|
Berita Utama MTI 39 (06)
PKS: Hidayat atau Tifatul
Oleh Ch Robin Simanullang
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menargetkan perolehan suara Pemilu
legislatif 2009 sebesar 20 persen. Jika target itu terpenuhi, PKS akan
mengajukan Calon Presiden (Capres) sendiri. Dua kader PKS paling
berpeluang jadi Capres atau Cawapres (Calon Wakil Presiden) adalah
Hidayat Nurwahid atau Tifatul Sembiring.
Kaderisasi partai ini berjalan sangat baik dibanding beberapa partai
lain. Citra partai ini juga terus menaik. Tampilnya para politisi muda
berpendidikan dan mengusung moral (Islami), kepedulian sosial dan
beberapa kegiatan dengan cara damai telah menjadi daya tarik tersendiri
partai ini. Diperkirakan, perolehan suara partai ini akan naik dibanding
Pemilu 2004. Target 20 persen bisa mungkin tercapai, paling sedikit
suara 10 persen kemungkinan besar akan tercapai.
Jika preolehan suara PKS mendekati 15 persen, kemungkinan partai ini
sudah akan mengusung Capres sendiri dengan mengajak partai lain
berkoalisi, walaupun para petinggi partai ini menyebut bahwa partai ini
baru akan mengajukan Capres jika perolehan suara Pemilu legislatif
mencapai 20 persen. Bahkan dengan perolehan sedikit di atas 10 persen
saja, PKS kemungkinan sudah akan mengajukan Capres sendiri berkoalisi
dengan partai lain.
Jika PKS mengajukan Capres sendiri, kemungkinan kader yang akan mereka
ajukan adalah Hidayat Nurwahid, mantan Presiden PKS yang saat ini
menjabat Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Pilhan kedua adalah
Tifatul Sembiring, Presiden PKS. Kedua kader PKS ini berusia lebih muda
dibanding beberapa tokoh (kandidat Capres) lainnya. Hidayat dan Tifatul
akan berusia 48 tahun saat Pilpres 2009 diadakan. Sementara, SBY
menginjak usia 60, Megawati Soekarnoputri 62 tahun, Wiranto (62), Sultan
Hamengku Buwono X (63), Akbar Tandjung (64), dan Sutiyoso (65), Amien
Rais (65), M Jusuf Kalla (67) dan Abdurrahman Wahid (69).
Jadi Hidayat atau Tifatul bisa mewakili generasi muda (generasi baru)
dalam pertarungan merebut kepemimpinan nasional pada 2009 nanti. Dalam
hal apakah kedua tokoh ini akan benar-benar tampil sanagt tergantung
pada keputusan PKS. Perlu dicatat, dalam hal penentuan siapa di antara
kedua tokoh ini atau kader PKS lain, menjadi Capres atau Cawapres,
sejauh ini, partai ini sangat taat pada mekanisme partai. Segala
keputusan diambil dalam mekanisme partai yang berpuncak pada Majelis
Suryo. Dan siapa pun yang ditetapkan melalui mekanisme partai, selalu
mendapat dukungan sepenuhnya dari para kader dan kepengurusan di semua
tingkatan. Mesin politik partai ini berjalan dengan baik.
Hal ini pula yang memberi nilai tambah pada posisi tawar partai ini jika
berkoalisi dengan partai atau tokoh lain. Sementara, dengan partai mana
dan tokoh mana PKS akan berkoalisi sangat ditentukan pada persamaan visi
dan misi. Berkoalisi dengan partai berbasis Islam lainnya, sangat
memungkinkan. Namun secara taktis dan strategis, PKS lebih memungkinkan
berkoalisi dengan Partai Hanura, Partai Demokrat, Partai Golkar dan/atau
PDI-P.
Tapi masalahnya, keempat partai ini berniat mengajukan Capres sendiri,
apalagi Partai Demokrat dan PDIP sudah pasti mengusung Capres sendiri
yakni SBY dan Megawati. Maka jika PKS mengusung Capres sendiri, paling
berpeluang berkoalisi dengan Partai Golkar. Tapi jika dilihat dari
kedekatan tokoh (figur), PKS kemungkinan akan berkoalisi dengan Partai
Hanura (jika Hanura meraih suara 3-5 persen saja dalam Pemilu legislatif)
dengan mengusung Wiranto sebagai Capres berpasangan dengan Hidayat
Nurwahid atau Tifatul Sembiring sebagai Cawapres.
PKS sendiri sudah mulai menghitung kekuatan koalisi pasca Pemilu 2009.
Menurut Presiden PKS Tifatul Sembiring, PKS menyadari bahwa pada 2009
belum mampu menjadi partai yang mendapat suara mayoritas (single
majority). Dijelaskan, sistem pemilu dengan multipartai sederhana
seperti yang berlaku di Indonesia sekarang ini dinilai tidak mungkin
menciptakan single majority. Tifatul memprediksi, dalam Pemilu 2009
tidak akan ada partai yang meraih suara di atas 25 persen.
Tifatul mengatakan, mozaik kebhinekaan kekuatan parpol di Indonesia
sangat cair. Menurutnya, Indonesia tak lagi ’kuning. Kini, parta-partai
papan atas dan tengah saling berbagi kekuatan di seluruh wilayah
Indonesia.
Tifatul mengungkapkan, beberapa studi terakhir menemukan koalisi Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
menjadi kekuatan paling ideal dalam membangun pemerintahan. “Riset
terakhir, PDIP dan PKS paling kuat kalau membentuk koalisi,” ujar
Tifatul.
Namun, ungkap Tifatul, visi PKS tentang calon presiden ideal di 2009 tak
segaris dengan PDIP. Dalam visi PKS, calon presiden ideal harus dari
kalangan muda. “Kita butuh presiden balita, bawah lima puluh tahun,”
ungkapnya. Sementara PDI-P telah memutuskan akan kembali mengusung
Megawati Soekarnoputri sebagai Capres pada Pemilu 2009.
Tifatul menjelaskan, permasalahan yang dihadapi Indonesia sangat
kompleks. Karena itu, katanya, seorang calon presiden harus mempunyai
pemikiran segar dan matang untuk menemukan solusi atas kesulitan bangsa.
Dia harus tahu what dan how-nya. Yang pasti, kata Tifatul, permasalahan
ini tidak bisa diatasi dengan iklan di TV, main film, dan nyanyi-nyanyi.
Sementara itu, dalam beberapa kali survei internal PDI-P untuk menjaring
Cawapres pendamping Megawati, nama Hidayat Nur Wahid salah satu nominasi
unggulan. Dari lima nominasi unggulan, hanya Hidayat yang berumur di
bawah 50 tahun. Perpaduan Megawati (PDI-P) dan Hidayat Nurwahid (PKS)
dinilai berbagai pihak cukup ideal merepresentasikan pelangi
kebhinnekaan. Pasangan ini, diprediksi akan sangat berpeluang
memenangkan Pilpres 2009.
Pilihan lain, kemungkinan PKS akan berkoalisi dengan Partai Golkar.
Sebagaimana pernah dikemukakan Ketua Partai Golkar Priyo Budi Santoso,
salah satu alternatif yang dipertimbangkan Partai Golkar dalam pemilu
presiden nanti adalah menggandeng partai politik berbasis Islam. Untuk
Capres-Cawapres, salah satu alternatif Ketua Umum Partai Golkar M Jusuf
Kalla disandingkan dengan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera
Hidayat Nur Wahid. “Kombinasi itu bisa dibalik menjadi Hidayat-Kalla
kalau perolehan suara PKS pada Pemilu 2009 mengungguli Partai Golkar,”
kata Priyo.
Kemungkinan lain, yang juga berpeluang meraih suara signifikan, jika
tidak jadi pemenang, paling tidak di urutan kedua, PKS berkoalisi dengan
Partai Demokrat yang diperkirakan perolehan suara Pemilu legislatifnya
akan mencapai 10-12 persen. Koalisi ini akan mengusung SBY-Hidayat atau
SBY-Tifatul.
Dari berbagai kemungkinan, yang paling pasti adalah PKS akan mengusung
kadernya (Hidayat atau Tifatul) sebagai Cawapres. Partai ini,
diperkirakan akan mengajukan Cawapres sebagai syarat utama untuk
berkoalisi dengan partai lain dalam Pilpres 2009. Kemudian, setelah itu
pada Pilpres 2014 akan mengajukan Capres sendiri. Partai ini
diperkirakan akan cukup siap menempatkan kadernya sebagai Presiden
2014-2019. ► Majalah Tokoh
Indonesia Edisi 39 |