|
Majalah Tokoh Indonesia Volume 09
Timang-Menimang Pasangan Capres-Cawapres
Dari 20 nama calon presiden yang kini beredar di “pasar taruhan” politik
nasional, yakni Abdullah Gymnastiar, Abdurrahman Wahid, Aburizal Bakrie,
Akbar Tandjung, Amien Rais, Hamzah Haz, Hasyim Muzadi, Hidayat Nur
Wahid, Jusuf Kalla, Megawati Soekarno Putri, Nurcholis Madjid, Prabowo
Subianto, Ruyandi Hutasoit, Siswono Yudo Husodo, Siti Hardiyanti Rukmana,
Surya Paloh, Susilo Bambang Yudhoyono, Wiranto, Yusril Ihza Mahendra,
dan Zainuddin MZ, rasanya semua mempunyai peluang dan kesempatan yang
sama untuk memimpin republik besar Indonesia. Mereka adalah calon-calon
yang baik. Tinggal memilih salah satu yang terbaik, yang “primus inter
pares” atau “yang terbaik di antara yang baik-baik”.
Jika sekadar memilih satu nama untuk menjadi presiden tanpa
memperhatikan tuntutan perubahan dan pembaharuan bangsa ke arah yang
lebih baik, tentu mudah saja. Namun pemilihan Presiden 2004 haruslah
berhasil menemukan sebuah nama presiden yang didukung rakyat, sekaligus
mampu membawa perubahan dan pembaharuan dari persoalan yang melilit.
Siapakah dia?
Jika dilihat berdasarkan kekuatan konstituen pendukung maka patokannya
adalah Pemilu Legislatif 5 April 2004. Ke-20 nama kandidat adalah
usungan dari partai-partai peserta pemilu. Kecuali da’i kondang Abdullah
Gymnastiar atau Aa Gym dan Hasyim Muzadi dua calon independen yang masuk
peredaran karena permintaan masyarakat. Siswono Yudo Husodo juga calon
independen namun sudah resmi dicalonkan partai PSI, PNI Marhaenisme, dan
Partai PDI. Kekecualian juga terjadi pada lima kandidat peserta Konvensi
Partai Golkar, yakni Akbar Tandjung, Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla,
Prabowo Subianto, Surya Paloh, dan Wiranto. Hanya satu dari antara
mereka pemenang konvensi yang berhak ikut perebutan kursi presiden dari
Golkar.
Peta Politik Pemilu
Pemilu Legislatif 5 April 2004 diperkirakan memberikan tiga kemungkinan
besar. Kemungkinan pertama tetap akan muncul arus besar atau mainstream
yang mengakumulasi suara pemilih ke dalam lima atau enam besar partai,
sebagaimana terjadi pada Pemilu 1999. Enam besar pemilu 1999 adalah PDI-P,
Golkar, PPP, PKB, PAN, dan PBB. Pemenang pertama dan kedua Pemilu 2004
diperkirakan tidak beranjak jauh dari PDI-P dan Golkar. Selisih suara
antara keduanya semakin menipis bahkan tidak tertutup kemungkinan Golkar
akan mengungguli PDI-P.
Kejutan yang mungkin terjadi adalah masuknya partai baru menjadi peraih
suara besar seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat
(PD). Hal ini terkait dengan figur Hidayat Nur Wahid yang dikenal bersih,
mampu menggalang kekuatan generasi baru, serta berhasil melakukan
kaderisasi.
Demikian pula dengan pendatang baru Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang
sangat diharapkan banyak kalangan mampu membawa bangsa keluar ke arah
perubahan yang lebih baik. Partai Bulan Bintang (PBB) pimpinan Yusril
Ihza Mahendra diperkirakan akan ikut meraih kenaikan suara yang berarti.
Sementara parta-partai pendatang baru memperoleh suara namun tidak cukup
signifikan untuk mengajukan calon presiden. Tiga partai baru pengusung
Siswono yakni PSI, PNI Marhaenisme, Partai PDI dan kemungkinan PKP
Indonesia diperkirakan mampu mengakumulasi suara lebih dari tiga persen.
Dengan demikian figur kandidat presiden yang akan muncul adalah
Megawati, Akbar Tandjung (atau Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, Prabowo
Subianto, Surya Paloh, dan Wiranto), Hamzah Haz, Gus Dur atau orang yang
ditunjuknya, Amien Rais, Yusril Ihza Mahendra, Siswono Yudo Husodo,
Hidayat Nur Wahid, dan Susilo Bambang Yudhoyono ditambah satu calon dari
gabungan suara-suara kecil yang tetap sangat berarti secara politis.
Kemungkinan kedua adalah kebalikan yakni suara pemilih terpolarisasi ke
banyak partai. Sejumlah kejutan menarik bisa terjadi di sini. Lima besar
pemenang Pemilu 1999 kehilangan banyak suara sementara partai pendatang
baru justru kebagian suara secara cukup untuk bisa survive melewati
batas electoral treshold tiga persen sekaligus berhak mengajukan calon
presiden. Kemungkinan ini bisa terjadi sebab partai-partai baru sekarang
sudah cukup berpengalaman mempersiapkan diri. Dengan demikian kandidat
presiden yang akan muncul menjadi lebih banyak.
Beberapa partai baru yang berhak menambah daftar panjang calon presiden
melengkapi nama-nama yang sudah disebutkan di kemungkinan pertama,
adalah Partai Merdeka (PM) pimpinan Adi Sasono, Partai Persatuan
Demokrasi Kebangsaan (Partai PDK) pimpinan Ryass Rasyid, Partai Nasional
Banteng Kemerdekaan (PNBK) pimpinan Eros Djarot, Partai Keadilan dan
Persatuan Indonesia (PKPI) pimpinan Edi Sudrajat, Partai Karya Peduli
Bangsa (PKPB) pimpinan R. Hartono yang menjagokan Siti Hardiyanti
Rukmana atau Mbak Tutut sebagai calon presiden, Partai Bintang Reformasi
(PBR) pimpinan Zainuddin MZ, Partai Damai Sejahtera (PDS) pimpinan
Ruyandi Hutasoit, serta Partai Pelopor pimpinan Rachmawati Soekarno
Putri.
Kemungkinan ketiga adalah kombinasi antara kemungkinan pertama dan
kemungkinan kedua. Maksudnya, tetap muncul mainstream yang mengakumulasi
suara pemilih ke dalam beberapa partai saja namun dalam jumlah
persentase yang tidak besar, serta munculnya partai-partai baru yang
memperoleh suara sangat signifikan hingga di atas lima persen, seperti
PKS, Partai Demokrat, PKPB, dan partai pengusung nama Siswono PSI,
Partai PDI, dan PNI Marhaenisme.
Memilih Pasangan
Setelah para kandidat terbukti didukung oleh jumlah konstituen pemilih
maka faktor wakil presiden (wapres) sebagai pendamping menjadi sangat
signifikan untuk benar-benar bisa membawa kandidat memenangkan perebutan
kursi kepresidenan. Uniknya, pilihan pasangan wapres terbaik adalah
berasal dari lingkaran sesama kandidat sendiri yang terbukti sudah
mempunyai konstituen pemilih. Walau demikian beberapa catatan khusus
perlu dipahami.
Misalnya, bahwa jumlah konstituen figur seorang kandidat presiden bisa
lebih besar dari partai pengusung. Catatan khusus ini terjadi pada diri
Amien Rais yang jauh lebih populer dibanding PAN. Demikian pula Megawati
dan kemungkinan SBY. Atau Siswono yang karena calon independen tidak
mempunyai basis konstituen pemilih partai namun jika dia muncul dengan
membawa isu pertanian maka akan terbawa-bawa 52 persen penduduk
Indonesia yang berkecimpung dalam pertanian.
Siapa presiden yang mau dipasangkan wapres mana, sangat ditentukan oleh
deal-deal politik yang ditawarkan. Mengoalisikan PDI-P dengan Golkar
atau Mega-Akbar adalah cara yang paling mudah dan sederhana menghasilkan
presiden dan wakil presiden 2004-2009. Jika ini diwujudkan maka dalam
satu putaran saja kemungkinan mereka sudah menang. Namun jika suara
Golkar berhasil mengungguli PDI-P dalam pemilu legislatif maka bentuk
koalisi bisa berubah menjadi Golkar-PDI-P.
Pertanyaannya, apakah Mega mau menjadi wakil Akbar, misalnya? Jika nama
suami Mega Taufik Kemas yang disodorkan mendampingi Akbar, apakah laku
dipasarkan?
Koalisi PDI-P-Golkar digagas dengan asumsi keduanya pemenang pertama dan
kedua legislatif. Tujuan koalisi dimaksudkan agar pimpinan nasional
mempunyai dukungan kuat di parlemen. Presiden menjadi lebih elegan
menawarkan setiap kebijakan sebab resistensi di parlemen minim.
Untuk mengamankan serta meminimalisasi resistensi di tingkat akar rumput
koalisi Mega-Akbar masih perlu ditambah satu unsur agar lengkap berkaki
tiga. Besar kemungkinan berasal dari kalangan religius muslim seperti NU,
atau partai PKB dan PPP. Namanya bisa Alwi Shihab, Hasyim Muzadi, atau
Hamzah Haz. Antara PDI-P yang nasionalis (demikian pula Golkar) dan kaum
nahdliyin adalah saudara tua sehingga tidaklah sulit mewujudkan kaki
ketiga. Berbeda jika harus mengajak PPP misalnya, yang masih kental
perjuangan politik keislamannya yang sektarian dibanding nahdliyin.
Kandidat persiden kuat lain adalah Amien Rais yang masih mencari-cari
pasangan dari militer. Kemungkinan Amien mengajak Endriartono Sutarto,
SBY atau Agum Gumelar. Namun siapa pun itu jika berasal dari militer
basis dukungan massanya sulit diandalkan.
SBY yang makin di atas angin agaknya hanya mau dilirik Amien jika
perolehan suara Partai Demokrat (PD) pada pemilu legislatif tidak
membuatnya pede (percaya diri). Amien Rais tampaknya lebih membidik
Endriartono Sutarto. Bahkan bisa saja Amien akhirnya melirik pasangan
dari kalangan partai yang sudah jelas konstituennya. Seperti Hidayat Nur
Wahid, Alwi Shihab, Yusril Ihza Mahendra, Hamzah Haz, atau kembali ke
skenario 1999 membentuk “Poros Tengah Baru”. Amien Rais juga bisa
memanfaatkan kandidat serpihan dari Konvensi Partai Golkar seperti
Aburizal Bakrie, Prabowo Subianto, Yusuf Kalla, Wiranto, dan Surya Paloh.
Jika SBY harus maju sebagai calon presiden belum jelas apakah dia akan
merangkul pasangan dari kalangan partai atau profesional murni, atau
malah mengajak Mbak Tutut putri sulung mantan Presiden Soeharto.
Jenderal safety player ini selalu menawarkan retorika yang tidak perlu
dijawab segera kecuali waktunya sudah tiba. Yang pasti SBY sangat serius
berebut kursi RI-1. Dukungan terhadap SBY di belakang layar tampaknya
cukup kuat namun sulit dikenali dan belum terukur.
Mbak Tutut belum menyebutkan pasti siapa pendampingnya. Jika suara PKPB
signifikan mengajukan kandidat besar kemungkinan Tutut akan ditopang
pendamping dari mantan militer yang kini banyak bercokol di PKPB. Adalah
peristiwa luar biasa jika PKPB berhak mengajukan kandidat. Sebab itu
berarti sangat singkat saja waktu yang dibutuhkan untuk “merehabilitasi”
nama besar Pak Harto dalam pentas politik nasional. Berbeda dengan
keluarga Bung Karno yang butuh waktu 32 tahun untuk bebas berpolitik.
Jika PKPB berkiprah luas berbagai ramalan, analisa, kalkulasi, dan pasar
taruhan politik akan tunggang langgang jadinya sebab arus besar pasti
akan kembali mengarah ke Cendana.
Siswono Yudo Husodo juga belum menetapkan pasangan calon. Pernah
terhembus nama Sophan Sophian. Namun itu hanya sebuah trik, sebab Sophan
Sophian belum teruji di luar kandang PDI-P. Sebagai calon independen
Siswono punya kebebasan memilih pasangan calon yang tersedia. Apakah
dari kalangan partai, militer, serta pendiri, pemilik, dan pemimpin
perusahaan terkemuka atau profesional murni yang mengerti betul
manajemen administrasi dan membangun semangat kewirausahaan.
Sebagai nasionalis dan kader GMNI Siswono secara kultural dekat dengan
kaum nahdliyin. Siswono sesungguhnya akan lebih pas menggandeng SBY.
Persoalannya SBY masih belum masuk dalam daftar “dijual”.
Koalisi Mega-Akbar Plus
Jika koalisi Mega-Akbar ditambah kaki ketiga terwujud, dengan asumsi
pemilu legislatif menghasilkan kemungkinan pertama yakni arus besar
pemilih berada di sekitar lima enam besar partai mudah ditebak koalisi
ini di putaran pertama akan langsung menang. Tapi setidaknya ada dua
sebab yang bisa menggagalkan koalisi ini.
Pertama, jika Golkar berhasil menggungguli PDI-P pada pemilu legislatif
dan suara pemilih berakumulasi di sekitar lima enam partai besar (kemungkinan
pertama pemilu legislatif). Kedua, jika pemilu legislatif menghasilkan
kemungkinan kedua dimana suara pemilih terpolarisasi ke banyak partai
sehingga gabungan suara PDI-P-Golkar tidak cukup signifikan menang
langsung di putaran pertama.
Jika koalisi PDI-P-Golkar batal diwujudkan pada putaran pertama 5 Juli
2004 maka cerita pemilihan presiden menjadi akan berlanjut hingga ke 5
September 2004. Di sini intensitas persaingan akan semakin ramai.
Polarisasi kekuatan pasangan presiden yang merata tentu memberikan
pembelajaran politik yang baik. Rakyat dihadapkan pada banyak pilihan
alternatif dan semuanya pilihan baik-baik. Pasangan-pasangan kandidat
yang baik-baik itu akan bersemangat menawarkan program pembaharuan
bangsa yang paling brilian. Harapan setiap pasangan itu memperoleh suara
minimal terbesar kedua sehingga masih mempunyai tiket ke putaran akhir 5
September 2004.
Polarisasi yang merata secara politis akan sangat menguntungkan calon
independen seperti Siswono. Sebab setiap kandidat presiden berlatar
partai pasti akan mengedepankan platform perjuangan partainya yang
membuatnya harus berhadap-hadapan secara diametral dengan platform dari
kandidat partai lain. Di tingkat akar rumput pergesekan itu pasti akan
terasa. Sementara kandidat independen secara cerdik bisa mencuri hati
setiap konstituen dari semua partai.
Jika tanpa koalisi PDIP-Golkar pemenang putaran pertama besar
kemungkinan adalah Megawati dan pasangannya, dengan perolehan suara
sekitar 30-35 persen. Sisa suara 65-70 persen akan dibagi tidak persis
rata sekitar 5-15 persen antara pasangan Akbar Tandjung, Amien Rais,
Hamzah Haz, Gus Dur atau orang yang ditunjuknya, Susilo Bambang
Yudhoyono, dan Siswono Yudo Husodo. Besar kemungkinan pemenang kedua
untuk mendampingi Megawati ke putaran akhir cukup memperoleh suara
sekitar 15 persen saja.
Jika pemenang kedua adalah Akbar Tandjung maka Megawati diperkirakan
akan memenangkan pertandingan akhir. Namun jika pemenang kedua berasal
dari partai Islam yang lalu membawa sentimen Islam untuk menghadapi Mega
maka skenario Sidang Umum MPR tahun 1999 kembali terulang. Untuk
mengalahkan Mega sejarah kembali harus diulang dengan memunculkan isu
ABM alias Asal Bukan Mega. Namun Mega kemungkinan secara diam-diam sudah
mengantisipasi dan mempersiapkan jurus untuk tidak terperosok dua kali
ke lubang yang sama.
Namun yang menarik adalah perhitungan Siswono. Dia mengakui Mega pasti
akan menang di putaran pertama. Sebagai presiden yang sedang berkuasa
Mega masih kandidat yang paling populer. Karena itu Siswono sangat
membutuhkan perolehan suara sekitar 18-22 persen agar bisa meraih
pemenang kedua mendampingi Mega ke putaran akhir. “Pada putaran kedua,
baru saya bertarung untuk bisa meraih suara lebih dari 50 persen,” tekad
Siswono. *Majalah Tokoh Indonesia/haposan tampubolon |