| |
C © updated
21042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
Wiranto
Lahir:
Yogyakarta, 4 April 1947
Agama:
Islam
Isteri:
Hj. Rugaiya Usman, SH
Ayah:
RS Wirowijoto
Ibu:
Suwarsijah
Pendidikan:
Akademi Akademi Militer Nasional, lulus 1968
Sussar Para 1968
Sussarcab Infantri 1969
Susjur Dasar Perwira Intelijen 1972
Suslapa Infantri 1976
Suspa Binsatlat 1977
Sekolah Staf dan Komando TNI AD 1984
Lemhanas 1995 (Peserta Terbaik)
Pangkat:
Letnan Dua 1968
Letnan Satu 1971
Kapten 1973
Mayor 1979
Letkol 1982
Kolonel 1989
Brigjen TNI 1993
Mayjen TNI 1994
Letjen TNI 1996
Jenderal TNI 1997
Karir Militer:
Korps Kecabangan Infantri 1968
Komandan Peleton Yonif 713 Gorontalo, Sulawesi Selatan
Komandan Yonif 712 1982
Karo Tiknik Dirbang 1983
Kadep Milnik Pusif 1984
Kepala Staf Brigade Infanteri IX, Jawa Timur 1985
Wakil Asisten Operasi Kepala Staf Kostrad, Jakarta 1987
Asisten Operasi Divisi II Kostrad, Jawa Timur
Ajudan Presiden 1989-1993
Kasdam Jaya 1993-1994
Pangdam Jaya 1994-1996
Panglima Kostrad 1996-1997
Kepala Staf Angkatan Darat 1997-1998
Panglima ABRI 1998-1999
Menteri
Menhankam/Pangab 1998 (Kabinet Pembangunan VII)
Menhamkan/Pangab/Pang TMI 1998-1999 (Kabinet Reformasi Pembangunan-Habibie)
Menko Polkam, 1999-2000 (Kabinet Persatuan Nasional-Gus Dur)
Hobi:
Menyanyi, Bulutangkis, golf, tenis lapangan
Organisasi Olahraga:
Ketua Umum Federasi Karatedo Indonesia (FORKI)
Ketua Umum Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (GABSI)
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04 ==
Wiranto (01)
Janjikan Perlindungan HAM
Mantan Panglima ABRI Jenderal (Purn) Wiranto dan Wakil Ketua Komisi
Nasional Hak Asasi Manusia Salahuddin Wahid dideklarasikan sebagai calon
presiden dan wakil presiden dari Partai Golongan Karya. Pasangan ini
menawarkan lima agenda penyelamatan bangsa. Wiranto yang diterpa tuduhan
terlibat pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam kasus kerusuhan Mei
1998 dan Timor Timur berjanji akan menegakkan hukum dan perlindungan
HAM.
Wiranto berkeyakinan bahwa sinergi yang saat ini mereka bangun akan
menjadi modal untuk mencapai sukses pemerintahan 2004-2009 yang akan
datang, yaitu pemerintah yang kuat dan efektif guna memenuhi harapan
seluruh rakyat Indonesia yang tenteram, aman, dan sejahtera.
Dalam pidato yang disampaikan pada acara "Permohonan Doa Restu" di
Gedung Bidakara, Jakarta, Selasa 11 Mei 2004, Wiranto menegaskan kembali
tekadnya untuk memimpin pemerintahan hanya selama satu periode. Ia
percaya banyak generasi muda di bawahnya yang lebih cerdas, muda, berani,
dan berpotensi untuk meneruskan segala upaya yang ia lakukan selama satu
periode.
Kelima agenda penyelamatan bangsa yang mereka tawarkan itu adalah:
Pertama, penegakan hukum dan perlindungan HAM serta menjamin keamanan
nasional. Kedua, mewujudkan pemerintahan yang baik. Ketiga, melaksanakan
pembangunan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, terutama
mengentaskan kemiskinan dan menyediakan lapangan kerja bagi penduduknya,
pelayanan kesehatan pada masyarakat kecil. Keempat, mengajak pemerintah,
masyarakat, dan swasta untuk bersama-sama memperbaiki sistem pendidikan
nasional. Kelima, melakukan langkah rekonsiliasi nasional.
*** Namanya cukup fenomenal dalam derap awal langkah reformasi di negeri ini.
Kini, setelah mencermati perjalanan reformasi dalam lima tahun terakhir,
mantan Panglima ABRI ini sungguh merasa terpanggil dan siap menjadi
Presiden Republik Indonesia ke-6 untuk meluruskan dan mewujudkan tujuan
reformasi yakni Indonesia Baru yang lebih demokratis, lebih aman, adil
dan sejahtera. Ia seorang putera bangsa yang diyakini mampu mewujudkan
‘mimpi’ reformasi negeri ini.
Ia pun resmi menjadi Calon Presiden Partai Golkar setelah
memenangkan Konvensi Nasional Calon Presiden partai beringin, itu Selasa
20 April 2004. Mantan Panglima TNI ini menang melalui dua putaran
pemungutan suara. Di putaran kedua, ia mengalahkan Ketua Umum DPP Partai
Golkar Akbar Tandjung yang semula diunggulkan dengan skor 315 -227 suara,
dengan abstain 1 dan tidak sah 4 suara.
Pada putaran pertama ia masih diungguli Akbar Tandjung dengan perolehan
suara 147-137. Disusul Aburizal Bakrie 118, Surya Paloh 77 dan Prabowo
Subianto 39 suara, dengan 28 suara tidak sah dan 1 suara abstein. Namun
pada putaran kedua limpahan suara dari kandidat lain lebih banyak
beralih ke Wiranto. Diduga berkat kuatnya loby tim sukses Wiranto.
Selepas putaran pertama Wiranto sempat bertemu Aburizal Bakrie dan
Prabowo. Sementara Surya Paloh dan Wiranto sejak awal sudah menyatakan
saling mengalihkan suara jika salah satu masuk putaran kedua.
(Berita:
Wiranto Capres Golkar)
Keikutsertaannya dalam Konvensi Calon Presiden Partai Golkar merupakan
langkah awal untuk mewujudkan keterpanggilannya membalas budi kepada
bangsa dan negaranya. Sebab ia berkeyakinan untuk dapat berbakti secara
optimal, haruslah dalam jabatan presiden sebagai posisi kunci sesuai
sistem ketatanegaraan.
Maka ia dengan tekad bulat mempersiapkan diri untuk menjadi
Presiden Republik Indonesia 2004–2009, satu periode saja. Ia yakin akan
mampu mengatasi berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini sekaligus
meluruskan dan mewujudkan tujuan reformasi yang belakangan makin salah
arah.
"Inilah saatnya saya membalas budi kepada bangsa dan negara yang telah
memberikan kesempatan, kehormatan, dan kepercayaan kepada saya yang
bukan apa-apa menjadi orang berguna,” ujar putera bangsa kelahiran
Yogyakarta 4 April 1947, itu kepada TokohIndonesia DotCom, mengulangi
pernyataan yang sering dikemukakannya pada beberapa kesempatan. Ia
mengatakan tatkala bangsa ini sedang terluka dan terlunta- lunta, sangat
berdosa kalau kita tidak berbuat apa-apa.
Jabatannya selaku Panglima ABRI, saat reformasi mulai digulirkan, telah
menempatkannya pada posisi strategis dan sangat berpengaruh pada setiap
gerak reformasi itu. Namanya cukup kontroversial sekaligus fenomenal
pada awal reformasi digulirkan itu. Saat itu, ia dihadapkan pada situasi
yang sungguh sulit.
Ketika itu, ada kasus penculikan aktivis. Demonstrasi mahasiswa yang
setiap hari makin membesar. Terjadi Peristiwa Trisakti, Kerusuhan Mei
1998 dan Peristiwa Semanggi. Opini yang berkembang bahwa institusi dan
oknum TNI terlibat di dalamnya, bahkan TNI dituduh sebagai pihak yang
merancang dan meledakkan beberapa peristiwa itu. Sehingga kemudian para
oknum dan pemimpin TNI/Polri dituduh telah melakukan pelanggaran HAM
berat.
Suatu rentetan tuduhan yang amat menyakitkan baginya dan bagi jajaran
TNI/Polri. Tapi dengan tabah dan cerdas, ia menangani masalah itu dan
berulangkali memberi penjelasan bahwa hal itu jelas tidak mungkin
dilakukan TNI/Polri. Ketika itu, ia berulangkali mengimbau mahasiswa
agar untuk sementara tidak berdemonstrasi di luar kampus karena terbukti
dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk membuat kekacauan.
Pada saat Presiden Soeharto menyatakan mundur dan menyerahkan kekuasaan
kepada Presiden B.J. Habibie, tanggal 21 Mei 1998, Wiranto menunjukkan
kemampuan kearifan secara benar dan konstitusional. Ketika itu, ia
mengambil-alih mikrofon serta mengumumkan pernyataan politik ABRI yang
antara lain berbunyi: "Menjunjung tinggi nilai luhur budaya bangsa, ABRI
akan tetap menjaga kehormatan dan keselamatan para mantan presiden
termasuk Presiden Soeharto."
Keberanian dan kearifan Wiranto mengeluarkan pernyataan tersebut telah
menyelamatkan bangsa Indonesia dari kemungkinan menjadi bangsa barbar.
Sebab jika tidak, sangat mungkin ribuan massa yang emosional bergerak
dari gedung DPR/MPR-RI untuk melakukan apa yang disebut pengadilan
rakyat terhadap mantan Presiden Soeharto dan keluarganya.
Di samping itu, pernyataannya itu, telah berhasil menciptakan suatu
kondisi sehingga pelaksanaan peralihan kepemimpinan berlangsung dengan
tertib dan selalu berpijak kepada konstitusi. Padahal, sesuai kewenangan
yang ada padanya, ia berpeluang untuk mengambil-alih kekuasaan.
Konon, menjelang Presiden Soeharto berhenti sebagai Presiden, ia selaku
Menhankam/Pangab mendapat semacam "Super Semar", yakni Instruksi
Presiden No 16/1998 tertanggal 18 Mei 1998, yang mengangkatnya sebagai
Panglima Komando Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional. Instruksi
Presiden itu memberikan wewenang untuk menentukan kebijaksanaan tingkat
nasional, menetralisir sumber kerusuhan. Serta semua menteri dan para
pejabat tingkat pusat/daerah diinstruksikan oleh Presiden untuk membantu
tugas pokok Panglima tersebut.
Tetapi ia tidak memanfaatkan instruksi tersebut untuk membuka kesempatan
baginya mengambil-alih kekuasaan. Ketika itu, Letjen Susilo Bambang
Yudhoyono yang menjabat Kasospol menanyakan kepadanya, “Apakah Panglima
akan mengambil-alih kekuasaan?" Dengan tegas ia jawab, "Tidak, kita akan
menghantar pergantian kekuasaan secara konstitusional!"
Ia lebih mengutamakan kepentingan bangsanya daripada menuruti ambisi
pribadi. Ia memahami bahwa dengan mengambil-alih kekuasaan masalah
kebangsaan tidak akan terselesaikan, bahkan mungkin lebih buruk lagi.
Secara konsisten sikap yang sama diambil tatkala dicalonkan sebagai
wakil presiden. Ia dua kali dicalonkan sebagai wakil presiden dan kedua
kesempatan itu dilepaskannya dengan pertimbangan tanggungjawabnya
sebagai penjaga keamanan negerinya.
Pertama, saat diminta mendampingi pencalonan kembali Presiden B.J.
Habibie (sebelum Laporan Pertanggungjawabannya ditolak MPR), ia mundur
karena menyadari bahwa tidak mungkin ikut dalam proses rivalitas
kepemimpinan nasional sambil bersamaan memimpin pengamanan proses itu
sendiri. Ibaratnya wasit sepak bola ikut sebagai pemain pada salah satu
kesebelasan.
Kedua, saat bersaing dengan kandidat lainnya termasuk Megawati
Soekarnoputri, ia justru memutuskan mundur karena kuatir akan adanya
amuk massa apabila pesaingnya dikalahkan sebagaimana pada saat pemilihan
presiden saat itu. Bali dan Solo sudah terbakar akibat kekecewaan massa
pendukung yang fanatik atas kekalahan Megawati dalam pemilihan presiden.
"Saya tak ingin mendapatkan kekuasaan di atas korban dan puing-puing
bangsa saya," tegas mantan Ajudan Presiden Soeharto ini.
Maka tak heran bila Anthony Spaeth, dalam "General Wiranto is The Man to
Watch," Time, edisi 1 Juni 1998, menuturkan: "Fakta yang menunjukkan
bahwa ia tidak mau mengambil jabatan nomor satu memperlihatkan jiwa
besar dan loyalitasnya. Dengan mendukung suksesi yang tertib dan
konstitusional, Wiranto yang berpembawaan sangat tenang itu, telah
menempatkan posisinya pada posisi kuat."
Secara lebih rinci dan jelas, Wiranto menguraikan berbagai pengalaman
dan peristiwa yang dilaluinya pada setiap situasi itu dalam buku
‘Bersaksi di Tengah Badai’ dan ‘Mengenal Wiranto Calon Presiden RI
2004-2009’. Kedua buku ini diterbitkan oleh Institute for Democracy of
Indonesia, 2003.
Reformis
Jika ditelusuri secara cermat, beberapa tindakan nyata yang dilakukannya
pada awal bergulirnya reformasi itu, sesunggunya ia adalah pelaku
reformasi menuju tujuan yang benar yakni mewujudkan Indonesia Baru yang
demokratis, adil dan sejahtera. Ia malah sangat kecewa melihat cara
berpikir dan tindakan beberapa orang yang menamakan diri reformis yang
justeru benar-benar berwatak status quo, tidak bisa melihat dan mengakui
berbagai perubahan di sekeliling karena takut kehilangan retorika.
Sementara, ia selaku Panglima TNI bersama segenap jajarannya, telah
melakukan banyak hal untuk mendukung proses reformasi agar berjalan
secara konstitusional, konseptual, dan pada arah yang benar. Pertama, ia
menyetujui pendapat akhir Fraksi ABRI pada persidangan SU-MPR Maret
1998, yang menyatakan bahwa reformasi merupakan keharusan yang tak
terelakkan.
Menjelang Presiden Soeharto berhenti sebagai presiden, ia mengusulkan
dibentuk suatu komite reformasi guna membantu Presiden memenuhi tuntutan
rakyat. Pada Juni 1998, ia membentuk tim yang menyusun pokok-pokok
pikiran ABRI tentang reformasi menuju pencapaian cita-cita nasional yang
hasilnya kemudian diserahkan secara resmi kepada pemerintah dan pimpinan
DPR/MPR-RI.
Pada April 1999, Polri dipisahkan dari ABRI dan selanjutnya ABRI kembali
menjadi TNI. Selanjutnya, pada Juni 1999, ia melakukan reformasi
internal ABRI melalui suatu seminar di Bandung yang menghadirkan
pakar-pakar dari sipil dan militer, dalam dan luar negeri, yang hasilnya
dinamakan Peran ABRI abad 21.
Rumusan tersebut merupakan langkah-langkah ABRI untuk memastikan posisi
yang tepat dalam menyongsong Indonesia masa depan, yang antara lain
berisi penghapusan kekaryaan ABRI, penghapusan Dwi Fungsi ABRI, dan
menempatkan TNI pada posisi netral dalam percaturan politik nasional.
Kemudian diikuti pengurangan jumlah fraksi TNI/Polri di DPR-RI dari 75
menjadi 38 saja.
Maka tak berlebihan kesaksian Hamzah Haz, Wakil Presiden RI, dalam
‘Orang Berkata Tentang Wiranto, 2001” yang menyatakan: "Dari seorang
Wiranto, saya menemukan sosok tentara yang reformis, sederhana dan mau
mendengar pendapat orang."
Tekun dan Gigih
Ia kini menjadi seorang kandidat Presiden 2004-2009. Seorang prajurit
pejuang yang tidak mengenal akhir dalam pengabdian kepada bangsa dan
negaranya. Ia seorang putera bangsa yang mempunyai track record dan
pengalaman dalam mengatasi berbagai masalah kebangsaan. Ia menjadi
pesaing yang sangat memungkinkan dapat mengalahkan calon-calon presiden
dari partai lain.
Disiplin, kejujuran, ketekunan dan kegigihan yang telah mendarah-daging
sejak kecil dalam dirinya, telah menempanya menjadi pemimpin yang andal.
Ia meniti karir dengan tekun dan gigih hingga mencapai jabatan puncak di
institusi TNI (ABRI). Padahal, ia datang dari sebuah keluarga sederhana
dengan ekonomi pas-pasan. Ayahnya RS Wirowijoto, yang sering dipanggil
Pak Mantri, hanya seorang guru Sekolah Rakyat. Namun Sang Ayah telah
membimbingnya untuk tekun dan gigih. Begitu pula ibunya Suwarsijah telah
mengasuhnya penuh kasih dan menjadi seorang muslim yang bersahaja.
Ia dilahirkan di Yogyakarta pada 4 April 1947. Di tengah serbuan Belanda
ke Yogyakarta, orang tuanya harus membawa Wiranto kecil, yang baru
berumur satu bulan, pindah ke Solo dengan naik andong. Kuda yang menarik
andong (dokar) itu mati dalam perjalanan. Di kota Solo inilah dia
mengisi masa kanak-kanak dan remajanya. Di situ ia menempuh pendidikan
formalnya dari sejak Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).
Saat kecil ia sering dipanggil Ento. Nama Wiranto sendiri diberikan oleh
ibunya yang diambil dari kata Jawa wira dan anto yang artinya anak yang
berani atau anak yang kelak diharapkan selalu mengedepankan kebenaran.
Pengasuhan Sang Ibu sangat banyak mempengaruhi pembentukan jati dirinya.
Ia putera keenam dari sembilan bersaudara. Mereka hidup sederhana. Meski
demikian keluarga ini tidak pernah menghalalkan segala cara untuk
memenuhi kebutuhan dan meraih harapannya. Mereka hidup rukun dan penuh
kekeluargaan. Kesulitan hidup yang dihadapi, mendorong mereka untuk
saling mendukung dan saling berbagi. Daya tahan dan pengendalian diri
yang terbina dalam keluarga ini telah pula menempanya menjadi seorang
yang jujur, tekun dan gigih.
Sejak kecil ia sudah terbiasa mengendalikan keinginan dan pengaruh
lingkungannya. Ia sudah terdidik untuk tidak melakukan tindakan yang
bertentangan dengan prinsip kejujuran dan hal-hal yang di luar
kemampuannya. Orangtuanya senantiasa menasihati agar ia memiliki
keyakinan yang kuat dan ketakwaan yang tinggi.
Sejak masa kanak-kanak ia sudah terdididik untuk selalu hidup
berdisiplin. Ia, misalnya, sudah harus bangun sepagi mungkin untuk
membantu tugas tugas keluarga. Watak, sifat, dan kedisiplinannya
mewarisi karakter dan kedisiplinan ayahnya yang berprofesi sebagai guru
yang juga mendalami kebatinan Jawa. Begitu pula ibunya, yang dikenal
sangat ketat dan tegas paling berperan dalam membentuk kepribadian
Wiranto.
Ia termasuk anak yang sangat peduli dengan kewajiban dalam keluarga.
Selepas pulang sekolah, misalnya, ia selalu menawarkan diri kepada
ibunya tentang pekerjaan yang harus dilakukannya. Bahkan, tak jarang ia
juga menawarkan diri untuk berbelanja urusan rumah tangga di pasar.
Ia tergolong seorang pendiam, hanya berbicara seperlunya. Tapi ia
seorang yang disenangi teman-temannya. Sebab sejak kecil ia tergolong
orang yang kaya ide dan pemikiran yang cukup kritis dan inovatif. Ia
sering membuat kegiatan-kegiatan yang sifatnya baru. Sehingga, teman
yang lain menjadi sangat senang.
Ia juga orang yang sejak kecil telah terlatih untuk madiri. Saat di TK
saja ia tidak pernah lagi diantar. Saat SD dan SMP pun ia berjalan kaki
menempuh jarak sekolahnya cukup jauh. Dan, sejak TK, SD, SMP, dan SMA,
ia tergolong anak yang pandai. Di kalangan teman-teman sepermainan, ia
menjadi pemimpin dan panutan.
Kondisi keluarga ini sangat berpengaruh dalam menyalakan cita-citanya.
Sejak kecil ia sudah bercita-cita menjadi tentara. Pada saat remaja,
cita-citanya sempat berubah ingin menjadi arsitek. Namun, cita-cita itu
tidak kesampaian karena faktor ekonomi. Akhirnya, ia masuk AMN yang
dibiyai negara.
Biarpun semasa kecil ia sudah bercita-cita menjadi tentara, tetapi tidak
pernah membayangkan bahwa suatu saat akan menjadi orang nomor satu di
lingkungan ABRI, apalagi menjadi calon nomor satu di negeri ini. Tapi
berkat ketekunan dan kegigihannya, lulusan AMN 1968 ini telah menjabat
Panglima ABRI pada tahun 1998 menggantikan pendahulunya Jenderal Feisal
Tanjung lulusan AMN 1961.
Kesederhanaan hidup keluarga ini tetap tidak berobah manakala Wiranto
telah mencapai puncak karir di TNI. Mereka tak mau memanfaatkan
kedudukan dan posisi Jenderal Wiranto untuk keuntungan maupun fasilitas
keluarga. Keluarganya tetap memilih hidup sederhana.
Watak yang tumbuh pada pribadi Wiranto dan saudara-saudaranya tampaknya
tidak lepas dari didikan kuat ibunya. Hal ini bisa tercermin dari sikap
ibunya yang sudah sepuh, menolak keinginan Wiranto untuk mengiriminya
sebuah mobil. "Bagaimana nanti nasib tukang becak langganan saya yang
mangkal di ujung gang jalan sana?" kata ibunya menolak.
Bahkan memperbaiki rumah tinggal keluarganya, ibunya pun keberatan,
khawatir kalau para tetangga justru tidak datang lagi. Akhirnya, rumah
tempat tinggal mereka di Solo hingga ibunya wafat, dibiarkan sampai
keropos. Barulah setelah ibunya meninggal rumah tempat tinggal keluarga
itu diperbesar dan dibangun dalam bentuk rumah padepokan yang terbuka
dan digunakan untuk kepentingan kegiatan kampung seperti pengajian,
arisan atau bahkan pengantenan.
Jejak Karir
Banyak orang yang sudah lama mengenal sudah memperkirakan karier Wiranto
akan terus menanjak. Karena ia dinilai sebagai perwira berusia muda yang
tampil cemerlang dengan ide-ide segarnya di setiap bidang tugas yang
dipercayakan kepadanya.
Ia memang menjejaki jenjang pendidikan dan karirnya dengan catatan
prestasi yang baik, bahkan sebagian besar dengan predikat terbaik.
Misalnya Kursus Intelijen di Bogor 1972, Kursus Pembinaan Latihan Satuan
di Bandung 1974, Kursus Lanjutan Perwira di Bandung 1975, Seskoad di
Bandung 1982, dan Lemhannas di Jakarta 1995.
Kata kuncinya adalah disiplin, kejujuran, ketekunan dan kegigihan. Saat
orang lain belajar, ia pun belajar. Saat orang lain isterahat, ia masih
tetap belajar. Maka, tidak mustahil kalau ia lebih menguasai persoalan
dari yang lain. Kiat yang sangat sederhana dan realistis.
Ketekunan dan kegigihan yang berorientasi prestasi, bukan berorientasi
jabatan, itu telah membuahkan jenjang karirnya terus menanjak. Selepas
menyelesaikan pendidikan (dilantik) di Akademi Militer Nasional,
Magelang (lulus 1968), ia mengawali penugasannya sebagai Perwira Pertama
di Korps Kecabangan Infantri (1968). Kemudian menjadi Komandan Peleton
Yonif 713 Gorontalo, di sana ia bertugas selama tujuh tahun. Di situ
pula ia menemukan jodoh, Rugaiya Usman, SH, puteri Gorontalo, yang
dinikahinya tanggal 22 Februari 1975, menjadi keluarga bahagia dan
dikaruniai tiga orang anak (dua orang puteri dan satu putera).
Kemudian ia menjabat Komandan Yonif 712 (1982), Karo Teknik Dirbang
(1983), Kadep Milnik Pusif (1984), Kepala Staf Brigade Infanteri IX,
Jawa Timur (1985), Wakil Asisten Operasi Kepala Staf Kostrad, Jakarta
(1987) dan Asisten Operasi Divisi II Kostrad, Jawa Timur (1988).
Selain menekuni dengan gigih setiap jenjang jabatan yang dipercayakan
padanya, ia juga tekun mengikuti berbagai pendidikan, latihan dan kursus
yang bersifat pengembangan umum dan spesialisasi. Antara lain Sussar
Para (1968), Sussarcab Infantri (1969), Susjur Dasar Perwira Intelijen
(1972), Suslapa Infantri (1976), Suspa Binsatlat (1977), Sekolah Staf
dan Komando TNI AD (1984) dan Lemhanas (1995) sebagai Peserta Terbaik.
Dengan dedikasi dan kemampuan yang dimilikinya, ia pun kemudian diangkat
menjadi Ajudan Presiden selama empat tahun (1989-1993) dengan pangkat
kolonel. Untuk jabatan itu, ia menyisihkan 14 calon terbaik dari seluruh
satuan TNI-AD. Setelah itu, ia dipercaya menjabat Kasdam Jaya selama 18
bulan (1993-1994), jabatan yang menghantarnya memasuki jenjang pangkat
perwira tinggi (Brigjen). Kemudian selama 15 bulan (1994-1996) ia
menjabat Pangdam Jaya dengan pangkat Mayjen. Pada saat memangku jabatan
ini dia melakukan gebrakan dengan menggalakkan Gerakan Disiplin Nasional
(GDN).
Karirnya terus menanjak, pada tahun 1996-1997 ia dipercaya menjabat
Panglima Kostrad dengan pangkat Letjen. Pada saat itu, sekali lagi dia
menunjukkan keberhasilan dalam penggelaran latihan gabungan ABRI di
pulau Natuna, suatu latihan terbesar dan terjauh yang pernah dilakukan
ABRI.
Setelah satu tahun lebih menjabat Pangkostrad, ia pun diangkat menjabat
Kepala Staf Angkatan Darat (1997-1998) dengan pangkat Jenderal. Jabatan
yang dipangkunya selama 8 bulan itu antara lain digunakan untuk
menggalakkan program ABRI Manunggal Pertanian tatkala Indonesia sangat
terpukul dengan krisis pangan pada tahun 1997. Sampai akhirnya, pada
usianya 50 tahun, ia mendapat kepercayaan menjabat sebagai Panglima ABRI
yang satu bulan kemudian dirangkap dengan jabatan Menhankam Kabinet
Pembangunan VII (1998). Jabatan ini tetap dipercayakan padanya pada
Kabinet Reformasi Pembangunan - BJ Habibie (1998-1999).
Pada saat menjabat Menhankam/ Pangab inilah dia mengambil keputusan
berani dan arif mengawal proses reformasi menuju tujuan yang tepat.
Antara lain ia melakukan reformasi internal ABRI, memisahkan Polri dari
ABRI, serta memisahkan ABRI dari Golkar agar dapat bersikap netral dan
tidak masuk dalam politik praktis.
Kariernya belum terhenti sampai pada pemerintahan Presiden BJ Habibie.
Pada pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, ia pun diajak untuk
menyusun kabinet dan sekaligus dipercaya menjadi Menteri Koordinator
Politik dan Keamanan (Menko Polkam).
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|