| |
C © updated 14032005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rp |
|
| |
Nama:
Wimar Witoelar
Nama Lengkap:
Wimar Jartika Witoelar
Lahir:
Padalarang, Jawa Barat, 14 Juli 1945
Agama:
Islam
Menikah:
KBRI Bangkok, 27 Februari 1971
Istri:
Suvatchara Witoelar Leeaphon (dokter syaraf, meninggal tahun 2003)
Anak:
1. Satya Tulaka (lahir 1975)
2. Aree Widya (1978)
Orangtua:
-Ayah Raden Achmad Witoelar Kaartaadipoetra (1910-1987)
-Ibu Nyi Raden Toti Soeiamah (1914-1977)
Saudara Kandung:
1. Luki Djanatun Muhammad Hamim (Lahir 1932)
2. Kiki Waskita (Lahir 1935)
3. Toerki Joenoes Moehammad Saleh (Lahir 1938)
4. Rachmat Nadi Witoelar (Lahir 1941)
5. Wimar Jartika Witoelar
Pendidikan:
-Pendidikan Dasar di sejumlah negara Eropa, SR di Yayasan
Pendidikan Budi Mulia, Bogor, lulus dari SR di Jalan Cilacap, Jakarta
-SMP Katolik Van Lith, Jalan Gunung Sahari, Senen, Jakarta Pusat, tamat
tahun
-SMA Kolese Kanisius, Jakarta
-Teknik Elektro ITB Bandung
-George Washington University, Washington DC,
Pengalaman Kerja:
-Dosen Pasca Sarjana, Program Transportasi ITB Bandung (1975-1982)
-Dosen Tamu Institut Manajemen Prasetya Mulya (1982-1993
-Direktur Eksekutif Summa Excelence Institute (1990-1991)
-Dosen Magister Manajemen dan Bisnis Administrasi Teknologi ITB
-Pimpinan PT InterMatrix Bina Indonesia (Konsultan Manajemen)
-Pimpinan PT InterMatrix Communication (Konsultan Komunikasi)
-Pimpinan PT Inter Properti (Pembangunana Perumahan)
-Pimpinan PT Caksugara Nusantara Media (Television & Audiovisual
Production)
-Pimpinan PT Inter Sinclair Knight (Konsultan Engineering)
-Pimpinan PT Nusantara International Development Corporation
- Pendiri dan Pimpinan Yayasan Perspektif Baru
Karya Tulis Buku:
-No Regrets, tahun 2000, sebuah kenangan sehari-hari bersama Gus
Dur, diterbitkan Equinox Publishing Singapura, dapat ditemui di
amazon.com, diluncurkan di Jakarta, Singapura, Melbourne, Sydney, New York
dan Washington DC.
-Menuju Partai Rakyat Biasa
-Mencuri Peluang di Tengah Kebingungan
-Perspektif
Pengalaman Lain:
-Ketua Dewan Mahasiswa ITB Bandung, 1969
Kegiatan Lain:
-Pembicara dan Pemandu acara talkshow, diskusi, seminar
-Kolumnis dan Pewawancara di media cetak dan televisi inernaisonal (ABC,
SBS, Nine Netwok, BBC, CNN, CNBC, NBC, European Channels)
-Komentator politik dan penulis kolom di Newsweek, International Herald
Tribune, The Washington Post, serta media cetak nasional
Penghargaan:
Adjunt Professor in Journaism and Public Relation, Deakin
University, Australia
Alamat Rumah:
Jalan Madrasah, Cilandak, Jakarta Selatan
Alamat Kantor:
PT InterMatrix Communication, Kompleks Duta Mas Fatmawati C2-19,
Jalan Raya RS Fatmawati, Jakarta Selatan 12150, Indonesia
Telp. +6221 7279.0028, Faks. +6221 722.9994, SMS +62811811291
Email:
wimar@intermatrix.co.id
wimar@witoelar.com
|
|
| |
BIOGRAFI
= Kepala Juru Bicara Demokrasi
= Calon Presiden 1978
= Pemandu Talkshow Perspektif
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Wimar Witoelar
Pemandu Talkshow Perspektif
Wimar Witoelar menyebutkan kemunculannya di televisi membawakan acara
talkshow “Perspektif” tahun 1994 sebagai sekoyong-koyong. Bermula, saat
Wimar pimpinan perusahaan konsultan manajemen PT InterMatrix Bina
Indonesia yang sedang dimintakan nasehat profesional bagaimana membenahi
manajemen stasiun televisi SCTV.
Wimar, salah satunya menyarankan agar SCTV membuat acara khas yang bagus.
Tak harus serius tapi bisa menghibur dan tetap berbobot. Ia memberi contoh
acara kesukaanya di CNN, “Larry King Show”. Persoalan baru timbul siapa
orang Indonesia yang harus menjadi Larry King-nya. Dan biasa, sebagaimana
ia pernah mencalonkan diri sebagai presiden tahun 1978 dalam sebuah
demonstrasi mahasiswa ITB Bandung, dengan spontan bernada jenaka, Wimar
menawarkan diri.
Nama Wimar lalu lekat dengan “Perspektif”, muncul seminggu sekali tiap
hari Sabtu sore. Modalnya adalah kepandaian berbicara semasa dahulu
aktivis kampus. Ia mengundang nara sumber dari semua strata sosial ekonomi
politik budaya dan bahasa. Ia tampil penuh kesantaian dan sarat canda.
Kelihaiannya bertanya dan beretorika dengan nara sumber untuk tiba pada
jawaban yang diharapkan, itu memberikan hasil akhir kritikan-kritikan
tajam atas berbagai kepincangan yang tak disadari ternyata ada di
lingkungan sekitar. Wimar ternyata tetap senang protes.
Wimar Witoelar dan Perspektif-nya telah membuka wacana yang mencerahkan
alam pikir bangsanya dengan kritis, tajam, ceplas-ceplos juga penuh humor.
Namun, tahun 1995, Perspektif dibredel karena dianggap mendiskreditkan
pemerintah Orde Baru.
Lantas dia merintis kembali talk show Perspektif Live, yang bergerak dari
satu kota ke kota lain. Kemudian menggelar Perspektif Baru lewat
perusahaan jasa komunikasi dan public relations yang dipimpinnya, Inter
Matrix Communication.
Tidak hanya pada era orde baru acara talk show yang dipandu Wimar
dibredel. Pada awal reformasi, saat itu (Agustus 1998) Dialog Aktual di
Indosiar dibredel di tengah-tengah penayangan karena secara tajam
mengeritik pemerintahan Presiden BJ Habibie.
Wimar menekuni karir profesional medianya lewat talkshow yang sukses
Perspektif di SCTV dan Selayang Pandang di Indosiar yang memenangkan
hadiah Panasonic Television National Awards tahun 1997 dan 1999 sebagai
pemandu talkshow pria terkemuka. Kegiatan-kegiatan lainnya di media cetak,
mencakup kolumnis Asal Usul di Kompas, kolumnis kartun di majalah Humor,
dan kolumnis bisnis di tabloid Kontan.
Lalu, Wimar yang senang mengeritik pemerintah, sempat masuk Istana
Kepresidenan. Presiden KH Abdurahman Wahid, Oktober 2000, mengangkatnya
sebagai Ketua Tim Media/Juru Bicara Kepresidenan. Namun tak lama kemudian,
Wimar mundur dari pemerintahan seiring dengan jatuhnya Wahid alias Gus Dur
dari kursi presiden.
Wimar telah menulis sejumlah buku termasuk bukunya yang terkenal, ditulis
dalam bahasa Inggris, No Regrets (Tiada Penyesalan), sebuah kenangan bagi
hari-harinya bersama Gus Dur. Buku itu diterbitkan oleh Equinox Publishing
dan dapat ditemui di amazon.com. Buku itu laris di Jakarta, Singapura,
Melbourne, Sydney, New York dan Washington DC.
Buku-bukunya sebelumnya (dalam bahasa Indonesia), termasuk, Menuju Partai
Rakyat Biasa dan Mencuri Peluang di Tengah Kebingungan dan buku pertamanya
menyangkut komunikasi Perspektif, jadi dasar talk show di televisi.
Nara Sumber Media Asing
Wimar kembali sebagai orang swasta sejak tahun 2001, usai meninggalkan
Istana Presiden. Kerja untuk masyarakat dianggapnya sudah cukup panjang
dilakoni antara tahun 1963-2001. Ia kini istirahat dari isu-isu besar,
lebih berpaling ke dalam memenahi perusahaan dan menata kehidupan rumah
tangga usai ditinggal istri tercinta Suvatchara yang meninggal dunia tahun
2003 karena kanker. Wimar menajalani masa transisi dalam banyak hal. Wimar
hanya akan bicara dan protes di ruang-ruang kosong yang tak diisi oleh
orang lain.
Wimar kemarin-kemarin telah dengan baik memainkan peran sebagai seseorang
yang berperan di lapangan yang kosong. Jaman Presiden Soeharto di mana
tidak ada orang yang berbicara beda dengan rejim, sehingga apapun yang
dibicarakan Wimar yang berbeda dengan pendapat rejim itu sudah dianggap
berarti. Karena itu, kalau sekarang Wimar masih bicara demokrasi, itu
sudah tidak aneh lagi sebab semua orang sudah bebas bicara demokrasi.
Wimar masih akan tetap berbicara berbeda. Hanya saja itu, ia munculkan di
ruang-ruang kosong. Seperti ketika tak seorang pun membahas dan berbicara
tentang kejadian tabrakan beruntun di Pintu Tol Cibubur Jagorawi, selepas
kepergian rombongan Presidenan Susilo Bambang Yudhoyono, sekoyong-koyong
artikel Wimar muncul di harian Kompas. Ia berbicara tajam mengkritisi
kejadian itu.
Wimar mengibaratkan, jika dulu ia turun bermain bola sebagai penyerang
tengah seperti hanya Kurniawan Dwi Julianto, kini Wimar hanya sebagai
pemain cadangan itu pun tak usahlah diturunkan sebab sudah banyak
pemain-pemain muda yang bagus.
Yang tak berbeda dari Wimar dahulu dengan sekarang adalah dia dia selalu
ingin berada pada tempat dan situasi yang diperlukan. Belakangan, suaranya
diperlukan nyaring di luar negeri. Suara Indonesia di luar negeri paling
santer berasal dari Wimar. Jika saja ditanyakan ke stasiun televisi BBC,
European Channels, ABC Australia dan Singapura, siapa yang bisa
diwawancarai di Indonesia, itu jawabannya masihlah Wimar Witoelar. Tapi di
sini sengaja tidak mau tampil berdebat dengan orang yang memang
pekerjaannya berdebat. “Jadi, saya ingin berada di mana kita diperlukan,”
kata Wimar.
Jika politisi kawakan AM Fatwa menyebutkan ada kecocokan Wimar Witoelar
dengan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sama-sama ‘badut’, karena
keduanya selalu mampu tampil jenaka untuk mencairkan kebekuan suasana,
sesungguhnya Wimar memang sangat mengagumi Gus Dur yang pro demokrasi.
Bahkan disebutnya Gus Dur sebagai Bapak Demokrasi Indonesia. Wimar
terpanggil menjadi Juru Bicara Kepresidenan ketika Gus Dur sedang
kesulitan pada tahun 2000. Wimar datang untuk membantu tidak pada waktu
terpilih baru Oktober 1999.
Sangat konsisten, Wimar dengan Gus Dur sama-sama membela demokrasi.
Setelah tidak lagi bertemu Gus Dur karena arenanya sudah berbeda, Wimar
sekarang merasa membela demokrasi dengan cara membantu rekan-rekan mudanya
pekerja di InterMatrix Communication untuk bisa bekerja secara etis dalam
masyarakat yang demokratis. Wimar memastikan dirinya tak pernah berubah
konsisten membela demokrasi dengan mengedepankan isu pluralisme, hak asasi
manusia, dan anti militerisme.
Ibarat supir angkot ia tetaplah supir angkot yang bergerak sesuai
permintaan penumpang, apakah itu narik di Condet, Kelapa Gading atau
Jagakarsa, ia tetaplah supir. Masyarakat saja yang berubah. Ketika dahulu
perlu orang anti Soeharto maka dideveloplah orang seperti dirinya
diperlukan.
Atau ketika jadi mahasiswa Wimar melakukan apa yang harus dilakukan
mahasiswa. Belajar. Tapi, ketika negaranya tak beres, ia lalu protes sama
rektor. Rektornya juga tak beres, ia protes sama negara. Terus Soeharto
naik dan Wimar mengharapkan demokrasi bisa tumbuh sehingga mau studi di
luar negeri supaya sekolahnya selesai. “Sejauh itu saya biasa saja
melakukan apa yang saya perlu lakukan,” kata Wimar.
Wimar adalah Wimar
Sekarang Wimar merasa dirinya diperlukan sebagai orang professional dalam
hal public relation. Ia saat ini adalah komunikator yang bisa menyajikan
suaranya di luar negeri di seminar-seminar dan diwawancara media massa.
Wimar menyebutkan dirinya gini-gini saja. Dari dulu juga begini. Jika
dibilang dulu memperjuangkan rakyat sekarang nggak, Wimar meluruskan dari
dulu juga dia nggak memperjuangkan rakyat. “Saya hanya memperjuangkan diri
sendiri,” kata Wimar. “Yaitu ketenangan jiwa saya, bahwa saya melakukan
hal yang tidak merugikan rakyat,” kata Wimar. Sekarang Wimar juga begitu.
Jadi baginya nggak ada perubahan. Cuma saja suatu saat, ia di Istana,
suatu saat saya di Jalan Fatmawati, suatu saat di luar negeri. “Tapi, I’m
always what I’m. Saya selalu gini.”
Wimar memastikan tak menyesal masa kepresidenan Gus Dur singkat saja. Ia
hanya sedih Gus Dur tak punya cukup waktu untuk merealisasikan visi dan
wacana demokrasi dari kursi kepresidenan. Namun dalam waktu sesingkat itu
Wimar sangat bangga berada bersama Gus Dur sebagai orang yang melemparkan
visi dan wacana demokratisasi, plurasime, hak asasi manusia, anti
militerisme, dan kebebasan pers kepada masyarakat.
Wimar masih mampu bersyukur berujar alhamdulillah, visi itu begitu kuatnya
bergetar sehingga berkembang terus melalui cara-cara di luar institusi
terutama di luar negeri. Karena, kebetulan usai kejatuhan Gus Dur, kita
lalu masuk ke dalam situasi pasca September Eleven (11/9-2001) kontra
terorisme. Islam di negara Barat di cap sebagai teroris radikal. Wimar
ikut menyertai perjalanan Gus Dur yang sudah tidak lagi Presiden, ke AS
untuk memberikan pesan mengenai Islam yang moderat. “Jadi, saya bangga
akan hal-hal itu,” ucap Wimar.
Wimar sedih bahwa pemerintahan Gus Dur tak efektif, tidak berhasil dan
akhirnya tumbang. Tumbangnya Gus Dur itu proses politik yang kita harus
terima saja. “Kaya main bola ya kalah, gitu. Sedih kita kalah, tapi ya
kalah nggak apa-apa,” kata Wimar yang hobi nonton bola sehingga seringkali
menganalogikan lakon kehidupan ini ke dalam frame permainan sepakbola.
Wimar merasa harus menulis buku untuk mempertegas sikap tidak menyesal
berada bersama seseorang yang demokrat, judulnya pun diberi “No Regrets”.
“Setiap Hari Raya Imlek kita ingat kapan itu mulainya. Setiap kita lihat
TNI berusaha memperbaiki diri kita tahu jaman Jenderal Wiranto dicopot,”
kata Wimar mengurai sedikit keberanian langkah politis Gus Dur, termasuk
membubarkan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial.
Awal-awal demokratisasi semua banyak dilakukan di jaman Gus Dur, dan
sesudahnya sudah menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat untuk
memelihari demokratisasi dan pluralisme dimaksud.
Sebagai Juru Bicara Kepresidenan, Wimar banyak bersuara tentang
keberhasilan Pemerintahan Gus Dur. Tapi sesering itu pula pers, waktu itu,
kata Wimar, sangat berat sebelah. Waktu Gus Dur hendak jatuh, Wimar yang
sedang berada di Australia diminta untuk jangan pulang. Sebab di situ,
Wimar melakukan press conference beberapa kali dan setiap hari muncul TV
menjelaskan bahwa Gus Dur yang jatuh dia adalah pencetus demokrasi di
Indonesia.
“Jadi orang yang tahu, yang ingin tahu mengenai demokrasi, tahulah bahwa
dia itu Bapaknya Demokrasi. Orang yang nggak mau tahu ya memang hak mereka
untuk mempunyai kesan lain,” kata Wimar tentang mantan bos sekaligus
sahabatnya itu.
Walau bukan Juru Bicara Gus Dur dan memang tak pernah menjadi Juru Bicara
Gus Dur, di setiap kesempatan jika tersedia Wimar rajin mewacanakan visi
demokratisasi dan pluralisme dari GusDur. “Karena kita harus menjalankan
peran kita di masyarakat secara konstruktif,” kata Wimar. Ia menyebut
dirinya bukan ahli sejarah. Juga tidak merasa bertugas untuk membela Gus
Dur, karena dia memang tidak perlu dibela.
Wimar Dicari
Setelah kehilangan istri tercinta banyak pertanyaan ke mana Wimar. Ia
ternyata lebih banyak terlibat menjalankan bisnis komunikasi PR PT
InterMatrix Communication. Dia masih ingin menghindari beban emosi yang
terlalu berat. Ia ingin jauh dari politik.
Wimar mau mengerjakan pekerjaan yang tenang-tenang saja dulu sementara ia
mencari keseimbangan hidup. “Karena saya belum pengalaman hidup tanpa
istri,” kata Wimar.
Walau tak ke mana-mana, Wimar masih saja sangat percaya bahwa demokrasi
itu sederhana. Jadi nggak usah bilang itu rumit dan harus gini-gitu.
Demokrasi, itu intinya satu sikap. Dan prasyarat demokrasi adalah
pluralisme.
“Karena bagaimana kita mau demokrat kalau kita membedakan orang atas dasar
asal usul, etnis, agama dan sebagainya. Bagaimana kita bisa berdemokrasi
kalau kita membiarkan oknum-oknum tentara melanggar hak asasi. Bagaimana
kita bisa berdemokrasi kalau sebagian orang boleh mencuri dana publik dari
orang lain. Jadi dari demokrasi lahir pengertian anti korupsi, hak sipil,
pluralisme.
Sederhana. Jadi kalau ada orang Cina jangan dimaki. Kalau ada orang India
juga jangan di cemoohkan. Kalau orangnya nggak benar kita bilang nggak
benar. Tapi nggak usah dijadikan sesuatu sentimen rasial atau agama. Itu
yang paling penting. Karena hal-hal lain seperti pembangunan ekonomi, itu
adalah yang akan terjadi di mana pun,” urai Wimar.
Buktinya, jaman Soeharto yang diktator ekonomi jalan. Di India demokrasi
ekonomi jalan. Jadi jangan demi ekonomi kita mengorbankan hak sipil. Demi
ekonomi mendahulukan pribumi terhadap keturunan. Wimar sangat tidak setuju
akan hal itu. Ekonomi harus berjalan di atas landasan yang jujur. Karena,
Wimar bilang, sederhana ya segitu saja nggak perlu diperpanjang-panjang.
Keinginan Wimar menjauh dari politik dibuiktikannya pada Pemilu 2004.
Walau banyak sekali panggilan-panggilan untuk ikut berkampanye, Wimar
memilih untuk tidak ikut. Ia hanya sekali saja nongol. Itupun karena
persahabatannya dengan Gus Dur dan SBY. Waktu itu di Sidoarjo tapi SBY-nya
sendiri tidak datang.
Terus pada waktu pembentukan kabinet pun, Wimar masih diajak ikut-ikut.
Tapi Wimar malah ngumpet-ngumpet. Hal itu betul, karena Wimar merasa ia
masih berada dalam transisi pribadi. Dua tahun ini, ia sendiri. Belum lagi
semakin banyak kerjaan di perusahaan mampu melarutkannya terhindar dari
rasa kesepian. “Saya merasa lebih segar di sini saja, dengan kawan-kawan
saya yang muda-muda ini,” ucap Wimar menunjuk stafnya di InterMatrix
Communication.
Namun, dalam kesendirian itu, dia tetap berperan sebagai juru bicara
demokrasi. Di perusahaan itu, Wimar bukan hanya melakukan pekerjaan PR dan
konsultansi komunikasi. Ia juga menjalankan program pemerhatian sosial
melalui Perspektif Baru.
Voter Education, misalnya, pendidikan pemilih menjelang Pemilu, kemudian
juga wawancara mengenai berbagai topik. Dengan koran-koran daerah tiap
minggu ada saja wawancara Perspektif Baru. Darah keprihatinan sosial Wimar
sangat kuat di InterMatrix. Mereka bekerja keras dan profesional supaya
pekerjaan bernada keprihatinan sosial itu tidak usah disubsidi, apalagi
jangan sampai menggunakan dana politik.
Semakin Lebih Arif
Bertambahnya umur dan semakin panjangnya pengalaman hidup membuat Wimar
bisa semakin arif memaknai kehidupan. Sebagai missal, Wimar telah beberapa
kali sakit. Satu kali di antaranya hampir meninggal. Istrinya juga
meninggal tahun 2003, lalu kakaknya meninggal. Wimar melihat ada
keterbatasan umur orang. Karenanya, Wimar mulai tidak mau bikin rencana
dalam ukuran 100 hari atau 5 tahun. Tetapi berbuat baik tiap hari.
Dijalani saja mengalir dan jangan menangguhkan.
“Kalau mau berbuat baik dari sekarang saja. Jangan cari duit dulu baru
berbuat baik. Dari sekarang saja,” kata Wimar yang setiap langkah demi
langkahnya dicoba dijalankannya secara etis. Dan itu menyenangkan juga.
Karena tidak selamanya Wimar begini. Waktu Wimar mahasiswa ambisiusnya
tinggi sekali untuk ikut memperbaiki negara. Sesudah dicobanya selama 30
tahun beginilah hasilnya.
“Tambah baik tambah jelek saya nggak tahu,” kata Wimar enteng. Dia memang
tipe manusia yang easy going, bukun menyepelekan tetapi mengalir laksana
air. “Begitu kata orang,” kata Wimar, dan dipastikannya lagi, “Ya. Karena
saya sendiri terus terang saja tidak punya tujuan komersil di sini,” kata
Wimar menunjuk InterMatrix Communication.
Kearifan lain yang ditemukan Wimar sepeninggal istrinya adalah kesimpulan
bahwa pernikahan itu adalah ujung dari satu proses yang kita jalankan juga
secara mengalir. Bagi Wimar, istri adalah pelembagaan dari partnership
yang kita harus jalankan dan kita uji.
Wimar tidak anti untuk tidak menikah lagi, tetapi juga tidak harus
menikah. Apalagi dengan keluarga harus ada sinkronisasi. Wimar yang
dijuluki Duren alias duda keren’, menganggap lebih penting kebahagiaan
anak-anak yang hidupnya masih jauh lebih panjang. “Saya menderita beberapa
tahun nggak apa-apa, karena sudah senang sekian puluh tahun,” kata Wimar.
Wimar menganggap istrinya orang yang sangat sempurna yang tak akan ada
gantinya. “Tapi berteman oh, jangan dibilang Wimar tidak mau berkenalan
dengan wanita, please, ngopi di Citos,” katanya merujuk kepada mall
Cilandak Town Square, radius arena permainan Wimar sehari-hari, lalu
Pondok Indah Mall dan kantornya di Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan.
Wimar akhirnya memberikan juga komentarnya tentang kondisi sosial politik
terbaru khususnya tentang Pemerintahan SBY-JK. Ia mengawali komentarnya
terhadap situasi penataan politik saat ini yang telah terwujud berkat
adanya Pemilu-Pemilu yang demokratis. Itu yang harus dipegang lebih
penting, daripada hasilnya.
Wimar menyebutkan pada Pemilu tidak bisa dukung salah satu calon presiden
karena dodol semua. Pemilunya sih oke dalam pandangan Wimar. Kepada setiap
orang saran Wimar adalah pilih saja siapa yang paling Anda sukai atau
paling sedikit Anda tidak sukai. Karena ibarat pompa air kalau baru jangan
harapkan begitu dijalankan keluar air jernih. Harus keluar lumpur dulu,
cacing, kecoa dan sebagainya.
Pemilu pertama juga begitu. Tapi kalau kita terus rajin lama-lama akan
keluar yang bersih. “Sekarang kita membuat Pemilu, membuat presiden yang
punya keistimewaan, start kuat, kemudian wuuu…ut begitu ya, turun terus.
Tapi biarin saja. Karena sekarang adalah test untuk masyarakat bagaimana
menanggapi pemerintah yang begitu,” katanya.
Menurut Wimar, pemerintah ini tidak jalan tapi tidak usah diapa-apakan.
Yang sekarang harus jalan masyarakatnya. Seperti, apa betul sih kita
selalu perlu pemerintah? Sebab banyak sekali kegiatan kita yang tidak
memerlukan pemerintah. Pemerintah diperlukan untuk pekerjaan besar,
seperti memberantas korupsi dan sebagainya. Tapi, kalau semua mengurusi
pemberantasan korupsi lalu siapa yang ngurusin kerjaan sehari-hari.
Wimar berprinsip biarlah beberapa orang menanggapi pemerintahan itu. Atau,
orang seperti Wimar menanggapinya setiap ada isu yang perlu ditanggapi
saja. “Saya ngomong, sih, kalau orang lain nggak ngomong,” kata Wimar
memberi contoh artikelnya pernah keluar di harian Kompas mengenai tabrakan
Jagorawi. Wimar ngomong soal itu karena nggak ada yang ngomong. “Tapi
kalau orang lagi ramai-ramai ngomongin sesuatu, nggak usah ngeroyok, gitu.
Karena kita perlu membagi diri,” kata Wimar.
“Jadi menurut saya, pandangan saya terhadap pemerintah ini, kita amati dia
terutama melalui pers bagaimana kelanjutannya. Tapi kita juga berusaha
untuk bekerja secara produktif supaya paling tidak di Pemilu yang akan
dating, kita punya pilihan yang lebih baik,” tutur Wimar.
►e-ti/ht-ms
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|