| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04 ==
Wiranto - Wawancara (03)
Rakyat Butuh KTA
Apa yang sangat dibutuhkan masyarakat saat ini? Menurut bakal calon
presiden dari Partai Golkar ini, dari hasil dialognya dengan rakyat
kecil di berbagai daerah, kelihatannya ada suatu kerinduan terhadap
suasana yang pernah mereka rasakan di masa lalu, di mana suasana itu
aman, tenteram dan membahagiakan sehingga orang tidak terancam
kehidupannya. Rakyat butuh KTA. Bukan Kartu Tanda Anggota, melainkan
Kenyang, Tenang dan Aman. Suatu permintaan yang sangat sederhana yang sampai saat ini belum
dapat diwujudkan. Para pemimpin politik belum dapat mewujudkan apa yang
pernah dijanjikan kepada masyarakat tatkala reformasi ini mulai
digulirkan. “Oleh karena itu kalau kemudian, rakyat merindukan kembali
suasana masa lalu yang penuh ketenangan, ketentraman, kita tidak boleh
menolaknya,” kata Mantan Panglima ABRI Jenderal TNI (Purn) Wiranto dalam
percakapan dengan TokohIndonesia DotCom.
Pernyataan ini sudah berulangkali dikemukakannya, tatkala
menyampaikan visi dan misinya di hadapan kader Partai Golkar juga
dihadapan publik dalam berbagai kesempatan seminar maupun diskusi.
Pernyataan yang sangat sederhana tetapi menyentuh substansi kebutuhan
rakyat banyak.
Kondisi ini pula yang mendorongnya untuk bertekad bulat ikut
mencalonkan diri menjabat Presiden yang akan dipilih secara langsung
oleh rakyat pada Pemilu 2004 nanti. Ia merasa terpanggil untuk
mewujudkan kebutuhan rakyat itu, yang hanya mungkin dapat dilakukannya
secara optimal jika ia terpilih jadi presiden. Berikut beberapa petikan
pendapatnya:
Apa yang mendorong Anda untuk ikut menjadi Calon Presiden Republik
Indonesia 2004-2009 melalui Konvensi Partai Golkar?
Setiap saat saya mengikuti perkembangan proses reformasi dengan
seksama, dengan terus berharap dan berdoa semoga keadaan akan menjadi
lebih baik, seperti halnya keinginan seluruh rakyat Indonesia pada
umumnya, yaitu adanya Indonesia Baru yang lebih demokratis, lebih aman,
adil dan menyejahterakan masyarakatnya.
Namun pada kenyataannya, setelah saya melakukan perjalanan ke hampir
seluruh propinsi untuk melihat, mendengarkan dan memahami secara
langsung apa yang dirasakan oleh rakyat, saya mendapati adanya ekspresi
dari kegundahan dan kegelisahan di tengah masyarakat. Mereka belum
melihat adanya kesungguhan para pemimpin bangsa untuk memperjuangkan
nasib mereka, terbukti dengan janji-janji para tokoh politik yang hingga
saat ini belum juga dapat mereka rasakan.
Sebenarnya, apa yang mereka sangat rindukan adalah sesuatu yang
sederhana dan tidak terlalu muluk, yaitu keadaan yang aman, tenteram,
mudah mencari makan, tersedia papan dan pekerjaan.
Sehubungan dengan kondisi tersebut, kita seharusnya berani mengakui
bahwa bangsa ini telah kehilangan banyak waktu, pikiran dan tenaga hanya
untuk bertengkar satu sama lain, mempersoalkan masa lalu dan hanya
bereaksi seadanya terhadap masalah terkini. Kita menyia-nyiakan
kesempatan untuk membangun sinergi, berpikir jauh ke depan, menangkap
peluang guna memenangkan persaingan dengan negara lain dalam rangka
memperjuangkan kepentingan bangsa.
Reformasi yang dilakukan secara tambal sulam dan tidak jelas
konsepnya, ditambah dengan praktek hukum yang sangat lemah, telah
membawa bangsa ini ke dalam suasana yang sangat berbahaya yakni
disharmoni, disorientasi dan terbukanya jalan menuju disintegrasi bangsa.
Setelah merasakan perkembangan kondisi dan situasi negara yang
memprihatinkan itu, maka saya merasa berkewajiban untuk ikut secara
proaktif membela kepentingan bangsa. Untuk kepentingan itulah, maka saya
mengambil sikap sebagai berikut:
Pertama, mencermati bahwa posisi kunci untuk menyelesaikan
masalah kebangsaan pada sistim ketatanegaraan kita ada pada Presiden,
maka saya mempersiapkan diri untuk menjadi Presiden Republik Indonesia
ke-6, tahun 2004 - 2009.
Kedua, memahami bahwa ke depan nanti seorang Presiden sangat
membutuhkan sinergi
yang kuat, konsentrasi sepenuhnya untuk menyelesaikan masalah yang
sangat berat dan kompleks, maka saya bersedia menjadi Presiden hanya
untuk satu periode saja, selanjutnya akan banyak generasi muda yang
lebih cerdas dan berpotensi untuk meneruskannya.
Ketiga, untuk memastikan bahwa tujuan utama bukanlah sekadar
mengejar jabatan, namun benar-benar upaya guna menyelesaikan masalah
bangsa, maka saya tidak mencalonkan diri ataupun bersedia sebagai Wakil
Presiden.
Keempat, dengan didasarkan pada hubungan historis dan emosional
antara TNI dan Golkar serta dilandasi oleh kepercayaan dan harapan yang
sangat kuat bahwa, Konvensi Partai Golkar akan dilaksanakan dengan jujur,
terbuka serta mengedepankan nilai moral dan demokrasi, maka saya siap
mengikuti Konvensi tersebut dalam rangka penjaringan calon Presiden
Republik Indonesia tahun 2004 -2009.
Bagaimana keluarga, terutama isteri dan anak-anak Anda, menyikapi
pencalonan Anda tersebut?
Saya sangat bersyukur atas kesediaan isteri,anak-anak dan cucu untuk
mendukung saya masuk ke dalam kancah politik demi sebuah cita-cita mulia
bagi masa depan bangsa tercinta ini. Padahal baru saja mereka menikmati
kebersamaan sebagaimana layaknya suatu keluarga, setelah saya pensiun
dari masa tugas 30 tahun lebih pada lingkungan TNI yang acap kali
membuat saya dengan mereka saling berjauhan.
Perjuangan ke depan memang berat dan barangkali sangat panjang,
melelahkan, mengandung risiko dan perlu kerelaan untuk berkorban. Namun
inilah saatnya untuk membalas budi baik negeri ini yang telah memberikan
kesempatan, kedudukan dan kepercayaan kepada saya pada masa-masa
sebelumnya.
Sudah lima tahun reformasi bergulir, tapi kepastian hukum dan kondisi
keamanan belum kondusif untuk merangsang penanam modal. Bagaimana
pendapat Anda?
Sama dengan apa yang sudah saya ungkapkan berulang-ulang bahwa pada
akhirnya para investor, termasuk orang-orang Indonesia yang punya modal
yang sekarang modalnya diparkir di luar negeri, mereka masih menunggu,
kapan Indonesia kondusif untuk berusaha tanpa ada kekhawatiran modal
mereka akan hilang begitu saja. Kapan Indonesia mempunyai kepastian
hukum yang dapat diperhitungkan, baik jangka pendek, jangka sedang dan
jangka panjang.
Dalam hal ini saya melihat bahwa kepercayaan investor terhadap
keamanan domestik dan kepastian hukum, masih dalam suatu kualitas yang
memprihatinkan. Maka kita harus membangun kembali suatu kepastian hukum
di negeri ini. Kita hadirkan kembali keamanan di tengah-tengah
masyarakat kita.
Tanpa ada suatu penegakan hukum yang konsisten, konsekuen, tanpa
pandang bulu, maka sangat sulit bagi kita bisa menghadirkan kepastian
hukum di negeri kita. Tatkala hukum saat ini sudah bisa dijadikan
komoditas, hukum bisa ditawar. Apalagi tatkala hukum dapat dijadikan
instrumen politik untuk saling memukul satu dengan yang lainnya.
Dampaknya menyentuh dan sangat mempengaruhi berbagai sektor kehidupan
yang lain. Orang bisa menjadi tidak tenang dan merasa tidak aman.
Kondisi ini terbaca pula oleh dunia internasional. Itulah yang harus
kita benahi.
Untuk membenahi hal ini diperlukan figur yang memiliki kepemimpinan
yang kuat?
Tentu! Dan yang pertama hal ini sangat terpulang kepada publik,
tingkat kepercayaan kepada figur. Yang tentu tingkat kepercayaan kepada
figur ini sangat ditentukan dari ‘track record’ figur itu sendiri. Kalau
figur itu bolak-balik hanya bohong kepada publik, dan bolak balik hanya
membangun wacana tanpa bertindak dan berbuat, tentu masyarakat
kehilangan kepercayaan. Tetapi kalau yang diucapkan oleh figur yang
‘track record’-nya bisa menunjukkan bahwa dia selalu konsisten terhadap
apa yang diucapkannya, apa yang pernah dijanjikannya, maka tentu berbeda
keadaannya.
Saya sendiri masuk ke kategori mana itu terpulang kepada masyarakat
untuk menilainya. Tapi paling tidak, harus ada suatu penyikapan yang
sangat kuat dari sang pemimpin. Di samping dia benar-benar secara
konsisten dan konsekwen tanpa pandang bulu menegakkan hukum di negerinya,
dia juga harus mampu memberikan keteladanan.
Pemimpin yang kuat itu tidak identik dengan ‘otoriter’. Pemimpin yang
tegas dan keras tidak identik dengan tindakan ‘represif total’. Dan saya
kira, keberhasilan suatu kepemimpinan di masa lalu tidak menjadi
otomatis jadi jaminan keberhasilan juga jika kita ulangi di masa yang
berbeda, dengan lingkungan yang berbeda, masyarakatnya berbeda,
lingkungan globalnya juga berbeda. Barangkali yang kita serap adalah
suasana yan dihasilkan masa lalu. Mari kita bangun sekarang dengan
cara-cara yang lebih cerdas, yang lebih demokratis.
Saya kira masih banyak cara-cara antara lain, kita belum mencoba
untuk melakukan suatu penegakan hukum yang keras , tegas, tetap mengacu
kepada hukum positif yang berlaku di Indonesia. Juga kita belum
melakukan suatu langkah-langkah dimana para pemimpin di Ibu Pertiwi ini
dapat diteladani oleh masyarakatnya. Kita harus berani, berangkat dari
bagaimana kita mulai mendisplinkan atau mematuhi hukum pada
tingkat-tingkat yang dapat dilihat publik dulu. Dan saya kira, saya
mempunyai keyakinan, dengan cara itu, kita masih bisa masuk kembali
kepada suasana tertib hukum di negeri ini.
Untuk membangun negeri ini tidak mungkin kita lakukan dengan sambil
berkelahi satu dengan yang lain. Membangun negeri ini harus dengan suatu
kebersamaan, semangat, dimana seluruh potensi dan kecerdasan bangsa,
kita satu padukan dalam satu sinergi positif yang kuat. Dan untuk itu,
kita butuh pemimpin yang kuat, pemimpin yang mampu memobilisasi semua
kekuatan bangsa dalam satu sinergi tadi.
Menurut Anda apa yang sangat dibutuhkan masyarakat saat ini?
Di berbagai daerah, saya bertemu dengan rakyat kecil,
berbincang-bincang dengan mereka, merasakan apa yang mereka rasakan dan
menampung apa yang mereka harapkan. Kelihatannya, ada suatu kerinduan
terhadap suasana yang pernah mereka rasakan, di mana suasana itu aman,
tenteram, dan membahagiakan sehingga orang tidak terancam kehidupannya.
Di tengah masyarakat itu saya menemukan suatu istilah: “Kita butuh
KTA.” Saya berpikir, KTA itu Kartu Tanda Anggota. Saya bilang “Loh...
kan sudah ada kartu anggotanya, juga KTP-KTP”. “Bukan Pak! KTA itu
Kenyang, Tenang dan Aman,” kata mereka. Jadi sederhana sekali. Kebutuhan
masyarakat itu sederhana sekali: kenyang, tenang dan aman.
Dan saya pikir-pikir, memang itu merupakan suatu permintaan yang
sangat sederhana yang sampai saat ini belum dapat diwujudkan. Para
pemimpin politik belum dapat mewujudkan apa yang pernah dijanjikan
kepada masyarakat tatkala reformasi ini mulai digulirkan. Oleh karena
itu kalau kemudian, rakyat merindukan kembali suasana masa lalu yang
penuh ketenangan, ketentraman, kita tidak boleh menolaknya.
Anda menyatakan tujuan utama bukanlah sekadar mengejar jabatan, namun
benar-benar upaya guna menyelesaikan masalah bangsa, maka Anda hanya
mencalonkan diri menjadi Presiden dan itu pun untuk satu periode saja.
Menurut Anda, apa makna jabatan itu?
Bagi saya jabatan adalah wahana pengabdian. Dengan jabatan yang saya
emban, saya dapat melakukan hal-hal yang terbaik demi kemaslahatan
manusia. Maka, sangatlah tidak tepat apabila jabatan itu digunakan
secara sewenang-wenang guna kepuasan pribadi.
Mengacu pada pemahaman jabatan seperti itu, sangat memprihatinkan
proses seleksi jabatan yang saat ini sangat dipengaruhi oleh berbagai
kepentingan sehingga menyingkirkan persyaratan kualitas. Dalam berbagai
kesempatan saya selalu mengingatkan kalau hal itu terus berlangsung,
maka uang, tekanan, dan kedekatan akan sangat mempengaruhi pemilihan
pejabat secara tidak fair. Dan bila ini terus terjadi, maka pada
akhirnya bangsa ini akan dipimpin oleh orang-orang yang tidak
berkualitas justru pada saat bangsa lain telah mampu menghadirkan
pemimpin kelas satu mereka dalam persaingan global.
Saya melihat budaya tanggung jawab dalam jabatan di negeri ini masih
sangat kurang. Buktinya banyak pemimpin di negeri kita yang gagal tetapi
enggan untuk mundur bahkan dengan gigih mempertahankannya dengan
berbagai cara. Rupanya dalam hal ini kita harus banyak berguru dari
bangsa Jepang yang memiliki budaya tanggung jawab yang tinggi dan berani
mundur manakala merasa gagal dalam melaksanakan tugas dan pengabdiannya.
Oleh sebab itu, pada saat saya hendak dinonaktifkan oleh Presiden
Abdurrahman Wahid dengan alasan yang tidak jelas, atas kesadaran saya
mengenai makna dari jabatan tersebut, saya memilih untuk berhenti
ketimbang bertahan pada jabatan yang tak dapat saya amalkan sebagai
wahana pengabdian.
Kemudian saya juga berpikir, dari pengalaman mendampingi tiga
presiden dari lima presiden yang pernah memerintah di negeri ini, saya
melihat bahwa kalau seorang presiden yang sedang memimpin akan maju lagi
menjadi presiden, maka sulit sekali dia untuk menghimpun
kekuatan-kekuatan diantara komponen bangsanya. Karena apa? Bagaimana
mungkin dalam satu saat yang bersamaan dia membangun suatu sinergi
sambil bersaing dengan kekuatan-kekuatan lain itu.
Oleh karena itu saya putuskan bawa saya siap menjadi Presiden hanya
satu periode, dengan harapan, saya tidak membangun konflik dengan pihak
lain tetapi bahkan dengan lebih leluasa bisa mengundang
kekuatan-kekuatan lain untuk bersatu padu membangun visi yang saya emban
sebagai presiden itu.
Siapapun yang menjadi presiden tidak mungkin 5 tahun bisa kemudian
memulihkan keadaan ini, tapi paling tidak kita bisa kembali meluruskan
arah dan tujuan bangsa ini, untuk menjamin cita-citanya bisa terwujud.
Dan kalau itu sudah bisa dibangun kembali, platform ketatanegeraan
kita, platform politik yang benar, platform hukum yang benar selama lima
tahun. Walaupun belum selesai, paling tidak harapan itu sudah bisa kita
bayangkan bisa terwujud. Disanalah barangkali harus ada ‘kelegawaan’,
bahwa seorang pemimpin tidak harus menyelesaikan semua misinya sampai
tuntas, tentu masih banyak generasi penerus yang lebih cerdas, yang
lebih arif, dan juga tidak kalah potensialnya untuk melanjutkan
kepemimpinan dari sang pemimpin yang berhasil mematok langkah-langkah ke
depan yang lebih baik.
Pada berbagai kesempatan Anda mengingatkan, bahwa masalah utama yang
dihadapi bangsa ini adalah persaingan global - suatu persaingan antar
negara untuk kesejahteraan bangsanya masing-masing. Menurut Anda, apa
yang harus dilakukan agar bangsa ini bisa bangkit dari keterpurukan dan
bersiap mengahadapi persaingan global itu?
Segenap potensi dan kecerdasan bangsa kita harus disatupadukan dalam
suatu sinergi yang kuat untuk memenangkan persaingan itu. Hanya
bangsa-bangsa yang berhasil menetralisir masalah domestiknya yang akan
eksis dalam persaingan itu. Sebaliknya bangsa-bangsa yang terus terjebak
pada persoalan dalam negerinya akan terus terpuruk dan kalah tidak mampu
bangkit lagi.
Oleh karena itu, saya selalu mengajak kepada sesama bangsa Indonesia
agar mengedepankan kemitraan, kebersamaan, saling menghargai, dan
mempercayai satu sama lain. Semua masalah dapat diselesaikan dengan arif
tanpa melecehkan dan mempermalukan pihak lain dengan acuan hukum positif
yang telah disepakati bersama.
Bangsa kita telah kehilangan banyak waktu, tenaga, dan pikirannya
hanya untuk mempersoalkan masa lalu, bukan berpikir jauh ke depan guna
menangkap peluang dalam memperjuangkan keamanan, kesejahteraan, dan
keadilan bagi masyarakatnya.
Sekarang terpulang kepada kita sendiri, apakah akan terus bertengkar,
berselisih, dan saling menyalahkan yang berarti akan lebih jauh terpuruk
dan akhirnya hancur, atau kembali bersatu padu membangun kembali
persaudaraan kebangsaan Indonesia untuk meraih masa depan yang lebih
baik.
Dalam hal ini, kita butuh pemimpin-pemimpin yang andal, yang kelas
satu, bukan pemimpin yang coba-coba memimpin, bukan pula yang menjadi
pemimpin melalui rekayasa kotor. Yang kita perlukan adalah pemimpin yang
demokratis, visioner, dan memiliki ketegasan. Artinya, kita perlu
pemimpin yang bermoral, kualitas intelektual yang memadai, acceptable,
yang berarti dipercaya publik, serta berpengalaman memimpin dengan
bukti-bukti nyata.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |