| Surat MTI 25 |
|
|
|
|
| MAJALAH TOKOH INDONESIA |
|
Surat dan Komentar
Muak Lihat Tokoh Politik
Pak Probo! Perlu waktu sangat lama bagi saya untuk mengerti keadaan yang
sesungguhnya. Saya cuma rakyat biasa, bukan orang politik dan bukan
penggemar Pak Harto murni. Tapi saya rindu akan kepemimpinan Bapak
Soeharto. Apa yang Pak Probo katakan banyak betulnya dan saya bisa
rasakan kesedihan Bapak Soeharto tentang keadaan Indonesia karena saya
juga sama sedihnya.
Setelah era Pak Harto, Indonesia malah memburuk. Idealisme reformasi
Indonesia baru sebaiknya masuk keranjang sampah saja. Tokoh-tokoh
politik malah bikin tambah runyam saja. Setidaknya jaman Soeharto dulu
tidak ada bom, toleransi beragama paten punya! Sekarang, unjuk rasa
sana-sini ngga tau apa yang diperjuangkan dan diomongin.
Saya berstatus mahasiswa ketika era reformasi yang digalang para
mahasiswa itu terjadi. Idealisme saya hilang berganti rasa muak melihat
tokoh-tokoh politik yang saya dukung dengan harapan mereka akan
betul-betul berusaha memperjuangkan rakyat ternyata hanya menggunakan
kami (mahasiswa) ini untuk naik ke permukaan. Maaf Pak Harto kalau saya
pernah tidak mendukung Bapak.
Atha, Luar Negeri
jrumata@yahoo.com
Tulisan Syaykh Al-Zaytun
Saya membaca perspektif yang dibawakan oleh Syaykh al-Ma’had Al-Zaytun.
Sungguh suatu pemikiran yang luar biasa yang jika dikaji lebih dalam
maka sebenarnya ini adalah jalan menuju suatu persatuan yang
sangat-sangat mulia. Semoga tulisannya Syaykh tersebut dapat menjadikan
kita semua toleran, baik antar agama juga antar bangsa, alhamdulilah.
Dan dia telah menurunkan orang yang sangat briliant serta mudah-mudahan
Allah selalu mengabulkan segala apa yang di azam juga dicita-citakan
oleh Syaykh al-Ma’had al-Zaytun, sehingga dunia ini kelak akan terbukti
dan menjadi apa yang dikatakannya aman tentram gemah ripah lohji nawi /
baldatun toyibun gopurur rohim amin ya robul alamin.
Ayi Purnama, DKI Jakarta
ayi.purnama@indika.co.id
Bravo JIL
Saya cukup apresiatif dengan ide-ide yang diusung oleh JIL (Jaringan
Islam Liberal). Terutama ide tentang pemaknaan kembali konsep jihad
dalam Islam dan juga reinterpretasi terhadap ayat-ayat yang secara
tekstual dipahami oleh kaum salaf secara misoginis. Bravo JIL!
Nasrulloh, DKI Jakarta
arul_rul@yahoo.com
Kompensasi, Bodohi Rakyat
Kenaikan BBM adalah langkah yang tidak bisa dihindari dengan naiknya
harga minyak dunia. Tapi memberikan subsisi langsung kepada rakyat
adalah langkah yang salah. Juga subsidi itu tidak sebanding dengan
harga-harga kebutuhan lain yang juga ikut naik. Jadi hal itu adalah
percuma dan sama sekali tidak mengurangi penderitaan rakyat, malah
memperburuknya.
Seharusnya pemerintah menyubsidi transportasi untuk angkutan penumpang
dan barang. Karena di situlah akar permasalahannya. Selama ini
pemerintah mengganggap bahwa penikmat terbesar dari subsidi BBM adalah
hanya orang-orang kaya karena mereka banyak memakai mobil mewah
seenaknya, satu anggota keluarga satu mobil. Jika demikian adanya,
seharusnya pemerintah sadar bahwa transportasilah yang harus
ditanggulangi. Bahwa untuk angkutan itu pemerintah dan lembaga
non-profit yang menanganinya.
Seharusnya pemerintah lebih bijak dan lebih cermat juga dalam memilih
mana yang seharusnya disubsidi. Dengan melakukan subsidi kepada rakyat
langsung itu ibarat mengiming-imingi lolypop kepada anak kecil. Untuk
membekap mulut mereka. Hal yang demikian itu seperti membodohi rakyat
kecil.
Wahai Pak Presiden dan Wakil Presiden serta para pemimpin lainnya,
dengarkanlah suara hati rakyat yang sebenarnya. Cobalah untuk benar
turun menjadi salah seorang rakyat, maka kalian akan tahu apa yang
sebenarnya sedang terjadi di bawah sini.
Antris, Jawa Barat
vegasuz2005@yahoo.com
Prabowo, Pertahankan Kiani!
Saya ingin bertanya kepada Pak Prabowo Soebijanto mengenai rencana
beliau menjual PT. Kiani Kertas. Menurut saya sebisa mungkin
dipertahankan, jangan dijual karena aset yang dimiliki PT Kiani sangat
besar. Jadi jangan sampai jatuh ke tangan pihak asing.
Agung Budi Hatmoko, DKI Jakarta
abhe_25@mmui.edu
Pengagum AAU
Salam Dirgantara. Saya seorang mahasiswa D3 Manajemen Informatika
Politeknik Negeri Jember, semester III. Saya pengagum Akademi Angkatan
Udara. Saya ingin tanya: apakah lulusan D3 Perguruan Tinggi bisa ikut
menjadi anggota Akademi Angkatan Udara. Dan bagaimana caranya kita
registrasi untuk calon anggota. Berapa besar biaya untuk pendidikannya.
Berapa tahun lama pendidikannya. Apabila ada, kapan brosur pendaftaran
beredar. Yang saya ragu mulai dahulu, apakah setelah pendidikan,
penempatan lulusan hanya di official AAU atau gimana syarat ingin
menjadi salah satu wingman di AAU. Because my future is only be pilot of
an aircraft in Indonesian Air Force. Please answer my question in this
session. Thanks to Indonesian Air Force.
Wahyu Eko Pribadi, Jawa Timur
TJibril@plasa.com
Promosi Pariwisata
Tulisan ini saya tujukan kepada Bapak Menteri Pariwisata dan Kebudayaan,
Bapak Ir. Jero Wacik, SE. Tempat pariwisata dan kebudayaan yang ada di
Indonesia sangatlah banyak dan beraneka ragam. Satu hal yang kita tidak
punya yaitu kurangnya (sama sekali tidak ada) promosi pariwisata dan
kebudayaan kita di negara lain. Sebagai contoh: Saya baru saja pulang
berkunjung dari Bangkok dan Laos, dan saya melihat begitu banyak promosi
pariwisata tentang Malaysia dan Singapore di media cetak maupun di tv.
Sedih rasanya kalau Indonesia (sebagai negara yang mempunyai banyak
tempat pariwisata dan beraneka ragam kebudayaan) tidak dipromosikan di
negara lain. Bahkan Malaysia sudah mempromosikan pariwisata dan
kebudayaan mereka di Amerika maupun di Eropa melalui Televisi yaitu
berupa iklan di tv dan di majalah. Saya berharap suatu saat nanti
Indonesia bisa mempromosikan tempat-tempat pariwisata dan
kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia di manca negara.
Welly Irawan, Jawa Timur
bnwi6673@yahoo.com
Bom Bali Meledak (BBM)
Ini salah siapa? Ini yang biasa dilontarkan pejabat negeri ini. Naif
memang dalam kurun waktu 7 tahun tepatnya mulai reformasi 1998, sudah
berkali-kali terjadi peledakan BOM. Ini menunjukan bahwa belum
terciptanya sistem sebagaimana zaman Suharto antara eksekutif dan
yudikatif bisa bekerjasama.
Kita acungkan jempol kepada kepolisian yang telah mengidentifikasi
pelaku secara cepat. Tetapi pencegahan sebelum terjadinya bom meledak
belum bisa dideteksi. Ini sebetulnya bukan masalah lemahnya inteljen RI,
tetapi condong kepada kewenangan cegah dan tangkal. Mungkin kalau
intelijen kita dikasih kewenangan penuh, hal ini tidak terjadi. Tetapi
konsekuensinya apabila salah tangkap harus berani minta maaf dan ada
ganti ruginya paling tidak mengembalikan nama baiknya.
Sunarso, Jawa Tengah
narso68@plasa.com
Oh Indonesiaku!
Indonesia oh Indonesiaku!
Betapa hinanya dirimu
Kini hutangmu banyak
Walaupun kamu kaya
itu semua bukan milikmu
Semua bangsa ingin merebutmu
Demi kejayaan mereka
Adakah orang yang bisa
mengembalikan semua itu?
Karim Amarullah, Banten
karim_a9@plasa.com
Laurence Manullang
Membaca interview Anda dengan Pak Laurence Manullang dari pengalaman dan
pandangannya mengenai korupsi dan pendidikan tinggi sangat mengharukan.
Tapi yang menjadi pertanyaan kenapa putera bangsa yang begitu brilliant
tidak digunakan oleh negara untuk membantu mengangkat martabat negara
ini? Misalnya, dalam pemberantasan korupsi dan atau meningkatkan
integritas SDM Indonesia yang semakin hari semakin terpuruk?
Lenna Sentosa, Banten
ls@yahoo.com
Teleconference dan Ulah JK
Loh kok diributkan teleconference? Jangankan negara yang begitu besar,
sedangkan perusahaan pun sering menggunakan fasilitas teknologi ini
untuk mempercepat komunikasi. Juga menghindari ulah Wakil Presiden yang
ringan tangan untuk mengambil keputusan mendahului bossnya, presiden.
Maka jalan satu-satunya ialah dengan memimpin dengan cara terbuka, agar
rakyat bisa membentengi Presiden sebagai pemegang kedaulatan rakyat
adalah yang harus mengambil keputusan bukan Wakil Presiden. Dengan
sistim terbuka ini, JK otomatis disadarkan bukan dia pemegang mandat
rakyat tapi presiden. Dan dia harus diawasi oleh rakyat langsung jangan
bertindak nyerempet-nyerempet bahaya, khususnya pada saat Presiden
mengadakan perjalanan keluar negeri.
Budidharma, DKI Jakarta
budi@yahoo.com |
|
|
|