A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Publikasi
 ► Galeri
 ► Profesi
 ► Guru-Dosen
 ► Pemuka
 ► Katolik
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Kirim Pesan
 ► Lihat Pesan
 ► Redaksi
 

 
  C © updated 2403205  
   
  ► e-ti/  
  Nama:
Dr William Chang
Lahir:
-
Karir:
- Rektor Sekolah Tinggi Teologi Pastor Bonus Pontianak
- Pengamat masalah sosial

 
 
     
 
PUBLIKASI

 

William Chang

Komunitas Politisi yang Sehat


Sejak akhir 2003 hingga kini, masih dilancarkan rangkaian kampanye antipolitisi "busuk" di banyak kawasan seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Padang, Pontianak.

Sebagai gerakan moral, sikap kritis berpolitik ini mencerminkan kesadaran dan kepekaan mendasar yang amat diperlukan dalam menyongsong pemilu dan masa depan dunia politik kita. Sejarah membuktikan, keadaan suatu negara takkan terperbaiki jika dikuasai politisi "busuk" yang dililit mentalitas koruptif, vested interests, pembohongan publik, "mumpung" -isme, individualisme, rasisme, dan premanisme. Jalan-jalan haram, seperti komersialisasi suara rakyat, ancaman, teror dan ulah premanisme, dihalalkan dalam berpolitik.

Politisi busuk

Politisi busuk ikut bertanggung jawab atas keadaan negara kita seperti sekarang. Peristiwa money politics di kalangan politisi busuk, misalnya, melukiskan disposisi nurani yang mulai tumpul dan sesat. Duit menjadi penguasa nurani. Suara rakyat kecil dikhianati. Padahal, mereka diantar rakyat kecil ke panggung politik. Kehendak rakyat kecil telah lama dikomersialisasi. Yang lebih memprihatinkan, kepentingan terselubung kaum politisi busuk menggeser cita-cita dasar para pendiri republik yang berkemanusiaan yang adil, beradab, dan berkeadilan sosial.

Sampai kini jumlah penganggur sekitar 10 juta dan 30 juta semipenganggur. Pendidikan formal masih buruk, khususnya di pedalaman. Alokasi dana pendidikan formal, menurut Kepala Unicef PBB S Allen, jauh lebih rendah daripada Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura.

Politisi busuk berpotensi menyebar penyakit sosial di dunia politik, ekonomi, dan kebudayaan. Egoisme individual dan kelompok dibenarkan dan disanjung. Dimensi tanggung jawab horizontal dan vertikal dari profesi politisi dilupakan. Politisi lalai memperhatikan kepentingan polis (baca: umum), lebih mengutamakan kepentingan individual dan sektarian. Lingkaran nepotistik mendominasi pikiran politisi busuk. Akibatnya, kepentingan rakyat dan fasilitas umum luput dari sorotan politisi busuk sebab mereka dilanda demoralisasi.

Politisi busuk memandang dunia dan isinya bukan sebagai kosmos, tetapi khaos dan realitas sosial yang perlu dipolitisasi. Tiap warga masyarakat mengemban tugas dan tanggung jawab masing-masing. Tatanan sosial sebagai bagian sejarah manusia ada dalam proses perbaikan dan penyempurnaan yang berkesinambungan. Menjadi manusia yang manusiawi (kadang hewani) dalam dunia politik tidak berarti hanya menjadi warga suatu tatanan alamiah, tetapi menjadi subyek, yang berinteraksi dengan sesama dalam langkah menuju masa depan.

Komunitas politisi sehat

Politisi yang tidak/belum busuk (antara lain terpolusi KKN) perlu segera membentuk jaringan yang diharapkan dapat meng-counter kelompok politisi busuk karena pejuang tunggal sungguh tak sanggup menghadapi jaringan politisi busuk. Perwujudan cita-cita dasar negara dalam pola pikir, sikap, dan tindak-tanduk politis merupakan prioritas komunitas politisi sehat. Aneka bentuk kepentingan individual dan terselubung digeser agar tak mengalahkan kepentingan umum. Perang melawan KKN, ketakadilan sosial, diskriminasi, kemiskinan, kebodohan, dan pembohongan publik termasuk kebijakan hakiki komunitas politisi sehat.

Keanggotaan komunitas ini memiliki identitas diri sebagai agen moral yang mendukung jaringan gerakan moral lokal dan nasional. Komunitas politisi sehat mengusahakan kehadiran otoritas yang sanggup menangani masalah internal dan eksternal bangsa dan mampu mengusahakan kesejahteraan umum. Sebuah kontrak sosial baru yang berisi nilai-nilai dasar manusiawi dinantikan oleh segenap lapisan sosial yang ingin memperbaiki mutu dan status hidup sosial. Otoritas publik seharusnya menunjukkan watak mereka yang tak hanya mengatur kegiatan dalam batas kompetensi mereka, tetapi juga mengusahakan kesejahteraan umum. Dalam masyarakat sipil dibangun jaringan kesetiaan antarwarga yang mempromosikan otonomi pribadi, keluarga, organisasi, dan tiap anasir sosial masyarakat.

Sebagai agen-agen moral, politisi semestinya mengenal dan mengakui kemajemukan dalam etika politik, yang mengandaikan dialog konstruktif dengan "langgam bahasa" warna-warni dan kerja sama dalam kejujuran. Janji-janji politik yang pernah diumbar dalam kampanye perlu diwujudkan, bukan hanya mengelabui rakyat kecil yang umumnya awam politik.

Dalam konteks dialogal ini, kaum politisi dituntut mau mendengarkan dan menjaring hasrat terdalam masyarakat. Yang diperjuangkan politisi bukan lagi hanya pemenuhan keperluan perutnya (kenaikan penghasilan bulanan, komisi- komisi proyek), tapi pemenuhan kandungan hati masyarakat kalangan bawah. Yang miskin bisa hidup layak, mengisi perut, bersekolah dan menikmati fasilitas-fasilitas sosial di negara kita. Peran politisi yang sehat amat besar dalam mewujudkan keadaan sosial yang lebih baik, adil, dan sejahtera.

Jaring politisi bermoral

Politisi bermoral dapat dijaring terutama melalui informasi dari bawah dan melalui proses screening yang benar dan transparan (mulai dari keaslian ijazah pendidikan politisi, jenjang karier, ulah-ulah kotor dalam masyarakat, dan perilaku yang pernah mencemarkan dunia politik kita). Dibutuhkan lembaga yang sanggup mengeluarkan daftar calon politisi, caleg, capres dan cawapres yang tergolong "busuk" dan tidak layak mengatur negara yang belum bangkit dari keterpurukan global. Rakyat kecil yang terpinggirkan dan terdiskriminasi sejak awal republik ini merindukan perbaikan politik, kesejahteraan dan keamanan ibarat anak rusa yang merindukan air hidup.

Yang penting di hari-hari ini adalah sosialisasi proses pemilu agar rakyat bersikap kritis untuk memilih calon "wakil" yang dianggap benar berkompetensi dan tidak membohongi rakyat. Prinsip the right man in the right place berlaku umum sambil memperhatikan pribadi yang "bersih", berkehendak dan berusaha baik dalam memperbaiki seluruh keadaan negara. Kritik-kritik sosial konstruktif lambat laun akan membantu kita membersihkan diri dari aneka bentuk kotoran politik. Langkah ini bisa ditempuh bila proses pemilu mendatang tidak menggunakan data yang mengibuli rakyat dan menguntungkan pihak yang punya kepentingan terselubung. Permainan angka-angka harus sungguh dicermati, karena sejumlah anak bangsa sudah terlatih memanipulasi kebenaran data dan fakta!

Rasionalitas politisi bersih tunduk pada nilai-nilai keadilan di bidang hukum, perangkat aturan dalam masyarakat, ekonomi dan politik. Sebagai syarat awal dalam menjaring politisi yang dinilai bersih, rasionalitas ini mencakup motivasi, sarana dan tujuan yang adil, jujur, dan halal guna mencapai kesejahteraan umum. Jika rasionalitas ini tak dimiliki sejak awal, harapan akan komunitas politisi bersih yang sungguh mampu dan mau membersihkan diri dan komunitas politisi tampaknya bakal sulit terpenuhi. Kalau begitu, bagaimana negara kita? (Kompas, 14 Februari 2004)
 

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)