| |
C © updated
10122003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
rpr sp |
|
| |
Nama:
Yap Thiam Hien
Lahir:
Kutaraja, Banda Aceh, 25 Mei 1913
Meninggal:
Brussel, 25 April 1989
Isteri:
Tan Gian Khing Nio (guru)
Anak:
Dua orang
Ayah:
Yap Sin Eng
Ibu:
Hwan Tjing
Profesi:
Advokat (Pendiri organisasi advokat, Peradin)
Pendidikan:
Europesche Lagere School Banda Aceh
MULO Banda Aceh
AMS A-II jurusan Sastra Barat Yogyakarta 1933
Meester de Rechten dari Fakultas Hukum Universitas Leiden, Belanda
Doktor honoris causa
Pekerjaan:
Guru Chineesche Kweekschool Jakarta
Guru di Chinese Zendingschool, Cirebon
Guru di Tionghwa Hwee Kwan Holl, China School di Rembang
Pencari langganan telepon bekerja di kantor asuransi Jakarta 1938
Pegawai Balai Harta Peninggalan Departemen Kehakiman pada 1943.
Pengacara bersama John Karwin, Mochtar Kusumaatmadja dan Komar pada 1950.
Anggota DPR dan Konstituante 1955
Organisasi:
Pendiri BAPERKI
Pendiri/Ketua Peradin
Pendiri LBHI
Sumber:
=www.ytha.com = Suara Pembaruan, Sabtu 13 Desember 2003
|
|
| |
|
|
|
|
Yap Thiam Hien (1913-1989)
Obor Pejuang Keadilan dan HAM
Yap Thiam Hien seorang pengabdi hukum sejati. Ia mengabdikan seluruh
hidupnya berjuang demi menegakkan keadilan dan hak asasi manusia (HAM).
Namanya telah menjadi sumber inspirasi dan obor api semangat bagi segenap
pejuang keadilan dan HAM di negeri ini. Pria Tionghoa ini seorang advokat
teladan yang berani dan tanpa pamrih selalu hadir paling depan membela
orang-orang tertindas. Patutlah namanya diabadikan sebagai nama
penghargaan penegakan HAM: Yap Thiam Hien Award.
Sehingga, walaupun pejuang HAM, kelahiran Banda Aceh 25 Mei 1913, ini
telah wafat 25 April 1989, namanya tetap hidup menjadi sumber inspirasi
dan obor api perjuangan hak asasi manusia yang terus menyala, tidak pernah
padam. Ia telah menjadi teladan dan guru bagi banyak advokat terkenal di
negeri ini. Semangat juangnya untuk menegakkan keadilan diukir dalam
lambang Yap Thiam Hien Award dengan semboyan Fiat Justitia, Ruat Caelum
yang artinya tegakkan keadilan, sekalipun langit runtuh.
Agaknya, itu pulalah menjadi makna paling hakiki dari penganugerahan Yap
Thiam Hien Award, yaitu suatu sumber nyala api semangat meneruskan (estafet)
perjuangan hak asasi manusia sebagai komitmen terhadap kemerdekaan,
keadilan dan peradaban. Suatu obor estafet hak asasi manusia. Sekaligus
sebagai penghormatan dan penghargaan kepada Yap Thiam Hien, walaupun dia
tidak mengharapkan penghargaan itu.
Yap Thiam Hien Award yang adalah penghargaan bidang HAM yang pertama di
Indonesia, telah diselenggarakan sejak 1992. Dianugerahkan kepada individu
dan lembaga yang teguh berjuang di bidang penegakan HAM.
Siapa Yap Thiam Hien? Sudah banyak cerita (kisah) tentang dia. Ia seorang
pejuang hak asasi manusia di Indonesia. Sebagian besar hidupnya diabdikan
untuk membela siapa saja yang tertindas. Pemilik sosok tubuh kecil ini
bernyali besar untuk membela siapapun yang tertindas.
Ia dikenal sebagai seorang advokat teladan yang mencerminkan prinsip dan
idealisme seorang penegak hukum yang ideal. Seorang pejuang hak asasi
manusia yang gigih memperjuangkan hak-hak kaum terpinggir dan minoritas.
Ia sosok advokat yang menjadi teladan dan sumber inspirasi bagi para
penegak hukum generasi sesudahnya.
Sebagai advokat, ia tidak pernah memilih-milih klien untuk dibela. Sejak
aktif sebagai advokat tahun 1948, ia selalu melayani kepentingan
masyarakat dari semua lapisan tanpa kenal lelah. Hampir setiap perkara
yang ditanganinya sarat dengan isu-isu yang bersangkutan dengan hak asasi
manusia, prinsip-prinsip negara hukum dan keadilan. Ia tak pernah takut
berhadapan dengan kekuasaan walaupun risikonya bisa menyulitkan dirinya,
ditahan dan dipenjara.
Memang, ia seorang advokat yang pantas menyandang predikat istimewa dalam
penegakan hukum dan keadilan di Indonesia: Seorang ‘Singa Pengadilan’.
Demi menegakkan hukum dan keadilan, ia selalu siap berjuang habis-habisan
tanpa mengenal rasa takut. Sering kali ia membela klien yang sebelumnya
telah ditolak advokat lain karena miskin atau unsur politik dan mengenai
kepentingan pemerintah. Pada era Orde Baru itu, kerap kali para advokat
menghindari membela kepentingan rakyat yang tertindas. Tetapi, Yap tetap
teguh pada prinsip, ia berani dengan segala konsekuensinya membeli
kepentingan para wong cilik.
Contohnya, ia pernah membela pedagang di Pasar Senen yang tempat usahanya
tergusur oleh pemilik gedung. Saking ‘geram’-nya ‘Singa Pengadilan’ ini
bahkan menyerang pengacara pemilik gedung itu dalam persidangan, dengan
mengatakan: “Bagaimana Anda bisa membantu seorang kaya menentang orang
miskin?” Yap, salah seorang pendiri Lembaga Bantuan Hukum Indonesia itu
berani membangkitkan semangat wong cilik tertindas dan tergusur itu untuk
menentang kebijakan pemerintah yang salah, demi tegaknya keadilan.
Pada era Bung Karno, Yap (panggilan akrabnya) menulis artikel yang
mengimbau presiden agar membebaskan sejumlah tahanan politik, seperti
Mohammad Natsir, Mohammad Roem, Mochtar Lubis, Subadio, Syahrir, dan
Princen.
Begitu pula ketika terjadinya G-30-S/PKI, Yap, yang dikenal sebagai
pribadi yang antikomunis, juga berani membela para tersangka G-30-S/PKI
seperti Latief, Asep Suryawan, dan Oei Tjoe Tat. Yap bersama Aisyah Aminy,
Dr Halim, Wiratmo Sukito, dan Dr Tambunan yang tergabung dalam Lembaga
Hak-hak Asasi Manusia yang mereka dirikan dan sekaligus mewakili Amnesty
Internasional di Indonesia, meminta supaya para tapol PKI dibebaskan.
Ia juga membela Soebandrio, bekas perdana menteri, yang menjadi sasaran
cacian massa pada awal Orde Baru itu. Pembelaan Yap yang serius dan teliti
kepada Soebandrio itu sempat membuat hakim-hakim militer di Mahmilub (Mahkamah
Militer Luar Biasa) bingung, heran dan jengkel.
Yap juga seorang tokoh yang antikorupsi. Ia bahkan sempat ditahan selama
seminggu pada tahun 1968 sebagai akibat kegigihannya menentang korupsi di
lembaga pemerintah.
Pada Peristiwa Malari (Lima Belas Januari) 1974, Yap juga tampil teguh
memosisikan diri membela para aktivis berhadapan dengan kekuasaan yang
otoriter. Ia pun ditahan tanpa proses peradilan. Ia dianggap menghasut
mahasiswa melakukan demo besar-besaran. Begitu pula ketika terjadi
Peristiwa Tanjung Priok pada 1984, Yap maju ke depan membela para
tersangka.
Yap Thiam Hien, anak sulung dari tiga bersaudara buah kasih Yap Sin Eng
dan Hwan Tjing Nio, dibesarkan dalam lingkungan perkebunan yang sangat
feodalistik. Kondisi lingkungan feodalistik ini telah menempa pribadi cucu
Kapitan Yap Hun Han ini sejak kecil memberontak dan membenci segala bentuk
penindasan dan kesewenang-wenangan.
Semangat antipenindasan ini telah mendorongnya untuk giat belajar. Ia
sadar bahwa pendidikan adalah syarat utama untuk bisa melawan penindasan.
Tanpa pendidikan akan sulit bagi seseorang melepaskan diri dari penindasan,
apalagi untuk membela orang dari penindasan. Maka ia pun dengan tekun
belajar di Europesche Lagere School, Banda Aceh. Kemudian melanjut ke MULO
di Banda Aceh.
Setamat dari MULO, Yap meninggalkan Banda Aceh, melanjutkan studi ke AMS
A-II jurusan Sastra Barat di Yogyakarta pada 1933. Ketika di AMS itu Yap
banyak menghabiskan waktu membaca literatur berbahasa Belanda, Jerman,
Inggris, Prancis, dan Latin.
Kemudian ia pindah ke Jakarta, dan masuk Chineesche Kweekschool. Selepas
itu, Yap menjadi guru di Chinese Zendingschool, Cirebon. Berikutnya
menjadi guru di Tionghwa Hwee Kwan Holl, China School di Rembang dan
Christelijke School di Batavia. Lalu, sejak 1938, Yap yang pernah menjadi
pencari langganan telepon, bekerja di kantor asuransi Jakarta dan di Balai
Harta Peninggalan Departemen Kehakiman pada 1943.
Belum puas dengan tingkat pendidikan yang diperolehnya, setelah
kemerdekaan, Yap berangkat ke negeri kincir angin melanjutkan kuliah di
Fakultas Hukum Universitas Leiden, Belanda. Dari sana ia meraih gelar
Meester de Rechten.
Sekembali ke tanah air, ia mulai berkiprah sebagai seorang advokat sejak
1948. Pada mulanya menjadi pengacara warga keturunan Tionghoa di Jakarta.
Setelah lebih berpengalaman, Yap bersama John Karwin, Mochtar
Kusumaatmadja dan Komar membuka kantor pengacara pada 1950. Sampai
kemudian, sebagai advokat pejuang, Yap membuka kantor pengacara sendiri
sejak tahun 1970.
Sejak aktif sebagai advokat itu, Yap tak jemu-jemunya melayani kepentingan
masyarakat. Ia pejuang hak asasi dan gigih memperjuangkan hak-hak kaum
minoritas dan kaum tertindas. Dalam profesi sebagai advokat, untuk tujuan
memperkuat hukum dan melayani keperluan keadilan, ia pun memelopori
berdirinya Peradin (Persatuan Advokat Indonesia) dan kemudian menjadi
pimpinan asosiasi advokat itu.
Dalam rangka memperkuat perlawanannya terhadap penindasan dan tindakan
diskriminatif yang dialami keturunan Tionghoa, Yap ikut mendirikan BAPERKI,
suatu lembaga politik untuk orang-orang Tionghoa. Lalu, pada Pemilihan
Umum 1955, ia menjadi anggota DPR dan Konstituante.
Nama Yap muncul ke permukaan setelah ia terlibat dalam perdebatan di
Konstituante pada 1959. Ketika itu, sebagai seorang anggota DPR dan
Konstituante keturunan Tionghoa, ia menolak kebijakan fraksinya yang
mendapat tekanan dari pemerintah. Ia satu-satunya anggota Konstituante
yang menentang UUD 1945 karena keberadaan Pasal 6 yang diskriminatif dan
konsep kepresidenan yang terlalu kuat.
Perjalanan karir dan perjuangannya juga ditopang dengan kuat oleh Sang
Isteri, Tan Gian Khing Nio, yang berprofesi guru. Mereka dikaruniai dua
anak dan empat cucu. Yap, yang meraih gelar doktor honoris causa dan
dikenal sebagai pengabdi hukum sejati itu, mampu dengan penuh semangat
melaksanakan berbagai prinsip keadilannya, juga ditopang oleh Sang Isteri.
Bagi keluarganya, Yap juga seorang panutan. Walaupun sangat sedikit waktu
yang bisa dia sediakan untuk keluarga, ia selalu berupaya memanfaatkan
waktu yang sempit itu untuk bersahabat dengan isteri dan anak-cucunya.
Jika ada waktu senggang ia senang memanfaatkannya dengan bepergian atau
berdiskusi dengan putra-putrinya. Baginya, Sang Isteri dan
putera-puterinya adalah inspiasi, gairah dan semangat tinggi.
Namun, setinggi apapun semangat itu, tak ada manusia yang kuasa menolak
kematian. Begitu pula bagi Yap. Hari itu pun tiba. Dalam suatu perjalanan
tugas menghadiri konferensi internasional Lembaga Donor untuk Indonesia di
Brussel, Belgia, Yap menderita pendarahan usus. Setelah dua hari dirawat
di Rumah Sakit Santo Agustinus, Brussel, Yap menghembuskan napas yang
terakhir pada 25 April 1989. Jenazahnya diterbangkan ke Jakarta. Lima hari
kemudian, diiringi ribuan pelayat, jenazahnya dikebumikan di Taman
Pemakaman Umum Tanah Kusir Jakarta.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|