|
Politisi Negarawan
Pembaca! Pada saat majalah ini menjelang naik cetak, seorang politisi
yang kami anggap tulus dan jujur menyatakan keprihatinan atas
perkembangan demokrasi di Indonesia saat ini. Bukannya menjadikan
demokrasi itu untuk kepentingan bangsa, tapi malah untuk saling
menjatuhkan. Padahal, tuturnya, para pendiri negara ini telah memberi
landasan dan pelajaran mengenai demokrasi yang semestinya dilakukan.
Keprihatinan senada juga telah disampaikan beberapa politisi berjiwa
negarawan lainnya. Satu di antaranya adalah politisi senior Prof Dr
Suhardiman, SE. Dia mengeluhkan, terancamnya jati diri Indonesia saat
ini. Reformasi yang berlangsung sejak 1988, dalam pengamatannya, belum
menampakkan jati diri dan arah tujuan Indonesia masa depan. Sistim dan
struktur politik masih harus ditata supaya lebih jelas dan terarah. Hal
ini justru diakibatkan amandemen UUD 1945 yang dilakukan oleh para
politisi yang mementingkan golongannya sendiri. Maka dia melihat
perlunya reformasi jilid dua (reformasi budaya) untuk lebih mempertegas
jati diri dan tujuan masa depan Indonesia.
Keprihatinan Suhardiman juga tercermin dalam Pernyataan Politik SOKSI
hasil Rapimnas 20-21 Agustus 2006 lalu. Substansi pernyataan politik
SOKSI itu juga berulangkali dikemukakannya saat wawancara dengan
wartawan Tokoh Indonesia DotCom. Tampaknya, Suhardiman sangat gundah
melihat perkembangan politik (demokrasi) di negeri ini.
Tampaknya, dia sangat ingin hidup lebih muda lagi, untuk kiranya bisa
ikut berperan dalam politik praktis, terutama dalam proses pengambilan
keputusan (kebijakan) demi kemakmuran rakyat dan kejayaan negara yang
sangat dicintainya.
Tapi, setinggi apa pun semangat juang kenegarawannya, usia tetap saja
tidak bisa dihambat. Tepat Sabtu, 16 Desember 2006, dia sudah genap
berusia 82 tahun. Usia yang terbilang lanjut, jauh di atas usia
rata-rata Indonesia. Namun tampilan pisik apalagi semangat juangnya
masih sangat tinggi. Dia bahkan yakin akan berusia lebih seratus tahun.
Dan, dia tidak ingin menghabiskan usia lanjutnya itu dengan hal yang
sia-sia. Dia selalu ingin mengabdi kepada bangsa dan negaranya sampai
akhir hayatnya.
Dalam percakapan lepas kami, seseorang mengatakan, Suhardiman rasanya
terlalu cepat lahir (Solo, 16 Desember 1924), sehingga dia harus
berhadapan dengan Soeharto yang lebih 30 tahun tidak berkenan matahari
lain bersinar selain dirinya sendiri.
Jika direnungkan, ucapan lepas (guyonan) ini justrus sangat bermakna.
Bukankah Suhardiman seorang politisi negarawan yang amat hebat pada
zamannya? Dalam usia masih relatif muda, dia mendirikan dan memimpin
SOKSI yang kemudian menjadi salah satu pilar pendiri Golongan Karya yang
menopang kekuasaan selama tiga dasawarsa. Dia juga gemilang memimpin
proses legislasi lima undang-undang bidang politik di DPR. Tapi, dia tak
sekalipun diangkat dalam posisi strategis di pemerintahan. Jabatan
paling tinggi hanyalah Wakil Ketua DPA, yang pada era reformasi ini
sudah dibubarkan. Tapi biar pun punya kapasitas dan kompetensi, dia tak
pernah memaksakan kehendak, apalagi ingin menjatuhkan pemerintahan yang
sah.
Barangkali, seandainya matahari yang ada dalam dirinya diberi
kesempatan bersinar dalam jabatan strategis pemerintahan, Suhardiman
mungkin akan menjadi saingan terberat Pak Harto. Bahkan jika dia masih
dalam usia limapuluh tahun hari ini, mungkin dia lebih patut jadi
presiden. Demikianlah Pembaca, maka kami menyajikan profil dan
pemikirannya pada edisi ini.
Selamat membaca!
Redaksi
|
|
|
|