| |
C © updated 23122004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rp |
|
| |
Nama:
Wimar Witoelar
Lahir:
Padalarang, Jawa Barat, 14 Juli 1945
Agama:
Islam
Isteri:
Suvatchara Witoelar (Neurolog, menikah 1971 dan meninggal 2003)
Anak:
Satya Tulaka (1975) dan Aree Widya (1978)
Ayah:
Raden Achmad Witoelar Kartasipoetra
Pendidikan :
- ITB (tidak selesai)
- George Washington University (sarjana hingga MBA)
Karir:
- Dosen Pasca sarjana, Program Transportasi ITB (1975-1982)
- Dosen Tamu Institut Manajemen Prasetya Mulya (1982-1993)
- Direktur Eksekutif Summa Excelence Institut (1990-1991)
- Dosen Magister Manajemen dan Bisnis Administrasi Teknologi
ITB.
- Pimpinan PT InterMatrix Bina Indonesia (Konsultan Manajemen)
- Pimpinan PT Inter Properti (Pembagungan Perumahan)
- Pimpinan PT Caksuraga Nusantara Media (Television & Audiovisual
Production)
- Pimpinan PT Inter Sinclair Knight (Konsultan Engineering)
- Pimpinan PT Nusantara Internasional Development Corporation
Kegiatan Lain:
- Pembicara dan Pemandu acara talk show, diskusi, seminar
- Kolumnis dan Pewawancara di Media Cetak dan Televisi Internasional (ABC,
SBS, Nine Network, BBC, CNN, CNBC, NBC, European Channels)
- Komentator Politik dan Penulis Kolom di Newsweek, International Herald
Tribune dan The Washington Post, serta media cetak nasional.
Alamat Rumah:
Jalan Madrasah, Cilandak, Jakarta Selatan
Alamat Kantor:
PT InterMatrix, Kompleks Duta Mas Fatmawati, Jl. Raya RS Fatmawati,
Jakarta Selatan Telp (021)72790028-31 Fax (021) 7229994, 7506524
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Wimar Witoelar
Pemandu Talk Show Perspektif
Nama pria tambun dan kribo yang pada masa mudanya takut jatuh cinta ini
melambung ketika berperan sebagai pemandu talk show Perspektif di
televisi swasta, 1994. Pimpinan Inter Matrix Communication, ini membuka
wacana yang mencerahkan alam pikir bangsanya dengan kritis, tajam,
ceplas-ceplos, juga penuh humor. Namun, tahun 1995, Perspektif
dibredel karena dianggap mendiskreditkan pemerintah Orde Baru.
Lantas dia merintis kembali talk show Perspektif Live,
yang bergerak dari satu kota ke kota lain. Kemudian menggelar
Perspektif Baru lewat perusahaan jasa komunikasi dan public
relations yang dipimpinnya, Inter Matrix Communication.
Tidak hanya pada era orde baru acara talk show yang dipandu
Wimar dibredel. Pada awal reformasi, saar itu (8-1998) Dialog Aktual
di Indosiar dibredel di tengah-tengah penayangan karena secara tajam
mengeritik pemerintahan Presiden BJ Habibie.
Lalu, Wimar yang senang mengeritik pemerintah, sempat masuk Istana
Kepresidenan. Presiden KH Abdurahman Wahid, Oktober 2000, mengangkatnya
sebagai Ketua Tim Media/Juru Bicara Kepresidenan. Namun tak lama kemudian,
Wimar mundur dari pemerintahan seiring dengan jatuhnya Wahid alias Gus Dur
dari kursi presiden.
Wimar kembali sebagai orang swasta. Ia menjadi kolumnis Harian Today,
Singapura, Business Week, Indonesia dan suratkabar dalam dua bahasa,
Djakarta. Kadang-kadang artikel-artikelnya muncul di beberapa
suratkabar Australia dan The Guardian, Inggris. Ia panelis tetap
pada acara tayangan mingguan The Editors pada ABC-TV Asia-Pacific
yang disiarkan dari Singapura. Tugas-tugas sebagai penasihat di
perusahaan-perusahaan besar menyita kegiatannya, selain tampil sebagai
pembicara dan komentator di media.
Wimar, meski di ITB kuliahnya tidak selesai, lulus jurusan yang sama
dan MBA di George Washington University, AS. Ia pun mengajar manajemen
pada program pasca sarjana ITB.
Wimar mengajar dan melakukan riset di ITB sejak tahun 1975, selain
menjadi consultan manajemen, mulai dari ADB (Bank Pembangunan Asia) sampai
ke perusahaan-perusahaan swasta dan lembaga-lembaga pemerintah.
Wimar menekuni karir profesional medianya lewat talk show yang
sukses Perspektif di SCTV dan Selayang Pandang di
Indosiar yang memenangkan hadiah Panasonic Television National
Awards tahun 1997 dan 1999 sebagai pemandu talk show pria
terkemuka. Kegiatan-kegiatannya di media cetak, mencakup kolumnis Asal
Usul di Kompas, kolumnis kartun di majalah Humor, dan kolumnis
bisnis di tabloid Kontan.
Di luar Indonesia, Wimar terkenal karena sering muncul di media
televisi dan radio internasional, demikian juga artikel-artikelnya yang
muncul di Newsweek, the International Herald Tribune, The New York
Times, Wall Street Journal, International Herald Tribune, The Washington
Post, The Straits Times, the Sydney Morning Herald dan the
Australian Financial Review.
Wimar telah menulis sejumlah buku, termasuk bukunya terkenal, ditulis
dalam bahasa Inggris, No Regrets (Tiada Penyesalan), sebuah
kenangan bagi hari-harinya bersama Gus Dur. Buku itu diterbitkan oleh
Equinox Publishing dan dapat ditemui di amazon.com. Buku itu laris di
Jakarta, Singapura, Melbourne, Sydney, New York dan Washington DC.
Buku-bukunya sebelumnya (dalam bahasa Indonesia), termasuk, Menuju
Partai Rakyat Biasa dan Mencuri Peluang di Tengah
Kebingungan dan buku pertamanya menyangkut komunikasi Perspektif,
jadi dasar talk show di televisi. Memulai karir sebagai dosen di
sebuah universitas, ia sekarang menjadi profesor tamu di Deakin
University, Australia.
Takut Jatuh Cinta
Rasa rendah diri acapkali mengusik Wimar lantaran bertubuh tambun dan
berambut kribo. Karena itu ia selalu grogi apabila berhadapan
dengan gadis. Walhasil, ketika di bangku kuliah ia takut jatuh cinta.
Padahal Wimar pria romantis.
Wimar yang lahir di Padalarang 14 Juli 1945, putra bungsu diplomat
Raden Achmad Witoelar. Tak heran jika Wimar kecil sampai remaja sering
berpindah-pindah dari satu ke lain negara mengikuti perjalanan tugas sang
ayah.
Ketika jadi mahasiswa ITB Jurusan Elektro, ia sibuk sebagai aktivis
politik. Pasca G-30-S Wimar bersama teman-teman aktivisnya sibuk
melancarkan aksi mengganyang PKI. Wimar pun tidak sempat memikirkan cinta.
Namun seorang gadis datang jua di dalam kehidupan Wimar. Gadis itu
mahasiswi kedokteran Chulalongkorn University, Bangkok. Mereka bertemu
ketika sama-sama kuliah di universitas tersebut. Gadis Thai itu bernama
Suvatchara. Saat itu mereka belum menjalin hubungan asmara.
Mereka bertemu kembali di Amerika. Saat itu, Wimar diundang Departemen
Luar Negeri AS untuk bersama-sama mahasiswa dari Asia Pasifik lainnya,
termasuk Suvatchara, melawat ke negeri Paman Sam. Di situlah cinta mereka
bersemi, berlanjut ke pelaminan, tahun 1971. Suvatchara meninggal tahun
2003 setelah memberi Wimar dua orang anak, Satya Tulaka dan Aree Widya.
►e-ti/sh
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|