| |
C © updated 08082009-06092004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/rpr |
|
| |
Nama:
WS Rendra
Nama Lengkap:
Willibrordus Surendra Broto Rendra
Nama Terakhir:
Wahyu Sulaiman Rendra
Lahir:
Solo, 7 Nopember 1935
Meninggal:
Jakarta, 6 Agustus 2009
Agama:
Islam
Istri:
- Sunarti Suwandi (Nikah 31 Maret 1959 dikaruniai lima anak: Teddy Satya
Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara
Sinta. Cerai 1981)
- Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat (Nikah 12 Agustus 1970,
dikaruniai empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan
Rachel Saraswati. Cerai 1979)
- Ken Zuraida (dikaruniai dua anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba).
Pendidikan:
- SMA St. Josef, Solo
- Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
- American Academy of Dramatical Art, New York, USA (1967)
Karya-Karya
Drama:
- Orang-orang di Tikungan Jalan
- SEKDA dan Mastodon dan Burung Kondor
- Oedipus Rex
- Kasidah Barzanji
- Perang Troya tidak Akan Meletus
- dll
Sajak/Puisi:
- Jangan Takut Ibu
- Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak)
- Empat Kumpulan Sajak
- Rick dari Corona
- Potret Pembangunan Dalam Puisi
- Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta
- Pesan Pencopet kepada Pacarnya
- Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan)
- Perjuangan Suku Naga
- Blues untuk Bonnie
- Pamphleten van een Dichter
- State of Emergency
- Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
- Mencari Bapak
- Rumpun Alang-alang
- Surat Cinta
- dll
Kegiatan lain:
Anggota Persilatan PGB Bangau Putih
Penghargaan:
- Hadiah Puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1957)
- Anugerah Seni dari Departemen P & K (1969)
- Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (1975)
|
|
| |
|
|
|
|
W.S. Rendra (1935-2009)
Kepiawaian Si Burung Merak
Sastrawan WS Rendra meninggal dunia di RS Mitra
Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis 6 Agustus 2009 pukul
22.10. Ia menderita penyakit jantung koroner. Dimakamkan setelah shalat Jumat 7 Agustus 2009 di TPU Bengkel
Teater Rendra, Cipayung, Citayam, Depok.
Sebelumnya, ia dirawat di Rumah Sakit Cinere sejak
25 Juni. Namun, karena kondisinya tak kunjung membaik, Rendra lalu
dirujuk dirawat di RS Harapan Kita di Jakarta Barat, sebelum akhirnya ke
RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading.
***
Meski usianya 70-an tahun, kepak sayap si penyair berjuluk "Si Burung
Merak" ini masih kuat dan tangkas. Suaranya masih lantang dan sangatlah
mahir memainkan irama serta tempo. Kepiawaian pendiri Bengkel Teater,
Yogyakarta, ini membacakan sajak serta melakonkan seseorang tokoh dalam
dramanya membuatnya menjadi seorang bintang panggung yang dikenal oleh
seluruh anak negeri hingga ke mancanegara.
WS Rendra mencurahkan sebagian besar hidupnya dalam dunia sastra dan
teater. Menggubah sajak maupun membacakannya, menulis naskah drama
sekaligus melakoninya sendiri, dikuasainya dengan sangat matang. Sajak,
puisi, maupun drama hasil karyanya sudah melegenda di kalangan pecinta
seni sastra dan teater di dalam negeri, bahkan di luar negeri.
Menekuni dunia sastra baginya memang bukanlah sesuatu yang kebetulan namun
sudah menjadi cita-cita dan niatnya sejak dini. Hal tersebut dibuktikan
ketika ia bertekad masuk ke Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas
Gajah Mada selepas menamatkan sekolahnya di SMA St.Josef, Solo. Setelah
mendapat gelar Sarjana Muda, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di
American Academy of Dramatical Art, New York, USA.
Sejak kuliah di Universitas Gajah Mada tersebut, ia telah giat menulis
cerpen dan essei di berbagai majalah seperti Mimbar Indonesia, Siasat,
Kisah, Basis, Budaya Jaya. Di kemudian hari ia juga menulis puisi dan
naskah drama. Sebelum berangkat ke Amerika, ia telah banyak menulis sajak
maupun drama di antaranya, kumpulan sajak Balada Orang-orang Tercinta
serta Empat Kumpulan Sajak yang sangat digemari pembaca pada jaman
tersebut. Bahkan salah satu drama hasil karyanya yang berjudul Orang-orang
di Tikungan Jalan (1954) berhasil mendapat penghargaan/hadiah dari
Departemen P & K Yogyakarta.
Sekembalinya dari Amerika pada tahun 1967, pria tinggi besar berambut
gondrong dengan suara khas ini mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta.
Memimpin Bengkel Teater, menulis naskah, menyutradarai, dan memerankannya,
dilakukannya dengan sangat baik.
Karya-karyanya yang berbau protes pada masa aksi para mahasiswa sangat
aktif di tahun 1978, membuat pria bernama lengkap Willibrordus Surendra
Broto Rendra, ini pernah ditahan oleh pemerintah berkuasa saat itu.
Demikian juga pementasannya, ketika itu tidak jarang dilarang dipentaskan.
Seperti dramanya yang terkenal berjudul SEKDA dan Mastodon dan Burung
Kondor dilarang untuk dipentaskan di Taman Ismail Marzuki.
Di samping karya berbau protes, dramawan kelahiran Solo, Nopember 1953,
ini juga sering menulis karya sastra yang menyuarakan kehidupan kelas
bawah seperti puisinya yang berjudul Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota
Jakarta dan puisi Pesan Pencopet Kepada Pacarnya.
Banyak lagi karya-karyanya yang sangat terkenal, seperti Blues untuk
Bonnie, Pamphleten van een Dichter, State of Emergency, Sajak Seorang Tua
tentang Bandung Lautan Api, Mencari Bapak. Bahkan di antara sajak-sajaknya
ada yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris seperti Rendra: Ballads and
Blues: Poems oleh Oxford University Press pada tahun 1974. Demikian juga
naskah drama karyanya banyak yang telah dipentaskan, seperti Oedipus Rex,
Kasidah Barzanji, Perang Troya Tidak Akan Meletus, dan lain sebagainya.
Sajaknya yang berjudul Mencari Bapak, pernah dibacakannya pada acara
Peringatan Hari Ulang Tahun ke 118 Mahatma Gandhi pada tanggal 2 Oktober
1987, di depan para undangan The Gandhi Memorial International School
Jakarta. Ketika itu penampilannya mendapat perhatian dan sambutan yang
sangat hangat dari para undangan. Demikianlah salah satu contohnya ia
secara langsung telah berjasa memperkenalkan sastra Indonesia ke mata
dunia internasional.
Beberapa waktu lalu, ia turut serta dalam acara penutupan Festival Ampel
Internasional 2004 yang berlangsung di halaman Masjid Al Akbar, Surabaya,
Jawa Timur, Selasa, 22 Juli 2004. Dalam acara itu, ia menyuguhkan dua
puisi balada yang berkisah tentang penderitaan wanita di daerah konflik
berjudul Jangan Takut Ibu dan kegalauan penyair terhadap sistem demokrasi
dan pemerintahan Indonesia. Pada kesempatan tersebut, lelaki yang akrab
dipanggil Willy ini didampingi pengusaha Setiawan Djody membacakan puisi
berjudul Menang karya Susilo Bambang Yudhoyono.
Prestasinya di dunia sastra dan drama selama ini juga telah ditunjukkan
lewat banyaknya penghargaan yang telah diterimanya, seperti Hadiah Puisi
dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional pada tahun 1957, Anugerah Seni
dari Departemen P & K pada tahun 1969, Hadiah Seni dari Akademi Jakarta
pada tahun 1975, dan lain sebagainya.
Menyinggung mengenai teori harmoni berkeseniannya, ia mengatakan bahwa
mise en scene tak lebih sebagai elemen lain yang tidak bisa berdiri
sendiri, dalam arti ia masih terikat oleh kepentingan harmoni dalam
pertemuannya dengan elemen-elemen lain. Lebih jelasnya ia mengatakan,
bahwa ia tidak memiliki kredo seni, yang ada adalah kredo kehidupan yaitu
kredo yang berdasarkan filsafat keseniannya yang mengabdi kepada kebebasan,
kejujuran dan harmoni.
Itulah Rendra, si bintang panggung yang selalu memukau para penontonnya
setiap kali membaca sajaknya maupun melakoni dramanya. ►atur-juka
======================
Rendra dan Ajaran Kepedulian
DAHONO FITRIANTO
"Dengan rasa hormat dan perasaan yang tulus, saya ucapkan terima kasih
kepada Freedom Institute dan Keluarga Bakrie, yang dengan khidmat
meneruskan cita-cita dan laku kebajikan almarhum Bapak Achmad Bakrie.
Selanjutnya, saya juga mengucapkan simpati yang dalam kepada Keluarga
Bakrie yang lagi terlanda musibah karena, tanpa diketahuinya, telah
terseret dalam kemelut yang diciptakan oleh PT Lapindo Brantas, yang
telah melakukan kesalahan fatal di dalam operasi eksplorasi yang
mengakibatkan banjir lumpur di Jawa Timur."
Itulah kutipan pidato yang disampaikan Rendra sesaat setelah menerima
penghargaan Achmad Bakrie Award 2006 untuk Kesusastraan di Hotel Nikko
Jakarta, Jakarta, Senin (14/8) malam. Selain Rendra, dua tokoh lainnya
juga menerima penghargaan dan hadiah uang yang jumlahnya sama, Rp 100
juta, yakni Arief Budiman untuk kategori Pemikiran Sosial dan Iskandar
Wahidiyat untuk kategori Kedokteran.
Pidato tersebut berbeda dengan naskah pidato resmi Rendra yang dicetak
pada booklet acara malam itu, dan tentu saja membuat kaget seluruh
hadirin. Bermacam-macam reaksi mengiringi kekagetan itu, ada yang
tertawa ngakak, ada yang bertepuk tangan, tetapi ada juga yang diam
saja.
Bukan Rendra apabila dia tidak nakal dan aktual. Sebuah pidato
penerimaan penghargaan yang seharusnya resmi dibacakan dengan gaya
membaca puisi-puisinya—suara menggelegar dan intonasi khusus pada kata-
kata tertentu yang membuat orang tercekat. Isinya pun nakal, menyentil
langsung sang pemberi penghargaan yang kebetulan adalah salah satu
pemilik perusahaan penyebab tragedi banjir lumpur di Sidoarjo, Jawa
Timur, itu.
Semua orang tahu bencana itu adalah masalah besar paling aktual yang
terjadi di dalam negeri saat ini. "Tiga desa telah tenggelam dan tidak
bisa dihuni lagi. Lima belas pabrik yang mempekerjakan 1.736 karyawan
terpaksa tutup dan menimbulkan masalah sosial ekonomi. Delta Sungai
Brantas yang subur, yang proses pembentukannya berabad-abad melebihi
usia peradaban manusia, hancur tertimbun lumpur untuk selamalamanya,"
papar Rendra puitis.
Sentilan terhadap kelambanan penanganan tragedi yang dramatis tersebut
dilakukan dengan halus dalam bentuk harapan. "Tetap saya yakin bahwa
Keluarga Bakrie tidak akan berpangku tangan dalam hal ini. Keluarga
Bakrie pasti akan mengerahkan segenap usaha untuk bertanggung jawab atas
kecerobohan pekerja dan orang-orang di PT Lapindo Brantas." Kata "pasti"
diucapkan Rendra dengan penekanan dan suara menggelegar.
Itulah Rendra, penyair, sastrawan, aktor, dan sutradara teater kelahiran
Solo, 7 November 1935. Dalam keterangan resmi Freedom Institute sebagai
lembaga yang menyeleksi dan memutuskan penerima penghargaan ini,
disebutkan bahwa Rendra terpilih sebagai penerima Achmad Bakrie Award
2006 karena dia telah menunjukkan jalan lain perpuisian Indonesia.
Rendra disebut telah membuat sebuah pengecualian dalam arus utama
perpuisian Indonesia modern yang didominasi sajak-sajak liris. Puisi
Rendra adalah puisi yang naratif, berkisah, dan menggali segi-segi yang
terabaikan oleh dunia persajakan Indonesia. "Membuat ia menempati posisi
yang begitu unik, hampir seperti satuan tersendiri, dalam ranah sastra
Indonesia," demikian penggalan bunyi pernyataan tersebut.
Kepedulian terhadap dunia sekitarnya terekam dalam karya-karya Rendra.
Simak beberapa karya besarnya, seperti puisi Sajak Sebatang Lisong
(1978), Potret Pembangunan dalam Puisi (1980), dan Bersatulah
Pelacur-Pelacur Kota Jakarta! (1970-an) atau karya-karya pementasan
teater seperti Perjuangan Suku Naga (1975) dan Panembahan Reso (1986),
sarat berisi kritik sosial terhadap berbagai hal yang terjadi di
masyarakat pada waktu itu—yang kadang masih tetap relevan sampai
sekarang.
Tumbuhnya kesadaran
Dalam pidato tertulis penerimaan Achmad Bakrie Award 2006, yang
seharusnya ia bacakan, Rendra menuturkan, kesadaran untuk peduli
terhadap lingkungan di sekitarnya pertama kali dikenalkan kepada dirinya
oleh seseorang bernama Janadi. "Mas Janadi menjadi guru pribadi saya
sejak saya berumur 4,5 tahun," tutur penyair bernama asli Willybrordus
Surendra Broto Rendra, mengenang masa kecilnya di Solo, Jawa Tengah.
Pelajaran yang diberikan Mas Janadi dirumuskan dalam kalimat "Manjing
ing kahanan, nggayuh karsaning Hyang Widhi" yang artinya kurang lebih:
"masuk ke dalam kontekstualitas, meraih kehendak Allah". "Masuk dalam
kontekstualitas itu bekalnya rewes (kepedulian) dan sih katresnan (cinta
kasih)," papar pria yang akrab dipanggil Willy ini.
Rendra juga diajarkan untuk menyadari landasan hubungan antarmanusia
dalam konteks emansipasi individu yang digambarkan dalam kalimat
"ananingsun marganira, ananira marganingsun" (aku ada karena kamu, kamu
ada karena aku). Kalimat itu juga yang ia kutip malam itu untuk
mengkritik Freedom Institute yang mendukung sistem perdagangan bebas.
"Emansipasi individu yang peduli akan kesetaraan hak hukum, hak sosial,
dan hak politik antarsesama manusia harus dengan kesadaran bahwa
kekuasaan modal, distribusi, dan energi, tidak boleh dimonopoli oleh
satu pihak dengan kebebasan yang romantis dan cengeng. Sebab, itu akan
mengganggu kemaslahatan orang banyak." (Kompas, Rabu, 16 Agustus 2006)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|