| |
C © updated 23112005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ht |
|
| |
Nama:
Wawan H. Purwanto
Lahir:
Kudus, 10 November 1965
Istri:
Arsi Argasanti (Menikah: 2 Juni 1994)
Anak:
1. Lukman Harun Satrio Negoro, lahir 10 Desember 1995
2. Nur Wahid Wijoyo Kusumo, lahir 17 April 2001
Jabatan:
Staf Ahli Wakil Presiden RI Bidang Keamanan dan Kewilayahan
Pendidikan:
- SD Indah Ungaran II, SMP I Ungaran, dan SMA I Ungaran, semua di
Kabupaten Semarang, Jawa Tengah
- S-1 Sarjana Hukum, Jurusan Hukum Internasional, Universitas
Diponegoro, Semarang, tamat tahun 1989
- S-2 Magister Hukum, konsentrasi Hukum Bisnis, Universitas Indonesia,
Jakarta, tamat tahun 2001
- Tahun 2005 Kandidat Doktor Hukum Bidang Ilmu Hukum, Universitas
Padjajaran, Bandung
Pekerjaan:
- Pendiri, Direktur, dan Peneliti pada Lembaga Pengembangan
Kemandirian Nasional (LPKN)
- Dosen Luar Biasa pada Intitut Intelijen Negara (IIN)
- Pengajar di Mabes Polri
- Dosen luar biasa di sejumlah perguruan tinggi
- Tim Sosialisasi Perjanjian Damai Helsinki RI-GAM
- Sekretaris Tim Sosialisasi Wawasan Kebangsaan dan UKM Kantor Wakil
Presiden RI
- Pemberi makalah pada berbagai forum seminar dan diskusi di dalam dan
luar negeri
- Menjadi narasumber pada berbagai media massa dalam dan luar negeri
- Staf Ahli Wakil Presiden RI Bidang Keamanan dan Kewilayahan
Alamat:
Lembaga Pengembangan Kemandirian Nasional (LPKN):
Telp. (021) 8771.7852, 0855.1020.371 |
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02 == Wawan H Purwanto
(02)
Sejak Belia Cinta Tanah Air
Sebagai peneliti masalah-masalah intelijen, Wawan berhasil mengubahkan
berbagai persoalan yang masih gelap menjadi bloking pemetaan geopolitik
strategis, baik itu di lingkungan nasional, regional dan internasional.
Wawan secara lugas membahasakan bahasa bawah tanah menjadi bahasa kaum
awam. Dengan kehadiran Wawan sebagai semacam pembicara,
persoalan-persoalan intelijen yang biasanya tertutup menjadi akrab di
telinga setiap orang tanpa dihantui rasa takut. Dan karena kelugasan itu
pula suaranya menjadi didengar dimana-mana, terutama oleh para pemimpin
negara.
Wawan menjadi sering dimintakan memberikan masukan agar pemimpin tidak
salah mengambil kebijakan. Ia menjaga betul seorang pemimpin tidak
pernah salah mengambil keputusan, yang salah adalah masukan yang
diterima.
Selain dosen luar biasa di berbagai perguruan tinggi Wawan mendirikan
pula Lembaga Pengembangan Kemandirian Nasional (LPKN), sebagai sarana
baginya berkiprah membangkitkan semangat kebangsaan dan kebanggaan cinta
tanah air. Benih-benih rasa cinta tanah air telah tersemai dalam dirinya
sejak belia.
Pria kelahiran Kudus, 10 November 1965 ini menetap di tanah kelahiran
hanya sampai kelas dua SD. Selanjutnya pindah ke Ungaran, masih
Kabupaten Semarang. Selama SD ia selalu beprestasi sebagai juara,
sampai-sampai memperoleh perhatian secara khusus dari Bupati Semarang,
Suwarto, demikian pula dari guru-guru di kabupaten tersebut.
Hingga memasuki bangku SMP Negeri I Ungaran prestasi Wawan masih tetap
menonjol. Ia tetap memperoleh perhatian secara khusus dari Pemerintah
Daerah Semarang. Ia kemudian mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK)
antar siswa se Jawa Tengah, terpilih sebagai Ketua OSIS SMP I Ungaran,
bahkan sebagai Ketua IKOSIS (Ikatan Organisasi Siswa Intra Sekolah) se
Kabupaten Semarang.
Ketika tampil sebagai pemimpin siswa itulah ia memperoleh pula perhatian
khsusus dari Kakanwil P dan K Jawa Tengah, hingga berkesempatan
memperoleh beasiswa Super Semar.
Ketika duduk di SMA Wawan aktif di organisasi kepanduan dan prestasinya
terus saja menonjol hingga dipercaya menjadi pemandu siswa se Jawa
Tengah. Ia tetap mendapatkan beasiswa Super Semar, serta mendapat
perhatian khusus baru dari Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Rustam,
termasuk memperoleh penghargaan dari Menteri P dan K Daud Jusuf.
Wawan menempuh pendidikan S-1 Sarjana Hukum di Universitas
Diponegoro, Semarang, lalu mengambil S-2 di Universitas Indonesia (UI)
Jakarta, dengan spesialisasi hukum perbankan. Ia kemudian menyelesaikan
pendidikan doktor S-3 di Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung.
Nama Wawan mulai sangat terkenal sebagai pengamat intelijen pasca
ledakan bom Bali 12 Oktober 2002. Ketika itu ia banyak diminta berbicara
tentang ancaman bom di berbagai forum. Saat itu sesungguhnya Wawan sudah
mengingatkan bom masih akan terus meledak, sebab akar persoalannya
adalah kita telah berganti sistem pertahanan setelah pencabutan UU Anti
Subversif.
UU ini selama Orde Baru berhasil menjadi kunci utama untuk mendeteksi
segala kemungkinan gangguan dan ancaman. Bahkan dengan UU itu jarum
jatuh pun bisa dengan peka diketahui. Atau, orang yang sedang berpikir
yang tidak-tidak bisa ketangkap sebab UU ini betul-betul sangat efektif
melakukan gerakan pre-emptive.
Memperoleh Feedback dari Pemerintah
Sebagai peneliti pertahanan Wawan dianggap berhasil menemukan
temuan-temuan intelijen yang cemerlang. Ia kemudian diminta mengajarkan
temuannya itu di Institut Intelijen Negara (IIN), Jakarta, di Leiden
International Institute, dan di berbagai perguruan tinggi lain mulai
sebagai pengajar program S-1 dan pasca sarjana.
Wawan banyak mengajar tentang masalah pemetaan bloking politik, pemetaan
terhadap situasi yang sedang berkembang, hingga mengidentifikasi
ancaman-ancaman yangmemasuki berbagai daerah. Misalnya, ia diminta
mengenali kelompok apakah ini kirikah atau kanan. Wawan sering
membawakan mata ajaran pemetaan seperti itu di mana-mana.
Berdasarkan riset-risetnya Wawan ternyata memperoleh feedback yang baik
dari Pemerintah. Ia diminta menjelaskan bagaimana link up hasil
temuannya, kemudian kalau dikembangkan terus-menerus akan bagaimana,
hingga akhirnya temuan-temuan itu menjadi mata ajaran yang dipakai tetap
di Institut Intelijen Negara. Karena temuannya pula Wawan berkesempatan
menimba ilmu mengenai beberapa persoalan yang berkaitan dengan masalah
pertahanan dan kesenjataan.
Bahkan, Wawan yang menjadi sangat familiar dengan masalah intelijen
turut pula diminta memperbaharui kurikulum intelijen yang ada, untuk
disesuaikan dengan perkembangan yang sekarang dan yang akan datang. Ia
mendasarkan perbaikan kurikulim pada Perkiraan Keadaan atau Kirka,
sehingga dikenal istilah Kirka tiga tahunan, lima tahunan, dan sepuluh
tahunan.
Lobi Adalah Jalan Penyelesaian
Wawan tak pernah berhenti sebatas mengungkap informasi intelijen ke
permukaan. Ia turut memberikan solusi atas berbagai persoalan yang
muncul. Seperti uuntuk mencegah terorisme ia mengusulkan ada penguatan
kewenangan baru bagi intelijen untuk melakukan langkah pre-emptive.
Caranya adalah memperbaharui UU Anti Subversif, kemudian memperbesar
anggaran pertahanan agar mampu membeli alat-alat pertahanan yang lebih
baru dan modern sesuai perkembangan jaman. Ia juga mengusulkan
memperbanyak latihan dan riset-riset intelijen.
Alat-alat yang sering digunakan teroris sudah serba plastik sehingga
susah terdeteksi metal detector. Taktik gerilya yang digunakan teroris
mulai mengadopsi taktik pejuang Chechnya, yang dasarnya adalah taktik
Pakta Warsawa. Sehingga satu-satunya penawar yang paling ampuh adalah
taktik gerilya NATO, untuk itu intelijen Indonesia perlu belajar ke
NATO.
Wawan juga sangat menyayangkan anggaran intelijen yang diajukan sebesar
Rp 1,6 triliun, hanya disetujui Rp 675 miliar saja sudah termasuk untuk
anggaran pembangunan, pembelanjaan, sehingga hanya tersisa sedikit saja
untuk operasi intelijen.
Dari segi peralatan tempur pun Wawan mencontohkan betapa tertinggalnya
kita. Indonesia yang mempunyai 20 unit pesawat angkut Hercules yang
jalan hanya enam, dari 39 kapal perang eks Jerman Timur yang jalan hanya
10, lalu empat skuadron pesawat tempur yang jalan cuma empat biji.
Pesawat Sukhoi yang kita beli ternyata tak dilengkapi dengan senjata.
Karena pesawat itu belum lunas maka penerbang yang menerbangkannya masih
orang-orang Rusia.
Untuk memperkuat ketahanan ekonomi akan lebih baik apabila Indonesia
melobi langsung para pemilik uang agar mau menjadi investor di
Indonesia. Lobi adalah cara terbaik meyakinkan kelompok lobi Yahudi yang
terkenal sangat kuat, misalnya melalui IAPAC atau Israelly-American Public
Affair Committee. Indonesia perlu menerobos lobi George Soros hingga
Julian Robinson, pemegang ranking nomor satu spekulan terkuat Yahudi.
Intelijen Indonesia juga perlu mengetahui masalah-masalah link kelompok
mana yang lebih banyak menguasai Departemen Pertahanan Amerika,
bagaimana menembusnya, dan bagaimana lobinya serta melalui siapa. Wawan
menyebut langkah-langkah intelijen demikian merupakan salah satu hal
baru yang harus ditemukan untuk kemudian disarankan ke pemerintah untuk
ditindaklanjuti.
Kepada para operator yang sedang merancang Balkanisasi di Indonesia
perlu dijelaskan bagaimana posisi strategis kita yang sesungguhnya.
Untuk tujuan penanganan terorisme Wawan sering keliling dunia berbicara
langsung dengan para pemimpin dunia, atau paling tidak berbicara dengan
media asing untuk meminta para pemimpin mau melakukan coolling down.
Terorisme sudah menjadi musuh bersama internasional.
Wawan sudah pernah menyempatkan diri berkunjung ke Semenanjung Korea
untuk membawa pesan perdamaian. Ia berharap di semenanjung yang lama
menjadi arena pertikaian dua negara Korea, itu bisa dijadikan contoh dan
sentra perdamaian dunia. Di Korea pula ia pernah hadir dalam sebuah
forum pembangunan ekonomi regional, untuk menyakinkan investor agar
melirik Indonesia.
Sudah Bergerak Sendiri
Wawan masih akan terus melangkah dan berbuat lebih banyak lagi untuk
bangsanya, sesuai pesan Ayahandanya. Ia sendiri sudah banyak
membangkitkan wawasan kebangsaan para generasi muda, serta membangun
kekuatan ekonomi rakyat berskala usaha kecil dan menengah (UKM).
Wawan adalah anggota Tim Sosialisasi Wawasan Kebangsaan di Kantor Wakil
Presiden, dan dipercaya memegang pengembangan sektor UKM. Dari ratusan
UKM yang dibina segi permodalan, manajemen, distribusi dan pemasaran, 80
persen diantaranya berjalan dengan baik, menyebar di berbagai daerah,
dengan pusat pengendalian di Cijantung, Jakarta Timur.
Wawan memulai pembangunan wawasan kebangsaan dari bawah. Sebagai Ketua
Komite Sekolah SDN 08 Kampung Baru, Pasar Rebo, Jakarta Timur, ia aktif
memberikan berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Tujuannya agar siswa bisa
mandiri, bangkit, dan mencintai tanah airnya sejak kecil. Wawan
membekali siswa dengan kegiatan latihan drumband, olah vokal, bola voli,
musik, teater, komputer, pidato bahasa Inggris, latihan dasar
kepemimpinan, hingga bazar murah dan pesantren kilat.
Di kalangan mahasiswa dan generasi muda di berbagai pertemuan nasional
Wawan tampil aktif menjadi tutor atau sebagai nara sumber, menjadi
pembina pesantren Wilayah III Jawa Barat, membina para mantan pecandu
narkoba, tahanan dan narapidana, dan remaja putus sekolah.
Wawan memberi mereka kesempatan terjun ke sektor usaha kecil dan
menengah, atau mengisi hari-harinya dengan berolahraga di Sentra
Olahraga Cijantung. Semua dimaksudkan untuk menciptakan citra bahwa
hidup tak harus kriminal melainkan perlu membangkitkan rasa percaya diri
dan prestasi. ►e-ti/ht-rh-ws
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|