MAJALAH TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::

 

Dapatkan di TOKO BUKU Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia dan AGEN-AGEN atau
E-MAIL: SIRKULASI atau
Telp: 021-83701736 Fax: 021-9101871


 
Berita Utama  
 
   

MAJALAH TOKOH INDONESIA 39

 

Berita Utama MTI 39 (08)

Sutiyoso, Tiket Penumpang


Oleh Ch Robin Simanullang

Sutiyoso (Bang Yos) sangat percaya diri mendeklarasikan kesiapannya menjadi Calon Presiden (Capres) pada Pilpres 2009, tanpa perlu mendirikan partai sebagai kendaraan politik. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini berharap partai lain akan mencalonkannya. Mungkinkah ada partai yang memberi tiket penumpang gratis?

Berharap dicalonkan partai lain, suatu impian yang mudah dan indah. Tapi kenyataan dalam percaturan politik tidak semudah dan seindah impian itu. Politik adalah hitungan kekuasaan dan kepentingan yang tidak gratis. Sutiyoso, mantan Pangdam Jaya, kelahiran Semarang, 6 Desember 1944, itu juga pasti sangat menyadari hal itu. Maka, tentu, dia sudah memiliki perhitungan sendiri sebelum mendeklarasikan kesiapannya menjadi Capres tanpa mendirikan partai atau bergabung (menjadi anggota) partai tertentu.


Lalu, pertanyaannya, sebesar apa posisi tawar Bang Yos untuk bisa mewujudkan obsesinya menjadi Capres? Kepemimpinannya yang sudah teruji dan berhasil memimpin DKI Jakarta selama 10 tahun dalam kondisi sulit, bisa menjadi salah satu credit point. Tapi partai-partai (terutama partai besar) tentu juga memiliki pemimpin yang bisa diandalkan untuk memimpin bangsa. Apalagi, mereka sudah ‘berkeringat’ membesarkan partai. Dalam posisi seperti ini, sebesar apa posisi tawar Bang Yos?


Memang, ada belasan partai yang menyebut-nyebut nama Bang Yos akan dijadikan Capres atau Cawapres, termasuk Partai Amanat Nasional (PAN) serta partai-partai kecil dan baru. Tapi melihat gencarnya iklan politik Ketua Umum PAN Sutrisno Bachir, rasanya sulit diprediksi bahwa PAN akan mengusung Bang Yos sebagai Capres. Beruntung, Partai Indonesia Sejahtera (PIS) dalam Rapimnas (23/7/2008) telah secara resmi menyatakan akan mengusung Bang Yos sebagai Capres.


Barangkali cukup realistis bila Bang Yos mendekati partai-partai baru atau partai-partai kecil potensial. Tapi hal itu, pasti memerlukan biaya dan cukup spekulatif. Partai-partai baru belum tentu meraih suara signifikan. Untuk ini keberanian dan perhitungan yang cermat diperlukan. Dukungan sponsor yang kuat pasti juga akan memudahkan. Walaupun posisi Bang Yos akan tetap sebagai penumpang (istimewa) di kapal (partai) yang dinakhodai orang lain.


Hal itu hanya sekadar analisis. Sementara yang pasti, Bang Yos barangkali memiliki kalkulasi politik atas deklarasi pencapresannya. Deklarasi itu dilakukan bertepatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2007 dan enam hari menjelang mengakhiri masa tugas 10 tahun sebagai Gubernur DKI Jakarta (7/10/2007). Dihadiri sejumlah tokoh antara lain mantan Presiden Abdurrahman Wahid, mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, mantan Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono, Wakil Ketua MPR Moeryati Soedibyo, mantan Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman, Ketua Umum PNBK Eros Djarot, Ketua Umum PDK Ryaas Rasyid, budayawan Taufik Ismail dan Ridwan Saidi, serta sekitar seribu simpatisan mengenakan kaus putih bertuliskan “Bang Yos Pemimpin Masa Depan”.


Deklarasi Capres itu dilakukan sebagai respon atas desakan berbagai kalangan selama setahun terakhir. Juga didorong pengalaman memimpin Jakarta (1997-2007) untuk melanjutkan pengabdiannya. “Saya merasa terpanggil karena jiwa pengabdian sebagai anak bangsa,” ujar mantan Ketua Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI). Dia juga yang mengaku mengetahui semua masalah yang terjadi di setiap provinsi, termasuk cara-cara untuk mengatasinya.


Dalam deklarasi itu, Bang Yos setidaknya mengemukakan lima langkah (misi) yang akan diwujudkannya. Pertama, penghargaan terhadap nilai-nilai lama yang baik dan penyerapan terhadap nilai-nilai baru yang lebih baik. Kedua, perumusan nilai-nilai reformasi yang sesuai bagi Indonesia. Ketiga, menyukseskan otonomi daerah dengan memberi kewenangan dan dana yang cukup sehingga pembangunan dapat dilangsungkan dengan cepat di tiap daerah. Keempat, penciptaan rasa aman dengan penguatan sistem pertahanan dan keamanan. Kelima, penciptaan politik bebas aktif, di mana tak ada negara lain yang boleh mendominasi Indonesia di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya.


Sejauhmana peluang Bang Yos untuk bisa merujudkan visi-misinya? Apakah dia memiliki tim sukses yang handal? Jangan-jangan tim suksesnya terlalu percaya diri dan malah mengurung Bang Yos dalam ruang hampa. Seperti feodal yang sulit tersentuh dan berinteraksi dengan pihak lain.


Sebab setelah satu tahun pendeklarasian, tidak terlihat peningkatan pencitraan Bang Yos sebagai Capres atau Cawapres. Dalam berbagai survei, Bang Yos belum masuk dalam posisi unggulan.


Survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) 2007 Bang Yos hanya didukung 1,0 persen dari kategori tokoh yang paling mampu dalam mengatasi masalah mendesak (SBY 35 persen, Megawati 22 persen, Amin Rais 6 persen, JK 5,5 persen, Wiranto 5 persen, Sultan HB X 5 persen, dan Sutiyoso 1 persen. Juga dalam kategori lebih bisa dipercaya, Bang Yos hanya 0,5 persen (SBY 30,5 persen, Megawati 18,0 persen, Amien Rais 8.0 persen, JK 4,0 persen, Wiranto 3.0 persen, Sultan 6.0 persen, dan Sutiyoso 0,5 persen). Begitu pula dalam penilaian tokoh yang lebih perhatian pada rakyat, Sutiyoso hanya 1,0 persen (SBY 35,0 persen, Megawati 23,0 persen, Amien Rais 5,0 persen, Sultan 5,0 persen, JK 4,0 persen, Wiranto 3,0 persen).


Sementara untuk posisi Cawapres, semula PDI-P juga menominasi Bang Yos sebagai Cawapres unggulan pendamping Megawati. Tetapi, belakangan setelah tiga kali melakukan survei internal (sampai Meu 2008), nama Sutiyoso tidak lagi muncul dalam lima urutan teratas.


Sedangkan hasil survei Lembaga Survei Nasional (LSN) yang dilakukan pada Januari dan Mei 2008, menunjukkan nama Bang Yos masuk urutan lima dari enam nama Cawapres paling ideal untuk mendampingi Megawati, yaitu Wiranto (45,6 persen), Sri Sultan Hamengku Buwono X (45,6 persen), dan Prabowo Subianto (41 persen), Akbar Tandjung (37,4 persen ), Sutiyoso (37 persen) dan Hidayat Nur Wahid (36,6 persen).


Melihat kondisi pencitraan Bang Yos sampai saat ini, tampaknya Bang Yos masih belum melakukan gebrakan. Sehingga masih sangat sulit memprediksi peluang Bang Yos untuk menggapai kursi pengabdian Presiden atau Wakil Presiden 2009-2014.
Jika Bang Yos berhasil menggalang partai untuk mengusungnya sebagai Capres, kemungkinan akan memilih tokoh lebih muda darinya sebagai Cawapres, seperti Hidayat Nurwahid atau Tifatul Sembiring, Sutrisno Bachir atau Hatta Rajasa, Yenny Wahid atau Muhaimin Iskandar, Yusril Ihza Mahendra, Sri Mulyani atau Faisal Basri. ► Majalah Tokoh Indonesia Edisi 39

     

Majalah TokohIndonesia 39

Siapa Capres 2009

KAPUR SIRIH: Mencari Pemimpin BERITA UTAMA: Siapa Capres 2009? Indonesia Butuh Strong Leadership = Peluang Duet Unik SBY-JK = Duel SBY-JK dan Pembelotan Menteri = Megawati Lebih Siap = Sri Sultan HB X, Capres atau Cawapres = PKS: Hidayat atau Tifatul = Peluang Terakhir Wiranto = Sutiyoso, Tiket PenumpangWAWANCARA: Kita (SBY-JK) Saling Mengisi (Wawancara Eksklusif Wapres Drs. M Jusuf Kalla)PRESTASI: Dada Rosada: Teladan, Kunci Kepemimpinan  = Baharudin H.Lisa, Keberuntungan BaselTOKOH UTAMA: Dr. Aulia Sani, Spesialis Jantung yang BersahajaGAYA HIDUP: Nikmati Hidup dengan Teh = Sehat Berkat Minum TehAPRESIASI: Bismar Siregar, Seni itu IbadahTOKOH MANCANEGARA: OBAMA Mengukir Sejarah Amerika = Mari Alkatiri PM Pertama Timor Leste = WAWANCARA MARI ALKATIRI: Pemilu Dipercepat 2009 Fretilin Yakin MenangPOLITISI: Nidalia Djohansyah, Perempuan Lebih Peka dan Responsif