|
|
 |

Nama :
KH Zainuddin Muhammad Zein (M.Z.)
Lahir :
Jakarta, 2 Maret 1951
Agama:
Islam
Pendidikan :
S1 IAIN Syarif Hidayatullah
Dr Hc Universitas Kebangsaan Malaysia
Istri :
Hj Kholilah
Putra Putri :
1. Fikri Haikal M.Z.
2. Lutfi M.Z.
3. Kiki M.Z.
4. Zaki M.Z.
Ayah:
Turmudzi
Ibu:
Zainabun
Organisasi
Ketua Umum DPP PPP Reformasi
Alamat :
Jl Gandaria Gg Haji Aom No.101 Kb Baru, Jaksel
|
|
KH Zainuddin MZ
Dai Bintang Reformasi
Dai kondang sejuta ummat, KH Zainuddin MZ, telah memilih jadi politikus. Ia
masuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP) karena penasaran mengapa partai
berbasis Islam tidak memenangkan pemilu. Namun, tampaknya ia tak betah
berlama-lama di PPP. Ia bersama rekan-rekannya mendeklarasikan PPP
Reformasi pada 20 Januari 2002 yang kemudian berubah nama menjadi Partai
Bintang Reformasi dalam Muktamar Luar Biasa pada 8-9 April 2003 di
Jakarta. Ia juga secara resmi ditetapkan sebagai calon presiden oleh
partai ini. Peluangnya sama terbuka dengan kandidat lainnya untuk
menduduki kursi RI-1.
Menurutnya, Partai Bintang Reformasi )PBR) ini adalah partai baru, bukan
pecahan PPP, dan bukan pula PPP jilid dua. Partai ini bertekad menjadi
smiling party, partai berwajah murah senyum. Selayaknya bayi yang baru
dilahirkan, PBR menyatakan diri tidak memiliki rasa dendam politik dan
dosa masa lalu.
Anak tunggal buah cinta pasangan Turmudzi dan Zainabun dari keluarga
Betawi asli ini sejak kecil memang sudah nampak mahir berpidato. Udin -
nama panggilan keluarganya - suka naik ke atas meja untuk berpidato di
depan tamu yang berkunjung ke rumah kakeknya. ‘Kenakalan’ berpidatonya itu
tersalurkan ketika mulai masuk Madrasah Tsanawiyah hingga tamat Aliyah di
Darul Ma’arif, Jakarta. Di sekolah ini Udin belajar pidato dalam forum
Ta’limul Muhadharah (belajar berpidato). Kebiasaannya membanyol dan
mendongeng terus berkembang. Setiap kali tampil, ia memukau teman-temannya.
Kemampuannya itu terus terasah, berbarengan permintaan ceramah yang terus
mengalir.
Pada masa kekuasaan dan pemerintahan Orde Baru, da’i kelahiran Betawi, 2
Maret 1951 ini da’wahnya menjadi menarik karena mampu menembus berbagai
sektor, kalangan, dan golongan. Karena ceramahnya sering dihadiri puluhan
ribu ummat, maka tak salah kalau pers menjulukinya ‘Da’i Berjuta Umat’.
Namanya semakin semakin dikenal masyarakat ketika ceramahnya mulai
memasuki dunia rekaman. Kasetnya beredar bukan saja di seluruh pelosok
Nusantara, tapi juga ke beberapa negara Asia. Sejak itu, da’i yang punya
hobi mendengarkan lagu-lagu dangdut ini mulai dilirik oleh beberapa
stasiun televisi. Bahkan dikontrak oleh sebuah biro perjalanan haji yang
bekerjasama dengan televisi swasta bersafari bersama artis ke berbagai
daerah yang disebut ‘Nada dan Da’wah.
Kepiawaian ceramahnya mengantarkan Zainuddin ke dunia politik. Pada tahun
1977-1982 ia bergabung dengan partai berlambang Ka’bah (PPP). Jabatannya
pun bertambah, selain da’i juga sebagai politikus.
Sebelum masuk DPP, dia sudah menjadi pengurus aktif PPP, yakni menjadi
anggota dewan penasihat DPW DKI Jakarta. Lebih jauh lagi, berkat
kelihaiannya mengomunikasikan ajaran agama dengan gaya tutur yang luwes,
sederhana, dan dibumbui humor segar, partai yang merupakan fusi beberapa
partai Islam itu jauh-jauh hari (sejak Pemilu 1977) sudah memanfaatkannya
sebagai vote-getter.
Bersama Raja Dangdut H Rhoma Irama, dia berkeliling berbagai wilayah
mengampanyekan partai yang saat itu bergambar Ka’bah - sebelum berganti
gambar bintang. Hasil yang diperoleh sangat signifikan dan mempengaruhi
dominasi Golkar. Tak ayal, kondisi itu membuat penguasa Orde Baru waswas.
“Akibatnya, kita dapat teror. Saat itu ganas-ganasnya Golkar,” tuturnya.
Totalitas Zainuddin buat PPP bisa dirunut dari latar belakangnya. Pertama,
secara kultural dia warga nahdliyin, atau menjadi bagian dari keluarga
besar NU. Dengan posisinya tersebut, dia ingin memperjuangkan NU yang saat
itu menjadi bagian dari fusi PPP yang dipaksakan Orde Baru pada 5 Januari
1971. Untuk diketahui, ormas lain yang menjadi bagian fusi itu, antara
lain, Muslimin Indonesia (MI), Perti, dan PSII.
Selain itu, keterlibatannya dalam PPP tidak bisa dilepaskan dari guru
ngajinya, KH Idham Chalid. Sebab, gurunya yang pernah jadi ketua umum PB
NU itu salah seorang deklarator PPP. Dia mengaku lama nyantri di Ponpes
Idham Khalid yang berada di bilangan Cipete, yang belakangan identik
sebagai kubu dalam NU.
Namun, tampaknya, itu sekadar cerita masa lalu. Harapan PPP untuk
memanfaatkan dai sejuta umat untuk mendongkrak perolehan suaranya (jadi
vote-getter) yang jeblok pada Pemilu 1999 justru menjadi persoalan baru.
Pasalnya, Zainuddin hengkang dari PPP dan mendeklerasikan PPP Reformasi
yang kemudian berubah nama menjadi Partai Bintang Reformasi dalam Muktamar
Luar Biasa pada 8-9 April 2003 di Jakarta.
Dengan ketokohan dan senioritasnya, kini Zainuddin tampil sebagai komandan
Partai Bintang Reformasi yang sebagian besar diisi kalangan muda PPP. Tapi,
dia menolak jika peran dominannya dinilai datang tiba-tiba. Sebab, katanya,
dia bukan orang baru di PPP. *Majalah Tokoh Indonesia ==>
BIOGRAFI
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|