| |
C © updated 21102004 -
23082003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama :
Laksamana TNI (Purn) Widodo Adi Sucipto
Lahir:
Boyolali, Jawa Tengah, 1 Agustus 1944
Agama:
Islam
Isteri:
Sri Murniati SE
Jabatan:
Panglima TNI 1999-2002
Pendidikan:
:: Akademi Angkatan Laut Angkatan XIV (1968)
Karir:
:: Perwira Senjata di KRI Irian (1968).
:: Komandan KRI Monginsidi (1986)
:: Komandan KRI Ki Hajar Dewantara (1988)
:: Komandan KRI Abdu Halim Perdanakusuma (1989)
:: Kepala Staf Armada RI Kawasan Barat (1994-1995)
:: Panglima Armada RI Kawasan Barat (1955).
:: Kepala Staf Angkatan Laut.
Wakil Panglima TNI
:: Panglima TNI 1999-2002
:: Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam)
Kabinet Indonesia Bersatu 2004-2009
|
|
| |
|
|
|
|
Widodo Adi Sucipto
Prioritas Atasi Konflik & Teroris
Lama tidak tampil di depan publik, pensiunan Laksamana TNI-AL Widodo Adi
Sucipto dipercaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memegang pos Menko
Politik, Hukum dan Keamanan. Prioritasnya menangani konflik dan terorisme.
Prioritas lain, menyelamatkan sumber daya alam, komoditi hutan dan laut,
dari pencurian.
Untuk meningkatkan koordinasi penanganan dan pemberantasan terorisme,
Widodo membentuk sebuah badan tingkat domestik yang akan mengatur
langkah-langkah operasional, termasuk payung hukum dan pendayagunaan
aparat intelijen. Juga dibutuhkan dukungan dari publik untuk mengatasi
aksi-aksi teror.
Widodo lahir di Boyolali, Jawa Tengah, 1 Agustus 1944. Dia menamatkan ABRI-AL
tahun 1968. Satu-satunya Laksamana Angkatan Laut yang menjabat Panglima
TNI (1999-2002).
Ketika menjabat Panglima TNI, Widodo melihat berkecamuknya konflik yang
dipicu oleh perbedaan kepentingan antar kelompok. Kepentingan kelompok
sangat mengemuka mengalahkan kepentingan bangsa dan negara. Karena itu,
tiada hari adu pendapat untuk tujuan memenangkan kelompok sendiri.
Untuk keluar dari krisis, kata Widodo, bangsa ini harus mempererat rasa
kebersamaan. Dengan demikian tidak ada persoalan bangsa yang tidak bisa
diselesaikan. Krisis tidak bisa diselesaikan dengan menyalakan terus
dendam dan permusuhan.
Prioritas utama lainnya, meredam konflik bersenjata di Aceh, Poso dan
Papua. Soal status darurat sipil sudah diperpanjang dan terus menerus
dievaluasi agar diturunkan statusnya menjadi tertib sipil. Operasi militer
hanya dilakukan di sisa-sisa basis militer Gerakan Separatis Aceh.
Soal terorisme, Widodo ingin mengubah paradigma bahwa aksi terus melekat
dengan ummat Islam. Sesungguhnya, kata Widodo, Islam itu agama yang
menjunung perdamaian dan keselamatan ummat manusia, tanpa membedakan ummat
dari agama dan bangsa apa pun.
Islam, kata Widodo, membawa missi keselamatan bagi seluruh alam.
Membangkitkan sentimen agama hanya membuat bangsa ini terpuruk dan
terpecah belah.
Ummat beragama diminta tidak terpedaya oleh informasi yang tidak jelas
kebenarannya. “Sekarang yang benar bisajadi salah, yang salah bisa jadi
benar,” kata Widodo. ►tsl/sh
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|