| |
C © updated 04042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Nurcholis Madjid
Lahir:
Jombang, Jawa Timur, 17 Maret 1939
Pendidikan
Pesantren Darul ‘ulum Rejoso, Jombang, Jawa Timur, 1955
Pesantren Darul Salam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur 1960
Institute Agama Islam Negeri (IAIN), syarif hassuyatullah, Jakarta, 1965
(BA, Sastra Arab)
Institute Agama Islam Negeri (IAIN), syarif hassuyatullah, Jakarta, 1968 (Doktorandus,
Sastra Arab)
The University of Chicago (Universitas Chicago), Chicago, Illinois, USA,
1984 (Ph.D, Studi Agama Islam)
Bidang yang diminati
Filsafah dan Pemikiran Islam, Reformasi Islam, Kebudayaan Islam, Politik
dan Agama
Sosiologi Agama, Politik negara-negara berkembang
Pekerjaan
Peneliti, Lembaga Penelitian Ekonomi dan Sosial (LEKNAS-LIPI),
Jakarta 1978-1984
Peneliti Senior, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta,
1984-sekarang
Dosen, Fakultas Pasca Sarjana, Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Syaruf
Hadayatullah, Jakarta 1985-sekarang
Rektor, Universitas Paramadina Mulya, Jakarta, 1998 – Sekarang |
|
| |
|
|
|
|
=
1
2
3
4
5 = Dr. Nurcholis Madjid
Cendekiawan Pengeras Suara
Nurcholis Madjid, yang populer dipanggil Cak Nur, itu
merupakan ikon pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Ia
cendekiawan muslim milik bangsa. Gagasan tentang pluralisme telah
menempatkannya sebagai intelektual muslim terdepan. Terlebih di saat
Indonesia sedang terjerumus di dalam berbagai kemorosotan dan ancaman
disintegrasi bangsa. Namanya semat mencuat sebagai kandidat terkuat
calon presiden Pemilu 2004.
Namun keputusannya sebagai Capres independen yang terlalu dini
menyatakan bersedia mengikuti Konvensi Calon Presiden Partai Golkar, dan
kemudian mengundurkan diri, telah memerosotkan peluangnya meraih kursi
RI-1 itu. Sebelumnya, cukup banyak partai yang ingin melamarnya menjadi
Capres. Namun selepas kesediaannya mengikuti konvensi Golkar itu,
lamaran itu menjadi surut. Ia tampaknya tersendat cukup sebagai Capres
pengeras suara, seperti pernah dikemukakannya.
Cak Nur lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga kiai terpandang di
Mojoanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 17 Maret 1939. Ayahnya, KH Abdul
Madjid, dikenal sebagai pendukung Masyumi. Setelah melewati pendidikan
di berbagai pesantren, termasuk Gontor, Ponorogo, menempuh studi
kesarjanaan IAIN Jakarta (1961-1968), tokoh HMI ini menjalani studi
doktoralnya di Universitas Chicago, Amerika Serikat (1978-1984), dengan
disertasi tentang filsafat dan khalam Ibnu Taimiya.
Nurcholish Madjid kecil semula bercita-cita menjadi masinis kereta api.
Namun, setelah dewasa malah menjadi kandidat masinis dalam bentuk lain,
menjadi pengemudi lokomotif yang membawa gerbong bangsa.
Sebenarnya menjadi masinis lokomotif politik adalah pilihan yang lebih
masuk akal. Nurcholish muda hidup di tengah keluarga yang lebih kental
membicarakan soal politik ketimbang mesin uap. Keluarganya berasal dari
lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) dan ayahnya, Kiai Haji Abdul Madjid,
adalah salah seorang pemimpin partai politik Masyumi. Saat terjadi
“geger” politik NU keluar dari Masyumi dan membentuk partai sendiri,
ayahnya tetap bertahan di Masyumi.
Kesadaran politik Nurcholish muda terpicu oleh kegiatan orang tuanya
yang sangat aktif dalam urusan pemilu.
Politik praktis mulai dikenalnya saat menjadi mahasiswa. Ia terpilih
sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Ciputat, tempat
Nurcholish menimba ilmu di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Islam Institut
Agama Islam Negeri Syarief Hidayatullah, Jakarta. Pengalamannya
bertambah saat menjadi salah satu calon Ketua Umum Pengurus Besar HMI.
Kendati memimpin organisasi mahasiswa ekstrakurikuler yang disegani pada
awal zaman Orde Baru, Nurcholish tidak menonjol di lapangan sebagai
demonstran. Bahkan namanya juga tidak berkibar di lingkungan politik
sebagai pengurus Komite Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), kumpulan
mahasiswa yang dianggap berperan menumbangkan Presiden Sukarno dan
mendudukkan Mayor Jenderal Soeharto sebagai penggantinya. Prestasi Cak
Nur lebih terukir di pentas pemikiran. Terutama pendapatnya tentang soal
demokrasi, pluralisme, humanisme, dan keyakinannya untuk memandang
modernisasi atau modernisme bukan sebagai Barat, modernisme bukan
westernisme. Modernisme dilihat Cak Nur sebagai gejala global, seperti
halnya demokrasi.
Pemikirannya tersebar melalui berbagai tulisan yang dimuat secara
berkala di tabloid Mimbar Demokrasi, yang diterbitkan HMI. Gagasan
Presiden Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara ini memukau banyak
orang, hingga ia digelari oleh orang-orang Masyumi sebagai “Natsir muda”.
Pemikirannya yang paling menggegerkan khalayak, terutama para aktivis
gerakan Islam, adalah saat pemimpin umum majalah Mimbar Jakarta ini
melontarkan pernyataan “Islam yes, partai Islam no”. Ia ketika itu
menganggap partai-partai Islam sudah menjadi “Tuhan” baru bagi
orang-orang Islam.
Partai atau organisasi Islam dianggap
sakral dan orang Islam yang tak memilih partai Islam dalam pemilu
dituding melakukan dosa besar. Bahkan, bagi kalangan NU, haram memilih
Partai Masyumi. Padahal orang Islam tersebar di mana-mana, termasuk di
partai milik penguasa Orde Baru, Golkar. Pada waktu itu sedang tumbuh
obsesi persatuan Islam. Kalau tidak bersatu, Islam menjadi lemah. Cak
Nur menawarkan tradisi baru bahwa dalam semangat demokrasi tidak harus
bersatu dalam organisasi karena keyakinan, tetapi dalam konteks yang
lebih luas, yaitu kebangsaan.
► Majalah Tokoh Indonesia Volume 09
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|