|
MAJALH TOKOH INDONESIA EDISI 32
Kapur Sirih:
Pemimpin Kereta Api
Salah satu kebijakan pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan
Wapres Jusuf Kala (Kabinet Indonesia Bersatu) yang amat strategis dan
langsung menyentuh kebutuhan rakyat banyak adalah perhatiannya yang
serius membenahi perkeretaapian. Kebijakan itu diawali secara strategis
dengan membentuk Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Departemen
Perhubungan. Hatta Rajasa yang dipercayakan menakhodai Dephub itu adalah
menteri yang dengan cepat melihat urgensi pembentukan Ditjen
Perkeretaapian itu serta memilih orang yang tepat pula memimpinnya.
Berbagai pihak menilai Menhub Ir H Hatta Rajasa sangat jeli memilih Ir H
Soemino Eko Saputro, MM, memimpin Direktorat Jenderal Perkeretaapian
itu. Soemino is the right man on the right place (figur yang tepat di
tempat yang tepat). Sebab, sedari awal—tak lama setelah memegang ijazah
insinyur sipil di ITS Surabaya—Soemino menjatuhkan pilihan pada Perum
Kereta Api. Walaupun saat itu, dia masih mempunyai dua pilihan yang
‘lebih’ menggiurkan, di PT Pertamina dan PT Semen Gresik.
Sekali menjatuhkan pilihan, Soemino mengabdi all out (habis-habisan)
pada tugas yang dipercayakan kepadanya. Dia siaga 24 jam sehari, hampir
tak pernah tidur, dalam bekerja menangani permasalahan yang muncul di
lapangan. Sampai dia menjabat Direktur Utama Perum KA dengan prestasi
terbaik, sejak perusahaan jasa angkutan massal itu ditangani republik.
Kepemimpinan Soemino berhasil mengangkat kembali citra sarana angkutan
milik negara itu dari titik nadir. Dia memba-ngun kereta api sebagai
pelayan jasa angkutan massal, mulai rakyat jelata sampai kalangan VIP
(very important person). Sayang, Soemino keburu diganti sebagai Dirut
Perum KA, sebelum misinya rampung. Dia pun sempat ‘diparkir’ di Dephub.
Dulu, jasa angkutan darat peninggalan Belanda itu, menjadi alat angkut
primadona yang biasa digunakan oleh para bangsawan dan petinggi penjajah
ketika mereka bepergian. Peranan kereta api masih cukup penting pada
masa revolusi dan awal kemerdekaan. Masuk era 1960-an, peranan kereta
api sebagai sarana angkutan penumpang dan barang, surut sedikit demi
sedikit, tersisih oleh bus, truk dan pesawat terbang. Kereta api mulai
ditinggalkan karena citranya identik dengan sarana angkutan rakyat
jelata akibat prasarana dan sarana serta pelayanannya makin merosot.
Kini, setelah Soemino dipercayakan kembali mengurusi perkeretaapian,
dalam jabatan yang lebih strategis, sebagai Direktur Jenderal yang
pertama, dia pun bekerja secara cekatan, kreatif, inovatif dan hampir
tak kenal lelah. Dia kembali siaga 24 jam untuk membenahi perkeretaapian
Indonesia. Grand Strategy Perkeretaapian Indonesia pun dirampungkan
dengan cepat dan komprehensif.
Dengan dukungan Menhub dan pemerintah, Soemino bertekad menjadikan
kereta api sebagai alat transportasi massal andalan. Awal tahun depan,
sebagian dari programnya sudah akan bisa dinikmati oleh pengguna jasa
kereta api, antara lain KRL ber-AC dengan tiket elektronik di
Jabodetabek.
Itulah yang mendorong kami, menyajikan perjalanan hidup dan karirnya
dalam Web Site dan Majalah Tokoh Indonesia secara lengkap, di bawah
judul utama: Dirjen (Pemimpin) yang Tak Pernah Tidur. Barangkali
terminologi ini bisa dianggap berlebihan. Tetapi jika disimak fakta dan
maknanya, barangkali akan dipahami ketepatan julukan itu.
Redaksi
|
|
|
|