|
BERITA UTAMA MTI 39 (01)
Siapa Capres 2009?
Indonesia Butuh Strong Leadership
Oleh: Ch Robin Simanullang
Wartawan Tokoh Indonesia
Sepuluh tahun reformasi telah membuahkan berbagai perubahan menuju
kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Terutama perubahan di
bidang politik (demokrasi dan kebebasan berpendapat) telah mencapai
hasil terbaik dibanding bidang lain. Tapi masih belum berhasil di bidang
ekonomi (menyejahterakan rakyat).
Faktor pemimpin yang kurang kuat tampaknya justru memperlambat
pencapaian hasil menyejahterakan rakyat tersebut. Dari pengalaman 10
tahun reformasi itu, agar refor-
masi, demokrasi, penegakan hukum dan keamanan bermuara (menjadi solusi)
pada kesejahteraan rakyat, Indonesia sangat butuh pemimpin yang kuat
(strong leadership).
Siapa dia pemimpin yang kuat itu? Apakah Susilo Bambang Yudhoyono
pemimpin yang kuat? Atau apakah dia Megawati Soekarnoputri, Abdurrahman
Wahid, Amien Rais, BJ Habibie, Sutiyoso, Wiranto, Sri Sultan HBX, Jusuf
Kalla, Akbar Tandjung, Yusril Ihza Mahendra, Mbak Tutut, atau Prabowo
Subiakto? Ataukah Soetrisno Bachir, Din Syamsuddin, Fadel Muhammad,
Teras Narang, Hidayat Nurwahid, Tifatul Sembiring, Suryadharma Ali, Sri
Mulyani Indrawati, dan Muhaimin Iskandar?
Ataukah Yenny Wahid, Puan Maharani, Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng
dan Budiman Sujatmiko? Atau mungkinkah Rano Karno, Diah Pitaloka, Dede
Yusuf, Tukul, Komar, dan Inul Daratista? Oleh hasil reformasi politik,
semua mereka berpeluang, walaupun belum tentu mereka semua pemimpin yang
kuat.
Dalam konteks ini, siapa yang dimaksud pemimpin yang kuat itu? Tentu dia
tidak cukup hanya memiliki kriteria kepemimpin secara umum atau hanya
memenuhi persyaratan formal sebagaimana ditentukan dalam undang-undang,
tetapi harus lebih daripada itu. Terutama dia harus berjiwa pahlawan.
Pemimpin yang pahlawan sesunguh-sungguhnya! Pemimpin yang rela berkorban,
pejuang, visioner, tulus dan pamrih demi kepentingan rakyat, bangsa dan
negara. Pemimpin yang pahlawan, tidak mementingkan tebar pesona,
kepentingan politik diri sendiri atau kelompok.
Pemimpin yang mampu dan berani mengatasi masalah bangsa sesuai
nilai-nilai dasar negara dan konstitusi. Pemimpin yang taat terhadap
konstitusi serta memiliki dan mampu (berani) mempertahankan visinya yang
besar tanpa harus terganggu atau terpengaruh oleh isu dan tekanan
berbagai kepentingan kelompok tertentu.
Pertanyaan berikutnya, siapa di antara kita pemimpin yang kuat dan
berjiwa pahlawan? Barangkali, semua kita dan mereka yang disebut di atas,
akan mengaku pemimpin yang kuat dan berjiwa pahlawan, siap berjuang (rela
mati) demi rakyat, bangsa dan negara. Dan, itu pulalah masalah yang
tengah kita hadapi. Ketika kita semua merasa jadi pahlawan tanpa bukti
perbuatan. Padahal, pahlawan adalah perbuatan. Pahlawan tanpa perbuatan
adalah omong kosong (mati).
Pertanyaan berikutnya, mengapa kita butuh pemimpin yang kuat (pahlawan).
Sebab kita tengah mengahadapi krisis multidimensional. Bukan hanya
krisis moneter, ekonomi dan kemiskinan, tetapi juga krisis moral,
penegakan hukum dan krisis identitas diri sebagai bangsa merdeka dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ada Ormas dan kelompok
berjubah mengatasnamakan agama bertindak sebagai penegak hukum, menjadi
hakim bagi pihak lain. Ada daerah yang berniat memisahkan diri. Ada
kelompok bahkan Parpol yang menghendaki negara ini berubah menjadi
negara berdasarkan ajaran agama tertentu bukan lagi NKRI berdasarkan
Pancasila. Bahkan kebebasan beragama pun terancam akibat penyelesaian
tambal sulam dan kompromistis serta tidak taat kepada konstitusi.
Di tengah kondisi bangsa ini sedang mengalami krisis multidimensional
berkepanjangan itu, kita berharap reformasi akan jadi solusi. Dan, agar
reformasi jadi solusi, kita sangat butuh pemimpin yang kuat, pemimpin
yang pahlawan sesunguh-sungguhnya. Pemimpin yang mengabdikan diri,
visioner, kaya ide untuk memecahkan masalah bangsa.
Siapa orang yang memiliki kepemimpinan seperti itu? Jika melihat para
elit politik saat ini, rasanya cukup sulit untuk mendapatkan pemimpin
yang dapat melakukan berbagai hal untuk mengatasi berbagai masalah yang
dihadapi bangsa saat ini. Namun, kita tidak boleh pesimistis. Lebih
baiklah kita beranggapan bahwa sebagian dari elit bangsa ini punya visi
besar untuk mengatasi masalah bangsa. Juga punya keberanian melepaskan
diri dari berbagai kepentingan politik kelompoknya untuk melaksanakan
visi besarnya itu sesuai nilai-nilai dasar Pancasila dan konstitusi
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Direktur Eksekutif Lead Institute Bima Arya Sugiarto mengatakan,
Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu menanamkan nilai baru di
masyarakat. Menurut Bima, kita tidak cukup dengan pemimpin yang dapat
memenuhi kebutuhan jangka pendek masyarakat. Kita butuh pemimpin yang
dapat memberi kesadaran tentang hal-hal yang lebih substansial seperti
bagaimana menghargai prestasi dan menempatkan materi di posisi yang
seharusnya.
Itu berarti pemimpin yang tak sekadar memenuhi persyaratan formal dan
standar prosedur, sekadar berpendidikan (persyaratan S1) atau doktor,
tetapi lebih daripada itu. Bisa saja seorang pemimpin hanya
berpendidikan formal SMA atau S1, tapi memiliki kepemimpinan yang jauh
lebih kuat daripada yang lain. Bisa juga dia pemimpin berusia tua atau
muda, lelaki atau perempuan, dari golongan mayoritas atau minoritas.
Artinya, tidak ada dikotomi pendidikan formal, usia, jender dan golongan.
Untuk itu, memang kita masih memerlukan kedewasaan politik (demokrasi).
Reformasi sudah berhasil membuahkan demokrasi. Namun, jika dicermati,
keberhasilan di bidang politik (demokrasi), masih bertumpu pada
keberhasilan rakyat dan para aktivis 1998. Para elit politik masih hanya
lebih berperan mengakomodir dan memanfaatkan peluang reformasi politik
itu. Sehingga dari berbagai hasil survey mengindikasikan semakin
berkurangnya kepercayaan rakyat pada parpol dan para elit politik.
Barangkali hal ini disebabkan sebagian besar dari elit politik itu
adalah pemain lama, yang punya jabatan, termasuk pemimpin Ormas dan
Orpol yang ‘direstui atas petunjuk presiden’ pada era sebelumnya (Orde
Baru). Mereka ini umumnya ramai-ramai menjadi reformis dengan
menyalahkan mantan Presiden Soeharto, si pemberi restu, tapi selalu lupa
menyalahkan diri sendiri (introspeksi) yang sebelumnya selalu bangga
minta restu dan petunjuk presiden. Dan, saat ini mereka-mereka jualah
alternatif pemimpin yang harus dipilih rakyat baik melalui, Pemilu
legislatif, Pemilu Presiden, maupun Pilkada.
Namun kita tidak bermaksud bersikap pesimistis, apalagi berprasangka
buruk terhadap para elit politik. Dalam gerak reformasi, sebagaimana
dikemukakan R William Liddle, Guru Besar Ilmu Politik Ohio State
University, AS, yang ahli dan banyak mengamati perkembangan politik di
Indonesia, bahwa negara kita yang sedang memanfaatkan lembaga-lembaga
demokrasi, pemerintahan presidensial dan otonomi daerah untuk menemukan
jawaban serba baru pada tuntutan zaman yang serba baru, kita jangan
terlalu terkejut jika ada seorang Obama ala Indonesia yang muncul
mendadak dalam kurun waktu lima tahun ke depan. (Opini Kompas, 10 Juni
2008).
Kita sependapat dengan R William Liddle, dan sekaligus berharap Obama
bisa menjadi inspirasi bagi seluruh elemen bangsa ini, terutama bagi
para calon pemimpin di negeri ini. Yakni munculnya pemimpin muda, pintar,
terampil bicara, visioner, dan kaya ide, tanpa melihat dari golongan
mana (mayoritas atau minoritas) untuk memecahkan masalah bangsa.
Siapa pemimpin muda yang potensial seperti Obama di Indonesia?
Barangkali, hanya sekadar contoh, bisa saja dia itu Menteri Keuangan Sri
Mulyani Indrawati. Dia muda, cantik (simpatik), cerdas, pintar, terampil
bicara, kaya ide, punya pengalaman internasional dan pengalaman
birokrasi. Atau mungkin Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad. Atau, seperti
dikemukakan Dr Saiful Mudjani, Direktur Eksekutif Lembaga Survei
Indonesia dalam percakapan dengan reporter Tokoh Indonesia, bisa saja
keduanya berpasangan sebagai Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden.
Atau bisa saja Syaykh Abdussalam Panji Gumilang yang berhasil membangun
lembaga pendidikan terpadu Al-Zaytun secara spektakuler berpasangan
dengan Sri Mulyani Indrawati. Panji Gumilang itu pemimpin yang kuat,
cerdas, cermat, bijak, kaya ide dan piawai mengimplementasikan ide-ide
besarnya, taat nilai dan azas (nilai-nilai dasar negara dan konstitusi),
cinta damai, menghargai pluralisme (interdependensi) dan beriman.
Atau sejumlah nama lain, seperti Hidayat Nurwahid – Teras Narang (PKS-PDIP)
atau Pramono Anung – Yenny Wahid (PDIP-PKB), atau Soetrisno Bachir -
Puan Maharani (PAN-PDIP), atau Tifatul Sembiring – Faisal Basri (PKS-Ekonom),
atau tokoh muda potensial lainnya.
Penyebutan nama di atas tidak berpretensi atau bermaksud menyebut Si
ABCD, sebagai pemimpin yang kuat dan terbaik, sedangkan Si EFGH, sebagai
pemimpin yang lemah atau buruk. Bukan juga berarti pemimpin yang sudah
relatif tua tidak lebih pantas, atau pemimpin muda belum pantas.
Tua-muda dan dari kelompok mayoritas-minoritas tidak menjadi batasan,
tetapi kualitas kepemimpinan merekalah yang menentukan apakah layak atau
tidak seperti Obama, sehingga rakyat memilih karena percaya kepada
mereka untuk memecahkan masalah bangsa.
Selain nama tokoh-tokoh yang disebut di atas, juga terdapat sejumlah
nama yang diprediksi berpeluang ikut dalam persaingan (demokrasi)
Pilpres 2009. Sebagian di antara mereka telah menyatakan diri, sebagaian
lagi belum menyatakan diri namun telah disebut-sebut menjadi calon
pemimpin (presiden dan wakil presiden) pada Pemilu Presiden 2009 nanti.
Di antara mereka yang sudah menyatakan diri dan sudah disebut-sebut
menjadi calon presiden pada Pilpres 2009 nanti adalah Susilo Bambang
Yudhoyono, Megawati Soekarnoputri, Sutiyoso, Abdurrahman Wahid, Amien
Rais, Wiranto, Sri Sultan HBX, Jusuf Kalla, Akbar Tandjung, Yusril Ihza
Mahendra, Mbak Tutut, Prabowo Subiakto, Din Syamsuddin, Sutrisno Bachir,
Suryadharma Ali, Sri Mulyani Indrawati dan Fadel Muhammad.
Sudah sangat banyak dipublikasikan bagaimana jejak rekam dan visi
beberapa orang tokoh tersebut? Juga bagaimana kemungkinan persaingan,
siapa berpasangan dengan siapa dan proyeksi siapa di antara mereka yang
paling berpeluang menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI 2009-2014.
Dalam kata lain, bagaimana prediksi peta politik Pilpres 2009?
Beberapa lembaga survey mengindikasikan akan terjadi persaingan antara
beberapa tokoh. Hasil survei beberapa lembaga, periode Oktober 2007 s/d
Mei 2008, masih mengindikasikan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai
pemenang bila saat itu dilakukan pemilihan presiden.
Namun hasil Survei Indo Barometer terakhir (5 Juni-16 Juni 2008), dengan
1.200 responden di 33 provinisi, dengan metode multistage random
sampling, menunjukkan, hanya 31,3 persen responden yang menginginkan
Presiden SBY menjabat lagi untuk periode 2009-2014. Yang tak
menginginkan 50,6 persen dan yang tidak menjawab atau tidak tahu 18,1
persen.
Menurut Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari saat merilis hasil
survei tersebut di Jakarta, Minggu (29/6/2008) untuk pertama kalinya
dalam survei Indo Barometer, tingkat kepuasan terhadap SBY di bawah 50
persen. Demikian juga dukungan terhadapnya. Jika pemilihan presiden
dilaksanakan hari ini (Juni 2008), dukungan terhadap SBY untuk pertama
kali pula berada di bawah Megawati.
Ketika diajukan pertanyaan terbuka, siapa calon presiden yang akan
dipilih bila pemilu dilakukan hari ini, pilihan terbanyak jatuh kepada
Megawati Soekarnoputri (26,1 persen) dan SBY menempati urutan kedua,
dengan 19,1 persen. Urutan berikutnya Wiranto 7,8 persen, Gus Dur 5,3
persen, Sri Sultan 4,8 persen, Hidayat 3,9 persen, Amien Rais 2,7 persen,
Prabowo 1,5 persen, dan nama lain 4,5 persen serta tidak menjawab 24,3
persen.
Begitu pula untuk pertanyaan tertutup (pipihan nama sudah ditentukan),
siapa calon presiden yang akan dipilih bila pemilu dilakukan hari ini,
Megawati Seokarnoputri juga menempati urutan teratas yakni 30,4 persen
dan SBY di urutan kedua 20,7 persen Salanjutnya Wiranto 9,3 persen, Sri
Sultan 8,8 persen, Gus Dur 6,0 persen, Hidayat Nurwahid 4,9 persen,
Amien Rais 4,3 persen, Prabowo 1,8 persen, Sutiyoso 1,3 persen, Jusuf
Kalla 1,1 persen dan tidak menjawab 11,4 persen.
Namun, M Qodari belum bisa memprediksi bagaimana gambaran capres pada
setahun ke depan. “Memang fluktuatif dan tidak bisa ditebak,” katanya.
Dia memberi contoh Wiranto yang sebelumnya sempat turun, tapi kemudian
sekarang naik drastis.
Sementara itu, pertanyan terbuka untuk posisi wakil presiden yakni Sri
Sultan menempati urutan teratas 11,8 persen, disusul Jusuf Kalla 10,7
persen, Hidayat Nurwahid 7,8 persen, Wiranto 4,1 persen, Yusril Ihza
Mahendara 3,3 persen, Prabowo 3,0 persen, Akbar Tandjung 2,8 persen,
Hasyim Muzadi 2,8 persen, nama lain 17,1 persen, dan yang tidak menjawab
36,6 persen.
Untuk pertanyaan tertutup, Sri Sultan juga teratas 19,9 persen, Jusuf
Kalla 12,3 persen, Hidayat Nurwahid 10,7 persen, Prabowo 4,9 persen,
Yusril Ihza Mahendra 4,9 persen, Akbar Tandjung 4,6 persen, Jimly
Asshiddiqie 4,1 persen, Hasyim Muzadi 4,0 persen, Din Syamsuddin 3,3
persen, Agung Laksono 2,8 persen, Aburizal Bakrie 2,2 persen, Soetrisno
Bachir 2,1 persen, Surya Paloh 1,6 persen, Fadel Muhammad 1,2 persen,
Gamawan Fauzi 0,8 persen, Adang Daradjatun 0,7 persen, Hatta Rajasa 0,4
persen, Tifatul Sembiring 0,1 persen, dan Suryadharma Ali 0 persen.
Sedangkan sisanya yang tidak menjawab 23,6 persen.
Kenaikan signifikan diraih Ketua Umum Partai Hanura Wiranto. Sebelumnya,
popularitas mantan Menteri Pertahanan Keamanan dan Panglima ABRI itu
pada survei Desember 2007, hanya 4,8 persen. Artinya, kenaikan
popularitas Wiranto mencapai 4,5 persen. Popularitas Megawati
Soekarnoputri juga naik dari 27,4 persen pada survei Desember 2007
menjadi 30,4 persen. Popularitas Sri Sultan sebagai capres juga terus
naik dari mencapai 6,3 persen menjadi 8,8 persen.
Hasil survei Indo Barometer Juni 2008 ini mengindikasikan rontoknya
popularitas Presiden SBY, hanya 36,3 persen masyarakat (responden survei)
yang puas terhadap kinerja Presiden. Level ini menjadi titik terendah
popularitasnya selama memimpin. Hasil survei sebelumnya pada Mei 2007,
popularitas Presiden masih 50,3 persen dan Desember 2007 malah malah
melesat ke 55,6 persen. Namun, setelah kenaikan harga BBM, popularitas
SBY rontok ke level 36,3 persen.
Hasil survei lembaga lain, Lembaga Riset Informasi (LRI) Mei 2008 juga
mengindikasikan hal yang sama, popularitas SBY sudah anjlok menjadi
35,60 persen. Sementara survei LRI Desember 2007 masih 44 persen.
Menurut Qodari, kondisi ini harus menjadi lampu merah bagi tim SBY.
Sebab, kata dia, dari data Indo Barometer, incumbent yang popularitasnya
sudah di bawah 50 persen, bila maju lagi ke pemilihan akan tumbang.
Sebelumnya, berdasarkan poling Lembaga Survei Indonesia (LSI periode
November 2004 hingga Oktober 2007), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
masih dinilai sebagai tokoh yang lebih mampu dalam mengatasi
masalah-masalah mendesak saat ini (Oktober 2007) dibandingkan tokoh (calon
presiden) lainnya.
Survei LSI 2007, responden masih menilai SBY sebagai tokoh yang paling
mampu dalam mengatasi masalah paling mendesak, yakni 35 persen, disusul
Megawati 22 persen, Amin Rais 6 persen, JK 5,5 persen, Wiranto 5 persen,
Sultan HB X 5 persen, dan Sutiyoso 1 persen. Selain itu, SBY juga
dinilai lebih bisa dipercaya, dengan nilai 30,5 persen, Megawati 18,0
persen, Amien Rais 8.0 persen, JK 4,0 persen, Wiranto 3.0 persen, Sultan
6.0 persen, dan Sutiyoso 0,5 persen. Tokoh yang lebih perhatian pada
rakyat, SBY 35,0 persen, Megawati 23,0 persen, Amien Rais 5,0 persen,
Sultan 5,0 persen, JK 4,0 persen, Wiranto 3,0 persen, dan Sutiyoso 1,0
persen.
Polling LSI menunjukkan bila pilpres dilakukan Oktober 2007 dengan
diikuti tujuh calon presiden, pemenangnya masih SBY, disusul Megawati.
Jika calon presiden hanya dua, yaitu SBY dan Megawati Soekarnoputri,
yang menang juga SBY 55 persen dan Megawati 35 persen.
Memang, jika dicermati, hasil survei LSI itu juga menunjukkan terus
turunnya tren sikap electoral kepada SBY dari 63 persen (Oktober 2006)
menjadi 55 persen (Oktober 2007). Sedangkan tren sikap electoral kepada
Megawati justru terus meningkat dari 23 persen (Oktober 2006) menjadi
35,5 persen (Oktober 2007). Bahkan tingkat kepuasan publik pada kinerja
Presiden SBY, menurut survei Lembaga Survei Indonesia terakhir (Mei
2008), sudah turun menjadi 54 persen, dari 67 persen Oktober 2007. Pada
saat baru dilantik, November 2004, tingkat kepuasan publik mencapai 80
persen.
Bahkan hasil survey Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Oktober 2007 pun
telah menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap SBY-JK telah merosot
ke titik paling rendah. Saat dilantik Oktober 2004, kepuasan publik di
atas 80 persen. Setelah hampir tiga tahun berjalan, merosot cepat dan
tajam tinggal 35,3 persen atau merosot 45 persen.
Menurut Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA
dalam diskusi publik Peluang Pemimpin Baru pada Pemilu 2009 di Hotel
Atlet Century Park Jakarta, Oktober 2007, rendahnya tingkat kepuasan
atas kinerja SBY merata di semua segmen.
Pemilih di Jawa paling kecewa (66,9 persen), luar Jawa (46,6 persen).
Dua suku terbesar juga kecewa pada SBY-JK: Jawa (57 persen) dan Sunda
(80,7 persen). Dari segmen (level) pendidikan, kalangan bawah lebih
kecewa (61 persen) dibanding kalangan terpelajar (54,1 persen).
Sedangkan pemilih partai, hanya pemilih Partai Demokrat yang menyatakan
puas (59,3 persen) dengan SBY. Paling kecewa adalah pemilih PAN (75
persen) dan PDIP (72,6 persen).
Denny menyebut empat alasan mengapa SBY mengalami defisit kepercayaan
publik. Pertama, kekecewaan atas kinerja ekonomi. Kedua, degradasi
program pemberantasan korupsi. Ketiga, publik meragukan kemampuan SBY
mengatasi masalah bangsa. Keempat, berjaraknya harapan dan kenyataan.
Menurut Denny, empat hal itu membuat rakyat mulai melakukan mental
switch mencari pemimpin baru. Hasil survey Lingkaran Survei Indonesia,
hanya 23,7 persen pemilih yang menyatakan akan memilih kembali SBY,
sementara 46,4 persen lagi akan memilih calon di luar SBY. Siapa mereka?
Menurut Denny, lima nama teratas adalah Megawati, Wiranto, Jusuf Kalla,
Sultan Hamengkubuwono X dan Sutiyoso.
Menurut Danny, pemimpin yang paling berpeluang menang adalah yang punya
contrasting tinggi dengan SBY. Mereka adalah yang punya karakter
pemimpin kuat (strong leadership). Danny menyebut tiga nama masuk
kategori ini, yaitu Jusuf Kalla, Wiranto dan Sutiyoso. Namun yang paling
berpeluang adalah Wiranto dan Sutiyoso, karena Jusuf Kalla dari luar
Jawa. Menurut Danny, walaupun survei LSI menunjukkan tokoh luar Jawa
bisa saja jadi presiden, tapi faktor itu sangat mudah dimainkan lawan
sebagai senjata kampanye.
Sementara itu, hasil survei Lembaga Riset Informasi (LRI) menunjukkan
tingkat popularitas SBY turun sembilan persen pada Mei 2008. Jika
Desember 2007 persentase dukungan masyarakat terhadap SBY masih mencapai
44 persen, pada Mei 2008 turun menjadi 35,60 persen. Menurut Presiden
LRI, Johan O Silalahi, turunnya popularitas SBY, tak bisa dilepaskan
dari keputusan menaikkan harga BBM.
Namun survei LRI ini masih menempatkan popularitas SBY di posisi teratas.
Posisi kedua ditempati Megawati Soekarnoputri 25,51 persen, naik dari
survei sebelumnya yang kurang dari 20 persen. Sultan Hamengkubuwono X di
urutan ketiga 17,61 persen. Menurut Johan, saat memaparkan hasil survei
LRI, Kamis (29/5), Survei LRI menggunakan metode penarikan sampel multi
stage random sampling, yaitu pengambilan sampel melalui beberapa tahapan,
sampel sebanyak 1.537 responden ditarik dari seluruh WNI yang memiliki
hak pilih dalam pemilu di 33 provinsi di seluruh Indonesia pada
pertengahan Mei 2008.
Survei LRI juga merekam kriteria pemimpin yang diinginkan rakyat.
Kejujuran menempati urutan teratas (84 persen), ketegasan (71 persen),
dapat dipercaya (62 persen), konsisten (44 persen), dan mempunyai
integritas (28 persen).
Jika belajar dari hasil-hasil survey menjelang Pilpres 2004, yang kala
itu popularitas Megawati masih mencapai 58 persen, sedangkan para
penantangnya berada di bawahnya, termasuk SBY hanya 10 persen. Tapi
suatu situasi bisa mengubah kenyataan pada Pilpres yang akhirnya
dimenangkan SBY.
Namun dari catatan berbagai hasil survei tersebut, peluang SBY untuk
memenangkan Pilpres 2009 mendatang masih lebih besar dibanding
tokoh-tokoh lainnya. Namun, perkembangan politik yang makin dinamis dan
meningkat dalam beberapa bulan ke depan, memungkinkan berbagai hal bisa
terjadi. Siapa tahu, keberhasilan Obama di Pilpres Amerika Serikat yang
akan berpuncak November 2008 mendatang, juga akan menginspirasi rakyat
dan para pemimpin di Indonesia untuk memilih seorang pemimpin baru,
Obama ala Indonesia.
Sementara itu, menurut Direktur Eksekutif Lembaga Riset Indonesia (LRI)
Johan Silalahi, hasil survei LRI juga menempatkan sejumlah nama yang
berprospek sebagai Cawapres, yaitu Kepala Polri Jenderal (Pol) Sutanto
(7,09 persen), Din Syamsuddin (6,93 persen), Akbar Tandjung (4,48 persen),
dan Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso (3,75 persen). ► mti
|
|
|
|