TURUT BERDUKACITA ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Search     A   B     D     F       I       L     N   O   P   Q   R   S     U     W     Y   Z
IN MEMORIAM

:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::

C © updated 080103
 
INDEX BERITA   

garis

:::::: Berita garis

:::::: Wawancara garis
:::::: Opini
garis
:::::: Editorial
garis
:::::: Resensi
garis
:::::: Leadership
garis
:::::: Selamat HUT
garis
:::::: Pernikahan
garis
:::::: In Memoriam
garis
:::::: Sebelumnya
garis
:::::: Redaksi
garis

 
garis
garis

 

Rio Tambunan

Penata Jakarta yang Kecewa


Jakarta 08/01/03: Ir Rio Tambunan (67), mantan Kepala Dinas Tata Kota DKI Jakarta (1971-1975), meninggal dunia di rumah sakit Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (8/1) sekitar pukul 06.30 WIB. Rio sempat dirawat satu minggu di rumah sakit itu karena sakit jantung. Jenazahnya disemayamkan di rumah duka Jalan Mandala Raya Patra No 8, Menteng Dalam, Pancoran, Jakarta Selatan. Selanjutnya dimakamkan, Jumat (10/1), di Taman Pekuburan Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pukul 13.30.

Almarhum pernah menikah dengan artis Emilia Contessa, dan dikaruniai dua anak, yakni Enrico Tambunan, yang kini sedang belajar di Australia, dan Denada Tambunan. Istri terakhir bernama Ny Pipi Kadarsih.

Ia dikenal seorang tokoh yang berperan merancang konsep pembangunan kota Jakarta melalui Master Plan (rencana induk tata ruang) 1965-1985. Namun cita-citanya bersama mantan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, untuk menciptakan kota Jakarta yang asri kandas di tengah jalan karena ulah para para penerusnya. Sehingga Jakarta kini menjadi kota yang amburadul

Sewaktu menjadi Kepala Dinas Tata Kota, ia merupakan orang kepercayaan mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Ketika itu, dia menata Jakarta melalui Rencana Induk Tata Ruang tahun 1965-1985. Belum lama ini ia mengungkapkan sedikit kecewa atas penyimpangan cukup signifikan master plan yang disusunnya setelah diubah menjadi Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) 1985-2005.

Ia sangat kecewa dengan perubahan tata ruang Jakarta yang terus berlangsung sampai saat ini. Lahan di beberapa kawasan yang sebelumnya berwarna hijau dalam Master Plan 1965-1985, bisa berubah menjadi kuning dalam Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) 1985-2005. Lebih parah lagi, kalau dilihat di Rencana Bagian Wilayah Kota (RBWK), site plan, atau Rencana Terinci Kota (RTK). Warna kuningnya bisa menjadi lebih luas, bahkan bisa meniadakan sama sekali warna hijau. Dalam peta tata ruang, warna hijau berarti kawasan itu sama sekali tidak boleh dibangun karena menjadi daerah resapan air, tangkapan air, atau ruang terbuka hijau. Sedangkan warna kuning, artinya kawasan itu boleh dibangun perumahan.

Sehubungan dengan itu, ia mendirikan sebuah lembaga yang diberi nama Land policy, Enviroment, and Town planning (LET), kemudian disingkat LET's Watch (mari kita awasi). Melalui lembaga ini, Rio mengkritisi berbagai kebijakan di bidang pertanahan, lingkungan hidup, dan perencanaan kota, serta terus berjuang membela hak-hak rakyat tertindas.

Ia dikenal sebagai pemerhati dan pengamat lingkungan. Selain pernah menjadi penasihat ahli Menteri Agraria, almarhum juga adalah mantan staf ahli Menteri Dalam Negeri.

Namanya mencuat lagi ketika menjadi saksi dalam gugatan class action korban banjir dari masyarakat miskin kota di Jakarta kepada Presiden dan Gubernur DKI Jakarta, yang dilaksanakan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 12 September 2002.

Sebagai saksi ahli, almarhum saat itu menyampaikan kesaksiannya dengan membawa dua bundel laporan, satu koper penuh data, peta, tata ruang kota, dan foto-foto program pengendalian banjir yang pernah dilakukan semasa ia menjabat Kepala Dinas Tata Kota DKI Jakarta.

Almarhum menentang keras pembangunan Sport Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara karena dinilai melanggar peruntukan. Kawasan itu seharusnya menjadi jalur hijau.

Rio Tambunan memang dikenal sebagai pengamat perkotaan, terutama yang menyangkut peruntukan kota. Dia kerap menjadi narasumber untuk persoalan-persoalan yang menyangkut tata ruang kota.

Kiprah Rio di olahraga bukan sebatas pada tinju. Rio juga mengurus lebih dari 30 cabang olahraga, terutama di tingkat DKI Jakarta. Ia mencontohkan perkumpulan olahraga Garuda Jaya milik Rio yang membawahi berbagai cabang olahraga. Lewat Sasana Garuda Jaya pula lahir juara dunia tinju profesional pertama Indonesia, Elly Pical, di badan tinju dunia IBF tahun 1985. *e-ti

  
Prof Dr Afan Gaffar

Orang Bima yang Sangat nJawani

Yogya-karta 08/01

/03: Prof Dr Afan Gaffar, Guru Besar Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) secara mendadak meninggal dunia, Rabu (8/1), di Yogyakarta ketika hendak memangkas rambut di belakang rumahnya sekitar pukul 14.00. Jenazah disemayamkan di Balai-rung UGM dan selanjutnya dimakamkan di Sidoarum, Godean, Yogyakarta.

Afan Gaffar yang dilahirkan 21 Juni 1947 meninggalkan seorang istri, Sujiyatni Purwaningsih, dan dua anak, Nina N Gaffar dan Erlangga Dwiyanto Aditya Gaffar, serta dua cucu Kian dan Bima. Ia. memperoleh gelar sarjana dalam ilmu pemerintahan dari Fisipol UGM tahun 1973 dan melanjutkan studinya di Illinois University, Amerika Serikat sampai mendapatkan MA tahun 1978 dan PhD di bidang ilmu politik dari Ohio University tahun 1988.

Afan dikenal sebagai ilmuwan yang aktif menulis di berbagai media massa, kerap memberikan pelatihan kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) maupun DPRD dan pernah menjadi anggota KPU (Komisi Pemilihan Umum). Ia juga seorang pengamat politik yang dekat dengan Amien Rais. Jabatan terakhir sebagai Ketua Program Studi Ilmu Politik Lokal dan Otonomi Daerah serta Sekretaris MWA (Majelis Wali Amanah ) UGM.

Ia dalam tiga bulan terakhir ini sibuk untuk menyelesaikan kurikulum program S3 ilmu politik. Hal itu dilakukan terutama setelah dia menyelesaikan penyusunan Rancangan Undang-undang tentang Keistimewaan DIY. Walaupun Afan Gaffar kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat, namun ia terpilih sebagai Ketua Penyusunan RUU itu.

Di tempat tinggalnya, walaupun bukan orang Jawa, Afan terkenal sebagai orang yang sangat nJawani. Ia dikenal luas para tetangganya karena banyak bergaul dan sering keliling dengan naik motor di desanya. *e-ti-kps

 

 

  

 

Copyright © 2002 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero