MAJALAH TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  MAJALAH TI
 ► Index MTI
 ► Volume 09
 ► Volume 08
 ► Volume 07
 ► Volume 06
 ► Volume 05
 ► Volume 04
 ► Volume 03
 ► Volume 02
 ► Volume 01
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah Biografi
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 


 
DEPTHNEWS  
 
   

Majalah Tokoh Indonesia Volume 09

Timang-Menimang Pasangan Capres-Cawapres

 

Dari 20 nama calon presiden yang kini beredar di “pasar taruhan” politik nasional, yakni Abdullah Gymnastiar, Abdurrahman Wahid, Aburizal Bakrie, Akbar Tandjung, Amien Rais, Hamzah Haz, Hasyim Muzadi, Hidayat Nur Wahid, Jusuf Kalla, Megawati Soekarno Putri, Nurcholis Madjid, Prabowo Subianto, Ruyandi Hutasoit, Siswono Yudo Husodo, Siti Hardiyanti Rukmana, Surya Paloh, Susilo Bambang Yudhoyono, Wiranto, Yusril Ihza Mahendra, dan Zainuddin MZ, rasanya semua mempunyai peluang dan kesempatan yang sama untuk memimpin republik besar Indonesia. Mereka adalah calon-calon yang baik. Tinggal memilih salah satu yang terbaik, yang “primus inter pares” atau “yang terbaik di antara yang baik-baik”.


Jika sekadar memilih satu nama untuk menjadi presiden tanpa memperhatikan tuntutan perubahan dan pembaharuan bangsa ke arah yang lebih baik, tentu mudah saja. Namun pemilihan Presiden 2004 haruslah berhasil menemukan sebuah nama presiden yang didukung rakyat, sekaligus mampu membawa perubahan dan pembaharuan dari persoalan yang melilit. Siapakah dia?


Jika dilihat berdasarkan kekuatan konstituen pendukung maka patokannya adalah Pemilu Legislatif 5 April 2004. Ke-20 nama kandidat adalah usungan dari partai-partai peserta pemilu. Kecuali da’i kondang Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym dan Hasyim Muzadi dua calon independen yang masuk peredaran karena permintaan masyarakat. Siswono Yudo Husodo juga calon independen namun sudah resmi dicalonkan partai PSI, PNI Marhaenisme, dan Partai PDI. Kekecualian juga terjadi pada lima kandidat peserta Konvensi Partai Golkar, yakni Akbar Tandjung, Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, Prabowo Subianto, Surya Paloh, dan Wiranto. Hanya satu dari antara mereka pemenang konvensi yang berhak ikut perebutan kursi presiden dari Golkar.

Peta Politik Pemilu
Pemilu Legislatif 5 April 2004 diperkirakan memberikan tiga kemungkinan besar. Kemungkinan pertama tetap akan muncul arus besar atau mainstream yang mengakumulasi suara pemilih ke dalam lima atau enam besar partai, sebagaimana terjadi pada Pemilu 1999. Enam besar pemilu 1999 adalah PDI-P, Golkar, PPP, PKB, PAN, dan PBB. Pemenang pertama dan kedua Pemilu 2004 diperkirakan tidak beranjak jauh dari PDI-P dan Golkar. Selisih suara antara keduanya semakin menipis bahkan tidak tertutup kemungkinan Golkar akan mengungguli PDI-P.


Kejutan yang mungkin terjadi adalah masuknya partai baru menjadi peraih suara besar seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat (PD). Hal ini terkait dengan figur Hidayat Nur Wahid yang dikenal bersih, mampu menggalang kekuatan generasi baru, serta berhasil melakukan kaderisasi.

 

Demikian pula dengan pendatang baru Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang sangat diharapkan banyak kalangan mampu membawa bangsa keluar ke arah perubahan yang lebih baik. Partai Bulan Bintang (PBB) pimpinan Yusril Ihza Mahendra diperkirakan akan ikut meraih kenaikan suara yang berarti. Sementara parta-partai pendatang baru memperoleh suara namun tidak cukup signifikan untuk mengajukan calon presiden. Tiga partai baru pengusung Siswono yakni PSI, PNI Marhaenisme, Partai PDI dan kemungkinan PKP Indonesia diperkirakan mampu mengakumulasi suara lebih dari tiga persen.


Dengan demikian figur kandidat presiden yang akan muncul adalah Megawati, Akbar Tandjung (atau Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, Prabowo Subianto, Surya Paloh, dan Wiranto), Hamzah Haz, Gus Dur atau orang yang ditunjuknya, Amien Rais, Yusril Ihza Mahendra, Siswono Yudo Husodo, Hidayat Nur Wahid, dan Susilo Bambang Yudhoyono ditambah satu calon dari gabungan suara-suara kecil yang tetap sangat berarti secara politis.


Kemungkinan kedua adalah kebalikan yakni suara pemilih terpolarisasi ke banyak partai. Sejumlah kejutan menarik bisa terjadi di sini. Lima besar pemenang Pemilu 1999 kehilangan banyak suara sementara partai pendatang baru justru kebagian suara secara cukup untuk bisa survive melewati batas electoral treshold tiga persen sekaligus berhak mengajukan calon presiden. Kemungkinan ini bisa terjadi sebab partai-partai baru sekarang sudah cukup berpengalaman mempersiapkan diri. Dengan demikian kandidat presiden yang akan muncul menjadi lebih banyak.


Beberapa partai baru yang berhak menambah daftar panjang calon presiden melengkapi nama-nama yang sudah disebutkan di kemungkinan pertama, adalah Partai Merdeka (PM) pimpinan Adi Sasono, Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (Partai PDK) pimpinan Ryass Rasyid, Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK) pimpinan Eros Djarot, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) pimpinan Edi Sudrajat, Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) pimpinan R. Hartono yang menjagokan Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut sebagai calon presiden, Partai Bintang Reformasi (PBR) pimpinan Zainuddin MZ, Partai Damai Sejahtera (PDS) pimpinan Ruyandi Hutasoit, serta Partai Pelopor pimpinan Rachmawati Soekarno Putri.


Kemungkinan ketiga adalah kombinasi antara kemungkinan pertama dan kemungkinan kedua. Maksudnya, tetap muncul mainstream yang mengakumulasi suara pemilih ke dalam beberapa partai saja namun dalam jumlah persentase yang tidak besar, serta munculnya partai-partai baru yang memperoleh suara sangat signifikan hingga di atas lima persen, seperti PKS, Partai Demokrat, PKPB, dan partai pengusung nama Siswono PSI, Partai PDI, dan PNI Marhaenisme.

Memilih Pasangan
Setelah para kandidat terbukti didukung oleh jumlah konstituen pemilih maka faktor wakil presiden (wapres) sebagai pendamping menjadi sangat signifikan untuk benar-benar bisa membawa kandidat memenangkan perebutan kursi kepresidenan. Uniknya, pilihan pasangan wapres terbaik adalah berasal dari lingkaran sesama kandidat sendiri yang terbukti sudah mempunyai konstituen pemilih. Walau demikian beberapa catatan khusus perlu dipahami.

 

Misalnya, bahwa jumlah konstituen figur seorang kandidat presiden bisa lebih besar dari partai pengusung. Catatan khusus ini terjadi pada diri Amien Rais yang jauh lebih populer dibanding PAN. Demikian pula Megawati dan kemungkinan SBY. Atau Siswono yang karena calon independen tidak mempunyai basis konstituen pemilih partai namun jika dia muncul dengan membawa isu pertanian maka akan terbawa-bawa 52 persen penduduk Indonesia yang berkecimpung dalam pertanian.


Siapa presiden yang mau dipasangkan wapres mana, sangat ditentukan oleh deal-deal politik yang ditawarkan. Mengoalisikan PDI-P dengan Golkar atau Mega-Akbar adalah cara yang paling mudah dan sederhana menghasilkan presiden dan wakil presiden 2004-2009. Jika ini diwujudkan maka dalam satu putaran saja kemungkinan mereka sudah menang. Namun jika suara Golkar berhasil mengungguli PDI-P dalam pemilu legislatif maka bentuk koalisi bisa berubah menjadi Golkar-PDI-P.

 

Pertanyaannya, apakah Mega mau menjadi wakil Akbar, misalnya? Jika nama suami Mega Taufik Kemas yang disodorkan mendampingi Akbar, apakah laku dipasarkan?
Koalisi PDI-P-Golkar digagas dengan asumsi keduanya pemenang pertama dan kedua legislatif. Tujuan koalisi dimaksudkan agar pimpinan nasional mempunyai dukungan kuat di parlemen. Presiden menjadi lebih elegan menawarkan setiap kebijakan sebab resistensi di parlemen minim.


Untuk mengamankan serta meminimalisasi resistensi di tingkat akar rumput koalisi Mega-Akbar masih perlu ditambah satu unsur agar lengkap berkaki tiga. Besar kemungkinan berasal dari kalangan religius muslim seperti NU, atau partai PKB dan PPP. Namanya bisa Alwi Shihab, Hasyim Muzadi, atau Hamzah Haz. Antara PDI-P yang nasionalis (demikian pula Golkar) dan kaum nahdliyin adalah saudara tua sehingga tidaklah sulit mewujudkan kaki ketiga. Berbeda jika harus mengajak PPP misalnya, yang masih kental perjuangan politik keislamannya yang sektarian dibanding nahdliyin.


Kandidat persiden kuat lain adalah Amien Rais yang masih mencari-cari pasangan dari militer. Kemungkinan Amien mengajak Endriartono Sutarto, SBY atau Agum Gumelar. Namun siapa pun itu jika berasal dari militer basis dukungan massanya sulit diandalkan.


SBY yang makin di atas angin agaknya hanya mau dilirik Amien jika perolehan suara Partai Demokrat (PD) pada pemilu legislatif tidak membuatnya pede (percaya diri). Amien Rais tampaknya lebih membidik Endriartono Sutarto. Bahkan bisa saja Amien akhirnya melirik pasangan dari kalangan partai yang sudah jelas konstituennya. Seperti Hidayat Nur Wahid, Alwi Shihab, Yusril Ihza Mahendra, Hamzah Haz, atau kembali ke skenario 1999 membentuk “Poros Tengah Baru”. Amien Rais juga bisa memanfaatkan kandidat serpihan dari Konvensi Partai Golkar seperti Aburizal Bakrie, Prabowo Subianto, Yusuf Kalla, Wiranto, dan Surya Paloh.


Jika SBY harus maju sebagai calon presiden belum jelas apakah dia akan merangkul pasangan dari kalangan partai atau profesional murni, atau malah mengajak Mbak Tutut putri sulung mantan Presiden Soeharto. Jenderal safety player ini selalu menawarkan retorika yang tidak perlu dijawab segera kecuali waktunya sudah tiba. Yang pasti SBY sangat serius berebut kursi RI-1. Dukungan terhadap SBY di belakang layar tampaknya cukup kuat namun sulit dikenali dan belum terukur.


Mbak Tutut belum menyebutkan pasti siapa pendampingnya. Jika suara PKPB signifikan mengajukan kandidat besar kemungkinan Tutut akan ditopang pendamping dari mantan militer yang kini banyak bercokol di PKPB. Adalah peristiwa luar biasa jika PKPB berhak mengajukan kandidat. Sebab itu berarti sangat singkat saja waktu yang dibutuhkan untuk “merehabilitasi” nama besar Pak Harto dalam pentas politik nasional. Berbeda dengan keluarga Bung Karno yang butuh waktu 32 tahun untuk bebas berpolitik. Jika PKPB berkiprah luas berbagai ramalan, analisa, kalkulasi, dan pasar taruhan politik akan tunggang langgang jadinya sebab arus besar pasti akan kembali mengarah ke Cendana.


Siswono Yudo Husodo juga belum menetapkan pasangan calon. Pernah terhembus nama Sophan Sophian. Namun itu hanya sebuah trik, sebab Sophan Sophian belum teruji di luar kandang PDI-P. Sebagai calon independen Siswono punya kebebasan memilih pasangan calon yang tersedia. Apakah dari kalangan partai, militer, serta pendiri, pemilik, dan pemimpin perusahaan terkemuka atau profesional murni yang mengerti betul manajemen administrasi dan membangun semangat kewirausahaan.

 

Sebagai nasionalis dan kader GMNI Siswono secara kultural dekat dengan kaum nahdliyin. Siswono sesungguhnya akan lebih pas menggandeng SBY. Persoalannya SBY masih belum masuk dalam daftar “dijual”.

Koalisi Mega-Akbar Plus
Jika koalisi Mega-Akbar ditambah kaki ketiga terwujud, dengan asumsi pemilu legislatif menghasilkan kemungkinan pertama yakni arus besar pemilih berada di sekitar lima enam besar partai mudah ditebak koalisi ini di putaran pertama akan langsung menang. Tapi setidaknya ada dua sebab yang bisa menggagalkan koalisi ini.


Pertama, jika Golkar berhasil menggungguli PDI-P pada pemilu legislatif dan suara pemilih berakumulasi di sekitar lima enam partai besar (kemungkinan pertama pemilu legislatif). Kedua, jika pemilu legislatif menghasilkan kemungkinan kedua dimana suara pemilih terpolarisasi ke banyak partai sehingga gabungan suara PDI-P-Golkar tidak cukup signifikan menang langsung di putaran pertama.


Jika koalisi PDI-P-Golkar batal diwujudkan pada putaran pertama 5 Juli 2004 maka cerita pemilihan presiden menjadi akan berlanjut hingga ke 5 September 2004. Di sini intensitas persaingan akan semakin ramai. Polarisasi kekuatan pasangan presiden yang merata tentu memberikan pembelajaran politik yang baik. Rakyat dihadapkan pada banyak pilihan alternatif dan semuanya pilihan baik-baik. Pasangan-pasangan kandidat yang baik-baik itu akan bersemangat menawarkan program pembaharuan bangsa yang paling brilian. Harapan setiap pasangan itu memperoleh suara minimal terbesar kedua sehingga masih mempunyai tiket ke putaran akhir 5 September 2004.


Polarisasi yang merata secara politis akan sangat menguntungkan calon independen seperti Siswono. Sebab setiap kandidat presiden berlatar partai pasti akan mengedepankan platform perjuangan partainya yang membuatnya harus berhadap-hadapan secara diametral dengan platform dari kandidat partai lain. Di tingkat akar rumput pergesekan itu pasti akan terasa. Sementara kandidat independen secara cerdik bisa mencuri hati setiap konstituen dari semua partai.


Jika tanpa koalisi PDIP-Golkar pemenang putaran pertama besar kemungkinan adalah Megawati dan pasangannya, dengan perolehan suara sekitar 30-35 persen. Sisa suara 65-70 persen akan dibagi tidak persis rata sekitar 5-15 persen antara pasangan Akbar Tandjung, Amien Rais, Hamzah Haz, Gus Dur atau orang yang ditunjuknya, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Siswono Yudo Husodo. Besar kemungkinan pemenang kedua untuk mendampingi Megawati ke putaran akhir cukup memperoleh suara sekitar 15 persen saja.


Jika pemenang kedua adalah Akbar Tandjung maka Megawati diperkirakan akan memenangkan pertandingan akhir. Namun jika pemenang kedua berasal dari partai Islam yang lalu membawa sentimen Islam untuk menghadapi Mega maka skenario Sidang Umum MPR tahun 1999 kembali terulang. Untuk mengalahkan Mega sejarah kembali harus diulang dengan memunculkan isu ABM alias Asal Bukan Mega. Namun Mega kemungkinan secara diam-diam sudah mengantisipasi dan mempersiapkan jurus untuk tidak terperosok dua kali ke lubang yang sama.


Namun yang menarik adalah perhitungan Siswono. Dia mengakui Mega pasti akan menang di putaran pertama. Sebagai presiden yang sedang berkuasa Mega masih kandidat yang paling populer. Karena itu Siswono sangat membutuhkan perolehan suara sekitar 18-22 persen agar bisa meraih pemenang kedua mendampingi Mega ke putaran akhir. “Pada putaran kedua, baru saya bertarung untuk bisa meraih suara lebih dari 50 persen,” tekad Siswono. *Majalah Tokoh Indonesia/haposan tampubolon

     

Edisi Khusus Vol. 09

Majalah Tokoh Indonesia 09

PROFIL 20 KANDIDAT PRESIDENAA. Gym = Abdurrahman Wahid = Aburizal Bakrie = Akbar Tandjung, Amien Rais = Hamzah Haz, Hasyim Muzadi = Hidayat Nur Wahid, = Jusuf Kalla = Megawati = Nurcholis Madjid = Prabowo S = Ruyandi Hutasoit = Siswono Yudo Husodo = Siti Hardiyanti = Surya Paloh = Susilo B Yudhoyono = Wiranto = Yusril Ihza M = Zainuddin MZ. =  OPINI TOKOH: Rauf Purnama = DEPTHNEWS: Timang-Menimang Pasangan Capres-Cawapres = KAPUR SIRIH: Pemilihan Umum = SURAT: Caleg, Alamat, Membantu, Cinta, Andalkan, Al Ustaz = Dapatkan di toko buku dan agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000,- Luar Jabotabek Rp.15.000,-

 

Majalah

Tokoh Indonesia Volume 08

TOKOH UTAMA: Syaykh Abdussalam Panji Gumilang = TOKOH PILIHAN: Azyumardi Azra = DEPTHNEWS: Ma'had Al-Zaytun = BERITA TOKOH: Yenti Garnasih, Marimutu Sinivasan, Ajip Rosidi dan Hilman Sulaiman = WAWANCARA: Zone of Peace = TOKOH PENEMU: Thomas Alva Edison dan Paul Ehrlich = SELEBRITI: Marissa Haque = KAPUR SIRIH: Gula dan Semut = BERITA: Citra Pendidikan Modern = SURAT: Tokoh Muhammadiyah dll =  Dapatkan di toko buku dan agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000.

 

OPINI TOKOH Ir Rauf Purnama

Memacu Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Di antara Vietnam dan Thailand. Tidak banyak orang yang menduga kalau Vietnam akan mampu menyelenggarakan SEA Games yang tidak kalah hebatnya dengan Sea Games sebelum-sebelumnya.

 

 

 

 

 

 
Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero