| |
C © updated 10062006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
Wiranto
Lahir:
Yogyakarta, 4 April 1947
Agama:
Islam
Pangkat:
Jenderal TNI 1997
Karir Militer:
Pangdam Jaya 1994-1996
Panglima Kostrad 1996-1997
Kepala Staf Angkatan Darat 1997-1998
Panglima ABRI 1998-1999
Menteri
Menhankam/Pangab 1998 (Kabinet Pembangunan VII)
Menhamkan/Pangab/Pang TMI 1998-1999 (Kabinet Reformasi Pembangunan-Habibie)
Menko Polkam, 1999-2000 (Kabinet Persatuan Nasional-Gus Dur)
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Kebangsaan
Rakyat Indonesia Sudah Dibodohi
Jakarta, Kompas 10/6/2006- Sebanyak 88 orang dari berbagai latar
belakang, Jumat (9/6), mendeklarasikan Perhimpunan Nasionalis Indonesia
disingkat Pernasindo. Ikut menandatangani deklarasi antara lain mantan
Panglima TNI Jenderal (Purn) Wiranto dan mantan Menteri Negara
Perencanaan Pembangunan Kwik Kian Gie yang juga Ketua Presidium.
Kwik menjelaskan alasan pendirian Pernasindo antara lain karena rakyat
Indonesia selama ini sudah dibodohi. Bahkan, bentuk pembodohan itu sudah
merasuki opini publik, yang sesungguhnya diketahui sama sekali tidak
benar. "Perhimpunan Nasionalis Indonesia hadir untuk memberikan
pencerahan kepada rakyat Indonesia," kata Kwik.
"Kita menyaksikan rakyat dibodohi dengan dicekoki omongan bahwa
pembangunan yang dibiayai dari utang itu wajar, dan utang itu sekarang
sudah menyengsarakan rakyat," ujar Kwik.
Untuk melawan pembodohan ini, menurut Kwik, akan dimulai kampanye
penyadaran. Kampanye akan mengajak media yang ada. Jika tidak mendapat
sambutan, maka akan membuat media kampanye sendiri. "Misalnya dengan
menyebarkan pidato penyadaran dalam bentuk kaset rekaman seperti yang
pernah dilakukan Imam Khomeini di Iran," ujarnya.
Dalam pidatonya, Kwik mengatakan, golongan miskin dan termiskin dari
rakyat yang jumlahnya besar tidak mampu mencemaskan keterpurukan dalam
kehidupan bernegara dan berbangsa. "Kondisi fisik yang lemah karena
kekurangan gizi, sudah ada busung lapar, dan kekurangan pelayanan
kesehatan yang minimal," ujarnya.
Menurut Kwik, yang bersalah adalah elite bangsa yang menjual
kemerdekaan, yang menjadi kroni, komprador dari bangsa yang mengisap
bangsa Indonesia.
Menjawab pertanyaan wartawan, Wiranto mengatakan, meskipun perhimpunan
itu bukan organisasi politik ataupun akan menjadi parpol, orang di
dalamnya banyak yang berafiliasi dengan partai politik. (mam) *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|