|
Oleh Dr Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang*
La Takdzib, Jangan Dusta
Umur, baik umur manusia atau umur suatu bangsa sangat menentukan.
Sebagai manusia, usia 40 tahun seharusnya sudah dalam kondisi konsis.
Jika masih ada manusia yang sudah berusia 40 tahun masih juga melakukan
‘amalun shalihun la yardlahu, selamanya dia tidak akan mendapatkan ridha.
Begitu pula suatu bangsa. Manusia yang sudah berusia 40 tahun namun
masih tidak konsisten dengan kebaikan, dia akan menjadi manusia yang
hancur sebab biasanya pada usia itu manusia harus sudah memiliki wisdom
(bijak).
Lalu apa ukurannya? Biasanya kidzib atau dusta. Jika pada usia itu masih
senang berdusta, pertanda dia akan terjerumus kepada perbuatan yang
bermakna kejahatan. Rasulullah pernah memberi nasihat kepada orang yang
datang kepada Rasul untuk masuk Islam. Sesudah syahadatain, “la takdzib”
(jangan dusta). Rasul ditanya sampai tiga kali, “sesederhana itu ya
Rasul?” Rasulullah selalu menjawab, “la takdzib”.
Kunci kesuksesan seseorang terletak pada pembohong atau tidak
pembohongnya. Apakah dia mengidap penyakit kidzib atau tidak. Jika sudah
berumur 40 tahun masih bohong hingga menjelang maut pun akan terus
berbohong. Jangan berharap menjadi manusia yang bisa menyelesaikan
urusannya dengan baik. Sekali lagi, orang yang akan menuju sukses
kuncinya “la takdzib”.
Pertanyaannya jika sudah berumur 40 tahun ke atas lalu masih senang
kidzib, apa obatnya? Pada prinsipnya setiap penyakit memiliki obat. Ya
Allah, mudah-mudahan kita semua tidak termasuk golongan orang-orang
kidzib. Maka mari jaga diri dan hati agar jangan sampai terkena penyakit
kidzib. Jika merasa sudah kena, segera obati sendiri sebab mengobati
diri sendiri dari suatu penyakit yang ada di hati adalah lebih baik.
Bangsa pun demikian. Negara, bangsa atau kelompok masyarakat jika sudah
terjangkit penyakit kidzib, grafik bangsa atau negara itu biasanya akan
menurun. Sebaliknya jika bangsa atau negara atau kelompok masyarakat
bisa mengatasi penyakit kidzib yang ada pada kehidupan mereka, biasanya
bangsa atau negara itu cepat maju. Sekali lagi, masyarakat yang terkena
penyakit kidzib pasti rusak, namun masyarakat yang bisa sadar dari
penyakit itu pasti cepat maju. Bangsa yang melakukan kebajikan dan
kebijakan maka masyarakat bangsa itu akan menjadi masyarakat yang bersih
dan berwibawa.
Lalu apa yang menjadi ukuran kidzib? Apa yang besarnya diharamkan, maka
kecilnya pun diharamkan. Itu ukurannya. Maka dusta kecil pun sesuatu
yang berbahaya. Jangan takut melawan dan mengatasi kidzib. Kita mulai
pada diri masing-masing, bukan dari orang lain. Itulah yang diistilahkan
oleh Rasul, ibda’ bi nafsika, mulailah dari setiap diri. ► mti
*Disarikan dari Taushiyah Syaykh AS Panji Gumilang pada Qobliyah Jumat,
8 Agustus 2003.
|
|
|
|