|
Berita Utama MTI 93 (03)
Duel SBY-JK dan Pembelotan Menteri
Oleh Ch Robin Simanullang: Kendati berbagai kalangan terdekat
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden M Jusuf Kalla
(JK) mengatakan bahwa duet ini cukup ideal dan saling mengisi, tapi
kemungkinan keduanya bersaing pada Pilpres 2009 sangat terbuka.
Menjelang akhir periode kepemimpinan mereka, kemungkinan roda
pemerintahan tidak lagi berjalan efektif. Apalagi jika diikuti
pembelotan beberapa menteri, terutama yang berasal dari partai, yang
oleh Kepala BIN menyebutnya menteri sontoloyo. Gejala membelotnya partai
pendukung koalisi Kabinet Indonesia Bersatu, sudah terlihat dari
lolosnya angket BBM di DPR belum lama ini.
Jika diamati, bahasa tubuh SBY dan JK kadang kala, disadari atau tidak,
menunjukkan kekurangakuran. Belum lagi bila dilihat dari adanya beberapa
indikasi terjadinya persaingan di antara mereka dalam mengambil
kebijakan. Juga persaingan politik partai. Terakhir, soal penetapan
Pilkada Maluku Utara, calon Golkar dikalahkan.
Berbagai indikasi itu menunjukkan bisa saja SBY tidak lagi menginginkan
berduet dengan JK pada Pilpres 2009 nanti. Begitu pula sebaliknya. Jika
pada Pilpres 2004, SBY sangat butuh pada JK untuk mendukung pendanaan,
saat ini SBY sudah memilikinya. Pada Pilpres 2004 JK dan Aburizal Bakrie
(sama-sama kandidat Capres dalam konvensi Golkar) mendukung pandanaan
SBY. JK menjadi Wapres dan Aburizal menjadi Menko Perekonomian kemudian
menjadi Menko Kesra.
Bisa saja kongsi JK dan Aburizal, nanti menjelang Pilpres 2009 juga akan
pecah. Atau berhasil dipecah oleh kekuatan lingkaran (intelijen politik)
SBY. Aburizal yang kini jadi orang terkaya di Indonesia bisa mungkin
meninggalkan JK dan bergabung dengan SBY. Atau JK dan Aburizal masih
bersatu dan akan meninggalkan SBY. Tapi keberanian Aburizal meninggalkan
SBY sangat kecil, mengingat kuatnya lingkaran intelijen SBY yang bisa
mungkin berkolaborasi dengan aparat penegak hukum menemukan kelemahan
Aburizal secara hukum.
Jika kemungkinan terakhir ini yang terjadi, JK akan mendapat perlawanan
dari Aburizal dalam tubuh Partai Golkar (PG). Jika Aburizal memenangkan
pertarungan di PG, maka JK akan tersisih sebelum berduel (bersaing)
dengan SBY. Dan, SBY kemungkinan akan berduet dengan Aburizal Bakrie.
Tetapi, JK bukanlah tipe pemimpin yang semudah itu bisa dikalahkan
Aburizal. JK selaku Ketua Umum Partai Golkar memiliki lingkaran yang
punya cara tersendiri menancapkan kekuatan di tubuh PG. Lihat saja,
bagaimana dia (sebagai pendatang baru dalam kancah kepemimpinan politik
nasional) ketika itu bisa mengalahkan Akbar Tandjung yang mempunyai akar
lebih kuat di PG dan berhasil memimpin PG melewati berbagai cobaan
hingga memenangkan Pemilu 2004.
Sebagai seorang pengusaha, JK tampaknya sangat tahu titik lemah para
kader PG. Maka, walaupun dia diguncang akibat beberapa kekalahan PG
dalam Pilkada Gubernur, diprediksi JK akan tampil sebagai pemenang,
menjadi Capres atau Cawapres Partai Golkar. Kemudian, JK akan menjadi
salah satu pesaing kuat bagi SBY.
JK kemungkinan akan berpasangan dengan Sri Sultan atau Hidayat Nurwahid
dalam posisi Capres atau Cawapres. Bisa mungkin juga dengan Ketua Umum
PAN Sutrisno Bachir atau Ketua Umum PPP Suryadharma Ali. Bisa mungkin
juga dengan Menteri Keuangan/Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani.
Jika hal ini terjadi (JK bersaing dengan SBY), menjelang Pemilu 2009,
pemerintahan tidak akan berjalan efektif lagi. Ditambah lagi kemungkinan
beberapa menteri yang berasal dari partai, bahkan mungkin yang nonpartai,
seperti Menneg BUMN Sofyan Djalil dan Menkeu Sri Mulyani, akan bergabung
dengan JK. Dalam kondisi seperti ini, SBY kemungkinan akan merasakan apa
yang pernah dialami Megawati, ketika ditinggal SBY, JK, Yusril dan
lain-lain. Mungkin SBY akan menganggap JK dan menterinya sebagai
pengkhianat. Tapi bisa saja kemungkinan ini sudah diantisipasi, atas
pertimbangan lakonnya dulu.
Apalagi jika PKS mengambil posisi tidak lagi berkoalisi dengan SBY (Partai
Demokrat) dalam Pilpres 2009, akan sangat berdampak pada semangat juang
SBY. Dalam posisi ini, JK kemungkinan akan mengoptimalkan kelincahannya
merebut peluang. Bisa saja JK akan memanfaatkan kesempatan seolah
teranyaya, belajar dari pengalaman SBY pada 2004. Bisa saja JK akan
menyanyikan sebuah lagu sambil berurai air mata. Jika sampai air mata JK
berlinang, paling tidak simpatisan Golkar dan masyarakat luar Jawa,
terutama Indonesia bagian timur, juga akan merasa iba, empati. Dan, JK (Golkar)
akan menjadi pemenang.
Tetapi dalam melakonkan peran seperti ini, JK tidak lebih ahli daripada
SBY. Sebab, SBY seorang pemimpin yang gemar menyanyi bahkan lagu-lagu
ciptaannya sudah banyak yang direkam.
Yang jelas, jika sampai SBY-JK bersaing, akan sangat menarik dan
menguras enerji keduanya. Maka pilihan terbaik bagi duet ini adalah
tetap bersatu dan saling mengisi. Lebih baik tetap berduet daripada
harus berduel! ► Majalah Tokoh
Indonesia Edisi 39 |