti lebah. Sama seperti sapu lidi, pelajaran
waktu SD. Kalau hanya satu-satu mudah dipatahkan tapi kalau sudah jadi
sapu (disatukan) akan sulit dipatahkan. Persatuan dan kekompakan harus
diciptakan.
Lebah tidak pernah hinggap di tempat yang kotor, melainkan dia hinggap
di atas bunga yang harum. Artinya dalam hidup setiap orang harus
menghindari perbuatan yang tercela, yang tidak disukai masyarakat, yang
merugikan masyarakat. “Terutama para pejabat, pemimpin, harus selalu
bersama-sama menciptakan sesuatu dengan cara yang baik sesuai dengan
hukum dan apa yang kita kerjakan harus bisa dinikmati masyarakat. Lebah
itu menghasilkan madu. Madu itu berguna bagi orang lain. Pokoknya kita
harus bermanfaat bagi orang lain,” Syaukani menjelaskan.
Lebah itu tidak pernah mengganggu tapi jangan coba-coba diganggu. Kalau
tidak diganggu, kita lewat baik-baik, dia tenang saja. Tapi kalau dia
diganggu, lebahnya akan menyerang secara bersama, berkerumun.
Prinsip hidup lebah ini dia amati dan petik sejak masih kecil. Kala itu
dia nakal juga. Pada dahan sebuah pohon ada sarang lebah persis di atas
jalan. Kemudian dia memanjat di pohon yang agak jauh menunggu ada orang
lewat. Ketika seseorang lewat pakai sepeda, pas di bawah sarang lebah,
dia mengganggu lebahnya dengan ketapel, sebagian jatuh ke bawah. Lalu
lebahnya berkerumun menyerang orang itu.
Dalam kehidupan nyata, keadaan yang hampir sama, pernah juga dia alami.
Sebagai bupati dia membina hubungan baik dengan segenap lapisan
masyarakat, kompak dan sebagainya. Setelah lima tahun masa jabatannya
berakhir, diperpanjang lagi oleh Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno. Tapi,
kemudian setelah Menteri Dalam Negeri berganti, tiba-tiba melalui
Gubernur Kaltim Suwarna AF dia diberhentikan begitu saja, tanpa alasan
yang jelas, tanpa koordinasi, tanpa memberitahu DPRD, dan tanpa
memperhatikan aspirasi masyarakat Kutai Kartanegara. Lalu, yang marah
bukan dia melainkan rakyatnya, spontanitas, seperti lebah yang diganggu.
Kala itu Gubernur Suwarna AF yang menunjuk Awang Dharma Bakti sebagai
Pejabat Bupati Kukar, tidak bisa masuk kota Tenggarong. Puluhan ribu
massa datang menghadang, akibatnya gubernur tak berani masuk Tenggarong.
Terpaksa pejabat bupati yang ditunjuk begitu saja menggantikannya
dilantik di Samarinda. Ketika pejabat bupati itu mau masuk ke Tenggarong,
massa berkerumun mengejarnya.
Kala itu, Syaukani ada di Jakarta. Dia bilang bahwa dia ikhlas, masa
jabatannya sudah habis. Jangan dihalangi pejabat bupati itu, nanti kita
ikut Pilkada saja. Tapi masyarakat terus demo menolak pemberhentiannya
dan menolak penunjukan Awang Dharma Bhakti sebagai penggantinya. Mungkin
itu demo terlama di dunia. Mereka, dari berbagai lapisan masyarakat,
demo setiap hari selama dua bulan lebih. Bahkan buruh, guru dan
murid-murid juga mogok. Kalau di tempat lain masyarakat demo menurunkan
bupati tetapi di Kutai Kartanegara mereka demo dan mogok agar bupati
tidak diturunkan.
Lalu, Mendagri HM Ma’ruf merespon tuntutan masyarakat itu. Awang dicopot
dan digantikan Drs H Hadi Susanto, sebagai Pjs Bupati Kukar. Kebijakan
ini dianggap sebagai jalan tengah dan mampu menciptakan situasi yang
kondusif sampai terselenggaranya Pilkada, 1 Juni 2005.
Demikianlah prinsip hidup lebah, membentuk network. “Kalau kita
membangun kebersamaan, memperhatikan orang yang susah, maka pada saat
kita susah atau diganggu orang lain, kita diperhatikan dan didukung
orang banyak. Itulah keadilan Tuhan. Tanpa itu nggak mungkin hatinya
digerakkan oleh Tuhan, spontanitas,” kata Syaukani dalam percakapannya
dengan Wartawan Tokoh Indonesia.
Dia pun dengan tenang memu-lai Gerbang Dayaku Tahap II. Sebuah konsep
Gerakan Pengem-bangan dan Pemberdayaan Kutai yang sangat mudah dipahami,
dan melibatkan semua komponen di daerahnya. Gerakan pemba-ngunan yang
ti-dak sekadar janji dan memberi mimpi yang sulit diwujudkan, me-lainkan
suatu hal yang realistis dan implementatif dengan mengga-lang
kebersamaan semua komponen untuk meningkat-kan kesejahteraan bersama. ►mtik/tsl
*** Majalah Tokoh Indonesia (www.e-ti/majalah)
|
|