MAJALAH TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  MAJALAH TI
 ► Index MTI
 ► Volume 12
 ► Volume 11
 ► Volume 10
 ► Volume 09
 ► Volume 08
 ► Volume 07
 ► Volume 06
 ► Volume 05
 ► Volume 04
 ► Volume 03
 ► Volume 02
 ► Volume 01
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah Biografi
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 


 
DEPTHNEWS  
 
   

MAJALAH TOKOH INDONESIA 12

 

Adu Janji Para Capres-Cawapres


Bunyi judul di atas tidaklah sesungguhnya tepat untuk menggambarkan betapa inginnya anak-anak bangsa menjadi nomor satu di republik. Selain hanya hiperbola mereka bukanlah bintang iklan. Kemunculannya “membintangi” iklan presiden tak lebih karena sosok mereka dibutuhkan hadir mengisi segenap ruang dan waktu pemilih pada 5 Juli dan/atau 20 September 2004. Repetisi atau pengulangan berpengaruh kuat terhadap persepsi pemilih. Sebagaimana bunyi ilmu komunikasi, kekuatan pokok propaganda terletak pada repetisi atau pengulangan.


Karenanya menarik mengamati apa saja janji-janji yang diusung para kandidat. Janji itu secara kuantitatif bisa sedikit bisa banyak sebab derivatifnya bisa sangat panjang. Seperti tergambar pada judul artikel setiap kandidat, pasangan Wiranto-Wahid mengusung angka 5, Mega-Hamzah angka 5, Amien-Siswono angka 17, SBY-JK angka 3, dan Hamzah-Agum angka 3 saja.


Secara kualitatif janji-janji itu sangat bagus tanpa cela. Secara normatif telah menyentuh seluruh unsur kebutuhan masyarakat, bangsa, dan negara. Tidak ada ekstrimitas yang memungkinkan terjadi pembelokan arah tujuan berbangsa dan bernegara sesuai janji luhur para pendiri Republik Indonesia. Sangat terasa siapapun terpilih pasti akan membawa kesejahteraan yang lebih baik. Sebuah proses pembelajaran yang sangat baik.


Yang memberikan nuansa berbeda barangkali siapa yang membuat dan apa latar belakangnya. Seperti, pada janji Wiranto-Wahid sentuhan si “Lion Heart” Jenderal Wiranto yang mantan Panglima ABRI lebih dominan walau tetap terasa ada sentuhan Kyai Salahuddin Wahid. Pada janji Mega-Hasyim hasil olah pikir para cendekiawan nasionalis yang tergabung dalam Mega Center lebih mencuat muncul menjadi rekomendasi, diikuti upaya penguatan kaum nahdliyin dari para kyai bawaan Hasyim Muzadi.


Pada janji Amien-Siswono muatan Amien Rais berlatar Islam modernis dari Muhammadiyah seimbang dengan muatan Siswono Yudo Husodo seorang nasionalis dan enterpreneur sukses serta mantan pejabat yang sudah teruji bersih KKN. Keduanya menyebut diri “dwitunggal” sepadan setara.


Pada janji SBY-JK sentuhan SBY yang mantan militer pemikir masih terasa yang lalu dipadukan dengan pengalaman JK di bidang kesejahteraan sosial, budaya, agama, dan dunia usaha, serta ditambah pembobotan dari Prof. Dr. Irzan Tandjung seorang guru besar ekonomi yang seakan ikut memberi pembenaran akademis pada indikator-indikator ekonomi yang hendak dituju.
Pada janji Hamzah-Agum secara kuantitatif peran Hamzah Haz yang politisi kawakan begitu dominan, namun secara kualitatif sentuhan yang diberikan Agum Gumelar yang mantan Danjen Kopassus, Gubernur Lemhannas, dan kini Ketua IKAL membuatnya sarat makna.


Jika tanpa rekayasa dan permainan kotor pada pra, saat, dan pasca Pemilu 5 Juli 2004 niscaya hasil Pemilu akan menunjukkan isi hati nurani rakyat yang sesungguhnya. Dan jika itu benar, maka, suara rakyat layaklah disebut sebagai suara Tuhan. Karenanya, kepada para kandidat layak untuk diingatkan, bahwa “Tuhan turut bekerja dalam segala perkara”.


Jika hendak dicari rujukan akademis maka apa kata Prof. Dr. Yohannes Surya, Ph.D dekan Fakultas Sains dan Matematika UPH Karawaci, Tangerang, tentang gagasan “pengaturan diri sendiri” sangat tepat sekali. Bermula dari fenomena tumpukan pasir, yang sesudah mencapai ketinggian dan kemiringan tertentu jika pasir masih ditambahkan dari atas maka akan turun ke bawah dengan berusaha mengatur dirinya sendiri sehingga kemiringan tumpukan pasir akan tetap dan selalu sama, tidak berubah dengan kemiringan yang sebelumnya sudah terbentuk.


Di situ, ada semacam pengaturan di alam bahwa setelah mencapai keadaan kritis suatu sistem akan mengatur diri sendiri, mengikuti hukum pangkat yang jika divisualkan beberapa elemen punya nilai tinggi tetapi bagian terbanyak dari elemen di dalam sistem mendadak bernilai kecil. Hasil Pemilu 5 April 2004 telah membuktikan fenomena pasir. Enam tahun proses reformasi khususnya tiga tahun terakhir pemerintahan Megawati praktis telah membawa bangsa keluar dari badai multikrisis. Bangsa telah berhasil mengatur diri sendiri.


Sehingga, jika tanpa rekayasa, permainan kotor, tidak didesain goncangan hebat, maka Pemilu 5 Juli 2004 akan mengikuti kemiringan pasir. Rakyat akan mengatur dirinya sendiri. ► e-ti/Haposan Tampubolon

     

MTI 12

Majalah Tokoh Indonesia 12

►TOKOH UTAMA: Zaenal Soedjais, CEO Bermata Elang = Bangun Komunitas Masyarakat Baru = Kiat Kendalikan “Si Jumbo” Pusri ►DEPTHNEWS: Adu Janji Para Capres-Cawapres = Wiranto Wahid = Mega-Hasyim = Amien Siswono = Susilo-Kalla = Hamazah-Agum ►TOKOH PILIHAN: Franz Magnis-Suseno SJ ►SELEBRITI = Deddy Mizwar ►KAPUR SIRIH: Sang Pemimpin Bangsa ►SURAT: Panji Gumilang dst.

 

 

 
Copyright © 025021 - 2002-2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero