MAJALAH TOKOH INDONESIA 15
Toleransi
Bangsa ini, hari-hari ini menginjakkan kaki ke tahun ke-60 sejak
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sudah banyak pengalaman yang
dikecap dengan berbagai suka dan tantangannya. Salah satu tantangan yang
sering menimbulkan kepiluan dan keprihatinan adalah masih sering
terjadinya konflik antaretnis terutama antar penganut agama yang berbeda.
Founding fathers bangsa ini sesungguhnya sudah mewariskan nilai-nilai
pluralisme yang sepatutnya dianut oleh segenap lapisan anak bangsa ini,
yang mereka simbolkan dalam kata Bhinneka Tunggal Ika. Namun sering kali
beberapa anak bangsa ini, bahkan para elitnya, tak sungguh-sungguh dalam
sikap-tindak nyata mengejawantahkan nilai pluralisme
kebhinekatunggalikaan itu.
Media ini (web site dan majalah Tokoh Indonesia), sebagai sebuah
institusi yang masih sangat kecil, berupaya berperan menjadi pelayan
informasi bagi publik dengan komitmen kuat atas pluralisme bangsa ini.
Metode penulisan yang ingin kami terapkan adalah narasi subjektif
berkualitas. Mungkin agak aneh kedengarannya, sebab mungkin saja belum
ditemukan dalam teori jurnalistik.
Dalam metode itu, kami menempatkan diri sebagai awam yang berupaya
menulis biografi-profil seorang tokoh sesuai visi tokoh yang
bersangkutan secara naratif. Dengan demikian kami berharap akan mampu
mempresentasikan setiap kebenaran yang dimiliki setiap orang, yang pasti
tidak selamanya sesuai dengan kebenaran yang diyakini orang lain, juga
kami. Dalam posisi ini, media ini dapat menempatkan diri independen dan
menjadi sahabat yang berguna bagi setiap orang.
Pada edisi ini, pertama kali kami menyajikan reportase sebuah nilai
damai dan toleransi, yang dipraktekkan, diproduksi, secara nyata dan
jelas (tidak sekadar diwacanakan). Ada sebuah event spektakuler, yang
nyaris luput dari liputan media massa negeri ini. Event toleransi
antarumat beragama itu berlangsung di Ma’had Al-Zaytun (yang di mata
beberapa orang, Ponpes ini dicurigai). Namun, kami menemukan pancaran
cahaya damai dan toleransi meluncur dari Ponpes modern ini.
Ponpes ini menyambut meriah kunjungan 200-an jemaat Gereja Kristen
Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Koinonia, Jakarta. Rupanya
saling berkunjung dan memberi sudah mereka lakukan sebelumnya. Adalah
Syaykh AS Panji Gumilang, pimpinan Ma’had Al-Zaytun yang memulainya
dengan mengirim kartu ucapan Selamat Natal 2003 bagi beberapa pimpinan
gereja dan jemaatnya. Kartu Natal itu, oleh Pendeta Rudolf Tendean, tak
hanya dibalas dengan kartu ucapan terimakasih sebagaimana lazimnya. Tapi
membuka komunikasi langsung dan mengirim utusan menyambut pesan damai
dan toleransi yang diluncurkan Syaykh Panji Gumilang tersebut. Kedua
tokoh ini kami tampilkan sebagai Tokoh utama pada edisi ini.
Redaksi ► e-ti
MAJALAH TOKOH INDONESIA
►24 ►23 ►22 ►21 ►20 ►19
►18 ►17 ►16
►15
►14
►13
►12
►11
►10
►09
►08
►07
►06
►05
►04
►03
►02
►01
|