|
MAJALAH TOKOH INDONESIA 12 Adu Janji Para Capres-Cawapres
Bunyi judul di atas tidaklah sesungguhnya tepat untuk menggambarkan
betapa inginnya anak-anak bangsa menjadi nomor satu di republik. Selain
hanya hiperbola mereka bukanlah bintang iklan. Kemunculannya
“membintangi” iklan presiden tak lebih karena sosok mereka dibutuhkan
hadir mengisi segenap ruang dan waktu pemilih pada 5 Juli dan/atau 20
September 2004. Repetisi atau pengulangan berpengaruh kuat terhadap
persepsi pemilih. Sebagaimana bunyi ilmu komunikasi, kekuatan pokok
propaganda terletak pada repetisi atau pengulangan.
Karenanya menarik mengamati apa saja janji-janji yang diusung para
kandidat. Janji itu secara kuantitatif bisa sedikit bisa banyak sebab
derivatifnya bisa sangat panjang. Seperti tergambar pada judul artikel
setiap kandidat, pasangan Wiranto-Wahid mengusung angka 5, Mega-Hamzah
angka 5, Amien-Siswono angka 17, SBY-JK angka 3, dan Hamzah-Agum angka 3
saja.
Secara kualitatif janji-janji itu sangat bagus tanpa cela. Secara
normatif telah menyentuh seluruh unsur kebutuhan masyarakat, bangsa, dan
negara. Tidak ada ekstrimitas yang memungkinkan terjadi pembelokan arah
tujuan berbangsa dan bernegara sesuai janji luhur para pendiri Republik
Indonesia. Sangat terasa siapapun terpilih pasti akan membawa
kesejahteraan yang lebih baik. Sebuah proses pembelajaran yang sangat
baik.
Yang memberikan nuansa berbeda barangkali siapa yang membuat dan apa
latar belakangnya. Seperti, pada janji Wiranto-Wahid sentuhan si “Lion
Heart” Jenderal Wiranto yang mantan Panglima ABRI lebih dominan walau
tetap terasa ada sentuhan Kyai Salahuddin Wahid. Pada janji Mega-Hasyim
hasil olah pikir para cendekiawan nasionalis yang tergabung dalam Mega
Center lebih mencuat muncul menjadi rekomendasi, diikuti upaya penguatan
kaum nahdliyin dari para kyai bawaan Hasyim Muzadi.
Pada janji Amien-Siswono muatan Amien Rais berlatar Islam modernis dari
Muhammadiyah seimbang dengan muatan Siswono Yudo Husodo seorang
nasionalis dan enterpreneur sukses serta mantan pejabat yang sudah
teruji bersih KKN. Keduanya menyebut diri “dwitunggal” sepadan setara.
Pada janji SBY-JK sentuhan SBY yang mantan militer pemikir masih terasa
yang lalu dipadukan dengan pengalaman JK di bidang kesejahteraan sosial,
budaya, agama, dan dunia usaha, serta ditambah pembobotan dari Prof. Dr.
Irzan Tandjung seorang guru besar ekonomi yang seakan ikut memberi
pembenaran akademis pada indikator-indikator ekonomi yang hendak dituju.
Pada janji Hamzah-Agum secara kuantitatif peran Hamzah Haz yang politisi
kawakan begitu dominan, namun secara kualitatif sentuhan yang diberikan
Agum Gumelar yang mantan Danjen Kopassus, Gubernur Lemhannas, dan kini
Ketua IKAL membuatnya sarat makna.
Jika tanpa rekayasa dan permainan kotor pada pra, saat, dan pasca Pemilu
5 Juli 2004 niscaya hasil Pemilu akan menunjukkan isi hati nurani rakyat
yang sesungguhnya. Dan jika itu benar, maka, suara rakyat layaklah
disebut sebagai suara Tuhan. Karenanya, kepada para kandidat layak untuk
diingatkan, bahwa “Tuhan turut bekerja dalam segala perkara”.
Jika hendak dicari rujukan akademis maka apa kata Prof. Dr. Yohannes
Surya, Ph.D dekan Fakultas Sains dan Matematika UPH Karawaci, Tangerang,
tentang gagasan “pengaturan diri sendiri” sangat tepat sekali. Bermula
dari fenomena tumpukan pasir, yang sesudah mencapai ketinggian dan
kemiringan tertentu jika pasir masih ditambahkan dari atas maka akan
turun ke bawah dengan berusaha mengatur dirinya sendiri sehingga
kemiringan tumpukan pasir akan tetap dan selalu sama, tidak berubah
dengan kemiringan yang sebelumnya sudah terbentuk.
Di situ, ada semacam pengaturan di alam bahwa setelah mencapai keadaan
kritis suatu sistem akan mengatur diri sendiri, mengikuti hukum pangkat
yang jika divisualkan beberapa elemen punya nilai tinggi tetapi bagian
terbanyak dari elemen di dalam sistem mendadak bernilai kecil. Hasil
Pemilu 5 April 2004 telah membuktikan fenomena pasir. Enam tahun proses
reformasi khususnya tiga tahun terakhir pemerintahan Megawati praktis
telah membawa bangsa keluar dari badai multikrisis. Bangsa telah
berhasil mengatur diri sendiri.
Sehingga, jika tanpa rekayasa, permainan kotor, tidak didesain goncangan
hebat, maka Pemilu 5 Juli 2004 akan mengikuti kemiringan pasir. Rakyat
akan mengatur dirinya sendiri. ► e-ti/Haposan Tampubolon
|