|
|
 |
MTI Volume 02
Konvensi Nasional Calon Presiden Partai Golkar
Partai Golongan Karya (Golkar) melangkah lebih maju dalam hal penyeleksian
calon presiden dan calon wakil presiden. Partai ini tampaknya telah
bertekad akan melahirkan presiden yang menjadi milik rakyat dan negara
Indonesia, bukan milik partai semata, dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2004
nanti.
Caranya dengan melakukan perekrutan melalui proses seleksi yang terbuka
dan demokratis yakni konvensi nasional. Dalam Rapat Pimpinan (Rapim)
partai ini, awal Mei 2003 lalu, telah disepakati pelaksanaan penetapan
satu calon presiden dalam Konvensi Nasional Pemilihan Presiden Partai
Golkar itu akan dilaksanakan pada 5 Februari 2004. Jadi, Partai Golkar
akan memiliki calon presiden definitif dua bulan sebelum Pemilu Dewan
Perwakilan 5 April 2004 (setelah penetapan Daftar Calon Tetap legislatif).
Sementara untuk kesuksesan pelaksanaannya telah dibentuk pula Ketua
Panitia Pelaksana Konvensi yang diketuai Oetojo Oesman didampingi Slamet
Effendy Yusuf sebagai ketua harian dan Andi Mattalatta sebagai sekretaris.
Sementara sebagai Ketua Panitia Pengawas terpilih Sulasikin Murpratomo
didampingi Bomer Pasaribu sebagai sekretaris.
Menurut Oetojo Oesman, sampai saat ini sekurangnya sembilan tokoh nasional
telah menyatakan siap mengikuti Konvensi Nasional Pemilihan Calon Presiden
Partai Golkar tersebut. Kesembilan nama itu adalah Jusuf Kalla, Sultan
Hamengkubuwono X, Nurcholis Madjid, Susilo Bambang Yudhoyono, Aburizal
Bakrie, Agum Gumelar, Sri Surya Paloh, Wiranto, dan Prabowo Subianto.
Dalam serangkaian pertemuan nasional pada Juli 2003, sembilan tokoh itu
diundang dan diminta menyampaikan visi atau platformnya. Pertemuan itu
dilakukan di Makassar, Bandung dan Medan.
Sementara, menurut sumber di DPP Golkar ada beberapa lain yang dinilai
berpeluang mengikuti konvensi nasional Partai Golkar. Mereka itu antara
lain Try Sutrisno, Hasyim Muzadi, Syafii Maarif, Marzuki Darusman, Marwah
Daud Ibrahim, Juwono Sudarsono, Siswono Yudhohusodo.
Konvensi nasional itu merupakan pendidikan politik bagi bangsa, sekaligus
sebagai lembaga untuk mendalami bagaimana seorang tokoh mengelola negara.
Mekanisme untuk mengikuti konvensi nasional itu, seorang tokoh bisa
mencalonkan diri jika didukung 500 orang atau lima DPD II Golkar, dan lima
DPD I Golkar. Selain itu, seseorang tokoh yang akan diajukan menjadi
Capres, bisa diusulkan oleh Ormas-Ormas Golkar.
Dengan demikian, tokoh di luar Golkar juga bisa mengikuti konvensi terebut,
asalkan mendapatkan dukungan dari Ormas Golkar atau DPD Golkar, dan
bersedia mengakui platform Golkar. Setiap tokoh akan diminta untuk
menyampaikan visi dan platformnya. Untuk tahap awal penjaringan dan
penyaringan telah dimulai oleh Hasta Karya, yaitu delapan Ormas pendiri
dan pendukung Golkar.
Sehubungan dengan mekanisme itu, Slamet Effendy Yusuf menjelaskan,
pencalonan presiden dan wakil presiden dari Golkar tidak akan lagi terjadi
mekanisme drop-dropan dari pusat, tetapi justru berangkat dari daerah ke
pusat. Semua calon presiden yang akan memakai Partai Golkar sebagai pintu
masuk, juga harus aktif menyampaikan visi dan misi secara jelas ke
daerah-daerah, tidak pasif.
Semua kandidat pun akan memiliki peluang yang sama untuk mencalonkan diri
sebagai presiden. Karena, konvensi tidak menutup kesempatan pada siapa
pun. Ia jelaskan, gagasan utama dari dilahirkannya konvensi pemilihan
presiden adalah untuk menjembatani proses pencalonan presiden melalui
partai politik dan pemilihan presiden langsung oleh rakyat. Karena menurut
Slamet, tanpa proses seleksi yang demokratis di parpol, pemilihan presiden
secara langsung oleh rakyat akan gagal.
Adalah Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung yang pada mulanya
mengedepankan pelaksanaan konvensi ini. Akbar yang sampai saat ini belum
menyatakan diri akan ikut dalam konvensi nasional ini menegaskan bahwa
Partai Golkar membuka peluang terhadap calon presiden dan wapres dari luar
struktur Partai Golkar. Tapi syaratnya, selain sejalan dengan platform
Partai Golkar juga calon tersebut tidak lagi diragukan komitmennya
terhadap bangsa.
Konvensi ini menjadi awal dari tonggak sejarah tradisi baru partai
berlambang pohon beringin tersebut, bahkan sejarah perpolitikan di
Indonesia. Konvensi nasional partai untuk pemilihan presiden dan wakil
presiden (wapres) itu diharapkan akan berbuah menjaring putra putri
terbaik bangsa langsung dari bawah oleh rakyat.
Partai yang berkuasa selama 32 tahun dan sampai kini masih dihujat
sebagian orang itu, akan dicatat sejarah sebagai partai politik (parpol)
pertama yang akan menerapkan sistem ini. Sebuah terobosan baru yang lebih
demokratis dalam menjaring pemimpin nasional. Walaupun konsep ini, telah
diterapkan di sejumlah negara yang kehidupan demokrasinya relatif lebih
maju, tapi bagi Indonesia hal ini sungguh merupakan hal baru.
Selama ini penentuan calon presiden dan wakil presiden hanya dilakukan
oleh segelintir elite partai di pusat. Sedangkan rakyat dan pimpinan
partai tingkat bawah hanya mengikuti saja apa kata dari atas.
Pencanangan pelaksanaan konvensi ini, diyakini akan mengundang simpati
dari masyarakat. Maka tidak berlebihan jika Ketua DPP Partai Golkar Mahadi
Sinambela memperkirakan perolehan suara Partai Golkar dalam Pemilu 2004
akan naik menjadi sektar 31 persen. Pada Pemilu 1999, Golkar memperoleh
24,5 persen suara.
Jajak pendapat yang dilakukan Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan
Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) dan Center for the Study of
Development and Democracy (Cesda) yang dilakukan 12 hari dari 1-12 Mei
2003 melibatkan 3.000 responden di 13 provinsi menunjukkan Partai Golkar
berpotensi mengungguli PDIP, PPP, PAN, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB),
dan Partai Keadilan (PK) dalam perolehan suara Pemilu 2004.
Wakil Direktur LP3ES E Shobirin Nadj dan staf Cesda Wildan Pramudya Arifin
saat menyampaikan hasil jajak pendapat LP3ES-Cesda di Jakarta, Kamis
12/6/03 mengatakan dukungan terhadap Golkar meningkat dari tiga persen
menjadi 18 persen dibandingkan dengan survei yang sama tahun 2002.
Sebaliknya, dukungan terhadap PDI-P cenderung melemah dari 11 persen
responden tahun 2002, menjadi hanya tujuh persen tahun ini. Demikian juga
PPP merosot menjadi 5%, dan PAN (4%), PKB dan PK hanya 2% responden.
Menurut Shobirin, Partai Golkar menjadi partai yang lebih populer
ketimbang partai lainnya lebih disebabkan kekecewaan rakyat terhadap
partai penguasa baru dan terhadap parpol baru. ‘’Rakyat menantikan adanya
penampilan parpol penguasa yang ideal sehingga imajinasi publik kemudian
beralih ke penampilan Partai Golkar saat berkuasa, yaitu adanya stabilitas
dan keamanan. Rakyat membutuhkan dua hal itu,’’ jelasnya.
Selain itu, katanya, Partai Golkar adalah parpol yang memunyai
infrastruktur paling kuat jika dibandingkan dengan parpol lain. ‘’Uniknya,
ketika partai ini mengalami permasalahan, koordinasi dan konsolidasi
pengurus di tingkat pusat dengan daerah semakin meningkat,’’ jelasnya.
Di samping itu, Golkar bisa dikatakan sebagai satu-satunya parpol yang
memunyai program nyata. ‘Bahkan, kata Shobirin, di beberapa daerah, Golkar
membuat program seperti pengembangbiakan singkong atau jagung. Sehingga,
hasil kerja partai terasa nyata bagi rakyat. m-ti
|
|
 |
| TOKOH
UTAMA |
 |
M. Jusuf Kalla
Peng-usaha
sukses dan kader Golkar ini justru berkibar dalam era reformasi. Dia
memang seorang tokoh yang dinilai ‘bersih’ dan dapat diterima semua
golongan. Tak heran bila putera kelahiran Watampone, Sulawesi Selatan ini
mendapat kesempatan menjabat menteri. Ia pun menjadi tokoh utama
perdamaian Malino. Namanya pun disebut-sebut sebagai salah seorang
kandidat calon presiden Pemilu 2004.
|
|