| |
C © updated
09102003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/repro-sh |
|
| |
Nama :
Widya Purnama
Lahir :
Pare-Pare, Sulawesi Selatan, 26 Juli 1954
Jabatan:
= Dirut PT Pertamina (11 Agustus 2004 - 8 Maret 2006)
= Dirut PT Indosat
Isteri:
Sri Hetty Indiyah
Anak:
Batara Indra, Batara Wisnu (almarhum), Annisa Purnama dan Auliana
Purnama.
Pendidikan:
Sarjana teknik elektro Institut Teknologi Surabaya (ITS)
Magister Manajemen ITB
|
|
| |
|
|
|
|
Widya Purnama
Akan Lawan Mafia Minyak
Ia dilantik menjabat Direktur Utama PT Pertamina, Rabu 11 Agustus 2004.
Jabatannya sebagai Dirut Indosat segera dilepas. Dalam 100 hari, ia
berjanji mewujudkan perbaikan di tubuh Pertamina. Jika tidak, ia akan
mundur. Ia juga berjanji akan melawan mafia minyak dan menjaga agar
Pertamina tidak "diobok-obok" lagi oleh oknum tertentu serta akan
menjadikan Pertamina sebagai perusahaan minyak dan gas nomor satu di
kawasan Asia Tenggara, mengalahkan Petronas, Malaysia.
Namun belum keinginannya tercapai, dia diganti Rabu 8 Maret
2006, karena sering berbeda kebijakan dengan Menneg BUMN.
Selain itu, Widya juga menegaskan akan membuat
perubahan budaya perusahaan di Pertamina sehingga menjadi kebanggaan
bangsa Indonesia. Dia tak akan main-main dalam janjinya, dan akan
mengajak serikat pekerja bersama-sama 23.000 karyawan membangun
Pertamina.
Menurutnya, prioritas utama direksi Pertamina adalah melancarkan
distribusi pasokan BBM di dalam negeri. Pertamina harus menjamin
masyarakat bisa mendapatkan BBM dengan mudah sehingga kalau ada oknum
Pertamina yang terlibat dalam penyelewengan distribusi BBM, harus segera
dipecat.
Dia mengakui memang sulit mengamankan pendistribusian BBM kalau masih
ada penyelewengan. "Jadi, kalau ada yang menyelewengkan BBM sebaiknya
ditembak saja, kalau memang sulit untuk ditangkap," tegas Widya.
Penegasan ini dikemukakan Widya Purnama dalam jumpa pers pertama
sebagai Direktur Utama (Dirut) Pertamina bersama direksi lainnya, Rabu
(11/8/04). Bersamanya dilantik direksi baru Pertamina, yakni Wakil Dirut
Mustiko Saleh, Direktur Hulu Hari Kustoro, Direktur Pengolahan Suroso
Atmomartoyo, Direktur Pemasaran dan Niaga Arie Soemarno, Direktur Umum
dan Sumber Daya Manusia (SDM) Suprijanto dan Direktur Keuangan (tetap
menjabat) Alfred Rohimone.
Selain itu, Widya juga berkeinginan Pertamina meningkatkan produksi gas
alam untuk kebutuhan dalam negeri. Terutama penggunaan bahan bakar gas
untuk kendaraan. Menurutnya, jika penggunaan gas ditingkatkan untuk
bahan bakar kendaraan, berarti akan mengurangi penggunaan BBM. Dengan
demikian, pemerintah bisa mengurangi subsidi BBM yang nilainya puluhan
triliun rupiah setiap tahun.
Sementara itu, Deputi Menteri BUMN Bidang Industri Strategis
Pertambangan dan Telekomunikasi Roes Arjawidjaja, yang melantik direksi
Pertamina tersebut menjelaskan, alasan penambahan jabatan wakil direktur
dalam struktur baru direksi Pertamina yakni karena permasalahan di
Pertamina terlalu banyak. Misalnya, gugatan arbitrase PT Karaha Bodas
Company dan masalah internal pengadaan BBM dalam negeri. "Jadi
kita berharap dirut bisa menyelesaikan kasus arbitrase dan menjalin
kerja sama internasional, sementara wakilnya mengurus masalah internal.
Kita amati, banyak persoalan yang harus diselesaikan dengan cepat," ujar
Roes.
Selain penambahan jabatan wakil direktur utama, juga
direktur hilir dipecah menjadi dua, yakni direktur pengolahan serta
direktur pemasaran dan niaga. Menurut Roes, perombakan direksi dilakukan
atas dasar pertimbangan bahwa direksi Pertamina harus kompak, memiliki
transparansi yang tinggi, dan kinerja yang maju.
Keteladanan Sang Pemimpin Direktur Utama PT Indosat Tbk ini meyakini keteladanan adalah kunci
kepemimpinan. Menurutnya, keteladanan itu harus datang dari atas. Ia pun
berprinsip bahwa bekerja itu adalah ibadah. Maka sejak awal ia telah
bertekad menjadikan Indosat sebagai lembaga yang bersih dari berbagai intrik.
Keteladanan dan prinsip itulah yang membuat ia kuat dan
berhasil menghadapi berbagai tantangan terutama ketika proses divestasi
PT Indosat. Tanpa banyak bicara pembelaan diri, ia berhasil menepis
berbagai tudingan negatif yang ditujukan pihak berkepentingan tertentu
kepadanya. Ditetapkannya Singapore Technologies Telemedia Pte
Ltd (STT) sebagai pemenang divestasi 41,94% saham (434,25 juta saham)
pemerintah di PT Indonesian Satellite Corporation Tbk (Indosat) dengan
harga Rp12.950 per saham yang menghasilkan dana Rp 5,62 triliun, pada
Desember 2002, telah sempat menimbulkan reaksi dari beberapa karyawan dn
pihak berkepentingan tertentu kepadanya. Ia diduga telah
mengambil keuntungan pribadi dari proses divestasi itu. Tetapi ia tidak
begitu risau atas ocehan-ocehan itu. Karena ia berkeyakinan telah
melakukan yang terbaik. Dengan bijaksana ia melampau berbagai tudingan
itu. Pihak Singapore Technologies Telemedia Pte Ltd selaku pemegang
saham mayoritas PT Indosat pun tetap mempertahankan sebagai Dirut.
Alumnus sarjana teknik elektro Institut Teknologi Surabaya
(ITS) dan Magister Manajemen ITB ini selalu berupaya menunjukkan
keteladanan dalam melaksanakan tugasnya. Mulai dari hal yang sederhana
dan biasa sampai hal penting. Seperti, kehadiran ke kantor. Sejak menjadi dirut,
ia
datang ke kantor jam 7.30 pagi. Dengan datang pagi itu, ia pun merasa
pantas menegur
karyawan yang datangnya terlambat. "Tapi, kalau saya datangnya seenaknya,
tentu karyawan tak ada yang nurut kalau ditegur,” ujarnya
Pria
kelahiran Pare-Pare, Sulawesi Selatan, 26 Juli 1954 ini adalah orang
dalam PT Indosat. Ia meniti karir di perusahaan ini dari bawah sebagai
karawan biasa. Menapaki jenjang karir dari staf biasa menjadi
Manager Indosat Medan, Manager Divisi
Pengembangan Setrategis dan Direktur Utama PT EDI Indonesia, sampai di
puncak sebagai Direktur Utama. Ia pun mengaku tak pernah bermimpi menjadi Dirut PT Indosat.
Karena
sebelumnya ia telah berkali-kali mengikuti fit and proper test, tapi tak
pernah terpilih. Namun, akhirnya alam reformasi memberinya kesempatan
mengemban amanah menjadi Dirut pada tahun 2002. Sesaat setelah dilantik,
ia bertekad akan bekerja sebaik mungkin dan transparan kepada siapapun dan tidak mau diintervensi oleh siapapun.
Setelah menjadi Dirut, penampilannya pun tak banyak berubah.
Ia tetap akrab dengan semua
karyawan. Ia memang berjanji janji akan berlaku adil dan membuat keteladanan bagi karyawannya.
Suami dari Sri Hetty
Indiyah ini bertekad menjadikan Indosat sebagai lembaga yang bersih dari berbagai intrik.
Maka untuk itu, sebagai pemimpin, ia tidak segan-segan bertindak tegas kepada karyawan yang
mencoba-coba berbuat merugikan perusahaan.
Bagi ayah dari Batara Indra, Batara Wisnu (almarhum), Annisa Purnama
dan Auliana Purnama ini bekerja itu adalah ibadah. Prinsip inilah yang
menuntunnya untuk selalu berupaya berbuat yang terbaik bagi perusahaan,
bangsa dan negara dan bagi siapa pun. Ia berobsesi
mengorbitkan Indosat penyedia solusi telekomunikasi yang bersifat
menyeluruh,atau Full Network and Service Provider (FNSP) berelas dunia.
Untuk itu telah dilakukan restrukturisasi bisnis Indosat, dari semula
mengandalkan jasa SLI menjadi penyelenggara binis mobile communications,
fixed communications, MIDI (Multimedia, Datacom and Internet), serta
backbone network services.
Sejak Mei 2002 perusahaan publik ini bersama enam anak perusahaan,
masing-masing Satelindo, Indosat Multimedia Mobile (IM3), Lintasarta,
Indosat Mega Media (IM2), Sisindosat, Indosatcom meluncurkan brand
Indosat Group dan mengumumkan pendekatan bisnis yang lebih berorientasi
pada kebutuhan pelanggan, yakni melalui sinergi sumberdaya dan layanan
serta konsolidasi. Tadi Malam Direksi Baru Dilantik
JAKARTA - Jajaran direksi PT Pertamina akhirnya dirombak nyaris total.
Hanya Direktur Pengolahan Suroso Atmomartoyo yang tidak diganti.
Restrukturisasi itu langsung menyelesaikan polemik Blok Cepu. Menurut
rencana, hari ini joint operating agreement (JOA) sudah bisa
ditandatangani.
Seperti telah diperkirakan sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Widya
Purnama terpental. Posisinya digantikan Ari H. Soemarno, yang sebelumnya
menjabat direktur pemasaran dan niaga. Widya adalah orang yang paling
ngotot agar Pertamina bisa menjadi pengelola Blok Cepu.
Wadirut yang sebelumnya dijabat Mustiko Saleh, kini ditempati Iin Arifin
Takhyan (sebelumnya Dirjen ESDM). Direktur Keuangan Alfred Rohimone
diganti Ferederick S.T. Siahaan. Sedangkan posisi yang ditinggalkan Ari
Soemarno diisi Achmad Faisal.
Direktur hulu yang sebelumnya dijabat Hari Kustoro kini diberikan kepada
Sukusen Soemarinda. Sedangkan direktur SDM dan umum yang dijabat
Suprijanto diserahkan kepada Sumarsono.
Pergantian jajaran direksi tersebut akan langsung mengakhiri polemik JOA
(joint operating agreement) yang berlarut-larut. "Jadi, finalisasi JOA
diharapkan bisa selesai hari ini (kemarin). Sehingga, besok (hari ini)
JOA bisa ditandatangani," ujar Maman Budiman, vice president public
affairs ExxonMobil Oil Indonesia, kemarin.
Namun, dia membantah bahwa hambatan JOA selama ini karena figur Widya
Purnama. "Selama ini kita selalu melakukan negosiasi dengan Pertamina
sebagai institusi. Jadi, nggak peduli siapa pun direkturnya. Pembahasan
JOA ini memang telah mendekati tahap akhir," paparnya.
Maman menjelaskan, skema yang sudah disepakati saat ini adalah general
manager JOC (joint operating committee) akan diberikan pada Pertamina.
JOC berfungsi sebagai lembaga yang mengawasi badan yang akan mengelola
Cepu. Di badan ini jabatan GM akan dipegang ExxonMobil.
Sekarang masih perlu finalisasi komposisi struktur di bawahnya. "GM JOC
ini nanti juga digilir. Setiap berapa tahun, kami belum tahu. Ini yang
juga akan dibicarakan dalam finalisasi," urainya.
Skema yang dipaparkan Maman sama dengan skema Menteri ESDM Purnomo
Yusgiantoro beberapa waktu lalu. CEO (chief executive officer) akan
dipegang Pertamina dan COO (chief operating officer) akan dipegang
ExxonMobil.
Dirut Pertamina Ari H. Soemarno berjanji segera memecahkan kebuntuan
mengenai operatorship blok Cepu secepatnya. Keinginan direksi baru,
Pertamina tetap sebagai operator. "Namun, kami juga akan memperhatikan
kepentingan yang lebih besar," tambahnya buru-buru.
Menteri BUMN Sugiharto menambahkan, pemerintah lebih menginginkan
penyelesaian blok Cepu secara business to business antara Pertamina dan
ExxonMobil. "Jika benar-benar ada kebuntuan, pemerintah baru ikut
campur," jelasnya.
Isu pergantian direksi Pertamina sebenarnya telah merebak sejak tahun
lalu. Berbagai pihak mendesak agar Widya Purnama segera dilengserkan
karena dianggap malah membuat Pertamina semakin terpuruk. Namun, tarik
ulur terus berlangsung hingga tahun ini. Produksi Pertamina juga terus
menurun hingga menyebabkan Indonesia menjadi net importer.
Menurut Men BUMN Sugiharto, kemampuan manajemen yang dimiliki Ari
Sumarno selama mempimpin Petral diharapkan bisa memperbaiki Pertamina.
Petral sendiri adalah anak perusahaan Pertamina. Ari yang telah mengabdi
kurang lebih 28 tahun di Pertamina diharapkan mampu meningkatkan
produksi minyak Indonesia.
Pergantian direksi Pertamina itu langsung dikaitkan dengan kepentingan
terutama eksplorasi Blok Cepu. Proyek ini molor karena kengototan
direksi sebelumnya yang dipimpin Widya Purnama. Namun, semua pejabat
resmi membantah sinyalemen itu.
"Memang kami menyempurnakan pembahasannya kemarin (Selasa) hingga hampir
pukul 12 malam. Ini tidak lebih karena faktor kehati-hatian kami," ujar
Sugiharto.
Dia berharap, Ari mampu melakukan perbaikan di tubuh Pertamina yang
tidak mampu diselesaikan pejabat sebelumnya.
Misalnya, menjalankan RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) 2006
soal bahasan Blok Cepu, yakni menyiapkan USD 50-100 juta untuk
pengeboran tahap awal.
Sugiharto meminta direksi baru segera menuntaskan beberapa persoalan
yang dihadapi Pertamina. "Terutama audit keuangan oleh auditor
independen yang hingga kini masih belum selesai," jelasnya.
Sebagai satu-satunya perusahaan migas milik pemerintah yang menguasai
hulu dan hilir, posisi Pertamina sangat strategis. Selain menyangkut
kebutuhan migas dalam negeri, juga berpengaruh pada fiskal pemerintah.
Untuk itu, kasus-kasus seperti penyelundupan tidak boleh terjadi lagi.
Ari sendiri mengaku sanggup melaksanakan tugas yang dibebankan
kepadanya. "Kami akan berusaha melaksanakan RKAP (Rencana Kerja dan
Anggaran Perusahaan). Saya sebagai mantan direksi lama harus konsekuen,"
tuturnya.
Masyarakat kini menunggu kebijakan yang akan diambil Ari menyangkut
pengelolaan blok migas dengan potensi produksi 170-200 ribu barel per
hari tersebut.
Ari merupakan anak Brigadir Jenderal Soemarno yang pernah menjabat
gubernur Jakarta 1960-1964. Dia adik Rini Soewandi, menteri
perindustrian dan perdagangan di masa Presiden Megawati Soekarnoputri.
Dia juga dikenal dekat dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Purnomo Yusgiantoro.
Ari yang lahir di Jogjakarta, 14 Desember 1948, belajar chemical
engineering di Aachen University, Jerman. Dia memulai karir di Badak LNG
plant di Bontang, Kalimantan Timur, pada 1978. Dia menghabiskan 16 tahun
di Bontang, setelah itu baru ke pusat Pertamina di Jakarta pada 1994.
Karirnya terus menanjak. Tapi, bukan tanpa cacat. Pada 2004, marak
diberitakan bahwa Ari dihukum dengan pemotongan gaji karena melanggar
berbagai regulasi tender. Menurut audit BPKP, saat dia menjadi pimpinan
tim tender proyek LNG Bontang, Pertamina kehilangan Rp 1,2 miliar.
Di kantor pusat Pertamina, Ari pernah ditunjuk sebagai staf executive
senior pada Direktorat Hulu pada 2001. Dua tahun kemudian, dia dipercaya
sebagai Presdir Pertamina Trading Limited (Petral), anak perusahaan
Pertamina yang bermarkas di Singapura dan Hongkong. Pada 11 Agustus
2004, di era Presiden Megawati, Ari dipromosikan sebagai dirktur
pemasaran dan niaga.
Kiprahnya pernah dikait-kaitkan dengan Zainul Arifin, yang belakangan
dituduh merugikan negara dengan berbagai tuduhan korupsi. Kejaksaan
menuntut Zainul dengan tuduhan menyimpangkan dana USD 8,35 juta dari
rekening perusahaan ke rekening di Credit Suisse Singpore pada 2003.
Dalam pembelaannya, Zainul mengemukakan, perbuatannya atas sepengetahuan
bosnya, Ari Soemarno. Tapi, Ari membantah mengetahui proses tersebut.
Widya Purnama yang digantikan Ari mengaku legawa? "Saya merasa ikhlas
lahir batin. Jadi, saya juga sudah plong," ungkap mantan Dirut Indosat
itu. Saat ini dia belum menentukan aktivitasnya setelah tak lagi sebagai
Dirut Pertamina. (sof/iw)
*** TokohIndonesia.DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|