| |
C © updated 04042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
rpr the jakarta post |
|
| |
Nama:
Prabowo Subianto
Lahir:
Jakarta, 17 Oktober 1951
Agama:
Islam
Pendidikan:
SMA: American School In London, U.K. (1969)
Akabri Darat Magelang (1970-1974)
Sekolah Staf Dan Komando TNI-AD
Kursus/Pelatihan:
Kursus Dasar Kecabangan Infanteri (1974)
Kursus Para Komando (1975)
Jump Master (1977)
Kursus Perwira Penyelidik (1977)
Free Fall (1981)
Counter Terorist Course Gsg-9 Germany (1981)
Special Forces Officer Course, Ft. Benning U.S.A. (1981)
Pekerjaan:
Perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (1974 – 1998)
Wiraswasta
Jabatan:
Komandan Peleton Para Komando Group-1 Kopassandha (1976)
Komandan Kompi Para Komando Group-1 Kopassandha (1977)
Wakil Komandan Detasemen–81 Kopassus (1983-1985)
Wakil Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 Kostrad (1985-1987)
Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 Kostrad (1987-1991)
Kepala Staf Brigade Infanteri Lintas Udara 17/Kujang I/Kostrad (1991-1993)
Komandan Group-3/Pusat Pendidikan Pasukan Khusus
(1993-1995)
Wakil Komandan Komando Pasukan Khusus (1994)
Komandan Komando Pasukan Khusus (1995-1996)
Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (1996-1998)
Panglima Komando Cadangan Strategi TNI Angkatan Darat (1998)
Komandan Sekolah Staf Dan Komando ABRI (1998)
|
|
| |
|
|
|
|
== 1
2
3 ==
Prabowo Subianto
Menapak Pemilu Presiden 2009
Pensiun dini dari dinas militer, Prabowo beralih menjadi pengusaha. Ia
mengabdi pada dua dunia. Kini, nama Mantan Pangkostrad dan Komjen Kopassus
ini kembali mencuat, menyusul keikutsertaannya dalam konvensi calon
presiden Partai Golkar. Putera begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo ini
ingin kembali ke ladang pengabdian negerinya. Namun diperkirakan targetnya
bukan meraih kursi presiden pada Pemilu 2004 ini. Melainkan sebuah garis
start untuk menapaki Pemilu Presiden 2009 nanti.
Diakui, keikutsertaannya dalam konvensi Partai Golkar bukan
dilatarbelakangi oleh hasrat, apalagi ambisi untuk berkuasa saat ini.
Seperti sering diucapkan, bahkan sejak masih aktif dalam dinas militer,
dirinya telah bersumpah hendak mengisi hidupnya untuk mengabdi kepada
bangsa dan rakyat Indonesia.
Prabowo sangat mafhum, menjadi capres – apalagi kemudian terpilih sebagai
presiden – bukan pilihan enak. Karena, siapa pun nanti yang dipilih rakyat
untuk memimpin republik niscaya bakal menghadapi tugas yang maha berat.
“Karenanya, Pemilu 2004 merupakan momentum yang sangat strategis untuk
memilih pemimpin bangsa yang tidak saja bertaqwa, tapi juga bermoral,
punya leadership kuat dan visi yang jelas untuk memperbaiki bangsa,”
tambahnya.
Jika dicermati, perjalanan hidup Prabowo memang penuh mozaik dan sarat
dengan cerita mengharu biru. Suatu perjalanan yang membuatnya lekat dengan
pujian, sekaligus cercaan. Sejarah mencatat, pengabdian 24 tahun Prabowo
dalam dinas militer tidak sekadar mengantarkannya menjadi jenderal
berbintang tiga. Namun, sekaligus meneguhkan reputasi pribadinya, hingga
tercatat sebagai salah seorang tokoh yang berperan dan menjadi saksi
penting dalam sejarah republik. Sebagai perwira TNI AD, reputasi alumnus
Akabri Magelang (1974) ini memang membanggakan. Karier militernya – yang
banyak diisi dengan penugasan di satuan tempur – terhitung lempang.
Pada masanya, Prabowo bahkan sempat dikenal sebagai the brightest star,
bintang paling bersinar di jajaran militer Indonesia. Dialah jenderal
termuda yang meraih tiga bintang pada usia 46 tahun. Ia juga dikenal
cerdas dan berpengaruh, seiring dengan penempatannya sebagai penyandang
tongkat komando di pos-pos strategis TNI AD.
Nama Prabowo mulai diperhitungkan, terutama sejak ia menjabat Komandan
Jenderal Kopassus (1996) dan aktif memelopori pemekaran satuan baret merah
itu. Dua tahun kemudian, ayah satu anak ini dipromosikan menjadi Panglima
Kostrad. Posisi strategis yang, sayangnya, tidak lebih dari dua bulan ia
tempati. Karier gemilang Prabowo memang kemudian meredup seketika. Sehari
setelah Presiden Soeharto, mundur dari kekuasaan, 21 Mei 1998, Prabowo –
yang ketika itu menantu Soeharto – ikut digusur. Ia dimutasikan menjadi
Komandan Sesko ABRI, sebelum akhirnya pensiun dini. Berbarengan dengan itu,
bintang di pentas militer itu lantas diberondong dengan aneka tudingan.
Mulai dari tudingan bahwa dialah dalang (mastermind) dari serangkaian aksi
penculikan para aktivis, penembakan mahasiswa Trisakti, penyulut kerusuhan
Mei 1998, hingga menerabas ke isu seputar klik dan intrik di kalangan
elite ABRI. Mulai dari tudingan adanya “pertemuan konspirasi” di Markas
Kostrad pada 14 Mei 1998, tuduhan hendak melakukan kudeta yang dikaitkan
dengan isu “pengepungan” kediaman Presiden B.J. Habibie oleh pasukan
Kostrad dan Kopassus, sampai ke pembeberan sifat-sifat pribadinya. Lebih
mengenaskan lagi, hampir semua kekacauan di tanah air sebelum dan sesudah
Mei 1998 nyaris selalu dipertautkan dengan Prabowo.
Setelah hiruk-pikuk 1998 berlalu, yang berujung dengan berakhirnya masa
dinas militernya, Prabowo kemudian terbang ke Inggris, sebelum bermukim di
Yordania. Dari sinilah, ia mulai merintis karier sebagai pengusaha.
Sebagai putra dari keluarga begawan ekonomi Prof. Dr. Sumitro
Djojohadikusumo, Prabowo sebenarnya tak terlalu asing dengan dunia usaha.
Apalagi, selain ayahnya, anggota keluarga yang lain umumnya juga menekuni
dunia bisnis.
Tak berbeda dengan di militer, karier Prabowo di dunia usaha pun melesat
cepat. Selain karena kesungguhan dan kerja keras, ia juga tergolong cepat
belajar. Kini, lima tahun setelah pensiun, ia telah memimpin armada bisnis
di bawah payung Nusantara Group. Wilayah usahanya terentang dari
Kalimantan Timur hingga Kazakhstan. Dari kelapa sawit, perikanan,
pertanian, bubur kertas (pulp) hingga minyak dan pertambangan. “Militer
dan bisnis sama saja. Sama-sama lahan untuk mengabdi, dan sama-sama banyak
tantangan yang mesti dihadapi,” tutur Prabowo, yang gigih menawar-kan
konsep ekonomi kerakyatan dalam visi-misinya sebagai capres Partai Golkar.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|