ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
 
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
 
  P R O F E S I
 ► Advokat
 ► Akuntan
 ► Arsitek
 ► Bankir
 ► CEO-Manajer
 ► Dokter
 ► Guru-Dosen
 ► Konsultan
 ► Kurator
 ► Notaris
 ► Peneliti-Ilmuwan
 ► Pialang
 ► Psikolog
 ► Seniman
 ► Teknolog
 ► Wartawan
 ► Profesi Lainnya
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 

 


 
  C © updated 28042004  
   
  ►e-ti/ms  
  Nama:
Zaenal Soedjais
Lahir:
Cirebon, 10 Agustus 1942
Agama:
Islam
Istri:
Sri Afifah (menikah 4 September 1971)
Anak:
1. Mohammad Zain Mawardi Arif
2. Laksmi Yuliandri
3. Dodi Surya Wijaya (Ahli Computer)
4. Hartina Riani Sofana (seorang artis yang sudah mengeluarkan album –‘Benang Merah’
Ayah:
H. Abdullah Harun (Alm)
Ibu:
Sofia Atmi (Alm)
Saudara Kandung:
Anak kelima dari sembilan bersaudara

Pengalaman Kerja:
1. 1965: Asisten Dosen
2. 1967 -1981: Dosen di berbagai Perguruan Tinggi, seperti:
a. Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta Fakultas Sospol UGM Yogyakarta
b. Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (Ull) Yogyakarta
c. Fakultas Ekonomi Proklamasi Yogyakarta
d. Fakultas Ekonomi Admadjaja Yogyakarta
e. UPN Veteran Yogyakarta dan Surabaya
f. Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang
g. FKK Universitas Brawijaya Malang
h. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Djember

3. 1967 -1970: Tenaga Konsultan Management Center UGM
4. 1969: Pegawai Kantor Akuntan ' Chairul Anwar ' Yogyakarta
5. 1970-1981: Pegawai PT Semen Gresik ( sebagai Kep & Pengawasan / Comptroller, dan kemudian Staf Ahli Direksi )
6. 1975-1980: Anggota Komisaris PT. Eternit Gresik
7. 1981-1983: Direktur Keuangan dan Komersil PT. Semen Madura.
8. 1983-1995: Direktur Keuangan dan Komersial PT. Pupuk Kalimantan Timur .
9. 1994-1995: Presiden Komisaris PT. Kaltirn Parna Industri ( Proyek I Pabrik Ammonia )
10. 1992-1994: Presiden Komisaris PT. Kaltirn Methanol Industri ( Proyek Pabrik Methanol)
11. 1995 -Juni 2001 : Presiden Direktur PT. Asean Aceh Fertilizer
12. 23 Mei 2001 -Sekarang: Direktur Utama PT. Pusri Holding

Alamat Kantor:
Gedung PUSRI Lt. 7
JI. Taman Anggrek, Kemanggisan Jaya Jakarta Barat 11480, Indonesia
Telepon : (021) 5480211,5480155 Fax :(021)5480607,5305272


 
 
     

==   1       6   ==

Zaenal Soedjais (5)

Kiat Kendalikan “Si Jumbo” Pusri


Zaenal Soedjais melakukan banyak perubahan besar di lingkungan PT Pusri Palembang (holding). Hasilnya cukup menggembirakan. Perusahaan efisien dan efektif mencapai sasaran. Tujuh etos kerja sebagai agenda manajemen korporasi dijalankan betul. Pusri memasuki berbagai era baru. PT Pusri memproduksi pupuk organik, memasuki arena perdagangan komoditas pertanian, serta berbagai obsesi perusahaan lainnya.

Ketika pada 23 Mei 2001 untuk pertama kali ia memasuki dimensi ruang dan waktu yang terdalam di PT Pupuk Sriwijaya (holding company) sebagai direktur utama, dengan mudah dia menyimpulkan perusahaan besar itu bergerak sangat lamban. Sebagai sarjana ekonomi akuntansi dan ekonomi perusahaan yang sudah kenyang puluhan tahun makan asam garam dan pengalaman manajemen bisnis di berbagai perusahaan petrokimia terkemuka sebagai direksi, ia dengan cepat dan jeli dapat melihat apa yang harus dilakukan untuk mengefektifkan perusahaan itu.

Maka, yang pertamakali dia sadarkan di perusahaan kelas jumbo yang baru dikendalikannya itu adalah perubahan. Hidup adalah perubahan dan perubahan adalah hidup. Maka agar tidak mati harus melakukan perubahan. PT Pusri (Persero) Holding, yang pada akhir 2003 mempunyai aset sebesar Rp 16 triliun, dengan omzet/turn over tahun 2003 sebesar Rp 11 triliun, keuntungan sebelum pajak sebesar Rp 1,2 triliun serta kontribusi berupa Pajak dan Deviden sebesar Rp 1,2 triliun, mau tidak mau harus mampu lebih kompetitif dengan melakukan berbagai perubahan.

Dia segera mengubah suasana lingkungan internal perusahaan. Diawali dengan karyawan PT Pusri unit Palembang yang tadinya 5.000 orang, oleh konsultan perusahaan disebutkan jumlah itu terlampau banyak. Cukup 2.500 orang saja. Di tahun pertama ia langsung mengurangi 1.729 karyawan. Suatau kebijakan rasional kendati tidak populis. Tetapi seorang pemimpin harus berani melakukan perubahan menuju kinerja yang lebih baik. Apalagi, pengurangan karyawan itu terjadi justru di saat orang sedang sangat bebas berpikir dan berbicara tentang demokrasi dan transparansi. Di mana setiap orang merasa berhak tentang ini dan itu.

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) adalah sangat tidak populer. Karenanya ia mengemasnya sedemikian rupa sehingga proses PHK menjadi kemauan karyawan. Ia mengajukan tawaran menarik kepada para karyawan. Ia memperbandingkan besaran angka penghasilan jika bersedia mengundurkan diri atau tetap sebagai karyawan. Tawaran menarik itu direspon sejumlah 1.729 karyawan untuk menerima pesangon total sebesar Rp 370 miliar.

Jumlah itu absolutely terasa besar. Namun menjadi tidak tatkala di kemudian hari PT Pusri berhasil melakukan efisiensi, memperoleh suasana dan semangat kerja yang sangat produktif. Dan, pasti membawa berbagai keberhasilan baru pada perusahaan. Soedjais juga segera menghentikan kontrak terhadap 750 karyawan tidak tetap. Pusri menjadi ramping, efisien dan efektif, hanya diawaki 3.200 orang karyawan.

Tujuh Agenda Manajemen
Ia juga memberikan suntikan-suntikan baru tentang etos kerja. Terdiri tujuh etos kerja sebagai agenda manajemen korporasi yang harus selalu diperhatikan oleh seluruh karyawan. Zaenal Soedjais menulisnya dalam buku Korporasi Pembangun Nilai, Tujuh Agenda Manajemen Korporasi, terbitan RBI Research bekerjasama dengan PT Pupuk Sriwijaya (Holding), cetakan pertama tahun 2002.

Etos pertama keutamaan. Sebagai orang luar yang baru masuk ke lingkungan terdalam perusahaan Soedjais mampu dengan jernih melihat berbagai kekurangan yang ada. Misalnya, karyawan PT Pusri sangat tidak menyegerakan sesuatu. Karena itu, etos pertama keutamaan meminta agar setiap karyawan jangan menunggu penyelesaian masalah besok atau lusa. Kalau hari ini ada masalah selesaikan hari ini juga. Sebab besok akan ada masalah lain lagi.

Etos kedua responsif. Setiap surat, komplain, atau apa pun dan dari siapa pun harus ada respon segera. Soedjais melihat kalau ada surat masuk karyawan memperlakukannya seperti memasukkan sesuatu ke sumur yang tanpa dasar. Lalu hilang begitu saja keliling-keliling kemudian masuk ke file.

Etos ketiga disiplin. Soedjais menyebutkan tidak ada bangsa di dunia yang maju tanpa disiplin. Etos keempat kerja keras. Etos kelima kreatif. Jika karyawan hanya kerja keras saja nantinya hanya lari sana lari sini lalu keringatan tetapi produknya hanya keringat. Jika tidak ada kreatifitas karyawan bisa habis.

Etos keenam adalah bersih. Bersih hati bersih lingkungan. Soedjais tidak ingin ada toleransi terhadap karyawan yang “membocorkan kapal” walaupun hanya sebesar jarum. Sebab walau kecil kalau terdapat seribu jarum maka bisa meluas.

Etos terakhir atau ketujuh adalah setiap karyawan harus punya jiwa positive thinking. Istilahnya berbaik sangka. Jangan sekali-kali berburuk sangka sampai ketahuan bahwa orang itu benar-benar jahat. Jadi, sebaiknya karyawan introspeksi apakah dia sudah baik.

Dengan tujuh butir etos kerja agenda manajemen korporasi yang selalu dia tekankan, terbukti terjadi banyak perubahan. Jika ada karyawan yang berbicara dengannya Soedjais selalu mereferensikan dengan salah satu dari ketujuh etos untuk mengingatkan.

Dengan para serikat pekerja Soedjais menjalin kolaborasi yang saling suport sesuai pesan undang-undang. Peran serikat pekerja bukan hanya untuk memperjuangkan kesejahteraan karyawan. Tetapi juga berfungsi meningkatkan efisiensi perusahaan. Kepada para istri karyawan Soedjais menekankan besarnya peranan mereka. Jika ibu-ibu komit terhadap PT Pusri maka suami-suami juga akan tenang bekerja dan cara omongnya pun menjadi enak.

Pupuk Organik
Tiba pada kesempatan mengelaborasi sisi bisnis, Soedjais berkesimpulan, PT Pusri jika hanya memproduksi pupuk kimia bisa ketinggalan. Pusri harus mulai memasuki produksi pupuk organik yang terbuat dari bahan baku sampah. Sebuah langkah aneh bagi kalangan dunia petrokimia, sesungguhnya. Karena itu jauh-jauh hari ia sudah menyiapkan diri untuk menerima aneka macam kritikan pedas.

Ia menyebutkan, jika Pusri tidak segera memasuki produksi pupuk organik maka orang lainlah yang akan melakukannya lebih dulu. Menurutnya, tanah pertanian Indonesia sudah terlalu banyak memakai pupuk kimia sehingga tidak lagi mempunyai daya dukung kesuburan tanah. Kadar C organik tanah pertanian Indonesia sudah tinggal satu padahal mestinya tiga.

“Jadi, kalau kita sebagai produsen pupuk urea, kimia, tidak merasa bersalah, keliru kita. Untuk itu kita harus memproduksi pupuk organik supaya bisa mengembalikan tingkat kesuburan tanah yang selama ini kita rusak,” jelas Soedjais. Tujuan penggunaan pupuk kimia bagus untuk memproduksi pangan yang berlipat-lipat. Akan tetapi, tegas Soedjais, struktur tanah menjadi rusak dibuatnya. Tanah, jika tanpa dibantu pupuk kimia produksinya turun hingga separuh. Ini membuktikan betapa tanah sudah tidak lagi sehat.

Menurut Soedjais, jika ingin meningkatkan kesuburan tanah idealnya penggunaan pupuk organik pada tahap awal sudah harus mencapai 3 ton/hektar. Namun karena jumlah pupuk organik belum banyak, proporsinya secara kontinyu baru sebatas 500 kg per hektar sehingga masih ditambah pupuk kimia 100 kg per hektar. Jika tanpa pupuk organik, setiap satu hektar tanah dibutuhkan pupuk kimia 250 kg per hektar. Dengan demikian selisih pupuk kimia 150 kg per hektar bisa digunakan untuk membeli pupuk organik.

Ia menyebutkan, idealnya terdapat keseimbangan antara penggunaan pupuk organik dan pupuk kimia. Penggunaan pupuk kimia harusnya tinggal separuh saja dari penggunaan biasa. Bagi kalangan industri pupuk kimia, terminologi proporsional itu bukan berarti linear harus mengurangi kapasitas produksi mesin pabrik menjadi separuh. Jika gagasan penggunaan pupuk organik berkembang luas maka pupuk kimia akan diarahkan ke tanah-tanah baru yang belum pernah dipupuk. Luasan tanah yang akan dipupuk menjadi semakin melebar. Bukan lagi 11 juta hektar seperti yang ada saat ini, tetapi menjadi 20 juta hektar. Selain itu pupuk berpotensi memasuki pasar ekspor untuk menghasilkan devisa.

Berdagang Produk Pertanian
PT Pusri juga mulai memasuki era baru perdagangan hasil-hasil pertanian seperti beras, jagung, dan sebagainya. Institusi PT Pusri melihat cara yang paling tepat untuk ikut meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia adalah meningkatkan kesejahteraan petani.

Jumlah petani mencakup lebih dari separoh penduduk Indonesia. Dua puluh juta lebih keluarga petani kalau tiap keluarga terdiri lima orang berarti terdiri seratus juta penduduk Indonesia. Cara terbaik meningkatkan kesejahteraan petani adalah membenahi pasca panen dengan memasuki trading produk-produk mereka.

Selama ini masalah pasca panen masih kurang menguntungkan petani. Sering kali, sekalipun bukan panen raya, harga-harga produk pertanian tetap anjlok di bawah harga dasar. Harga gabah kering panen yang ditetapkan pemerintah Rp 1.230/ kg, di pasar hanya Rp 900/kg. Harga gabah kering giling yang ditetapkan pemerintah Rp 1.750/kg, di pasar hanya Rp 1.300/kg. Petani, dalam kesimpulan Soedjais, nyaris tidak pernah merasakan harga yang ditetapkan pemerintah.

Ia melihat ada banyak hal luar biasa di arena perdagangan komoditas pertanian. Misalnya, proses susut dari gabah kering panen ke gabah kering giling hanya 10 persen. Namun dalam harga perbedaannya menjadi Rp 500. Padahal, jika mengadakan fasilitas drying yang hanya menelan biayanya Rp 100 per kg atau 200 per kg, maka terdapat selisih Rp 300 per kg.

Belum lagi keluarbiasaan pada processing rice milling yang masih tradisional satu slap semua. Kalau sistem satu slap dipaksakan tingkat kehancuran (broken) bisa mencapai 20 hingga 25 persen. Yang broken harganya hanya 60 persen. Menurut Soedjais, dengan mempergunakan proses giling empat slap atau empat speed dengan mempermoden peralatan, akan dihasilkan broken yang lima persen saja. Perbedaan broken antara 5 dengan 25 persen besar sekali.

Karena itu, setiap ada kesempatan berbicara dengan bupati atau gubernur, Soedjais selalu menekankan agar menyisihkan dana untuk membangun mesin giling padi modern. Anggap mesin itu sebagai infrastruktur pembangunan. Bukan investasi yang harus segera memberi keuntungan. Atau tempuh cara lain. Misalnya, atas usul dan inisiatif pemerintah undang swasta untuk membangun dan menjalankan infrastruktur penggilingan padi agar tidak ada yang merasa dirugikan. Rakyat atau petani yang memperoleh harga bagus akan terpacu memproduksi lebih banyak lagi. Daerah-daerah menjadi sumber penghasil bahkan lumbung pangan.

Soedjais menyebutkan PT Pusri memasuki arena perdagangan hasil pertanian masih dalam skala kecil. “Kita takut, kalau langsung besar orang-orang kita belum siap. Nanti, bisa banyak manipulasi di situ.”

Memasuki dunia trading pertanian diakuinya terasa berat. Tengkulak banyak memainkan titik potong harga secara tidak bertanggungjawab. Akibat yang dirasakan petani setiap panen raya harga produk pertanian drop. Dia menyebutkan Bulog sudah lama memulai langkah menaikkan titik potong namun kapasitasnya hanya tujuh persen sehingga belum mampu melakukan stabilisasi harga.

Kalau saja Bulog menguasai 15 persen ditambah Pusri 10 persen, harga akan bisa stabil. Petani bisa mendapatkan tambahan harga jual untuk gabah kering giling Rp 300 per kg. Seorang petani yang mempunyai lahan satu hektar dengan hasil panen tujuh ton X Rp 300 terdapat Rp 2,1 juta tambahan income petani.

Kalau saja PT Pusri bisa menguasai 10 persen produk bruto pertanian yang berarti 5 juta ton gabah, dengan pencapaian keuntungan Rp 50/kg. Maka akan diperoleh pendapatan Rp 250 miliar tanpa fasilitas. Melainkan hanya modal kerja yang terus bergulir. Karena itu, ia sangat berobsesi memasarkan 5 juta ton gabah per tahun yang harganya setara dengan 5 juta ton pupuk per tahun. Kalau Pusri membangun pabrik pupuk berkapasitas 5 juta ton per tahun itu sama dengan membangun dua kali pabrik Pusri Palembang atau 10 unit pabrik. Lalu, 10 X 300 juta dolar AS= 3 miliar dolar AS dibutuhkan investasi. Sedangkan untuk mencapai hasil sama dari penjualan produk pertanian yang dibutuhkan hanyalah modal kerja bergulir.

Realisasi awal dari obsesi besar PT Pusri mulai terlaksana sejak bulan Mei 2003. Ketika itu di hadapan Presiden Megawati Soekarnoputri, PT Pusri dan Bulog sepakat bekerja sama. Kemudian, sejak Maret 2004 di Propinsi Banten PT Pusri terlibat sebagai satu dari 15 pemasok pengadaan jagung di sebuah fasilitas proses jagung yang membutuhkan bahan baku 1.000 ton jagung per hari. Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI Rini MS Suwandi kepada pemilik perusahaan berpesan, setelah PT Pusri terlibat membantu pengadaan jangan lagi mengimpor jagung. Tetapi usahakanlah dari dalam negeri.

Rencana ke depan
PT Pupuk Sriwijaya kini berada pada konsisi harga pupuk yang sudah tidak pernah naik sejak tahun 1998. Malah, pada Januari 2003 harga pupuk diturunkan Rp 100/kg. Karena itu adalah beruntung sekali PT Pusri masih bisa tetap survive bahkan mencatat kenaikan pendapatan walau tidak terlalu drastis. Susah mencari perusahaan tandingan PT Pusri yang tidak mempunyai utang jangka panjang satu rupiah pun. Hal itu sesungguhnya menggambarkan perusahaan melangkah kurang agresif.

Sebuah perusahaan semestinya berutang untuk mengembangkan perusahaan dengan tidak dari dompet sendiri. Melainkan memperoleh pinjaman dari perbankan. Prinsipnya menambah kocek baru tanpa kapital baru. Karena itulah ia berencana melakukan ekspansi. Antara lain memasuki arena perdagangan komoditas pertanian, membangun pabrik baru di Palembang sebagai renovasi pabrik yang dibeli dari Korea, merenovasi pabrik pupuk Pusri nomor tiga dan nomor empat yang sudah berusia 30 tahun lebih, serta akan membangun pabrik petrokimia di Senoro, Sulawesi Tengah. Melihat track record Soedjais selama ini agaknya rencana-rencana besar itu akan tercapai. ►ht, ms,crs

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 
Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero