| |
C © updated
21042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
Wiranto
Lahir:
Yogyakarta, 4 April 1947
Agama:
Islam
Isteri:
Hj. Rugaiya Usman, SH
Ayah:
RS Wirowijoto
Ibu:
Suwarsijah
Pendidikan:
Akademi Akademi Militer Nasional, lulus 1968
Sussar Para 1968
Sussarcab Infantri 1969
Susjur Dasar Perwira Intelijen 1972
Suslapa Infantri 1976
Suspa Binsatlat 1977
Sekolah Staf dan Komando TNI AD 1984
Lemhanas 1995 (Peserta Terbaik)
Pangkat:
Letnan Dua 1968
Letnan Satu 1971
Kapten 1973
Mayor 1979
Letkol 1982
Kolonel 1989
Brigjen TNI 1993
Mayjen TNI 1994
Letjen TNI 1996
Jenderal TNI 1997
Karir Militer:
Korps Kecabangan Infantri 1968
Komandan Peleton Yonif 713 Gorontalo, Sulawesi Selatan
Komandan Yonif 712 1982
Karo Tiknik Dirbang 1983
Kadep Milnik Pusif 1984
Kepala Staf Brigade Infanteri IX, Jawa Timur 1985
Wakil Asisten Operasi Kepala Staf Kostrad, Jakarta 1987
Asisten Operasi Divisi II Kostrad, Jawa Timur
Ajudan Presiden 1989-1993
Kasdam Jaya 1993-1994
Pangdam Jaya 1994-1996
Panglima Kostrad 1996-1997
Kepala Staf Angkatan Darat 1997-1998
Panglima ABRI 1998-1999
Menteri
Menhankam/Pangab 1998 (Kabinet Pembangunan VII)
Menhamkan/Pangab/Pang TMI 1998-1999 (Kabinet Reformasi Pembangunan-Habibie)
Menko Polkam, 1999-2000 (Kabinet Persatuan Nasional-Gus Dur)
Hobi:
Menyanyi, Bulutangkis, golf, tenis lapangan
Organisasi Olahraga:
Ketua Umum Federasi Karatedo Indonesia (FORKI)
Ketua Umum Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (GABSI)
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04 ==
Wiranto (02)
Pengalaman Bersama Tiga Presiden
Terus Difitnah
Keadaan politik dan keamanan di negeri ini sangat panas, menjelang dan
sesudah Presiden Soeharto berhenti dari jabatannya. Setiap saat bisa
saja meledak menjadi kerusuhan massal secara meluas di seluruh wilayah.
Pada saat itu Jenderal Wiranto memegang jabatan penting sebagai
Menhankam/Pangab. Ia tidak pernah kelihatan panik dalam upaya mengatasi
semua masalah. Dengan tenang dan sabar ia terus mengajak dialog dengan
siapa saja, khususnya dengan para civitas academica di perguruan tinggi
agar tetap menjaga ketertiban dan keamanan.
Begitu pula pada saat masyarakat Aceh merasa kehormatannya tercemar
dengan selalu dijaga oleh Pemerintah Pusat dengan operasi militer yang
tak kunjung usai, maka atas permintaan rakyat Aceh pada Agustus 1998
Wiranto datang ke Aceh untuk menarik seluruh pasukan yang bukan organik
di Aceh, atau lebih dikenal dengan pencabutan DOM (Daerah Operasi
Militer).
Ketika di Sambas terjadi perkelahian antar saudara, demikian pula ketika
Maluku mengalami hal yang sama, ia selalu datang ke wilayah konflik
tersebut untuk berusaha mendamaikan pihak-pihak yang bertikai. Bahkan
untuk Timor Timur yang telah bertikai selama 23 tahun, ia berhasil
mengajak mereka melakukan perdamaian pada 21 Apri11999.
Semua itu dilakukannya karena kendatipun dia seorang petinggi militer
yang dikenal sangal keras dalam bersikap, berdisiplin tinggi, dan
menjunjung tinggi aturan hukum, namun sangat mencintai perdamaian. Hal
itu dilakukan karena sebagai seorang militer yang berpengalaman, ia
sangat memahami bahwa tindakan kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan
permasalahan secara tuntas, bahkan akan menimbulkan luka-luka yang sulit
untuk disembuhkan.
Tiga Presiden
Dalam setiap jenjang karirnya, ia selalu berupaya menimba pengalaman
sebanyak-banyaknya. Ia pun menimba pengalaman dari tiga presiden. Dengan
Presiden Soeharto, ia menjalin hubungan sebagai ajudan Presiden selama
hampir empat tahun dan sebagai Kasad serta Menhankam /Pangab selama tiga
bulan.
Jabatan inilah yang secara politis sering dijadikan dalih untuk terus
memojokkannya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari rezim Orde Baru,
sebagai putera mahkota yang sangat dekat dengan Pak Harto, kental
militerismenya dan sebagainya.
Menghadapi tuduhan itu, ia tidak pernah mengelak dengan cara-cara
pengecut. Ia justru berpendapat, bahwa Orde Lama, Orde Baru atau orde
pasca Orde Baru hanyalah pemberian nama dari penggalan sejarah republik
ini. “Tetapi, yang pasti kita semua tidak boleh lari dari kenyataan
bahwa kita ada di dalamnya dengan memerankan bagian kita masing-masing.
Dengan segala kekurangan dan kelebihannya kita pasti mendapat manfaat
dari setiap orde itu,” katanya dalam buku “Mengenal Wiranto Calon
Presiden RI 2004-2009” yang diterbitkan IDe Indonesia (2003).
Oleh karenanya, ia heran dan menyesalkan sebagian dari elit politik yang
lari ke sana ke mari hanya karena takut dicap sebagai bagian dari suatu
orde tertentu. Baginya, selama mendampingi Presiden Soeharto justru
memberikan manfaat dapat memahami secara sungguh-sungguh pikiran,
keinginan, dan tindakan seorang presiden yang telah berpengalaman
memimpin satu negeri selama 30 tahun lebih. Ibaratnya masuk dalam sebuah
kursus tentang bagaimana mengatur suatu negara lengkap mulai teori
hingga mengikuti prakteknya.
Begitu pula selama dua puluh dua bulan bersama Presiden B.J. Habibie, ia
menduduki posisi sebagai Menhankam/Pangab. Saat itu, dengan basis
seorang teknokrat, Presiden B.J. Habibie melakukan
pembaharuan-pembaharuan yang diharapkan memenuhi tuntutan demokratisasi.
Sebagai Menhankam/Pangab dan menjadi bagian dari satu tim yang
meletakkan dasar-dasar reformasi secara konseptual dan konstitusional,
ia mempunyai posisi yang sangat penting dari proses reformasi itu.
Sidang Istimewa 1999 dapat berlangsung dan sukses berkat pengamanan TNI/Polri.
Begitu pula Pemilu 1999 terselenggara dengan baik berkat netralitas TNI/Polri.
Sidang Umum MPR 1999 dapat berjalan dengan baik antara lain berkat
kesediaan Wiranto untuk mundur dari rivalitas memperebutkan jabatan
presiden dan wakil presiden.
Dalam Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, ia juga ikut serta
menyusun kabinet dan selanjutnya dipercaya menjadi Menko Polkam. Pada
periode ini memang seringkali ia berbeda pendapat dengan presiden. Bukan
untuk membantah keinginan presiden, melainkan lebih tepat sebagai upaya
memberi saran yang baik sehubungan pengalamannya selama mendampingi dua
presiden sebelumnya.
Sering terjadinya perbedaan pendapat ini menyebabkan Wiranto tidak dapat
bertahan lama pada pemerintahan Gus Dur. Ia dinonaktifkan dengan alasan
yang tidak jelas. Logikanya kalau dicopot berarti ada kesalahan dan
kalau ada kesalahan berarti harus diberitahukan dan dijelaskan ke publik.
Namun, pada kenyataannya tidak pernah ada penjelasan sama sekali. Memang
serba tidak jelas, seperti ruwetnya Gus Dur naik dan turun dari kursi
kepresidenan.
Ketika itu, akhir tahun 2000, sambil berkeliling dunia Gus Dur minta
agar Wiranto mundur saja dari jabatan sebagai Menko Polkam. Apa
alasannya tidak jelas. Pada saat Gus Dur memerintahkan berturut-turut
dua pejabat negara Bondan Gunawan dan Juwono Soedarsono untuk memintanya
mundur, juga tidak diperoleh alasan yang jelas.
Awal Januari 2001, pada pukul 10.00 sampai dengan 12.00 WIB, sepulang
dari luar negeri Presiden Abdurrahman Wahid mengadakan pertemuan
tertutup dengan Wakil Presiden Megawati, Jaksa Agung Marzuki Darusman,
dan Jenderal Wiranto di Istana Merdeka. Ketika itu, keputusan yang
diambil, Jenderal Wiranto tidak perlu mundur.
Namun, tiga belas jam kemudian, sekitar pukul 23.00 WIB, secara sepihak
Gus Dur menyatakan Wiranto nonaktif dari Menko Polkam. Suatau tindakan
Presiden yang benar-benar aneh, tapi nyata. Hal seperti itu ternyata
dapat terjadi pada pemerintahan yang katanya demokratis.
Beberapa bulan kemudian Wiranto dengan pertimbangan yang matang,
memastikan bahwa pada posisi nonaktif sebagai Menko Polkam jelas akan
mengganggu kinerja Kabinet. Dalam konteks pengabdian kepada bangsa dan
negara, jabatan nonaktif itu tak ada artinya lagi, bagaikan slogan
kosong, hanya atribut formal yang tak bernilai apa- apa bagi seseorang
yang memandang jabatan sebagai wahana pengabdian. Atas dasar
pertimbangan itulah Jenderal Wiranto resmi minta berhenti dari Menko
Polkam.
Walaupun hanya tiga bulan dijalani bersama Gus Dur, namun sudah cukup
baginya untuk lebih meyakini bahwa untuk mengatur negara sebesar
Indonesia ini tidaklah mungkin berhasil tanpa kepemimpinan yang kuat,
strategi yang jitu, program yang jelas serta pelaksanaan yang konsisten.
Dari pengalamannya mendampingi tiga Presiden RI, ia memetik pelajaran
berharga bahwa menjadi pemimpin itu mudah, namun untuk menjadi pemimpin
yang berhasil tidak semua orang dapat melakukannya. Diperlukan banyak
kelebihan untuk menjadi pemimpin yang berhasil yang berarti mampu
mengaktualisasikan visi menjadi kenyataan.
Ia tidak hanya belajar dari keberhasilan ketiga presiden yang
didampinginya, tetapi lebih lagi belajar dari kegagalan mereka.
Menurutnya, kegagalan itu sebenarnya hanya ada dua penyebabnya. Pertama,
pemimpin yang mampu berpikir tetapi tak pernah mampu melaksanakannya.
Dan, kedua, pemimpin yang terus melaksanakan niatnya namun tanpa
berpikir. Sementara yang kita butuhkan adalah seorang pemimpin yang
mampu berpikir sekaligus mahir dalam melaksanakannya.
Untuk bisa berpikir, dibutuhkan kualitas intelektual yang memadai agar
dapat memahami permasalahan. Sedangkan dalam pelaksanaan pengamalan
visinya diperlukan pengalaman memimpin yang cukup, terutama pada tingkat
negara. Tanpa itu seorang pemimpin hanya akan menjadi sumber
permasalahan di negeri sendiri.
Tak heran bila Prof. Dr. Taufik Abdullah, dalam ‘Orang Berkata Tentang
Wiranto, 2001’ menyatakan rasa simpatiknya pada Wiranto. Menurut
sejarawan senior LlPI ini, Wiranto memiliki kemampuan artikulasi yang
tinggi dan bisa mengkategorikan masalah secara tuntas dan tepat.
Dari semua pengalamannya itu terlihat jelas bahwa Wiranto sangat
memahami tuntutan reformasi, ikut mengawal berkembangnya reformasi, dan
ikut meletakkan dasar-dasar reformasi. Dan kini ikut menyaksikan tatkala
reformasi mulai kehilangan arah dan menyimpang dari tujuannya yang
mendorongnya untuk mencalonkan diri menjabat Presiden 2004-2009.
Ia merasa yakin akan mampu mewujudkan reformasi sesuai dengan tujuannya
semula. Keyakinan ini tidaklah berlebihan bila mencermati pengalaman dan
track record-nya selama ini. Dari pendekatan kepemimpinan (presiden), ia
telah menyerap kepemimpinan dari tiga presiden dengan segala kekurangan
dan kelebihannya masing-masing. Dari pendekatan manajemen krisis, ia
telah melakukan langkah-langkah nyata dan berhasil membawa bangsa ini
melewati masa-masa krisis yang sangat berbahaya bagi eksistensi negara.
Merakyat
Sebagai seorang yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga bersahaja,
Wiranto tak pernah melupakan bahwa ia berasal dari rakyat, bersama
rakyat, dan kembali untuk rakyat. Terbukti dalam setiap poisisi yang
digumulinya ia selalu berupaya dekat dengan rakyat.
Apalagi setelah ia benar-benar kembali sebagai masyarakat biasa dalam
beberapa tahun terakhir ini, ia banyak mengunjungi berbagai daerah,
berbicara dan bergaul dengan rakyat setempat, merasakan apa yang mereka
rasakan dan menampung apa yang mereka harapkan, menyerap aspirasi rakyat.
Menurutnya, di tengah masyarakat itu ada suatu kerinduan terhadap
suasana yang pernah mereka rasakan, di mana suasana itu aman, tenteram,
dan membahagiakan sehingga orang tidak terancam kehidupannya.
Di tengah masyarakat itu ia menemukan suatu istilah bahwa masyarakat
butuh KTA. KTA bukan kartu anggota, melainkan Kenyang, Tenang dan Aman.
Sutau kebutuhan dan permintaan yang sangat sederhana yang sampai saat
ini belum dapat diwujudkan.
Kedekatannya dengan rakyat, antara lain terlihat dari penobatannya
sebagai Ketua Dewan Pembina Perhimpunan Pengusaha Warung regal (Warteg)
se-Jabotabek dan Pantura. Penobatan ini dilakukan berdasar hasil
pengamatan para pengusaha Warteg. Bahwa Wiranto paling sering dijumpai
makan di Warteg menyatu dengan masyarakat bawah lainnya.
Beberapa waktu lalu, mantan Pangab ini terlihat tidak canggung bekumpul
bersama rakyat dan pengusaha Warteg di Gunung Putri. Ia dengan santainya
berjoged di panggung sambil melantunkan lagu dangdut berjudul Jatuh
Bangun. Tampaknya, di situ ia sungguh menemukan kembali ‘habitatnya’
yang oleh alasan protekoler dan lain sebagainya selama ini agak berjarak
pada saat dia masih aktif sebagai pejabat.
Keakrabannya dengan segala lapisan masyarakat juga didukung beberapa
kelebihannya, di antaranya penguasaannya terhadap kesenian dan terutama
seni olah vokal. Dengan kemampuannya yang lumayan itulah maka dengan
mudah dan cepat ia mampu berbaur dan tidak canggung berada di antara
para seniman, selebriti, pejabat, pengusaha hingga masyarakat kecil.
Kegemarannya itu jualah yang memberi kesempatan kepadanya dapat
mengumpulkan dana untuk disumbangkan kepada para pengungsi akibat
kerusuhan dengan cara menjual album perdananya yang diberi judul Untukmu
Indonesiaku.
Selain itu, ia juga tokoh yang menyatu dengan kalangan olahraga. Selain
gemar berolahraga, ia memang terjun mengurusi beberapa bidang olahraga.
Di bidang ini, bahkan ia dijuluki sebagai manusia bertangan dingin.
Beberapa jenis olah raga yang ditanganinya selalu saja maju dan meraih
prestasi yang dapat dibanggakan. Pada saat memimpin olahraga Taekwondo
maupun sebagai Ketua Umum PB FORKI (Federasi Karatedo Indonesia),
prestasi Indonesia seakan tak terbendung di kawasan ASEAN. Pernah KONI
Pusat menargetkan 7 dari 20 medali yang diperebutkan, tak
tanggung-tanggung FORKI mempersembahkan 14 medali emas untuk Indonesia.
Begitu pula sebagai Ketua Umum PB GABSI (Gabungan Bridge Seluruh
Indonesia), jenis olahraga otak yang tak begitu dipahaminya pada saat
pertama menjabat, namun dengan kegigihannya pasukan Bridge Indonesia
dibawanya berjuang selama 8 tahun dan akhirnya menjadi juara dunia pada
tahun 2000 di Swiss. Tim terkuat dunia AS, Perancis Itali, Polandia,
Belanda, China, satu persatu dibabat oleh tim yang dibinanya.
"Saya buktikan, kalau kita mau berjuang dengan sungguh-sungguh, kita
bisa lebih cerdas dan unggul dari bangsa barat yang seakan tak
terkalahkan," ujar peraih predikat sebagai Pembina Olahraga Terbaik,
baik dari Menteri Pemuda dan Olahraga maupun dari KONI Pusat ketika itu.
Kiatnya, sama seperti setiap ia dipercayakan memegang jabatan tertentu,
adalah keikhlasan, pengabdian, dan pengorbanan. “Jangan sekali-kali
untuk cari makan atau digunakan sebagai alat politik!" ujarnya.
Kini dia sudah siap kembali berjuang untuk negerinya pasti bukan karena
mengejar jabatan, tetapi semata-mata untuk menyelamatkan bangsanya.
Seperti yang sering diucapkannya, "Bangsa ini telah banyak kehilangan
waktu, tenaga, dan pikiran hanya untuk bertengkar satu dengan lainnya.
Yang kita dapatkan bukan keamanan, keadilan, dan kesejahteraan, namun
justru suasana yang penuh dengan disharmoni, disorientasi, dan
disintegrasi di antara kita. Maka seharusnya semua anak bangsa merasa
terpanggil untuk berpikir dan bertindak dalam satu sinergi yang kuat
demi penyelamatan bangsanya."
Dalam buku Mengenal Wiranto, ditegaskan bahwa dengan kembalinya ke
gelanggang politik, Wiranto pasti sudah memperhitungkan akan ada
berbagai upaya untuk mencegat, menghantam, menfitnah, dan berbagai upaya
lainnya. Semua itu kelihatannya tidak menyurutkan niatnya untuk ikut
melanjutkan darma baktinya. Dengan pengalamannya di medan tempur,
memimpin ABRI pada saat yang sulit, dan mengatasi berbagai permasalahan
bangsa selama mendampingi tiga Presiden, Wiranto telah membangun dirinya
menjadi sosok pemimpin yang lebih kuat dan matang.
"Kalau saya mendapat kepercayaan memimpin negeri ini, saya hanya minta
satu periode saja, banyak generasi muda yang lebih cakap yang akan
menggantikan nanti." Itulah janjinya yang sekaligus menunjukkan sekali
lagi bahwa jabatan bukan tujuan utamanya.
Akhirnya, ia berkata semua itu terpulang kepada masyarakat. Biarlah
masyarakat memilih pemimpinnya secara bebas sesuai dengan kebutuhan dan
hati nuraninya.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|