A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P O L I T I S I
 ► Politisi
 ► MPR-RI
 ► DPR-RI
 ► Partai-Pemilu
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 09102004  
   
  ► e-ti/rpr  
  Nama:
Yenny Wahid
Nama Lengkap:
Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid
Lahir:
Jombang, Jawa Timur, 29 Oktober 1974
Saudara:
- Alissa Qotrunnada Munawaroh Rahman (anak)
- Anitta Hayatunnufus Rahman (anak)
- Inayah Wulandari Wahid (anak)
Pendidikan:
- Sarjana desain dan komunikasi visual dari Universitas Trisakti
- Master dari Harvard University
Pekerjaan:
- Koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne), 1997-1999
- Direktur The Wahid Istitute (2004-sekarang)
- Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik
- Sekjen DPP PKB, 2006-sekarang

Penghargaan:
Australia's Premier Journalistic Award - The Walkleys
Alamat:
Jl Al Munawaroh No 10 Ciganjur, Jakarta Selatan 
 
     
 
BIOGRAFI

 

Yenny Wahid

Regenerasi Politik Gus Dur


Dia selalu mendampingi Gus Dur. Kemudian dia dipercaya menjabat direktur The Wahid Institute, sebuah lembaga kajian Islam dan kebudayaan yang diprakarsai KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bersama rekan-rekannya. Bisa jadi, kehadiran mantan koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne), ini memberikan warna tersendiri bagi wajah politik di Indonesia. Sempat menjadi staf khusus Presiden SBY sebelum menjadi Sekjen DPP PKB 2006 sampai sekarang.

Keberadaannya menjadi awal dimulainya proses magang politik oleh generasi orangtua, yang kini menjadi pemain politik kunci --dalam hal ini Gus Dur. Salah satu ‘magang politik’ yang sedang dilakoninya adalah turut serta bersama-sama Susilo Bambang Yudhoyono, calon presiden RI, dalam berbagai hajatan. Itu artinya, keluarga Ciganjur ini menyusul model regenerasi serupa yang dilakukan keluarga Presiden Megawati. Keluarga Mega sudah lebih dulu melibatkan putri mereka, Puan Maharani, ke pelbagai kesempatan.


Selain menjadi mata dan telinga bagi Gus Dur, lulusan sarjana desain dan komunikasi visual dari Universitas Trisakti, ini juga sering memberikan berbagai masukan tentang isu yang sedang hangat terjadi baik di dalam maupun luar negeri. Ia mengakui bahwa mendampingi ayahnya tidaklah mudah. Perlu banyak kesabaran, pengertian dan cinta. Selain menemani Gus Dur, Yenny juga membacakan isi surat kabar untuk ayahnya meski terkadang beritanya termasuk berita buruk. Namun sekarang, ia sudah dibantu oleh asisten untuk melakukan itu.


Yenny Wahid yang bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid lahir di Jombang, Jawa Timur, 29 Oktober 1974 dalam lingkungan keluarga NU. Pola pikirnya pun tidak jauh dengan ayahnya yang lebih mengedepankan Islam yang moderat, menghargai pluralisme dan pembawa damai. Dengan adanya The Wahid Institute diharapkan dapat meneruskan apa yang selama ini Gus Dur perjuangkan bahkan tidak tertutup kemungkinan muncul pemikiran-pemikiran Islam yang lebih progresif.


“Tujuan The Wahid Institute sejalan dengan visi Gus Dur, yaitu membangun pemikiran Islam moderat, yang mendorong terciptanya demokrasi, pluralisme agama-agama, multikulturalisme dan toleransi di kalangan kaum Muslim Indonesia,” kata Yenny dalam acara peresmian The Wahid Institute yang diselenggarakan di ballroom Hotel Four Seasons (dahulu Regent), Jakarta, Selasa (7/9/2004).


Salah satu program The Wahid Institute, tambah Yenny, antara lain mengkampanyekan pemikiran Islam yang menghargai pluralitas dan demokrasi. Selain itu melalui program pendidikan, kita akan mendidik kyai-kyai muda yang ada di desa berdasarkan visi Gus Dur tadi,” jelas alumnus Harvard University ini.


Sebelum terjun secara khusus mendampingi ayahnya, Yenny bertugas sebagai reporter di Timor-Timur, sebuah provinsi di Indonesia yang penuh kekerasan militer yang kini memisahkan diri menjadi negara sendiri. Ia menjadi koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne) antara tahun 1997 dan 1999. Saat itu, meski banyak reporter keluar dari Timor Timur, Yenny tetap bertahan dan melakukan tugasnya. Ia sempat kembali ke Jakarta setelah mendapat perlakuan kasar dari milisi, namun seminggu kemudian ia kembali ke sana.


Belum terlalu lama menekuni pekerjaannya, ia berhenti bekerja karena ayahnya, Gus Dur terpilih menjadi presiden RI ke-4 (20 Oktober 1999-24 Juli 2001). Ia menelepon kantornya dan mengatakan kepada pimpinannya bahwa ia tidak bisa pergi ke kantor karena ayahnya terpilih menjadi orang nomor satu di Indonesia. Sejak itu, kemanapun Gus Dur pergi, Yenny selalu berusaha mendampingi ayahnya.


Kini, dengan adanya kesibukan baru sebagai Direktur The Wahid Institute, Yenny harus semakin arif mengatur waktu. Ketika ditanya kapan waktu untuk pacaran, ia dengan tangkas mengatakan, "Sampai saat ini saya masih sendiri. Tidak ada waktu untuk pacaran. Bayangkan, dari pagi sampai malam saya melayani Bapak. Kalau ada yang menanyakan tentang pacar, tolong katakan saja bahwa hanya ada satu laki-laki dalam hidup saya."


Dengan penuh penasaran wartawan balik bertanya, siapa orangnya. "Yaitu KH Abdurrahman Wahid," kata Yenny dengan wajah serius tanpa senyum. "Bagaimana saya bisa pacaran, saya sesibuk ini. Saya tidak punya kehidupan pribadi," tambah perempuan yang suka belanja sendiri bahan busananya ke Pasar Mayestik ini dengan singkat.


Meski mengaku sibuk, perempuan manis seperti Yenny pasti mempunyai segudang penggemar. Kecantikan yang terpancar dari dalam dirinya cukup membuat banyak lelaki jatuh hati padanya. Lihat saja senyumannya, gaya bicara saat berpidato, kecerdasannya dan keramahaannya sudah akrab kita temui dimanapun ia berada. ►tsl
 

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 

===========================================
 

Adrenalin Yenny Zannuba Wahid

Untuk membikin janji bertemu dengan Yenny Zannuba Wahid, susah-susah gampang. Bukan karena ayahnya, Abdurrahman Wahid, pernah menjadi Presiden Indonesia lalu dia jadi sulit ditemui, tetapi karena anak kedua pasangan Gus Dur dan Sinta Nuriyah ini kini menghabiskan hampir separuh waktunya dalam sepekan di jalan.

Dua minggu lalu misalnya, Sabtu dan Minggu dia berada di enam kota di Jawa Timur, lalu Minggu malam ada di dua kota di Jawa Tengah. Di kota-kota itu Yenny menemui konstituen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), diminta berbicara dalam posisinya sebagai Direktur Wahid Institute, atau bertandang ke pesantren di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Urusannya mulai dari berpidato di depan ribuan massa Nahdlatul Ulama, bersilaturahmi dengan anggota dan simpatisan PKB mengenai kebijakan partai, atau ikut kampanye pilkada di kabupaten dan kota untuk calon kepala daerah dari PKB.

”Saya sering diminta datang menggantikan Bapak. Saya harus datang, karena ribuan orang sudah menunggu. Jangan tanya soal bagaimana istirahat, ya sebisanya. Untuk memenuhi semua undangan itu ya naik apa saja, pesawat, kereta api, mobil. Yang belum tinggal naik onta, he-he-he…,” kata Yenny dua pekan lalu di kantor Wahid Institute di Jakarta Pusat.

Janji bertemu sekitar pukul 17.00 hari itu pun terpaksa dimajukan menjadi pukul 15.00 sebab petangnya Yenni ternyata sudah ditunggu di dua acara. ”Padahal aku pengen latihan aikido, tetapi ada dua acara menunggu,” tambah Yenny.

Aikido merupakan salah satu hobi yang sedang coba ditekuni Yenny di tengah kesibukannya mondar-mandir ke berbagai kota di Jawa dan luar Jawa. Dia tertarik belajar bela diri asal Jepang itu ketika ayahnya menjadi Presiden Indonesia dan melihat pengawal presiden berlatih. Yenny kesengsem pada bela diri ini karena benar-benar tidak dipakai menyerang melainkan hanya membela diri, kelihatan halus, tidak mengeluarkan banyak tenaga, tetapi dapat melumpuhkan lawan dengan membalikkan tenaga lawan. Nah!

Perspektif berbeda

Berkeliling ke berbagai pelosok memberi pengalaman berharga untuk Yenny. ”Saya berkeliling ke berbagai tempat karena perjalanan itu memberi perspektif berbeda mengenai hidup. Ada kenyataan lain mengenai hidup yang berbeda dari Jakarta. Di daerah hidup jauh lebih sulit. Di Jakarta orang masih bisa hidup dalam situasi seperti ini,” papar Yenny.

Salah satu pengalaman yang melekat erat di benaknya adalah ketika datang ke daerah-daerah yang terkena busung lapar di mana terdapat konstituen PKB. Di sebuah desa di Lombok yang sangat miskin, Yenny bertemu satu keluarga yang tinggal di rumah bambu berukuran 5 x 2 meter. Tidak ada barang apa pun di rumah itu.

”Satu-satunya harta di rumah itu hanya kalender bergambar bapakku. Ini jadi seperti utang untuk saya karena saya ini termasuk the privilege. Ada efek psikologis terhadap saya menghadapi situasi itu,” katanya. Sensasi pertama yang dia rasakan ketika itu adalah rasa lumpuh. Bagaimana dapat menolong 90 orang di desa itu, lalu ketika terpikir 90 juta penduduk Indonesia dia merasa tidak berdaya.

Tetapi, bukan Yenny bila dia patah. Dia memanfaatkan jaringan teman-temannya untuk menolong desa yang penduduknya hidup sebagai penggarap dengan upah Rp 10.000 per hari serta menganyam tikar yang harganya Rp 7.500 per lembar dan baru selesai seminggu untuk satu tikar. Dia hubungi temannya pengusaha di Kebumen yang sudah mengekspor untuk membeli tikar dari desa di Lombok tadi.

”Aku juga manfaatkan jaringanku, kenalanku duta besar-duta besar, untuk mendapat beasiswa. Saya mendayagunakan jaringan yang saya punya, selain melalui partai (PKB) mendorong kebijakan yang pro-publik,” tambahnya.

Hidup yang mengalir

Yenny adalah profil nahdliyin masa kini. Dari sisi pendidikan, Yenny lulus S1 komunikasi visual Universitas Trisakti Jakarta dan S2-nya dari John F Kennedy School of Government, Harvard University, Michigan, Massachusetts.

”Perjalanan hidupku mengalir saja. Jadi wartawan pun mengalir saja. Biarpun tidak punya pengalaman (wartawan), tetapi kalau dikerjakan dengan antusias pasti bisa,” kata Yenny yang menjadi koresponden biro Jakarta pada periode 1997-1999 untuk The Sydney Morning Herald dan The Age Melbourne.

”Itu masa paling menggairahkan, adrenalin terpompa,” tambah Yenny yang meliput konflik RI dengan GAM di Aceh, referendum di Timor Timur, dan perubahan kepemimpinan Indonesia.

Prestasi sebagai wartawan itu dibuktikan Yenny dan timnya saat memenangi penghargaan paling bergengsi di Australia, Walkley Award, tahun 1999 untuk liputan pra dan pascareferendum di Timor Timur. Ini penghargaan pertama untuk orang non-Australia.

Dia mengaku, tidak pernah menggunakan posisi ayahnya di Nahdlatul Ulama untuk kepentingan pribadi. Untuk mewawancarai ayahnya dia harus daftar, antre seperti wartawan lain.

Kedekatannya dengan sang ayah, termasuk dalam minat dan pemikiran, membuat dia terlibat aktif dalam kegiatan Abdurrahman Wahid semasa menjadi Presiden (Oktober 1999-Juli 2001) bahkan hingga kini. Yenny misalnya, ikut mengecek berbagai laporan yang masuk yang dia bacakan untuk ayahnya yang mengalami kesulitan penglihatan. Dia membantu ayahnya dalam pertemuan dengan kepala negara asing serta perwakilan negara-negara asing, serta ikut dalam kegiatan sehari-hari kantor kepresidenan.

Dia mengaku kadang disergap rasa bosan saat menemani ayahnya bertemu kepala-kepala negara. ”Yang dibicarakan kadang itu-itu saja. Kalau lagi bosan saya membuat sketsa. Saya pernah buat sketsa Bill Clinton, John Howard, Zhu Rongji, Joseph Estrada, Jacques Chirac. Sketsa saya tentang Chirac saya berikan kepada dia,” kata Yenny belajar dari orangtuanya bahwa hambatan fisik tidak perlu menghalangi keinginan dan kegiatan di ruang publik.

Mengenai Wahid Institute yang ikut dia dirikan, Yenny menyebut sebagai komunitas anak muda yang berpikir kritis tanpa meninggalkan tradisi, seraya menyemai pemikiran Islam yang pluralis dan moderat. Tetapi, obsesinya adalah mendirikan Universitas Wahid di Jawa Timur. ”Penekanannya pada keterampilan, ada sisi kemanusiaan, demokrasi, pluralisme. Rata-rata orang NU itu sarjana agama, tetapi kurang keterampilan dunia,” katanya.

Tentang pendamping hidup?

Yenny menjawab dengan tawa panjang. ”Ha-ha-ha, sayangnya belum ada yang mau jadi korban. Dengan kesibukan seperti sekarang ini lebih enak single, tidak perlu izin dulu. Justru status ini menguntungkan. Sekarang belum terpikir untuk segera mengakhiri masa lajang.” (Ninuk M Pambudy & J Osdar, Kompas, Minggu, 16 Oktober 2005)