Koalisi Anti Mega
Sejumlah tokoh partai politik peserta pemilu telah mulai kasak-
kusuk, berkumpul dan berdiskusi soal kemungkinan koalisi dalam mengajukan
pasangan calon presiden (Capres) dan calon wakil presiden (Cawapres).
Salah satu pertemuan itu berlangsung di Hotel Nikko, Jakarta.
Mereka, selain membicarakan pembentukan crisis centre untuk
mengumpulkan fakta seputar pelaksanaan dan penghitungan suara pemilu, juga
membicarakan pembentukan aliansi politik besar yang diharapkan pada
akhirnya akan mengusung satu nama calon presiden (capres).
Suasana emosional pertemuan yang tidak dihadiri tokoh politik PDI-P itu
tergambar pada teriakan “Hadang Mega-Akbar” yang disambut tepuk tangan
para peserta. Tampaknya sinyalemen akan terbentuknya koalisi hadang Mega
mulai menggejala.
Gus Dur dan Wiranto hadir dalam pertemuan itu. Gus Dur sendiri sudah
beberapa kali mengatakan tidak akan berkoalisi dengan tokoh partai politik
yang menggulingkannya, termasuk dengan Megawati. Sementara Wiranto,
peserta konvensi capres Partai Golkar, berulangkali mengatakan tidak
bersedia menjadi wapres. Namun Wiranto tidak menyebut pertemuan itu upaya
penghadangan Mega-Akbar. Ia hanya bilang, baik saja kalau tokoh politik
kumpul daripada rusuh.
Wakil Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Mahfud MD mengatakan
dalam politik wajar berkoalisi menghadapi kekuatan besar yang tidak beres.
Ia mempersilakan pers menyebut itu aliansi anti Mega.
Manuver politik PKB menggalang partai-partai yang memperoleh suara lebih
kecil dari PKB memang terasa intens setelah Pemilu 5 April 2004. Gus Dur
yang menjadi capres PKB sangat aktif menemui dan berkumpul dengan
tokoh-tokoh politik itu. Ia bahkan sudah beberapa kali bertemu Capres dari
Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Begitu juga dengan mantan
Panglima TNI Jenderal (Purn) Wiranto.
Aliansi anti Mega tampaknya sengaja diciptakan untuk menggalang kekuatan
dari partai-partai berbasis Islam dan partai-partai nasionalis yang
berseberangan dengan PDI-P seperti Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK)
dan Partai Pelopor. Namun diperkirakan aliansi ini akan sulit menentukan
Capres.
Dari beberapa tokoh partai yang aktif kumpul-kumpul itu masing-masing
menjagokan tokoh partainya menjadi Capres. Gus Dur jadi capres, SBY jadi
capres, Wiranto (kendati tak bisa disebut mewakili Partai Golkar) hanya
ingin jadi presiden. Begitu pula tokoh partai lainnya. Hanya Hidayat Nur
Wahid dari PKS yang menyatakan tidak akan mencalonkan tokohnya bersaing
merebut kursi presiden bila suara Pemilu legislatif PKS tidak mencapai
20%.
Sehingga diperkirakan koalisi ini tidak akan mencapai hasil memajukan satu
pasangan Capres-Cawapres saja. SBY diperkirakan akan maju sebagai Capres.
Gus Dur juga akan tetap maju kecuali dihadang ketentuan kesehatan oleh KPU.
Wiranto yang harus lebih dulu berjuang di konvensi Partai Golkar juga
tidak mungkin mau menelan ludah sendiri. Ia akan bersikukuh hanya sebagai
Capres, bukan Cawapres. Bahkan bisa saja kemungkinan Wiranto, kendati
gagal di Konvensi Partai Golkar, akan dicalonkan beberapa partai Islam.
Sementara itu, Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Amien Rais diperkirakan
juga akan tetap maju sebagai Capres kendati partainya tidak memenuhi
target tiga besar pemenang Pemilu. Partai Golkar juga akan menjagokan
kadernya menjadi Capres (Akbar Tandjung, Surya Paloh, Jusuf Kalla, Wiranto,
Aburizal Bakrie dan Prabowo Subiakto).
Dengan demikian akan muncul beberapa pasangan Capres-Cawapres. Bahkan
beberapa partai yang memperoleh suara kurang dari tiga persen juga akan
bergabung mencalonkan Capres independen seperti Siswono Yudo Husodo dan
Nurcholis Madjid, yang justru bisa menjadi kuda hitam. ► e-ti
Politisi Tolak Hasil Pemilu
Adnan Buyung Nasution dan Abdurrahman Wahid yang mengaku sebagai juru
bicara Aliansi 19 Partai Politik untuk Keselamatan Bangsa, kepada wartawan
seusai pertemuan aliansi itu di Jakarta, Sabtu (10/4/2004) menyatakan
menolak hasil Pemilu 2004 dan meminta diadakan Pemilu ulang. Alasannya,
sudah banyak bukti pelanggaran dan kecurangan yang dapat dikumpulkan sejak
proses awal pemilu hingga penghitungan hasil pemilu.
Pernyataan ini mengejutkan dan mendapat reaksi. Beberapa tokoh agama,
tokoh parpol, anggota KPU dan LSM menyesalkan pernyataan itu yang dianggap
terlalu prematur dan tidak menghargai pilihan rakyat. Bahkan, beberapa
pengurus parpol yang disebut-sebut ikut dalam aliansi itu menyatakan tidak
tahu-menahu soal penolakan hasil pemilu tersebut.
Menurut Buyung Nasution, Aliansi 19 Parpol yang menolak hasil pemilu itu
didasarkan persetujuan pada pertemuan sebelumnya. Ke-19 parpol itu adalah
Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), Partai
Keadilan Dan Persatuan Indonesia (PKPI), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB),
Partai Merdeka, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan
Pembangunan (PPP), Partai Sarikat Indonesia (PSI), Partai Nasional Banteng
Kemerdekaan (PNBK), Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB), Partai
Pelopor, Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD), Partai Bintang Reformasi (PBR),
Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI), Partai Demokrat, PNI
Marhaenisme, Partai Patriot, Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (Partai
PDK), dan Partai Damai Sejahtera (PDS).
Buyung mengatakan keputusan itu diambil setelah memperhatikan semua faktor.
Dia bilang aliansi akan menyiapkan bukti-bukti pelanggaran yang sudah
dikumpulkan. Sementara, Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur
mengatakan, tuntutan ini muncul karena tidak profesionalnya KPU. Menurut
Gus Dur, KPU seperti sengaja membiarkan diri menjadi ajang bagi parpol
besar untuk tetap berkuasa. Menurutnya, ini keteledoran dan kesombongan
KPU membiarkan dirinya menjadi ajang dua partai berkuasa untuk memelihara
status quo-nya. *e-ti
|
|
Forum Rektor
Nilai Pemilu Sukses
Forum Rektor, menilai proses pemilu pada 5 April berjalan memuaskan dan
transparan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 dan diikuti
dengan antusiasme masyarakat. Pernyataan bertajuk “Opini Forum Rektor
Tentang Pelaksanaan Pemilu 2004” itu disampaikan Ketua Forum Rektor Marlis
Rahman kepada wartawan hari Sabtu (10/4/04) di Jakarta.
Rektor Universitas Andalas Padang itu mengatakan penilaian itu didasari
dari pantauan 152.000 relawannya yang disebar di 76.000 tempat pemungutan
suara (TPS) di seluruh Indonesia. Namun, pihaknya tidak menutup mata
tentang beberapa kekurangan dan pelanggaran.
Namun, menurutnya, jumlah
kasusnya terlalu kecil sehingga tidak lantas membuat pemilu menjadi tidak
sah.
Forum Rektor juga menyoroti kompleksitas sistem Pemilu 2004 dan
sentralistik atas pengadaan logistik. Kompleksnya sistem Pemilu telah
mengakibatkan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dan para
pemilih mengalami kesulitan sehingga berdampak pada proses pendidikan
politik 147 juta pemilih. Sementara kebijakan Komisi Pemilihan Umum yang
sentralistik atas pengadaan logistik juga berdampak pada pelaksanaan
pemilu,
terutama kelambatan dan kekeliruan distribusi logistik. * e-ti
|
|