|
Berita Utama MTI 39 (07)
Peluang Terakhir Wiranto
Oleh Ch Robin Simanullang
Pilpres 2009 peluang terakhir (keempat) bagi mantan Panglima ABRI (TNI)
Jenderal (Purn) Wiranto untuk menjabat Presiden atau Wakil Presiden RI.
Kali ini, dia mendirikan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) sebagai
kenderaan politiknya. Sebesar apa peluangnya?
Peluang pertama diperoleh Wiranto setelah mendapat mandat khusus (Keppres
semacam Supersemar) dari Presiden Soeharto, 1998. Kala itu Wiranto
menjabat Menhankam/
Pangab diberi wewenang untuk mengambil tindakan demi menjaga stabilitas
negara. Letnan Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono yang kala itu menjabat
Kepala Staf Teritorial (Kaster ABRI) bertanya apakah jenderal (Wiranto)
akan memanfaatkan kesempatan itu? Wiranto ternyata menjawab tidak.
Rupanya dia ragu, karena arus gerakan reformasi yang sangat tidak
bersahabat dengan militer, khususnya Angkatan Darat (AD).
Keraguan itu, sedikit banyak terindikasi dari kegamangan TNI yang
dipimpin Wiranto terutama saat terjadinya kerusuhan Mei 2008. Di mana
ABRI (TNI dan Kepolisian RI) saat kerusuhan itu terjadi? Dan, siapa
sebenarnya dalang kerusuhan itu? Belum lagi disinyalir adanya tiga
kekuatan tarik-menarik di tubuh TNI kala itu, yang oleh pengamat
diindikasikan dengan sebutan TNI merah-putih, TNI pelangi, dan TNI hijau.
Bahkan keleluasaan demonstrasi mahasiswa menduduki gedung DPR juga tak
terlepas dari peran TNI. Namun, tampaknya Wiranto berhitung. Dan,
akhirnya menyatakan siap mengawal reformasi. Peluang mengambil-alih
kekuasaan dilepaskan.
Peluang kedua adalah menjadi Calon Wakil Presiden mendampingi BJ Habibie
dalam Sidang Umum MPR 1999. Peluang ini gagal akibat BJ Habibie mundur
dari pencalonan setelah pertanggungjawabannya soal lepasnya Timor Timur
ditolak SU-MPR. Jika BJ Habibie maju dan terpilih menjadi Presiden,
Wiranto akan menjadi Wapres.
Peluang ketiga adalah dalam Pilpres 2004. Setelah melewati persaingan
panjang dalam Konvensi Capres Partai Golkar, yang dimenangkannya,
Wiranto kemudian berpasangan dengan Salahuddin Wahid maju sebagai
Capres-Cawapres dari Partai Golkar. Namun pasangan ini hanya berada di
urutan ketiga pada Pilpres putaran pertama. Partai Golkar yang
memenangkan Pemilu legislatif tidak berdaya akibat digembosi Jusuf Kalla
(peserta Konvensi Capres Golkar) yang memilih (membelot) berpasangan
dengan SBY (Partai Demokrat, partai pendatang baru).
Peluang keempat adalah Pilpres 2009 nanti. Ini adalah peluang terakhir
bagi pria kelahiran Yogyakarta, 4 April 1947 yang akan berusia lebih 62
tahun pada Pilpres 2009 itu. Peluang ini akan terbuka apabila Partai
Hanura yang didirikan dan dipimpinnya meraih suara signifikan. Sejauh
ini, belum terlihat tanda-tanda Partai Hanura akan berkemampuan
mengusung Wiranto jadi Capres. Namun, keajaiban bisa saja terjadi,
seperti pengalaman Partai Demokrat pada Pemilu 2004.
Melihat kemenangan Wiranto pada Konvensi Capres Partai Golkar 2004, dan
perolehan suara pada Pilpres 2004 (26,286,788 suara atau 22,154 %),
Partai Hanura berpotensi meraih suara 5 sampai 10 persen pada Pemilu
2009. Jika Partai Hanura meraih suara 5 – 10 persen, kemungkinan Wiranto
akan berpeluang menjadi Capres berkoalisi dengan partai lain.
Kemungkinan pertama, Partai Hanura akan berkoalisi dengan PKS (PKS
diperkirakan akan meraih suara di atas 10 persen pada Pemilu 2009)
mengusung Capres Wiranto dan Cawapres Hidayat Nurwahid. Pasangan ini
berpeluang memenangkan Pilpres.
Kemungkinan lain, Wiranto akan berpasangan dengan Sutrisno Bachir, Din
Syamsuddin atau Yusril Ihza Mahendra. Selain itu, kemungkinan Wiranto
menjadi Cawapres mendampingi Megawati juga terbuka jika melihat hasil
survei internal PDI-P. Namun, kemungkinan ini tidak menjadi pilihan
pertama bagi Wiranto maupun bagi Megawati (PDI-P).
Catatan penting, sekali lagi, posisi tawar Wiranto sangat tergantung
pada perolehan suara Partai Hanura. Siapa pemilih Partai Hanura?
Kemungkinan sebagian besar adalah pemilih Partai Golkar dan pemilih
Wiranto pada Pemilu 2004 lalu. Sebagian lagi pemilih Partai Demokrat
yang kecewa. Jika demikian perolehan suara Partai Golkar dan Partai
Demokrat akan merosot. Ketiga partai ini (Partai Golkar, Partai Demokrat
dan Partai Hanura) ditambah lagi PKPI (Partai Keadilan dan Persatuan
Indonesia) dan PKPB (Partai Karya Peduli Bangsa) boleh dikategorikan
sebagai penjelmaan Golkar baru. Partai ini memperebutkan basis massa
yang sama. Jadi, tarik-menarik massa pendukung di antara partai-partai
ini akan terjadi.
Bahkan persaingan tajam untuk memperebutkan massa pendukung sudah pun
berlangsung. Saling kritik di antara mereka sudah berulang kali terjadi.
Iklan-iklan politik Wiranto (Partai Hanura) sering membuat SBY (Partai
Demokrat) bereaksi. Kubu SBY sendiri sampai-sampai kurang mampu menahan
diri terlihat dari reaksi dan karikatur Wiranto sebagai ortu uzur dalam
tabloid SBY. Sementara Partai Golkar (JK) akan digembosi dari dalam
dengan timbulnya faksi-faksi. Diindikasikan dalam tubuh Partai Golkar
terdapat faksi pendukung Jusuf Kalla, faksi Akbar Tandjung, faksi
pendukung Wiranto dan faksi pendukung SBY.
Dengan adanya faksi-faksi ini, dalam pencalonan presiden, suara Partai
Golkar diperkirakan akan terpecah. Maka walaupun kemungkinan Partai
Golkar masih akan meraih suara lebih besar daripada Partai Demokrat dan
Partai Hanura, tetapi dalam hal pencalonan presiden kemungkinan akan
terbagi mendukung Jusuf Kalla, Akbar Tandjung, Wiranto dan/atau SBY.
Bahkan juga sebagian kemungkinan akan mendukung Agung Laksono, Surya
Paloh, Prabowo dan Aburizal Bakrie.
Ini berarti sangat terbuka peluang bagi Wiranto akan mendapat dukungan
dari sebagian massa pendukung Partai Golkar walaupun secara resmi dia
tampil sebagai Capres berkoalisi dengan PKS. Apalagi jika PKB (Gus Dur)
ikut bergabung dengan konsesi beberapa jabatan menteri untuk kader PKB,
terutamaYenny Wahid. Inilah peluang terbaik Wiranto.
Wiranto, saat mendeklarasikan Partai Hanura, Kamis (21/12/2006),
menegaskan obsesinya untuk merekonstruksi model kepemimpinan yang tegas,
lugas dan berani ambil risiko. Banyak orang juga berpandangan bahwa
Wiranto memiliki kepemimpinan yang tegas. Abdurrahman Wahid dalam pidato
sambutannya mengapresiasi Wiranto sebagai figur yang tegas, memiliki
semangat tinggi, dan mengutamakan kesetiaan warga bangsa.
Kwik Kian Gie politisi dan pengamat ekonomi yang dibesarkan PDI-P
menambahkan, “Saya tahu percis sifat Pak Wiranto sebagai pemimpin yang
tegas, berani ambil risiko. Pemimpin seperti itu yang memberi harapan
kepada Indonesia yang sudah menjadi porak-poranda.” ► Majalah Tokoh
Indonesia Edisi 39 |